Periksa Fakta

Benarkah Bisa Mengobati Vertigo dengan Menutup Lubang Hidung?

Penulis: Fina Nailur Rohmah, tirto.id - 1 Sep 2022 16:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Menurut dr. Nadha Aulia, unggahan Facebook mengenai klaim cara penyembuhan vertigo dengan menutup lubang hidung tidak memiliki bukti ilmiah.
tirto.id - Sebuah unggahan di Facebook mengklaim bahwa cara mengobati vertigo dan sakit kepala secara umum adalah dengan menutup salah satu lubang hidung. Unggahan tersebut, yang disebarkan oleh akun bernama Perempuan Masa Kini (tautan), berisi klaim bahwa dengan menutup lubang hidung sebelah kanan dan bernapas dengan hidung sebelah kiri, seseorang dapat sembuh dari sakit kepala dalam waktu 5 menit saja.

Sementara itu, akun itu mengklaim bahwa ketika merasa lelah, cara menghilangkan kelelahannya adalah dengan menutup lubang hidung sebelah kiri dan bernapas melalui hidung sebelah kanan.

Akun itu pun menyatakan bahwa lubang hidung kanan dan kiri memiliki fungsi yang berbeda. Lubang hidung sebelah kanan mewakili matahari dan mengeluarkan panas, sementara lubang hidung sebelah kiri mewakili bulan dan mengeluarkan dingin.

“Pada suatu malam, saya duduk menutup lubang hidung sebelah kanan dan bernafas dengan lubang hidung sebelah kiri. Dalam kurang dari satu minggu, sakit kepala saya sembuh. Saya teruskan melakukannya selama 1 bulan, sejak malam itu sampai sekarang, sakit kepala saya tidak kambuh lagi,” tulis akun tersebut.

Periksa Fakta Mengobati Vertigo
Periksa Fakta Cara Keliru Mengobati Vertigo dengan Menutup Lubang Hidung. (Screenshot/Facebook/Perempuan Masa Kini)


Unggahan bertanggal 12 Agustus 2022 ini hingga Rabu (31/8/2022) telah dibagikan sebanyak 60 kali dan disukai 47 orang.

Namun, benarkah klaim-klaim cara mengobati vertigo yang disebutkan? Apa itu vertigo dan bagaimana klarifikasi ahli terkait hal ini?

Penelusuran Fakta

Pertama, mengenai vertigo. Menukil dari Halodoc, vertigo adalah rasa pusing yang menimbulkan sensasi palsu bahwa seseorang atau lingkungan di sekitarnya berputar atau bergerak.

Menurut laman tersebut, vertigo bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala dari gangguan kesehatan yang mendasarinya. Pada kasus yang parah, kondisi ini juga dapat menghambat aktivitas sehari-hari, lantaran kondisi ini dapat menyebabkan disorientasi (kebingungan) dan hilang keseimbangan.

Kondisi ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu vertigo perifer yang disebabkan masalah telinga bagian dalam dan vertigo sentral, yang terjadi ketika ada masalah dengan otak. Adapun penyebab vertigo yang paling umum menurut laman tersebut adalah vertigo posisi paroksismal jinak (BPPV). Episode ini dipicu oleh perubahan cepat dalam gerakan kepala, seperti pukulan ke kepala.

Salah satu gejala paling umum dari vertigo adalah pusing, sementara gejala lain yang mungkin menyertai misalnya mual, muntah, berkeringat, dan telinga berdengung.

Sebenarnya beberapa kasus vertigo bisa sembuh tanpa pengobatan. Sebab, otak berhasil beradaptasi dengan perubahan pada telinga bagian dalam. Namun, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kondisi ini bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala dari suatu masalah kesehatan.

Namun, benarkah salah satu cara untuk mengobati vertigo adalah dengan menutup lubang hidung sebelah kanan?

Untuk mengklarifikasi hal ini, Tim Riset Tirto menghubungi dr. Nadha Aulia yang bekerja di Rumah Sakit (RS) Persahabatan, Jakarta Timur sekaligus menjadi tim peneliti di Yayasan Riset dan Pelatihan Respirasi Indonesia (RPRI). Menurutnya, unggahan ini tidak memiliki bukti ilmiah.

