Benarkah Buku Impor Lebih Murah?

Oleh: Dea Chadiza Syafina - 14 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Harga buku impor di pameran buku Big Bad Wolf (BBW) sempat memunculkan pertanyaan, kenapa harganya lebih murah dari toko lain?
tirto.id - Buku bersampul keras warna hitam berjudul Jerusalem: A Family Portrait itu dengan sigap diambil oleh Rulli. Lelaki berusia 35 tahun ini langsung membekap buku tersebut seakan tak ingin lepas dari genggaman.

Novel grafis berisi kisah tentang tiga generasi keluarga yang terjebak dalam konflik di kota tersebut selama kurun waktu 1940 sampai 1948 itu meramaikan berbagai buku impor lainnya pada pameran buku Big Bad Wolf (BBW) 2019 yang berlangsung 1-11 Maret 2019 di ICE, BSD.

“Bukunya udah abis, jadi tinggal yang sample ini satu-satunya. Enggak apa-apa tetap beli. Masih mulus juga kok, jadi enggak apa-apa,” pamer Rulli kepada Tirto.

Ayah empat orang anak ini bilang, harga buku-buku impor yang dibawa pulang terbilang murah. Misalnya saja buku Jerusalem: A Family Portrait dijual seharga 13 dolar AS dan 86 sen di toko buku Amazon. Jika dirupiahkan dengan kurs JISDOR yang saat ini rata-rata Rp14.300 per dolar, harganya menjadi Rp198 ribuan setelah potongan harga. Sebelum diskon, harga buku itu mencapai 24 dolar AS dan 99 sen di situs yang sama dan belum termasuk ongkos kirim.

Di BBW, Rulli menebus buku tersebut dengan harga Rp100 ribu saja. Pun demikian di toko buku impor lainnya, seperti situs Periplus.com misalnya, membanderol buku ini dengan harga Rp352 ribu. Rulli tentu girang karena harga buku yang ia beli lebih murah lebih dari 70 persen dibanding harga yang berlaku di toko buku impor lainnya.

Murahnya buku-buku impor ini sempat membuat Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menaruh perhatian untuk dilakukan investigasi. Perempuan yang akrab disapa Ani ini awalnya menilai murahnya harga buku impor di BBW lantaran tidak dikenakan bea masuk maupun pajak impor. Respons ini tentu terkait peran Ani sebagai penjaga penerimaan negara. Sebagai tidak lanjut, Ani bilang akan melihat detail praktik impor buku secara menyeluruh.

“Terus terang harus investigasi. Saya juga suka buku, jadi suka perhatikan buku yang dijual bahkan dalam marketplace maupun fisik, ada perbedaan. Kami lihat bagaimana praktik keseluruhan ini,” ucap Ani melansir Kompas.


Hal yang sama juga diungkapkan oleh Direktur di Direktorat Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi. Ia bilang, perlu pengecekan dokumen perihal buku impor tersebut. Heru menjelaskan, setiap buku impor yang masuk ke Indonesia pasti dikenai bea masuk kecuali buku ilmu pengetahuan.

Berdasarkan ketentuan sudah sejak 2016 buku impor berbasis ilmu pengetahuan dibebaskan dari bea masuk impor, pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pungutan pajak penghasilan (PPh) pasal 22. Itu sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 103/ PMK.04/2007 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 122/ PMK.011/2013 (PDF).

Dirjen Bea Cukai akhirnya menginvestigasi perihal pameran buku BBW ini. Hasilnya, menurut Deni Surjantoro, Kepala Subdirektorat Jenderal (Kasubdit) Humas Bea Cukai Kementerian Keuangan adalah importasi buku untuk pameran BBW telah melalui mekanisme impor untuk dipakai secara resmi di Pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Perak dan Belawan, sesuai lokasi pameran.

Selain itu, pihak penyelenggara pameran buku juga telah membayar kewajiban pajak dalam rangka impor (PDRI).

Deni juga menyebutkan bahwa atas barang cetakan seperti buku, tarif bea masuk yang dibebankan adalah nol persen. Bahkan, untuk buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama, dapat diberikan pembebasan PPN sebagaimana aturan PMK Nomor 122/ PMK.011/2013 (PDF).

“Dengan pembebasan itu, seyogyanya harga buku-buku impor di Indonesia terutama literatur ilmu pengetahuan dan keagamaan, tidak berbeda jauh dengan harga dari pemasok atau percetakan di negara asal,” kata Deni kepada Tirto.

Meski demikian, bea masuk serta pajak impor bukan satu-satunya komponen yang memengaruhi harga barang termasuk buku di pasaran. Terdapat komponen lain seperti misalnya saja harga sewa lokasi, tenaga kerja, biaya promosi, margin keuntungan serta perputaran kualitas produk yang terjual.

“Sehingga relatif dapat terjadi perbedaan harga antara toko fisik, toko online dan juga harga saat pameran,” jelas Deni.

Terkait murahnya harga buku impor yang dijual di BBW, Deni bilang bahwa penyelenggara menyatakan buku-buku tersebut merupakan sisa-sisa dari stok toko buku yang tidak terjual di negara asal. Dengan begitu, harga satuan barang dapat ditekan dari harga normal.

Indonesia mengimpor buku lebih kurang 20 ribu ton selama kurun waktu 5 tahun belakangan periode 2014-2018. Nilainya importasi buku mencapai Rp1,8 triliun.

Berdasarkan catatan Ditjen Bea Cukai, kontribusi buku impor kategori ilmu pengetahuan terhadap keseluruhan impor buku yang dilakukan Indonesia selama lima tahun terakhir, mencapai 28,82 persen secara volume. Sedangkan untuk nilai, mencapai 29,86 persen.

Infografik HL Indepth Buku
Infografik HL Indepth Buku


Apa Konsekuensi Harga Buku Impor Murah?


Bisa membeli buku impor murah tentu menjadi kepuasan tersendiri. Tidak terkecuali bagi penulis buku seperti Anton Kurnia. Menurutnya, murahnya harga buku impor seperti yang dijual di BBW tidak memengaruhi angka penurunan penjualan buku-buku hasil karya penulis lokal.

Ini karena, masyarakat akan tetap membeli buku-buku hasil karya para penulis buku lokal meski tidak absen membeli buku impor murah. Pameran buku impor murah menurut Anton juga menguntungkan bagi para penulis buku di Tanah Air. Sebabnya, tentu saja karena bisa membeli buku bagus dengan harga terjangkau bahkan tanpa perlu pergi ke luar negeri.

“Selain itu, pameran buku juga menguntungkan penulis Indonesia karena dalam setiap gelaran BBW disertakan juga buku lokal karya penulis Tanah Air,” jelas Anton yang juga merupakan pimpinan redaksi Baca, sebuah perusahaan penerbit di Tangerang.

Anton menjelaskan, memang biasanya ada klausul perjanjian antara penerbit dan penulis yang menyebutkan bahwa untuk buku yang sudah diobral atau turun harga, maka penulis tidak mendapat royalti dari buku tersebut. “Tapi saya pikir untuk BBW ini belum termasuk jenis buku obral, jadi penulis masih dapat royalti. Artinya ini juga menguntungkan bagi penulis lokal,” ujar Anton.

Selain itu, tidak selamanya juga buku impor dibanderol lebih murah ketimbang buku karya pengarang lokal. Menurut Anton, secara umum harga buku impor yang telah mendapat potongan harga, tetap lebih mahal dibanding buku-buku lokal yang juga telah terdiskon di ajang BBW.

Penulis buku Dalam Bayangan Bendera Merah ini menambahkan, iklim dunia perbukuan yang baik didalamnya memperhitungkan pengenaan pajak yang adil dan juga royalti penulis yang tinggi. Hal itu akan lebih meningkatkan gairah berkarya para penulis buku di Tanah Air.

Harga buku yang murah dan terjangkau oleh masyarakat sekaligus pembaca, tentu bisa mendorong peningkatan minat baca dan juga minat beli. “Pada akhirnya, hal itu juga bisa menguntungkan penulis buku secara ekonomi,” ujar Anton.

Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) mengaku turut mendukung penjualan buku murah termasuk buku impor. Karena, bisa mendongkrak penjualan buku penerbit, meningkatkan minat membaca serta meningkatkan daya beli buku di masyarakat.

Perempuan yang akrab disapa Ida ini menyatakan bahwa Ikapi turut meramaikan penjualan buku murah. Salah satunya adalah melalui Zona Kalap di Indonesia International Book Fair dan Liga Buku Bandung.

"Buku impor maupun buku lokal masing-masing memiliki penggemarnya sendiri. Kami mengambil sisi positif bahwa kehadiran BBW membuka mata kami bahwa masyarakat ternyata gemar membaca buku" sebut Rosidayati Rozali, Ketua Umum Ikapi kepada Tirto.

Terkait dengan harga buku impor murah, Ida menyatakan Ikapi tidak memiliki kewenangan untuk menyortir masuknya buku impor ke Tanah Air. "Kewenangan Ikapi hanya sebatas menegur atau menghimbau penerbit anggota yang melanggar kode etik atau melanggar peraturan pemerintah Indonesia," ujarnya.

Baca juga artikel terkait BUKU atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Ekonomi)


Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Suhendra