Benny dan Luhut, Kisah Sepak terjang Jenderal Kepercayaan Presiden

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bersiap mengikuti foto bersama seusai pelantikan menteri Kabinet Indonesia Maju di Beranda Halaman Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc.
Oleh: Petrik Matanasi - 17 April 2020
Dibaca Normal 3 menit
Benny Moerdani dan Luhut Panjaitan sama-sama bukan dari kalangan mayoritas. Namun keduanya menjadi orang kuat dalam politik Indonesia.
Ketika Perang Kemerdekaan 1945 berkecamuk, Benny Moerdani masih berusia 13 tahun dan ikut bergabung dengan pasukan Tentara Pelajar di Solo. Beberapa tahun setelah pengakuan kedaulatan, Benny menjadi anggota pasukan baret merah yang sekarang bernama Kopassus.

Waktu Benny tengah sibuk di masa Revolusi, Luhut Binsar Panjaitan baru lahir di Simargala, Toba Samosir, Sumatra Utara, pada 28 September 1947. Lima tahun kemudian, Luhut bersama adiknya, Kartini Panjaitan, dibawa ibunya ke Pekanbaru naik bus Sibualbuali untuk menyusul ayahnya yang bekerja di Caltex Riau.

Beberapa tahun kemudian, seperti terdapat dalam buku Tritura dan Hanura: Perjuangan Menumbangkan Orde Lama dan Menegakkan Orde Baru (1997:98), Luhut Panjaitan menjadi Presidium KAPI Bandung yang membacakan pernyataan dalam rangka mendukung perjuangan Tritura.

Tahun 1967, Luhut masuk Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang dan lulus pada 1970. Ia seangkatan dengan mantan KSAD Subagyo Hadisiswoyo dan Menteri Agama Fachrul Razi.

Seperti Benny Moerdani, Luhut juga menjadi anggota korps baret merah. Namun waktu itu Benny sudah tidak lagi berada di kesatuan tersebut. Luhut baru bertemu dengan Benny yang sudah menjadi pejabat intel penting daripada Soeharto, saat akan berangkat ke Timor Timur.

Tanggal 6 Desember 1975, bertempat di Bandara Halim Perdanakusumah, Luhut yang waktu itu Komandan Kompi A Detasemen Tempur (Denpur) 1 Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), ditemui Benny.

“Saya percaya kalian akan bisa merebut Dili. Tetapi saya juga sadar, di antara kalian pasti akan ada yang gugur dalam pertempuran,” kata Benny Moerdani seperti ditulis Julius Pour dalam Benny: Tragedi Seorang Loyalis (2007:196).

Luhut pulang dari Timor Timur dalam keadaan selamat. Saat Panglima ABRI dijabat oleh M. Jusuf, Luhut dilatih GSG-9, yakni polisi anti-teror Jerman, lalu memimpin Detasemen Anti Teror 81 dengan Kapten Prabowo Subianto sebagai wakilnya.


Ketika Luhut masih duduk di bangku sekolah dasar, Benny telah menjadi komandan pasukan tempur yang berhasil memukul PRRI di Pekanbaru. Selain itu, Benny juga dianggap berani dan berhasil dalam operasi Trikora di Papua sehingga mendapat Bintang Sakti yang disematkan langsung oleh Presiden Sukarno. Luhut setali tiga uang, ia dua kali jadi komandan pasukan pemburu dan dinilai berprestasi.

Luhut masih di Kopassus dan sudah berpangkat mayor ketika Benny menjadi Panglima ABRI menggantikan Jenderal M. Jusuf. Posisi paling mentereng yang diisi Luhut di Kopassus adalah Komandan Grup 3 Sandhi Yudha Kopassus. Dalam hal ini, Luhut melebihi Benny, yang di korps baret merah hanya mentok di jabatan komandan batalion.

Pada jabatan teritorial, mereka berdua tak pernah menjadi Pangdam. Luhut hanya pernah menjadi Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Madiun, Jawa Timur, dan menjadi Danrem terbaik tahun 1995. Sementara Benny tak pernah menjadi Danrem, melainkan dijadikan perwira intel di Kostrad dan pernah jadi Konsul Jenderal di Seoul, Korea Selatan.

Meski demikian, tentu saja karier Benny di ketentaraan lebih moncer daripada Luhut sebab ia pernah menjadi Panglima ABRI. Benny menyamai Letnan Jenderal Gerardus Johannes Berenschot (komandan KNIL), yakni sama-sama berdarah campuran yang menjadi orang nomor satu di angkapan perang.

Tragedi Benny

Sebagai sosok kuat di Angkatan Bersenjata, selain mempunyai pendukung, Benny Moerdani juga mempunyai seteru, yakni Prabowo Subianto, yang waktu itu masih menjadi menantu daripada Soeharto.

Menurut Kivlan Zen dalam Konflik dan Integrasi TNI-AD (2004: 70), Prabowo Subianto tidak cocok dengan Benny dan melaporkan langkah-langkah Benny kepada mertuanya, termasuk rencana Benny untuk menguasai Indonesia atau menjadi Presiden RI.

Sementara Hendro Subroto dalam Sintong Pandjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009: 450-456) menyebutkan bahwa Prabowo pernah menggerakkan pasukan untuk "mengamankan" Benny Moerdani yang naik jadi Panglima ABRI. Saat itu, Prabowo menganggap Benny hendak melakukan kudeta.

Namun, anggapan itu dipatahkan Benny. Menurut Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016:164), Benny menyadari bahwa secara sentimen mayoritas, dirinya bukan sosok yang ideal untuk menjadi Presiden RI sebab keturunan indo Jerman dan non-muslim.


Meski demikian, Benny memang pernah membuat Soeharto marah. Sekali waktu, ia meyakinkan bosnya itu bahwa ABRI mendukung Soeharto, tapi tidak kepada anak-anak Soeharto yang kala itu mulai berbisnis.

“Saya tidak bisa menjamin mereka juga bakal mendukung putra-putri Bapak,” kata Benny.

Setelah itu Soeharto pergi. Benny mengira bosnya pergi ke toilet, tapi rupanya Soeharto pergi tidur. Benny sadar, Soeharto marah berat padanya. Ia mungkin bermaksud mengkritik, tapi yang terjadi kemudian adalah Benny dimusuhi. Akhirnya Soeharto tentu saja menyingkirkan Benny secara perlahan. Setelah tahun 1993, Benny benar-benar sudah tidak berarti buat Orde Baru.




Masa Kejayaan Luhut

Di saat yang hampir bersamaan, karier Luhut justru mulai naik. Meski tidak terlalu cemerlang, namun kenaikan pangkatnya cukup lancar. Sebagai gambaran, tahun 1998 Subagyo H.S.--kawan seangkatan Luhut--menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), dan Prabowo Subianto menjadi Pangkostrad. Sementara Luhut hanya jadi Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklat TNI AD).

Setelah Soeharto lengser, Luhut jadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura selama setahun. Lalu ia juga terjun ke dunia usaha setelah tak sibuk sebagai perwira militer.

Luhut mulai menjadi menteri di masa Presiden Abdurrahman Wahid, yakni sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Di era Presiden Joko Widodo, ia diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) dari 2015 hingga 2016. Setelah itu tugasnya berganti menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dari 2016 hingga 2019.

Posisi Luhut seolah tak tergantikan. Memasuki periode kedua sebagai presiden, Jokowi lagi-lagi memercayai Luhut untuk tetap berada dalam kabinetnya. Kali ini ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Dan ketika Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dinyatakan positif Covid-19, Jokowi menunjuk Luhut sebagai pelaksana tugas Menteri Perhubungan.

Pencapaian Luhut dalam kabinet yang dipimpin Abdurrahman Wahid dan Jokowi tentu saja melebihi apa yang pernah dicapai oleh Benny Moerdani. Jika Benny hanya berkutat di bidang pertahanan, maka Luhut merambah bidang perindustrian, perdagangan, maritim, investasi, dan perhubungan.

Hubungan keduanya dengan presiden juga cukup mencolok. Sekuat apapun Benny, Soeharto jauh lebih kuat sehingga ia pun ditinggalkan. Sementara hari-hari ini Luhut, paling tidak terlihat dari beberapa kebijakannya, seolah-olah lebih kuat daripada Jokowi.


Baca juga artikel terkait LUHUT PANDJAITAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight