Periksa Fakta

Benarkah Erdogan Membentuk Tentara Islam Dunia & TNI Ikut Serta?

Fact Check Erdogan Bentuk Tentara Islam
Header Periksa Fakta. tirto.id/Quita
Oleh: Frendy Kurniawan - 18 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Kabar ini bermula dari artikel sebuah media di Turki yang kredibilitasnya bermasalah.
tirto.id - Baru-baru ini, terbit kabar viral dari sebuah artikel yang mengabarkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan “berencana” menggalang “tentara Islam” negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) sebagai pasukan gabungan untuk melawan Israel. Artikel ini mendaku mendasarkan informasinya dari artikel yang dimuat media Turki, Yeni Şafak.

Artikel itu turut menginformasikan perkiraan jumlah pasukan dan besaran anggaran gabungan, jika rencana itu berhasil. Nama Indonesia, yang notabene anggota OKI, juga disebut-sebut. “Indonesia adalah salah satu anggota negara OKI yang terkenal aktif dalam mewujudkan perdamaian," demikian salah satu kalimat dalam artikel yang terbit di mediavalid.online pada 8 Mei 2019 tersebut.



KLAIM

Benarkah Erdogan punya rencana menggalang “tentara Islam” itu bersama OKI? Benarkah TNI bakal ikut serta?

FAKTA

Situsweb Meragukan

Selain tidak terdaftar dalam basis data Dewan Pers, situsweb bernama mediavalid.online yang memuat artikel itu tidak mencatat nama perusahaan persnya. Jikapun situsweb tersebut sekadar dilihat sebagai laman blog berita pribadi atau komunitas, ia tak memuat keterangan penanggung jawab secara jelas. Ketika situs tersebut diperiksa lewat Who Is, hanya didapat informasi bahwa domainnya masih baru, dibuat pada 18 Maret 2019.

Rujukan Artikel

Bagian akhir artikel menyertakan tautan ke laman Sindonews. Hasil pelacakan kami dengan memperhatikan isi konten menduga, bahwa artikel yang dimaksud adalah berita bertanggal 26 Maret 2018.

Dengan membandingkan kedua artikel tersebut, dapat dilihat bahwa sebagian besar isi tulisan di mediavalid.online mengambil dari artikel Sindonews, yang merujuk pada informai yang diterbitkan media Turki, Yeni Safak.

Bedanya, mediavalid.online tidak menyertakan keterangan, bahwa "OKI sejauh ini belum berkomentar atas laporan media Turki tersebut," sedangkan Sindonews menyatakan hal tersebut.

Artikel Yeni Safak 12 Desember 2017

Artikel Yeni Safak soal “tentara Islam” adalah tulisan lawas yang terbit dalam dua versi bahasa, yakni bahasa Turki dan bahasa Inggris. Artikel itu terbit pada 12 Desember 2017.

Ditulis dalam gaya analisis, artikel itu berupaya memetakan apa yang akan terjadi jika ada tentara muslim yang bersatu untuk melawan Israel. Pesan tersurat artikel tersebut adalah pertemuan itu mesti menghasilkan keputusan tegas terhadap Israel dan AS. “If the member states of the OIC unite militarily, they will form the world’s largest and most comprehensive army.”

Apa konteksnya? Artikel itu menyambut 6th Extraordinary Islamic Summit Conference on Al-Quds Ash-Sharif The Organization of Islamic Cooperation (OIC) atau pertemuan luar biasa OKI yang digelar pada 13 Desember 2017. Pertemuan itu membahas keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan rencana AS memindahkan kantor kedutaannya ke sana.

Walau ada analisis seperti itu, faktanya OKI tidak memutuskan untuk membuat tentara muslim dunia. Laman resmi OKI mewartakan bahwa pertemuan luar biasa itu menghasilkan kesepakatan bersama yang tertuang dalam “deklarasi bersama”, komunike final, dan resolusi. Dari ketiga materinya, tidak ada satu pun rencana pembentukan “tentara Islam”. Kementerian Luar Negeri Turki pun menegaskan hal yang sama.

Tentang Media Turki yang Dirujuk: Yeni Safak

Yeni Safak sendiri kerap jadi kontroversi. Selain disebut sebagai media pro-pemerintah dan pendukung garis keras Erdogan, Yeni Safak beberapa kali disorot karena kasus-kasus disinformasi dan hate speech.

Ia pernah membuat fabrikasi (informasi palsu) dari sebagian wawancara dengan Noam Chomsky, sekitar April 2013. Yeni Safak bahkan dituduh menjadi sumber utama disinformasi terhadap para pemrotes Gezi (protes terhadap rencana pembangunan taman Gezi yang berakumulasi menjadi kritik dan protes untuk otoritarianisme Erdogan) sepanjang tahun 2013-2014. Laporan Yayasan Hrant Dink menyebut media tersebut banyak menghasilkan pidato kebencian terhadap para pemrotes tersebut.

Pada Maret 2019, salah satu editor Yeni Safak bahkan disebut menulis laporan yang keliru. Isinya menyebut seorang peserta Hari Wanita Internasional di Lapangan Taksim, Istanbul bersiul dan mencemooh adzan.

Erdogan, Pertemuan OKI 18 Mei 2018

Erdogan, dalam pertemuan luar biasa OKI setelahnya, pada 18 Mei 2018, memang mengajak para pemimpin negara muslim untuk bersatu, demikian ditulis Aljazeera. Namun, ajakan Erdogan itu pun tidak secara lugas bisa dilihat sebagai cara menggalang “tentara Islam” antar-negara anggota OKI.


Tanggapan Kapuspen TNI

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Sisriadi saat kami hubungi pada 13 Mei 2019 menanggapi rumor dalam artikel itu dengan sederhana. “Masnya percaya?”

Sisriadi turut tahu bahwa sumber informasinya dari salah satu media Turki, yang semestinya dapat dilacak benar tidaknya. “Kalau enggak salah, sumbernya sebuah artikel di salah satu media Turki yang ditulis beberapa tahun lalu. Mestinya yang harus diminta klarifikasi [sumber awal mula isu tersebut],” terangnya.

Terkait peran serta Indonesia di luar negeri, dia menyatakan selalu ada kabar resmi dari Kementerian Luar Negeri RI.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, isi artikel mediavalid.online pada 8 Mei 2019 soal rencana Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggalang “tentara Islam” bersama negara anggota OKI termasuk Indonesia adalah informasi yang keliru.

Sejauh ini, rujukan utama informasi itu adalah artikel media Turki, Yeni Safak, yang memetakan bagaimana jika ada kesatuan tentara muslim. Yeni Safak, sebagai sumber informasi pertama, adalah media yang kredibilitasnya kerap dipertanyakan. Ia pernah bermasalah dalam kasus disinformasi hingga penyebaran konten hate speech.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
(tirto.id - Politik)

Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight