Benarkah Jokowi Bilang "PKI Tidak Bersalah, apalagi Mengancam"?

Fact Check ucapan Jokowi soal PKI tidak bersalah
Header Periksa Fakta. tirto.id/Quita
Oleh: Frendy Kurniawan - 3 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Dalam pertemuan dengan pimpinan perguruan tinggi tersebut, Jokowi tak berbicara soal PKI.
tirto.id - Baru-baru ini, desas-desus terkait Partai Komunis Indonesia (PKI) kembali muncul. Beredar kabar bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) disebut pernah berucap bahwa "PKI tidak bersalah". Konten itu menyebar melalui publikasi artikel sebuah portal media online.

Kabar yang Diperiksa


Kabar tentang pernyataan Jokowi itu termuat melalui judul artikel dan teks di badan artikel. Judul artikelnya adalah “Sejarah Aslinya, PKI Itu Tidak Bersalah Apalagi Mengancam, Yang Berbahaya Itu Islam Radikal”.

Dalam alinea kedua teksnya tertulis: “Presiden Joko Widodo menilai bukan komunisme, komunis tidak pernah salah menurut sejarah aslinya justru mereka korban, justru radikalisme dan faham garis keras yang menjadi ancaman terbesar buat dasar negara”. Artikel itu terbit pada 2 Januari 2018.

Artikel juga memberitahu bahwa ucapan Jokowi disampaikan dalam kesempatan sambutan resmi pada Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi Se-Indonesia di Bali, 26 September 2017 lalu. Pertanyaannya, benarkah Jokowi mengucapkan pernyataan itu?




Fakta


Arsip resmi Sekretariat Kabinet

Menurut informasi dalam artikel di atas, pernyataan Jokowi dinukil dari sambutan resmi pada acara Penutupan Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi Se-Indonesia di Peninsula Island, Nusa Dua Bali, 26 September 2017. Kebetulan, arsip transkrip sambutan dan tanya jawab dalam acara itu tersimpan secara digital pada situsweb Sekretariat Kabinet (Setkab).

Kabar yang Salah

Dengan membaca arsip transkrip sambutan resmi, tidak ditemukan fakta bahwa Jokowi pernah menyatakan sesuatu terkait PKI pada momen pidato itu. Bahkan, ia pun tidak menyinggung sama sekali isu Islam radikal selama keseluruhan sambutan. Artinya, media online pada 2 Januari 2019 itu telah memuat konten yang salah.

Adapun bahasan radikalisme dalam sambutan itu berkonteks pada persoalan ‘ideologi radikalisme’ dalam situasi lembaga perguruan tinggi di Indonesia. Artinya, artikel media online pada 2 Januari 2019 turut membuat kesalahan konteks informasi.

Jokowi, dalam acara itu, menyatakan ungkapan prihatin sekaligus meminta sikap dan tanggapan aktif dari lembaga-lembaga yang ada. Ihwal ini dapat dilihat dalam alinea kesebelas teks resmi pidato Jokowi.

Arsip Video Pembanding

Pembaca pun dapat melihat arsip audio-visual yang tersimpan dalam platform YouTube. Arsip audio-visual milik seorang pengguna YouTube ini menampilkan dokumentasi Jokowi saat memberi sambutan pada 26 September 2017.

Kesimpulan


Penelusuran kami menunjukkan kabar bahwa Jokowi menyatakan ‘Sejarah Aslinya, PKI Itu Tidak Bersalah Apalagi Mengancam, Yang Berbahaya Itu Islam Radikal’ adalah keliru. Informasi keliru itu juga dibumbui konteks yang lain dari teks sambutan yang disampaikan Jokowi.

Momen peristiwa dan fakta soal Jokowi memberi sambutan dalam acara itu benar adanya. Bukti dapat terlihat melalui arsip Setkab RI. Namun, konten soal PKI ataupun Islam radikal sama sekali tidak ditemukan dalam arsip transkrip resmi pidato Jokowi.

Kami menyimpulkan bahwa kabar yang termuat dalam artikel di portal media online itu adalah disinformasi. Ia terindikasi kuat ditulis secara sengaja dengan maksud dan tujuan tertentu. Rumor terkait PKI ini kerap menjadi senjata dalam kampanye hitam pemilu.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
(tirto.id - Politik)

Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight