Benarkah Krisis Kebahagiaan Terjadi Pada Usia 35?

Oleh: Yulaika Ramadhani - 24 Agustus 2017
Dibaca Normal 3 menit
Usia 35-40 tahun dianggap sebagai masa yang rentan dalam krisis kebahagiaan seseorang?
tirto.id - “Bukan, bukan tentang pernikahan, selama ini aku tak menyamakan hidupku dengan kisah-kisah konyol dari negeri dongeng yang mengharuskan bertemu dengan laki-laki berkuda yang mengajak menikah pada akhirnya."

Nur mencurahkan kegundahan sebagai seorang wanita karier, sekaligus sebagai kakak untuk dua adiknya, dan perannya sebagai anak sulung di keluarga. Kini umurnya sudah menjejak tahun ke-36, dengan karier bekerja selama 10 tahun di perusahaan farmasi besar di Indonesia. Namun, beberapa pertanyaan kecil sering muncul dalam hatinya.

“Sudah punya rumah belum? Dah punya mobil belum? Sudah ke mana saja selama satu dekade ini? Sudah ngapain saja buat keluargamu? Sudah nyaman dengan pekerjaan? Promosi belum atau masih di bawah-bawah saja? Dan banyak pertanyaan lain yang mendadak sering datang ketika aku sudah sedikit lebih punya uang dibanding dulu,” ungkap Nur sambil tertawa.

Pertanyaan-pertanyaan soal bagaimana capaian dalam hidup termasuk soal pekerjaan dan karier semacam itu tak hanya dirasakan oleh Nur saja. Dalam penelitian yang dilakukan di Inggris oleh perusahaan deodoran Sure yang ditulis Telegraph pada 2013 lalu, menyimpulkan perempuan mempunyai kecenderungan mencapai banyak tujuan hidup mereka lebih awal dibanding laki-laki.

"Perempuan masa kini, ingin menggapai sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya," kata Hannah Kehoe, Manajer Merek Sure.

Penelitian itu mengungkapkan bahwa perempuan mempunyai target menikah pada usia 27 dan merasa aman secara finansial pada usia 39 tahun. Sementara laki-laki memilih untuk menikah di umur 29 tahun dan memilih menunggu dua tahun lebih lama dibanding perempuan untuk memiliki keamanan finansial di umur 41 tahun. Perempuan maupun laki-laki, sama-sama mencapai keamanan finansial adalah hal yang terpenting dalam hidupnya. Dari penelitian tersebut diungkapkan juga bahwa sejumlah 43 persen laki-laki mengaku bahwa menjadi seorang ayah adalah satu pengalaman berharga dan satu hal membahagiakan dalam hidup mereka.

Jean Prince, seorang penulis dokumentasi perangkat lunak di perusahaan teknologi Inggris di dekat Cambridge merasa sangat beruntung atas pekerjaannya, sekaligus tidak bahagia. Paradoks memang, tapi di usianya yang ke-50 tersebut ia merasakan tempat kerjanya menjadi impersonal dan jauh lebih ketat, dan di beberapa hal juga merasakan tidak dihargai.

Dalam laporan Bloomberg terbaru yang berjudul "People Start Hating Their Jobs at Age 35" yang mengulas hasil penelitian Robert Half, dalam sebuah survei yang melibatkan 2.000 karyawan di Inggris. Dalam survei itu ditemukan bahwa pekerja yang usianya lebih tua cenderung tidak bahagia dalam pekerjaan mereka, dibandingkan rekan mereka yang lebih muda.

Sementara itu, didapatkan juga hasil, satu dari enam pekerja Inggris berusia di atas 35 tahun mengatakan mereka tidak bahagia. Hampir sepertiga orang berusia di atas 55 tahun mengatakan bahwa mereka tidak merasa dihargai, sementara 16 persen mengatakan bahwa mereka tidak memiliki teman di tempat kerja.

Hal tersebut terjadi karena adanya tekanan berada dalam posisi seorang yang punya jabatan yang tinggi, atau sebaliknya, kekecewaan karena tidak cukup berhasil mencapai tangga karier yang lebih tinggi. Seseorang bisa punya gaji lebih tinggi, ternyata juga dibarengi dengan kenaikan gaya hidup yang lebih.

