Benarkah Bulan Purnama dan Supermoon Sebabkan Kecelakaan?

Padatnya lalu lintas dengan penampakan bulan purnama penuh. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 1 Januari 2018
Dibaca Normal 2 menit
Jumlah kecelakaan saat bulan purnama, apalagi supermoon, memang tinggi. Tapi penyebabnya bukan kekuatan sihir.
tirto.id - “Jadi, beda, satu purnama di New York dan di Jakarta?”

Meski berstatus sebagai fenomena alam, bulan purnama alias full moon hidup dalam ragam tema bagi manusia. Cinta, karakter dalam film Ada Apa Dengan Cinta, memakai kata “purnama” sebagai penanda waktu keterpisahan dirinya dengan Rangga.

Di belahan bumi lain, purnama diidentikkan dengan kemunculan vampir, berubahnya sosok baik menjadi jahat, kegilaan, epilepsi, bunuh diri, serta pembunuhan. Pendeknya, bulan purnama dihubung-hubungkan dengan hal-hal berbau mistis, atau setidaknya aneh. Apakah asosiasi itu ada dasarnya?

James Rotton dalam studinya yang berjudul “Much Ado About The Full Moon: A Meta-Analysis of Lunar-Lunacy Research” bahkan menyatakan bahwa bulan purnama telah lama dikaitkan dengan berbagai fenomena aneh.

Ia, misalnya, mencontohkan riset bulan purnama yang ditautkan dengan kecelakaan lalu lintas (Templer, Veleber, & Brooner, 1982), pola voting menyimpang (Koenig, Amsal, Clayton, & DeBeck, 1979), perilaku anak-anak yang tidak dapat diatur (Russell & Bernal, 1977), dan keracunan obat (Sharfman, 1980).

Riset Templer, yang dikutip Rotton dalam tulisannya itu, mengatakan bahwa bulan purnama berkorelasi dengan peningkatan kecelakaan mobil. Lebih lanjut, riset itu mengatakan bahwa peningkatan kecelakaan terjadi karena bulan purnama memengaruhi kelenjar pineal yang berfungsi memproduksi serotonin, hormon yang memengaruhi pola bangun/tidur.

Rotton lebih lanjut mengungkap bahwa 81 dari 165 mahasiswa yang ditanyai menyatakan mereka percaya beberapa orang berubah sikap menjadi aneh ketika muncul bulan purnama.

Donald A. Redelmeier dan rekannya Eldar Shafir, dua orang profesor dari University of Toronto, Kanada, dalam tulisan berjudul “The Full Moon and Motorcycle Related Mortality: Population Based Double Control Study” menyanggah mitos kemunculan bulan purnama dengan tingkat kecelakaan.

Kecelakaan motor memang lebih tinggi terjadi kala bulan purnama, dibandingkan yang terjadi di waktu lain. Namun, fenomena itu tak serta merta menunjuk bulan purnama sebagai biang keladinya.

Studi itu mengacu pada 13.029 pengendara motor yang mengalami kecelakaan fatal sepanjang 1.482 malam di Amerika Serikat dari 1975 hingga 2014. Secara lebih terperinci, ada 4.494 kecelakaan fatal pengendara motor pada 494 malam dengan fenomena bulan purnama (rata-rata ada 9,10 kecelakaan fatal pengendara motor per malam bulan purnama).

Angka itu dibandingkan dengan 8.535 kecelakaan fatal pengendara motor pada 988 malam tanpa keberadaan bulan purnama. Atau rata-rata 8,64 kecelakaan fatal pengendara motor per malam tanpa bulan purnama.


Redelmeier dan Shafir pun kemudian membedakan tingkat kecelakaan di bulan purnama, antara bulan purnama biasa dan bulan purnama super (supermoon). Hasilnya, pada malam yang dihiasi bulan purnama super jauh lebih perkasa, pengendara motor mengalami kecelakaan fatal dibandingkan bulan purnama biasa.

Ada 703 kecelakaan fatal pengendara motor pada 65 malam yang dihiasi bulan purnama super atau 10,82 kecelakaan per malam. Lebih tinggi dibandingkan kecelakaan pengendara motor pada bulan purnama biasa, yakni 8,84 kecelakaan per malam (3.791 kecelakaan fatal pemotor dalam 429 malam)

Namun, alih-alih menyalahkan bulan purnama sebagai pemberi energi negatif atau berbagai mitos mengerikan lain, Redelmeier dan Shafir menyatakan bahwa kecelakaan fatal kala bulan purnama berlangsung lebih diakibatkan oleh terdistraksinya fokus pengendara terhadap kehadiran bulan purnama.

Paling tidak, bulan purnama memiliki 3 indikator yang memungkinkan pengendara mengalihkan perhatiannya dari jalan raya ke bulan purnama. Ketiga indikator itu ialah: ukuran yang besar, pencahayaan cerah, dan kemunculan mendadak bulan purnama, terutama bila samping di kiri-kanan jalanan ada benda/bangunan penghalang, seperti pepohonan atau gedung-gedung tinggi.

Apa yang diungkap Redelmeier dan Shafir didukung oleh Gaby V. Lion dalam karya yang berjudul “The Effect of The Lunar Cycle on Rates of Fatal Car Accidents.” Penelitian terhadap laporan kecelakaan pada California Highway Patrol antara tahun 1998 hingga 2003, tidak menunjukkan bukti adanya pengaruh antara kecelakaan mobil dengan keberadaan bulan purnama.



Redelmeier dan Shafir kemudian lebih menyarankan pengendara untuk berhati-hati berkendara. Jangan pernah lupakan kelengkapan keamanan dan jangan mudah terdistraksi karena kehadiran bulan purnama.

Rotton, masih dalam studinya, menyebut ada 37 riset soal hubungan bulan purnama dan “kegilaan” sejumlah fenomena, menyatakan bahwa keberadaan bulan purnama hanya menyumbang tidak lebih dari 1 persen bertambahnya “kegilaan.” Angka itu tidak signifikan dan tidak bisa membawa pada kesimpulan bahwa bulan purnama merupakan sebab terjadinya “kegilaan.”

Salah satu alasan mengapa bulan purnama sering diidentikkan dengan fenomena ganjil atau kegilaan adalah karena bulan purnama menjadikan malam lebih terang daripada biasanya. Namun, Rotton menyatakan bohlam 100 watt memberi terang 70 kali lipat dibandingkan bulan purnama.

Selain itu, manusia menghabiskan waktunya antara 75 persen hingga 90 persen di dalam ruangan. Ini menjadikan kehadiran bulan purnama, meskipun menjadikan malam lebih terang, sesungguhnya tidaklah terlalu berarti.

Jika demikian, yang Anda harus lakukan jika berkendara di malam supermoon nanti adalah lebih berhati-hati. Jangan biarkan pendar dan terang bulan yang indah melenakan dan mengacaukan konsentrasi Anda.

Baca juga artikel terkait SUPERMOON atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight