Benny dan Wapres

Benny Menyerang Sudharmono & Strategi Soeharto "Membekap" Wapres

Ilustraasi Moerdani vs Sudharmono. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 3 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Strategi Soeharto dan kegaduhan di tubuh ABRI saat Sudharmono hendak menjadi wakil presiden.
Mulanya Jenderal Benny Moerdani yakin, tahun 1988 Jenderal Umar Wirahadikusumah akan kembali diangkat menjadi wakil presiden daripada Soeharto. Suatu hari, Sekretaris Jenderal Golongan Karya (Golkar), Sarwono Kusumaatmadja mendatangi Benny. Sarwono kala itu menilai Benny tak ada masalah pribadi dengan Ketua Umum Golkar, Mayor Jenderal Sudharmono. Namun, ketika diberi tahu bahwa Sudharmono hendak dijadikan wakil presiden oleh Soeharto, Benny terkejut.

My God, ini gila. Saya kan pembantunya, mengapa saya tidak diberitahu. Sampai sekarang saya masih tetap yakin Pak Umar Wirahadikusumah akan terus menjadi Wapres. Kalau mau Sudharmono, mengapa saya tidak diberi tahu?” kata Benny seperti dikutip Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016:91). Menurut Salim Said, Soeharto tahu Benny tak suka keputusan itu.

Jika Sarwono melihat tak ada masalah pribadi antara Benny dengan Sudharmono, maka Ginanjar Kartasasmita mendengar sesuatu yang agak mengerikan.

“Dalam pidatonya kepada perwira militer senior, Benny Meordani menuduh Sudharmono tikus tanah komunis. Aku mendengar sendiri pidato itu,” kata Ginanjar dalam Managing Indonesia's Transformation: An Oral History (2013:93).

Benny bahkan mengarahkan fraksi ABRI di MPR untuk tidak mendukung Sudharmono sebagai wakil presiden.

“Mereka yang menolak Sudharmono [jadi wakil presiden] menuduh bahwa Sudharmono pernah terlibat PKI,” tulis Retnowati Abdulgani Knapp dalam Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia’s Second President (2007:184).


Patmono SK dalam R. Soekardi, Tentara Demokrat (2000:167) menulis bahwa ada kelompok yang ingin menjatuhkan Sudharmono. Ketua Umum Golkar itu dianggap mantan anggota Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia)--organisasi yang terlibat dalam Peristiwa Madiun 1948 yang dimotori PKI.

Menurut Salim Said, Jenderal Soemitro yang sudah pensiun juga berusaha menghalangi naiknya Sudharmono sebagai wakil presiden.

“Dia itu merah. Tapi sumber kesalahannya sebenarnya ada pada saya. Pada saat menjabat Pangkopkamtib, saya sibuk membersihkan yang bawah, lalai melihat ke atas. Sudharmono lolos,” ujar Soemitro.

Benny dan Soemitro adalah petinggi ABRI yang pernah berusaha kritis kepada Soeharto. Benny pernah menyentil Soeharto tentang anak-anaknya yang masuk dunia bisnis.

Dibela "Lurah"

ABRI terus menggoyang Sudharmono. Seperti terdapat dalam Sudharmono, S.H., Pengalaman dalam Masa Pengabdian (1997:405), Brigadir Jenderal Ibrahim Saleh, anggota fraksi ABRI di MPR, bahkan menginterupsi dan menerobos mimbar sidang demi memprotes pemilihan Sudharmono.

Seperti Try Sutrisno, Ibrahim Saleh adalah lulusan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Banyak yang menilai Ibrahim Saleh adalah bagian dari kelompok Benny. Saleh mengaku apa yang dilakukannya atas sepengetahuan Benny dan Letnan Jenderal Harsudiono Hartas, Ketua Fraksi ABRI di MPR.

Benny sebetulnya hendak memunculkan Try Sutrisno sebagai calon wakil presiden. Ia sadar dirinya yang berasal dari kalangan minoritas—penganut Katolik dan punya darah Indo Jerman—akan sulit diterima mayoritas untuk jadi wakil presiden. Belum lagi karena reputasinya yang dikenal sebagai anti-Islam.

Sementara Try Sutrisno beragama Islam dan orang Jawa yang tentunya lebih bisa diterima untuk jadi wakil presiden. Namun, warsa 1988 Try Sutrisno justru diangkat sebagai Panglima ABRI, alih-alih wakil presiden.

Tekanan ABRI terhadap Sudharmono membuat Try Sutrisno bertindak. Ia yang paham Soeharto karena pernah menjadi ajudannya, membela wakil presiden yang dituduh PKI itu. Seperti diceritakan dalam biografinya Pengabdian Tanpa Akhir (2005), Try mengajak Benny bicara sebelum masuk ke acara sidang pemilihan wakil presiden.



“Saya mau tanya, sekarang siapa lurahnya di ABRI?” kata Try kepada Benny.

“Ya, kamu,” jawab Benny

“Nah. Kalo saya… Pak Benny nurut saya. Nanti kalau sidang, jangan bikin ulah macam-macam. Jangan memunculkan nama calon wapres baru,” timpal Try Sutrisno.

Benny pun menuruti Try yang lebih junior dari dirinya tapi menjabat sebagai Panglima ABRI alias "lurah ABRI".

Soeharto memilih tak mendengar apa yang diinginkan ABRI di bawah pengaruh Benny. Ia sebagaimana dipahami Try Soetrisno lewat "pengkaderan" sebagai ajudan, tak ubahnya Raja Jawa yang tidak boleh diganggu apa pun yang hendak diputuskannya.


Strategi daripada Soeharto

Sejak lama Sudharmono adalah jenderal yang setia kepada Soeharto. Pada 1966, ia adalah perwira menengah yang membantu Soeharto menyikat PKI dan ikut pula membangun Orde Baru. Namun, untuk jadi pendamping Presiden daripada Soeharto, setia saja tidak cukup. Seseorang yang mengisi jabatan wakil presiden tidak boleh kuat, juga harus punya kelemahan, agar selalu bergantung kepada Soeharto.

Soeharto berpikir bahwa kelompok Benny Moerdani adalah pengganggu yang akan selalu membuat Sudharmono tidak macam-macam kepada dirinya.

Tahun 1993, para jenderal yang terkait dengan Benny kembali memajukan Try Sutrisno sebagai calon wakil presiden. Maka kali ini Try Sutrisno tak bisa menolak. Sebagai mantan ajudannya, Soeharto menjadikan Try sebagai wakil presiden rasa ajudan, dengan tidak memfungsikannya dan hanya sebagai simbol. Artinya, baik Sudharmono maupun Try Sutrisno, sama-sama punya kelemahan, dan itulah yang diinginkan Soeharto.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight