Bentuk Pemerintahan Negara ASEAN Lengkap: Kerajaan hingga Republik

Oleh: Yuda Prinada - 18 Agustus 2021
Dibaca Normal 3 menit
Apa saja bentuk pemerintahan negara-negara ASEAN? Sebagian negara ASEAN berbentuk republik, dan ada juga yang kerajaan.
tirto.id - Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) merupakan organisasi kawasan yang sekarang ini beranggotakan 10 negara Asia Tenggara. ASEAN atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara terbentuk setelah penandatanganan Deklarasi Bangkok pada 8 Agustus 1967.

Mengutip laman Setnas ASEAN-Indonesia, pada 8 Agustus 1967, wakil dari 5 negara Asia Tenggara bersepakat menandatangani Deklarasi Bangkok di Bangkok, Thailand. Negara-negara yang terlibat atau bisa dikatakan sebagai pendiri ASEAN itu adalah Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Adapun 5 tokoh yang menandatangani Deklarasi Bangkok merupakan menteri-menteri luar negeri dari 5 negara pendiri ASEAN, yakni:

  • Narciso Ramos (Filipina)
  • Adam Malik (Indonesia)
  • Thanat Khoman (Thailand)
  • Tun Abdul Razak (Malaysia)
  • S. Rajaratnam (Singapura).

Deklarasi Bangkok juga memuat sejumlah tujuan pendirian ASEAN. Merujuk keterangan di laman resmi Kemlu RI, isi Deklarasi Bangkok adalah sebagai berikut:

  • Mempercepat pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial dan perkembangan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara.
  • Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional di Asia Tenggara.
  • Meningkatkan kerja sama dan saling membantu untuk kepentingan bersama dalam bidang ekonomi, sosial, teknik, ilmu pengetahuan, dan administrasi.
  • Memelihara kerja sama yang erat di tengah-tengah organisasi regional dan internasional yang ada.
  • Meningkatkan kerja sama untuk memajukan pendidikan, latihan, dan penelitian di kawasan Asia Tenggara.

Setelah melewati masa beberapa tahun kemudian, jumlah anggota ASEAN bertambah dari semula 5 menjadi 10. Berikut daftar 10 anggota ASEAN beserta tanggal bergabungnya ke organisasi ini:

  • Indonesia (8 Agustus 1967)
  • Malaysia (8 Agustus 1967)
  • Singapura (8 Agustus 1967)
  • Thailand (8 Agustus 1967)
  • Filipina (8 Agustus 1967)
  • Brunei Darussalam (8 Januari 1984)
  • Vietnam (28 Juli 1995)
  • Laos (23 Juli 1997)
  • Myanmar (23 Juli 1997)
  • Kamboja (30 April 1999).

ASEAN memiliki lambang atau bendera dengan latar warna biru, yang ditengahnya ada lingkaran bergambar ikatan rumpun padi. Garis lingkaran itu berwarna putih. Bagian tengah lingkaran itu berkelir merah. Sementara ikatan rumpun padi di bendera ASEAN berwarna kuning.

Bendera tersebut melambangkan ASEAN yang stabil, penuh perdamaian, bersatu, dan dinamis. Detail makna lambang di bendera ASEAN bisa dicermati dalam perincian di bawah ini:

  • Gambar Ikatan Rumpun Padi: melambangkan harapan para tokoh pendiri ASEAN agar asosiasi ini secara bersama-sama terikat dalam persahabatan dan kesetiakawanan sosial.
  • Gambar Lingkaran: melambangkan kesatuan ASEAN.
  • Warna Biru: melambangkan perdamaian dan stabilitas.
  • Warna Merah: melambangkan semangat dan kedinamisan.
  • Warna Putih: melambangkan kesucian.
  • Warna Kuning: melambangkan kemakmuran


Bentuk Pemerintahan Negara-negara ASEAN

Salah satu aspek yang bisa dicermati untuk mengenal profil negara-negara anggota ASEAN adalah bentuk pemerintahannya. Terkait aspek politik ini, negara-negara ASEAN memang tidak seragam. Ada sebagian negara ASEAN yang memiliki pemerintahan berbentuk republik, tetapi banyak juga yang tidak.

Mengutip buku Rekam Jejak Indonesia di ASEAN (2020) dan sejumlah sumber lain, berikut adalah rincian informasi mengenai bentuk pemerintahan di masing-masing negara anggota ASEAN.

1. Indonesia

Sebagaimana diketahui masyarakat di tanah air, bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan sistem presidensial, yang dipimpin langsung oleh presiden. Di Indonesia, presiden punya kewenangan sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan. Presiden Indonesia dipilih di pemilu secara langsung oleh rakyat.

Selain itu, Indonesia mempunyai ibu kota di Jakarta. Negara yang memiliki bendera dengan warna merah putih ini menggunakan mata uang resmi, Rupiah (IDR).

2. Malaysia

Negara berbendera bulan dan matahari di bagian kiri atas ini resmi masuk ASEAN pada 8 Agustus 1967. Malaysia memiliki bentuk pemerintahan berupa kerajaan yang dipimpin seorang raja dengan gelar “Yang Dipertuan Agung” sebagai kepala negara.

Roda pemerintahan di Malaysia berjalan di bawah kepemimpinan "Perdana Menteri" yang dipilih berdasar dukungan mayoritas anggota di parlemen. Maka itu, bentuk kerajaan di Malaysia dapat disebut juga sebagai monarki konstitusional.

Malaysia memiliki ibu kota yang bernama Kuala Lumpur. Terkait dalam menjalankan proses jual beli sehari-hari, negara ini menggunakan mata uang resmi, Ringgit (MYR).

3. Singapura

Bentuk pemerintahan Singapura adalah republik parlementer. Di Singapura, kepala negara dijabat seorang presiden, sementara pemerintahan dipimpin oleh perdana menteri.

Bendera Singapura hampir mirip Indonesia, yakni berwarna merah putih. Namun, terdapat bintang dan bulan di sisi kiri atasnya. Dalam proses transaksi, Singapura menggunakan mata uang, Dolar Singapura (SGD).

4. Thailand

Thailand juga termasuk salah satu negara ASEAN yang memiliki bentuk pemerintahan kerajaan, atau lebih tepatnya monarki konstitusional.

Kepala negara di Thailand adalah Raja. Sementara pemerintahan di Thailand dijalankan kabinet yang dimpimpin oleh perdana menteri.

Ibu kota Thailand di Bangkok. Mata uang resmi negara ini adalah Bath (THB). Adapun bahasa yang resmi digunakan secara nasional di negara ini adalah Bahasa Thai.

5. Filipina

Bentuk pemerintahan Filipina adalah republik. Kepala negara sekaligus pemimpin pemerintahan di Filipina adalah presiden yang dipilih langsung melalui pemilu.

Negara kepulauan ini memiliki bendera yang berwarna biru, merah, putih. Di bagian putih tersebut terdapat simbol berupa matahari serta bintang.

Mata uang resmi Filipina adalah Peso. Sementara ibu kota Filipinan, terletak di kota Manila.

6. Brunei Darussalam

Negara berbendera dengan warna kuning, hitam, putih, dengan lambang kenegaraan di tengahnya ini masuk anggota ASEAN pada 8 Januari 1984.

Bentuk pemerintahan Brunei Darussalam adalah kesultanan (kerajaan Islam), dengan pemimpin negaranya disebut sultan. Karena Sultan Brunei berkuasa sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, sistem kerajaan/kesultanan di negara ini menganut model monarki absolut.

Ibu kota Brunei terletak di Bandar Seri Begawan. Mata uang resmi di Brunei adalah Dolar Brunei (BND).

7. Vietnam

Bentuk pemerintahan vietnam adalah sistem republik komunis sehingga hanya ada satu partai di negara ini. Negara satu partai ini memiliki presiden sebagai kepala negara dan perdana menteri yang menjadi pemimpin pemerintahan.

Vietnam menggunakan kota Hanoi sebagai ibu kota. Perihal transaksi, Vietnam yang berbendera merah dengan bintang di tengahnya ini menggunakan mata uang resmi, Dong (VND).

8. Laos

Bentuk pemerintahan Laos juga menganut sistem republik sosialis satu partai. Kepala negara Laos adalah seorang presiden, sedangkan pemerintahannya dipimpin oleh perdana menteri.

Mata uang Laos ialah Kip (LAK). Ibu kota negara berbendera merah, biru, merah, dan terdapat bulatan putih di tengahnya ini terletak di kota Vientiane.

9. Myanmar

Bentuk pemerintahan Myanmar sebenarnya menganut sistem republik yang pemimpin negara serta pemerintahannya seorang presiden. Namun, negara itu sekarang dikendalikan oleh junta militer.

Bendera Myanmar memiliki warna kuning, hijau, merah, dengan lambang bintang putih di bagian tengahnya. Mata uang resmi Myanmar adalah Kyat (MMK). Ibu kota Myanmar di Nay Pyi Taw.

10. Kamboja

Kamboja memiliki bentuk pemerintahan kerajaan yang menganut sistem monarki konstitusional. Di Kamboja, kepala negara adalah seorang raja, sementara pemerintahan dipimpin perdana menteri.

Bendera negara dengan mata uang resmi, Riel (KHR), ini memiliki warna biru, merah, biru, dan di tengahnya terdapat gambar kerajaan yang mewakili sistem negara. Ibu kota Kamboja terletak di Phnom Penh.


Baca juga artikel terkait ASEAN atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Addi M Idhom
DarkLight