Periksa Fakta

Benarkah di Inggris Ada Poster Vaksin Covid Sebabkan Bell's Palsy?

Penulis: Irma Garnesia - 29 Jan 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Tidak cukup data untuk membuktikan bahwa kasus-kasus bell's palsy secara kausal terkait dengan vaksinasi.
tirto.id - Sebuah unggahan di media sosial Facebook oleh akun Rapkunyada Mu (tautan) pada pertengahan Januari ini memperlihatkan poster bertuliskan “Public Health Warning: Covid-19 Vaccine Causes Bell’s Palsy”. Terjemahannya: "vaksin Covid-19 dapat menyebabkan bell's palsy", yakni kelumpuhan pada otot wajah yang menyebabkan salah satu sisi wajah tampak melorot.

Di foto yang menampilkan tulisan NHS (National Health Department, atau Departemen Kesehatan Inggris) dan wajah seorang penderita bell's palsy itu terdapat takarir, "My friend just sent this to me near Heathrow” yang artinya “Teman saya baru saja mengirimkan foto ini, lokasinya di Heathrow." Heathrow sendiri adalah bandara yang berlokasi di Inggris.


Periksa Fakta Poster Vaksin Covid-19 Bells Palsy
Periksa Fakta Poster Vaksin Covid-19 Sebabkan Bell's Palsy di Bandara Inggris. (Screenshot/Facebook/Rapkunyada Mu)


Lantas, benarkah poster tersebut berasal dari NHS? Kemudian, adakah kausalitas antara vaksin Covid-19 dan keadaan bell’s palsy?

Penelusuran Fakta



Tirto menelusuri asal usul foto tersebut dan menemukan bahwa foto gadis yang terdapat di poster tersebut merupakan stok foto yang kerap digunakan untuk menggambarkan pasien dengan bell’s palsy. Foto ini dapat diakses melalui situs Alamy.com dan diambil pada 2011, jauh sebelum pandemi Covid-19.

Dalam deskripsi foto tertulis: “Kelumpuhan unilateral wajah pada pasien wanita berusia 14 tahun dengan Bell's palsy. Kondisi sementara ini disebabkan oleh peradangan saraf wajah yang menyebabkan wajah terkulai dan mati rasa”.

Lantas, benarkah poster ini merupakan imbauan resmi NHS? Ternyata tidak.

Seperti diklarifikasi oleh lembaga pemeriksa fakta Amerika, Check Your Fact, tidak ada bukti bahwa poster tersebut berasal dari NHS. Iklan semacam itu tidak muncul di halaman situs NHS. Juga tidak ada catatan tentang peringatan di laman "Berita" organisasi atau melalui akun Twitter resmi lembaga tersebut.

Check Your Fact juga melakukan konfirmasi pada juru bicara Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial (DHSC), yang mengawasi NHS, Cavan Griffin. Griffin mengonfirmasi dalam sebuah email, “That’s not a genuine poster and has since been removed” yang artinya “Itu bukan poster asli dan telah dihilangkan”.

Perlu diketahui bahwa Check Your Fact merupakan lembaga pemeriksa fakta kredibel yang berada di bawah International Fact-checking Network (IFCN). Lembaga di bawah IFCN, termasuk Tirto, bertugas memeriksa misinformasi yang tersebar di media sosial dan internet, serta menyediakan fakta sesungguhnya.

Menurut CDC, kasus Bell's palsy memang dilaporkan terjadi pasca vaksinasi dalam uji klinis vaksin Covid-19. Namun, perlu diketahui bahwa hal ini terjadi pada mereka yang memiliki riwayat bell’s palsy. Namun, data yang tersedia tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa kasus-kasus ini secara kausal terkait dengan vaksinasi. Orang dengan riwayat bell's palsy dapat menerima vaksin Covid-19 yang saat ini disetujui FDA.

Sebuah studi dari Cirillo (2021), misalnya, membahas hubungan antara vaksin Covid-19 dengan bell’s palsy. Studi ini menunjukkan kasus bell’s palsy yang terjadi pasca vaksinasi mRNA. Namun, Cirillo juga menegaskan, belum ada bukti yang jelas tentang hubungan antara vaksinasi COVID-19 dan kelumpuhan wajah.

Studi lain dari Wan et al. (2022) menggunakan pendekatan berbasis populasi yang berbeda untuk mengevaluasi kemungkinan hubungan antara Bell’s palsy dan vaksin mRNA (BNT162b2; Fosun–BioNTech) dan vaksin virus yang tidak aktif (CoronaVac) di Hong Kong.

Menggunakan sistem pelaporan secara sukarela (voluntary) dan catatan kesehatan pasien, Wan dkk menemukan peningkatan kejadian bell’s palsy jika dilihat berdasarkan usia selama periode vaksinasi, dibanding kejadian di tahun-tahun sebelumnya. Hasil studi menunjukkan peningkatan risiko bell's palsy yang signifikan terkait dengan penerimaan vaksin CoronaVac, tetapi tidak ada perbedaan signifikan dalam risiko yang terkait dengan penerimaan Pfizer.

Namun, yang perlu dilihat dari studi tersebut adalah: data yang dikumpulkan selama tahap awal vaksinasi di Hong Kong pada studi Wan (2021) mungkin menimbulkan bias seleksi karena hanya orang-orang dalam kategori pekerja dan kelompok usia tertentu yang divaksinasi.

Studi Cirillo menyimpulkan dari perspektif klinis, sejauh ini tidak ada penelitian yang memberikan bukti definitif vaksin tertentu pada individu dengan riwayat bell's palsy. Namun, data yang diterbitkan oleh Wan dkk memang menawarkan informasi pilihan vaksin Covid-19 bagi pasien di Hong Kong, dan bagi mereka di negara-negara yang menyediakan vaksin Pfizer dan CoronaVac. Sambil menunggu kesimpulan tentang kelumpuhan wajah terkait vaksin, satu kepastian tetap ada: manfaat vaksinasi melebihi risiko yang mungkin terjadi.

Sebagai catatan, jika Anda memiliki riwayat bell’s palsy dan ingin mendapatkan vaksinasi, sebaiknya Anda berkonsultasi adengan dokter pribadi dan petugas vaksin.

Kembali lagi ke informasi awal, Departemen Kesehatan Inggris (NHS), sekali lagi, tidak membagikan informasi melalui poster yang menyatakan bahwa vaksinasi menyebabkan bell’s palsy. Konfirmasi pada pihak NHS tidak menyatakan hal tersebut dan foto yang dimaksud merupakan foto stok untuk menggambarkan keadaan bell’s palsy secara umum.



Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa informasi dari akun Facebook Rapkunyada Mu bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id atau nomor aduan WhatsApp +6287777979487 (tautan). Apabila terdapat sanggahan atau pun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait HOAX atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight