Benarkah Matcha Mampu Menghambat Kanker?

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 27 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Popularitas matcha melesat begitu tajam dalam beberapa tahun terakhir. Dibalik itu, ada sejumlah efek positif dan negatif yang dapat berdampak pada kesehatan tubuh.
tirto.id - Selama tiga tahun terakhir, popularitas matcha meroket pesat di seluruh dunia. Kini hampir mustahil untuk tidak menemukan minuman atau makanan pencuci mulut berbasis matcha di kafe atau restoran ternama.

Di Sydney, Australia, misalnya, ada banyak kafe yang menawarkan berbagai menu minuman olahan matcha. Salah satu yang paling populer adalah Oh! Matcha, gerai kafe yang memang khusus menjual menu-menu berbahan dasar matcha. Oh! Matcha selalu padat oleh pengunjung di jam-jam makan siang atau makan malam.

Di New York, Amerika Serikat, Anda hanya butuh berjalan beberapa blok untuk menemukan kafe yang memiliki spesialisasi dalam olahan matcha. Padahal, tiga tahun lalu, jarang ada cafe yang menyediakan teh matcha yang enak di megapolitan tersebut.

“Ketika kami pertama kali membuka kafe di West Village, kami tidak mengharapkan matcha menjadi produk andalan kami,” kata Michelle Puyane, pemilik Chalait, jaringan kafe yang menawarkan merek tehnya sendiri, seperti dikutip dari Financial Times. “Kini, matcha ada di sampul majalah, selebritas membicarakannya, dan bisa ditemukan di mana-mana.”


Demikian pula di Indonesia. Di kafe-kafe atau tempat makan ternama seperti Starbucks atau Dunkin’ Donuts, Anda akan menjumpai pilihan menu minuman berbahan dasar matcha. Nama dari sejumlah produk yang Anda temui bisa jadi bukan matcha, melainkan green tea atau teh hijau, meski rasanya mirip.

Matcha dan teh hijau memang bersaudara. Seperti dilansir dari laman Healthline, keduanya berasal dari tanaman jenis Camellia sinensis. Namun, matcha dibudidayakan dengan cara yang berbeda dari teh hijau. Tanaman ini ditutupi sekitar 20 hingga 30 hari sebelum dipanen untuk mencegah paparan langsung sinar matahari.

Proses tersebut akan menstimulasi peningkatan kadar klorofil, yang mengubah warna daun menjadi hijau gelap serta meningkatkan produksi asam amino. Setelah panen, batang dan urat daun dipisahkan dari daunnya. Daun tersebut kemudian ditumbuk menjadi bubuk berwarna hijau terang yang dikenal sebagai matcha.

Artinya, ketika mengonsumsi matcha, sesungguhnya Anda sedang mengonsumsi keseluruhan daun tehnya. Penyajian Matcha berbeda dengan teh hijau yang menghilangkan daun teh dan hanya menyajikan hasil air hasil seduhan daun teh.

Oleh karenanya, matcha mengandung sejumlah substansi yang lebih tinggi dibandingkan dengan teh hijau, termasuk kandungan kafein dan anti oksidan. Secangkir matcha yang terbuat dari setengah sendok teh bubuk matcha secara umum mengandung kafein sebanyak 35 miligram. Kandungan ini sedikit lebih banyak dibandingkan teh hijau yang biasa.


Temuan Universitas Salford

Baru-baru ini, sejumlah peneliti dari Universitas Salfrod di Inggris Raya, Gloria Bonuccelli, Federica Sotgia dan Michael P. Lisanti, menemukan bahwa matcha dalam konsentrasi yang rendah dapat menghambat penyebaran sel kanker, utamanya sel kanker payudara.

“Dengan menggunakan fenotipe metabolik, kami menemukan bahwa teh tersebut dapat menekan metabolisme mitokondria oksidatif,” jelas Lisanti. “Dengan kata lain, [matcha] mencegah sel kanker untuk ‘hidup kembali’, sehingga sel-sel [kanker] tersebut tidak aktif dan kemudian mati.”

Riset yang dipublikasikan pada 23 Agustus 2018 di jurnal Aging itu juga menuliskan bahwa hasil temuan mereka konsisten dengan anggapan bahwa matcha “mungkin memiliki potensi terapeutik yang signifikan, dengan memediasi pemrograman ulang metabolik sel-sel kanker.”

Temuan ini meningkatkan kemungkinan bahwa matcha dapat digunakan sebagai pengganti obat-obatan kimia seperti rapamycin.

Masih dari riset yang sama, sifat anti-kanker dari teh hijau atau komponennya memang sedang sering diteliti dalam beberapa tahun terakhir. Riset-riset tersebut melaporkan bahwa teh hijau memang efektif mencegah atau mengobati beberapa jenis tumor.

Beberapa riset juga menyebutkan bahwa salah satu komponen utama antioksidan dari teh hjiau, yakni epigallocatechin gallate (EGCG), mampu menekan karakter sel-sel kanker seperti sel induk (CSCs) dalam berbagai model seluler. Tak heran jika matcha memiliki sifat serupa, mengingat keduanya berasal dari jenis tanaman yang sama.


Penelitian mengenai khasiat anti-kanker teh hijau sesungguhnya telah berjalan cukup lama. Sejumlah peneliti dari Universitas Saga dan Universitas Saitama, Jepang, misalnya, telah meneliti keterkaitan antara EGCG dan kanker dan ekstrak teh hijau sejak 1983. Hasilnya cukup menjanjikan: teh hijau dapat mengurangi insiden kanker dan menunda serangan kanker.

Yang lebih menggembirakan, teh hijau juga memiliki sejumlah dampak positif lain terhadap kesehatan. Dalam “Beneficial effects of green tea—a review (2006), Wolfram S. menjelaskan bahwa teh hijau punya potensi mengontrol berat badan, melindungi kulit dari sinar ultraviolet, hingga mengurangi resiko penyakit kardiovaskular atau jantung. Hal ini, lagi-lagi, disebabkan oleh faktor kandungan EGCG.

Kendati demikian, mengonsumsi matcha secara berlebih tak otomatis membuat tubuh lebih sehat. Masih dilansir dari Healthline, matcha memang memiliki kandungan antioksidan tiga kali lebih tinggi dibandingkan teh hijau berkualitas tinggi. Namun, dalam sejumlah riset ditemukan bahwa senyawa tanaman tingkat tinggi yang ada dalam matcha dapat menyebabkan mual-mual dan gejala keracunan pada hati atau ginjal.

Dalam beberapa kasus, beberapa orang menunjukkan tanda-tanda keracunan hati setelah mengonsumsi enam cangkir teh hijau setiap hari selama empat bulan. Ini setara dengan dua cangkir matcha setiap harinya.

Infografik Matcha


Di sisi lain, Dr. Tan Wu Meng, konsultan pengobatan kanker pada Parkway Cancer Centre di Singapura, menyarankan untuk tidak menaruh banyak ekspektasi pada matcha untuk melindungi diri dari penyakit, demikian yang dilaporkan oleh Strait Times.

Tan mengatakan, kendati sejumlah riset menyatakan bahwa teh hijau dapat menghambat sel kanker, belum ada bukti definitif dari riset yang mayoritas dilakukan di dalam lab.

“Meski hasil lab ini menggembirakan, kita butuh bukti dari penelitian pada manusia untuk membuktikan [kesahihan] penelitian-penelitian tersebut,” jelas Dr. Tan.

Ia juga mengingatkan bahwa teh memiliki kandungan kafein yang dapat mempengaruhi detak serta ritme jantung manusia, jika dikonsumsi dalam dosis tinggi. Mengingat matcha memiliki kandungan kafein yang sedikit lebih tinggi daripada teh hijau biasa, nasihat Dr. Tan ini tidak boleh Anda lewatkan begitu saja.

Tidak ada nutrisi berlebih yang baik untuk tubuh. Saran sederhana ini pun juga berlaku untuk matcha. “Konsumsilah secukupnya dan konsultasikan dengan dokter Anda jika Anda punya riwayat penyakit jantung,” terang Dr. Tan.

Terlepas dari komentar Dr. Tan, popularitas matcha nampaknya tidak akan segera surut dalam waktu dekat. Menurut riset yang dirilis Grand View Research, pasar matcha global diperkirakan akan mencapai 5,07 miliar dolar AS pada 2025, atau meningkat sebesar 7,6 persen (CAGR) dari tahun 2017 seiring makin banyaknya konsumen yang sadar khasiat matcha.

Baca juga artikel terkait KANKER PAYUDARA atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Windu Jusuf