"Ada saatnya Anda gagal mencapai kesuksesan, pekerjaan telah mengecewakan Anda, atau pengalaman hidup memberi tahu bahwa keluarga Anda lebih penting, kemudian Anda bertanya pada diri sendiri: 'Untuk apa saya melakukan ini?'” kata Cary Cooper, peneliti di Manchester Business School.

Upaya mempertanyakan pada diri sendiri ini yang menciptakan kegundahan-kegundahan pada seseorang di tengah bertambahnya usia, terutama bagi mereka yang berumur sudah lebih dari kepala tiga.

Baca juga:

Beginilah Nanti Jadinya: Kawin, Beranak, dan Berbahagia

Lajang dan Tetap Bahagia

Usia, Pernikahan, dan Tingkat Kebahagiaan

Johanna Bodnyk, perempuan berusia 36 tahun yang bekerja sebagai koordinator kultur dan komunikasi di Center for Middle Eastern Studies di Harvard University selama enam tahun merasakan kegundahan. Hampir semua teman-temannya sudah menikah dan memulai keluarga, dan ia menyadari bahwa hubungannya dengan sang pacar tidak akan bertahan lama. Hal itu mendorongnya untuk mengevaluasi kembali banyak hal dalam hidupnya, termasuk masalah pekerjaan, hingga keputusan untuk menikah.

Dalam penelitian Pew Research menyatakan bahwa di Amerika Serikat, orang-orang yang saat ini berusia 35 tahun akan memutuskan menjadi lajang untuk selamanya. Riset itu menunjukkan bahwa milenial di Amerika Serikat tak lagi menganggap pernikahan itu penting. Laporan ini juga mengungkapkan pada 2012, satu dari lima orang dewas di Amerika lebih dari 25 tahun tidak menikah. Jumlah ini makin membesar bila dibandingkan pada 1960, hanya satu dari 10 orang Amerika yang memutuskan tidak pernah menikah.

Ada beberapa alasan mengapa milenial di Amerika Serikat tidak tertarik untuk menikah. Selain karena belum mendapatkan orang yang tepat, mereka juga merasa belum stabil secara finansial, dan belum siap untuk berkomitmen panjang. Meski menolak menikah, banyak anak muda Amerika Serikat yang tinggal bersama pasangannya. Mereka menganggap tinggal bersama kekasih lebih stabil daripada pernikahan resmi. Kultur semacam ini tentu berbeda dengan di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 mencatat soal pendekatan yang mereka gunakan untuk mengukur indeks kebahagiaan nasional ialah tingkat kepuasan hidup. Terdapat 10 aspek kehidupan yang kepuasan atasnya mereka anggap esensial dan dapat mencerminkan tingkat kebahagiaan orang Indonesia, yaitu kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, keadaan rumah dan aset, keadaan lingkungan, serta kondisi keamanan.

Dalam skala 0-100, indeks kebahagiaan masyarakat Indonesia adalah 68,28. Penyumbang terkecil untuk nilai rata-rata tersebut adalah pendidikan, dengan skor 55,28, sedangkan nilai terbesar, yaitu 78,89, disumbangkan oleh pernikahan dan keharmonisan keluarga.

Baca juga:

Apa Kunci Hubungan Bahagia?
Bahagia Bersama Pacar Virtual

Persoalan pernikahan dan tuntutan-tuntutan sosial yang terkadang memberatkan tersebut, menurut Cary Cooper, seorang peneliti di Manchester Business School, dapat diatasi dengan cara berdamai dengan diri sendiri. Beberapa di antaranya adalah berusaha membentuk ‘teman kerja’ di lingkungan pekerjaan dan meluangkan waktu untuk bersama, serta juga kembali memfokuskan diri pada proyek pribadi di tempat kerja dan lebih sering membuat diri sendiri bergairah dengan hal-hal yang selama ini ingin kita nikmati.

Jadi persoalan usia dalam korelasinya dengan kebahagiaan seseorang adalah tergantung dari masing-masing untuk menghadapinya, mulai dalam hal hubungan, pekerjaan, atau capaian hidup. Esensi kebahagiaan itu ada di tangan Anda.

Baca juga: Negara Paling Bahagia

Baca juga artikel terkait KEBAHAGIAAN atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Yulaika Ramadhani
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Suhendra
DarkLight