Bencana, Teknologi, dan Uang dari Sampah

Pemulung memilah sampah plastik dari tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (25/7/2018). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Oleh: Ahmad Zaenudin - 25 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Sampah punya dua sisi, satu sisi negatif menyimpan ancaman lingkungan hingga kesehatan, dan sisi potensi bisnis dan mendorong pengembangan teknologi.
tirto.id - Pada Rabu (17/10) sebanyak 16 truk pengangkut sampah asal DKI Jakarta yang hendak menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantergebang, Bekasi, diblokir oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi. Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhiyanto mengatakan aksi itu bagian dari protes pelanggaran kesepakatan Perjanjian Kerja Sama Nomor 71 Tahun 2016 tentang Kerja Sama Pemanfaatan TPST Bantargebang yang diteken pemerintah DKI Jakarta dan Kota Bekasi.



Persoalan sampah ibu kota memang masalah pelik karena melibatkan wilayah tetangga. Setiap hari berton-ton sampah asal Jakarta dibuang ke Bantargebang, Bekasi. Mengutip laporan Jakarta Open Data, tiap tahun sampah yang diproduksi Jakarta terus meningkat. Pada 2014, ada sebanyak 2,06 juta ton sampah diproduksi. Setahun berselang, angkanya bertambah menjadi 2,34 juta ton.pada 2016, ada 2,40 juta ton sampah yang dihasilkan warga Jakarta.

Sebanyak 2,40 juta ton sampah setara dengan volume sebesar 36 ribu meter persegi atau 0,036 kilometer persegi. Jika dikonversi ke bentuk hektar, sampah yang diproduksi warga ibu kota pada 2016 itu setara dengan areal 3,6 hektare. Luasnya areal ini berpotensi jadi bencana lingkungan bila tak dikelola dengan manajemen baik.

Bank Dunia, sebagaimana dilansir BBC, melaporkan sepuluh tahun lalu tercipta 680 juta ton sampah oleh warga kota dunia. Kini, angkanya dilaporkan meningkat menjadi 1,3 miliar ton. Pada 2025 mendatang, jumlahnya akan menggelembung menjadi 2,2 miliar ton. Hari ini, dunia harus menghabiskan uang senilai $205 miliar untuk mengurus sampah-sampah tersebut. Jika sampah tak diurus, masalah serius mengancam peradaban manusia.



Bencana, Teknologi, dan Uang dari Sampah


Secara umum, sampah yang dihasilkan masyarakat hanya berakhir di tempat pembuangan, tanpa diurus. Sampah-sampah yang hanya dibiarkan, akan menghasilkan gas metan. Gas metan, jika dibiarkan dan masuk ke atmosfer Bumi, akan bercampur dengan karbon dioksida. Reaksi ini akan menciptakan efek rumah kaca dan reaksi ini butuh waktu terurai selama 10-20 tahun. Bumi akan semakin memanas dan menipiskan lapisan ozon.

Dari Jakarta Open Data, karakteristik sampah yang dihasilkan warga ibu kota ialah mengandung kadar air, abu, dan volatile. Volatile, dalam ilmu kimia, merupakan suatu kecenderungan zat menguap, yang umumnya beracun yaitu gas metan. Sampah-sampah Jakarta di setiap kilogram, menghasilkan 82,77 persen volatile.


Jakarta memang tak sendirian soal sampah. Kota Meksiko City, di salah satu tempat penampungan sampahnya yang bernama Bordo Poniente, menghasilkan 1,4 juta ton gas metan ke udara setiap tahun. Namun, gas metan ini tak melulu sebagai sumber masalah.

Dengan penggunaan teknologi, gas metan bisa diubah untuk hal positif, salah satunya menjadi energi listrik. Merujuk laporan BBC, instalasi bernama Ener-Core yang ada di California, Amerika Serikat, menghasilkan 250 kilowatt listrik dari gas metan yang dihasilkan sampah-sampah di sana. Menurut Alain Castro, pemimpin Ener-Core, sanggup “menerangi 250 hingga 1.000 rumah.”

Namun, cari yang paling efektif mengurus sampah ialah bagaiman orang-orang dapat mengurangi jumlah produksi. Tempat sampah yang ditempeli RFID alias Radio Frequency Identification, berikut ditempel juga pada kendaraan-kendaraan pengangkut jadi salah satu solusi.

Dilansir dari Mashable, memanfaatkan RFID, seseorang bisa mendeteksi ke mana sampahnya dibuang. Ia pula bisa mendeteksi bagaimana sampahnya diproses, apakah didaur-ulang atau hanya dibiarkan. Pada pemberitaan BBC, seseorang akan dibebankan biaya tergantung dari seberapa banyak sampah-sampah yang tak terdaur-ulang. Ini telah dilakukan di Spanyol dan Portugal.

Hampir mirip dengan tempat sampah yang ditempeli RFID, WeRecycle, gerakan penanggulangan sampah berbasis teknologi yang dilakukan University of Georgia, memetakan tempat-tempat sampah di perkotaan dengan aplikasi Android. Melalui aplikasi Android, mereka mengukur mana tempat sampah yang paling produktif mendaur-ulang sampah. Dengan aplikasi tersebut, warga yang ingin berpartisipasi, bisa membuang sampahnya dengan baik.

“Perilaku manusia memainkan peran besar dalam daur ulang," kata Bryan Staley, si penggagas.

Selain risiko kerusakan lingkungan dan kesehatan, sampah bisa jadi ladang uang yang cukup besar, terutama untuk sampah-sampah elektronik, yang memiliki potensi kandungan logam mulia. Semakin berkembangnya perangkat digital dan gawai sampah elektronik yang ada di dunia semakin besar.

Roff Widmer dalam jurnal berjudul “Global Perspectives on E-Waste” menyatakan setiap tahun, Cina menghasilkan 4 juta unit sampah personal computer (PC). Sementara itu, di seluruh dunia antara 1994 hingga 2003, dihasilkan 500 juta unit sampah PC. Widmer memaparkan bahwa sampah elektronik mengandung 1.000 substansi kimia yang berbeda-beda. Mayoritas dari substansi tersebut beracun yang berdampak pada kesehatan.

Namun, Paul Goodman dalam jurnal berjudul “Current and Future Uses of Gold in Electronics” menyatakan bahwa dalam perangkat elektronik, unsur logam emas digunakan sebagai bahan electroplating atau proses pelapisan logam. Fungsi ini terutama digunakan pada bagian konektor dan kontak pada papan sirkuit suatu perangkat elektronik.

Dalam laporan Wired, satu unit ponsel rata-rata diperkirakan mengandung 0,2 gram emas. Pada ponsel, emas umumnya terkandung dalam kartu SIM, papan logic, dan komponen-komponen yang ada di balik layar LCD. Angka yang cukup besar itu tercipta karena industri elektronik dunia rata-rata menggunakan lebih dari 300 ton emas setiap tahun untuk berbagai keperluan di dalam perangkat elektronik. Angka tersebut setara dengan 12 persen emas yang ditambang di seluruh dunia.

Baca juga artikel terkait SAMPAH atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight