Benarkah Menteri Susi Sediakan 20 Bus untuk Aksi 411 atau 212?

Reporter: Frendy Kurniawan - 5 Apr 2018 20:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Tirto melakukan konfirmasi kepada Susi Pudjiastuti, Tuan Guru Bajang, KH. Nonop Hanafi dan peserta long march Aksi 212.
tirto.id - Pada 5 April 2018, portal-islam.id mempublikasikan artikel berjudul "Subhanallah.. Saat Sukmawati Lecehkan Islam, TGB UNGKAP: Menteri Susi Sewa 20 Bus Untuk Support Aksi 411".

Artikel memberi informasi perihal "Menteri Susi datang ke Jokowi dan mengaku bahwa dirinya menyewa 20 bus dari Pangandaran ke Monas untuk aksi 411". Informasi itu diklaim diambil dari video yang menampilkan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhamamad Zainul Majdi (TGB) dalam sebuah acara di Jambi.

Situasinya, TGB yang sedang berbicara meminta agar informasi tidak perlu direkam. TGB lantas bercerita bahwa Susi pernah bilang kepadanya soal Susi yang membantu memberangkatkan tetangganya di Pangandaran ke Monas untuk kegiatan aksi.

"Ibu Susi Pudjiastuti Menteri Perikanan dan Kelautan, ini supaya…ini nggak usah direkamlah kalian. Dia ngomong sama saya, apa katanya? Beliau menyampaikan kepada Pak Presiden, pada masa pasca 212 itu. Apa kata beliau? Pak, saya ini, Bapak tahulah, kalau ibadah mungkin tidak seperti yang lain, pakaian kan juga bapak tahu. Tapi Pak, mohon maaf Pak, saya menyewa 20 bis dari Pangandaran. Tetangga-tentangga saya semua berangkat ke Monas. Kenapa? Karena ucapan itu menyentuh sisi terdalam saya sebagai seorang muslim" (transkrip video menit 0.00-0.56).

"Jadi ini bukan masalah politik sebenarnya. Maka kalau ditanya kenapa TGB ikut 411, sampai berjalan ikut. Sederhana saja, supaya saya bisa jawab kalau Munkar Nakir nanya. Ketika kitab sucimu, kitabmu diomongin, dengan sesuatu yang tidak ...apa pembelaanmu kepada Al-Quran. Hanya itu saja. Dan saya akan ditanya, seperti anda juga akan ditanya. Anda bisa, anda sehat, apa yang anda lakukan? Dan saya rasa apa yang dilakukan oleh umat Islam itu sungguh-sungguh menunjukan derajat dari kesadaran berpolitik yang luar biasa. Tidak merusak rumah ibadah agama lain dimanapun. Tapi dengan tertib mereka menyuarakan supaya ditegakan hukum seadill-adilnya” (transkrip video menit 00.57-1:47).


Berdasarkan aplikasi CrowdTangle, daya sebar unggahan portal-islam.id itu 1.2x kali lebih besar dari unggahan lain dalam fanpage portal-islam.id. Unggahan serupa juga mendapatkan 599 respon lebih tinggi daripada postingan lainnya (data per 16.30 WIB, 5 April 2018).

Informasi serupa juga dipublikasikan oleh gelora.co. Artikel gelora.co itu kemudian diunggah oleh fanpage Posmetro News. Berdasarkan aplikasi Crowdtangle, daya sebar artikel tersebut 5.1x lebih besar dibandingkan unggahan lain di fanpage serupa (data per 16.30 WIB, 5 April 2018). Informasi yang sama muncul di b-islam24h.com. Isi artikelnya sama namun terdapat sedikit perubahan pada judul.

Artinya, dengan model amplifikasi seperti itu, informasi ini berpotensi menjadi unggahan yang menyebar (viral post).

Susi Pudjiastuti merespons melalui akun Twitternya. Ia merespons pertanyaan akun @AmbarwatiRexy yang bertanya kebenaran potongan video TGB tersebut. Atas pertanyaan itu, Susi lantas menjawab: "Tidak benar. Yg benar orang2 Pangandaran, Ciamis ke jakarta pake bus. Sy tidak mengikuti atau perhatikan kegiatan 411 ataupun 212."

Jawaban Susi itu masih ambigu, terutama karena pertanyaan yang diajukan juga tidak spesifik. Memang benar, Susi tidak datang dan berpartisipasi dalam aksi di Monas, namun kemungkinan bus itu disewa/disediakan oleh Susi masih terbuka.

Tirto langsung menghubungi Susi dan bertanya benarkah ia menyewakan bus untuk rombongan peserta Aksi 212 atau 411 dari Ciamis atau Pangandaran. Jawaban Susi singkat dan jelas: "Tidak."

Setelah itu, Tirto menghubungi TGB. Ia membenarkan sosok yang ada dalam video memang dirinya sendiri. Namun, saat peristiwa itu terjadi, TGB meminta agar informasi itu tidak direkam dan off the record. TGB menjelaskan video itu diambil saat ia hadir dalam acara “Dialog Kebangsaan di Kampus UIN Sulthan Thaha Jambi, 1 Maret 2018”.

TGB mencoba mengingat-ingat dan berkata cerita itu didapatkan langsung dari mulut Susi saat menteri dari Pangandaran itu melakukan kunjungan ke Lombok. Namun TGB tidak ingat persisnya kapan, di mana dan dalam acara apa.

Ia juga memberi tambahan pernyataan: “Mungkin saya yang salah menafsirkan omongan Ibu Susi.”


Tirto juga melakukan konfirmasi kepada Kyai Nonop Hanafi, pengasuh Ponpes Miftahul Huda 2, Bayasari, Kabupaten Ciamis, yang merupakan -- mengutip Republika -- "Penggagas Long March Ciamis pada Aksi 212". Nonop memimpin 1-2 ribu orang peserta Aksi 212 yang berjalan kaki dari Ciamis. Rombongan akhirnya melanjutkan perjalanan ke Jakarta menggunakan bus setelah tiba di Bandung.

Terkait 20 bus yang disebutkan dalam video oleh TGB, pada saat itu Nonop juga sempat menyinggung hal serupa.

"Posisi kami saat ini masih di Bumi Parahyangan Bandung, tepatnya di Padalarang. Kami memutuskan untuk naik bus karena kalau memaksakan jalan kaki malah tidak terkejar acaranya. Sekarang sudah dapat 15 bus yang mau antar, masih menunggu tambahan lagi supaya bisa mengangkut semua kira-kira 20 bus," kata Nonop, dikutip dari bintang.com.

infografik mozaik 212


Apakah 20 bus yang disebutkan Nonop saat itu berasal dari sumbangan Susi?

Nonop membantah. Ia menegaskan tidak ada dana dari Susi terkait pengadaan bus untuk angkutan peserta aksi dari Ciamis. Nonop bercerita bahwa bus-bus itu merupakan hasil negosiasi antara aparatur pemerintah dengan pimpinan aksi serta PO bus.

“Ada 25 bus [yang] disediakan Dinas Perhubungan Jawa Barat,” kata Nonop kepada Tirto, Kamis (5/4/2018).

Pada saat kejadian, Nonop sebenarnya sempat menjelaskan kepada okezone.com bahwa bus yang membawa sebagian rombongan berasal dari Organda di Bandung. Kejadian berlangsung pada Kamis, 1 Desember 2016, atau sehari sebelum Aksi 212. (baca juga: Inisiator Long March 212 dari Ciamis Bantah Ada Bantuan Susi).

Masih kepada Tirto, Nonop juga menegaskan tambahan dana diperoleh dari sumbangan masyarakat yang didapat sepanjang perjalanan. “Gak ada, ah [sumbangan dari Susi]. Uang recehan semua. Uang seribuan, dua ribuan,” ungkapnya.

Hal serupa disebutkan oleh Aris Darussalam (mantan Ketua PW PII Jawa Barat) yang merupakan salah satu rombongan saat itu. "Seingat saya ada bus-bus dari Polda juga," katanya kepada Tirto.


Terbuka kemungkinan ada rombongan lain dari Ciamis/Pangandaran selain yang dipimpin Nonop. Namun penelusuran Tirto tidak menemukan rombongan dari Ciamis atau Pangandaran yang jumlahnya signifikan. Selain berjumlah cukup banyak, rombongan yang dipimpin Nonop juga paling menyita perhatian dan diberitakan secara luas terutama karena didahului long march dari Ciamis hingga Bandung.

Di luar konfirmasi dari nama-nama yang disebut di atas, artikel portal-islam.id sendiri perlu diperhatikan secara seksama. Kalimat "Menteri Susi Sewa 20 Bus Untuk Support Aksi 411" di dalam judul mengandung disinformasi. Rekaman video TGB hanya menceritakan bahwa (1) pasca 212, Susi bercerita kepada Jokowi bahwa dirinya menyewa 20 bus untuk tetangganya dan (2) penjelasan TGB mengapa ia hadir dalam Aksi 411. Tidak ada ucapan TGB yang secara spesifik menyebut Susi menyewakan bus untuk aksi 411 atau 212.

Karena konteks itulah, artikel berjudul “Subhanallah.. Saat Sukmawati Lecehkan Islam, TGB UNGKAP: Menteri Susi Sewa 20 Bus Untuk Support Aksi 411” dapat dimasukan dalam kategori informasi "not eligible". Selain mengandung disinformasi; terdapat misleading antara judul dengan informasi di dalam video yang menjadi satu-satunya rujukan.

=========

Tirto mendapatkan akses pada aplikasi CrowdTangle yang memungkinkan mengetahui sebaran sebuah unggahan (konten) di Facebook, termasuk memprediksi potensi viral unggahan tersebut. Akses tersebut merupakan bagian dari realisasi penunjukan Tirto sebagai pihak ketiga dalam proyek periksa fakta. Kerja sama antara Tirto dan Facebook ini merupakan yang pertama di kawasan Asia Pasifik.

News Partnership Lead Facebook Indonesia, Alice Budisatrijo, mengatakan, alasan pihaknya menggandeng Tirto dalam program third party fact checking karena Tirto merupakan satu-satunya media di Indonesia yang telah terakreditasi oleh International Fact Cheking Network sebagai pemeriksa fakta.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Frendy Kurniawan
Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Zen RS

DarkLight