Nggak pernah ada penelitian yang meneliti tentang itu dan nggak ada kaitannya,” ujar dr. Nadha kepada Tirto, Rabu (31/8/2022).

Dr. Nadha melanjutkan, sampai saat ini, cara untuk mengobati vertigo adalah dengan cara medikamentosa atau pengobatan dengan pemberian obat pada pasien. Selain itu, cara lain adalah dengan maneuver canalith repositioning therapy.

Senada, laman Halodoc juga menyebut bahwa beberapa perawatan kondisi vertigo yang umum dilakukan adalah penggunaan obat untuk membantu meringankan gejala, misalnya jika vertigo adalah produk sampingan dari infeksi, dokter dapat meresepkan antibiotik, atau steroid untuk membantu mengurangi peradangan.

Melansir Halodoc, jika vertigo disebabkan oleh infeksi telinga bagian dalam, dokter kemungkinan besar akan memberikan antibiotik seperti Benzodiazepin, Betahistine, Dimenhydrinate, dan Meclizine. Benzodiazepin sendiri merupakan salah satu obat yang paling umum diberikan dokter untuk mengatasi vertigo. Obat penenang ini mampu mengatasi gejala vertigo dengan menekan respons vestibular di sistem saraf pusat.

Selain itu, ada pula cara pengobatan dengan r
ehabilitasi vestibular, yakni jika vertigo adalah akibat dari masalah telinga bagian dalam. Rehabilitasi vestibular dapat membantu memperkuat indra yang lain sehingga dapat mengimbangi episode vertigo.

Selain itu, seperti yang disebut dr. Nadha, bisa pula dengan melakukan canalith repositioning procedure (CRP). Jika seseorang memiliki BPPV, manuver reposisi canalith dapat dilakukan. Perawatan ini bertujuan untuk membantu memindahkan endapan kalsium ke ruang telinga bagian dalam. Terakhir, jika vertigo disebabkan masalah mendasar yang serius, seperti tumor otak atau cedera leher, mungkin perlu dilakukan pembedahan.

Namun, perlu diingat pula, seperti ditegaskan oleh laman Halodoc dan Alodokter, pada banyak kasus, vertigo juga dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan apa pun.

Untuk membantu meredakan gejala vertigo, pasien dapat melakukan hal-hal seperti tidak banyak bergerak, duduk atau berbaring, menghindari mengubah posisi tubuh secara tiba-tiba, tidak membaca tulisan apapun, menghindari sinar yang terlalu terang, dan minum banyak air putih.

Selain itu, penderita bisa pula mengh
indari zat yang dapat memengaruhi aliran darah, seperti kafein, alkohol, dan rokok. Selain itu, untuk meringankan, penderita juga perlu menghindari aktivitas yang berisiko membahayakan diri, seperti berkendara, mengoperasikan alat berat, atau berolahraga terlalu berat, setidaknya sampai 1 minggu setelah gejala mereda.

Jika gejala yang dialami tidak dapat ditangani dengan cara di atas, barulah dokter dapat meresepkan obat-obatan untuk membantu meredakan gejala.

Sementara kembali ke unggahan tersebut, ternyata unggahan serupa ternyata pernah beredar pula pada 2016 silam. Kendati demikian, Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui laman resminya telah memastikan bahwa informasi ini adalah hoaks dan mengimbau masyarakat untuk mengabaikannya.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, cara yang beredar mengenai pengobatan vertigo dengan menutup salah satu lubang hidung bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

Menurut dr Nadha Aulia, unggahan Facebook mengenai klaim itu tidak memiliki bukti ilmiah dan tidak pernah ada penelitian terkait hal tersebut. dr. Nadha menyatakan, sampai saat ini, untuk mengobati vertigo adalah dengan cara medikamentosa atau dengan pemberian obat dan juga dengan maneuver canalith repositioning therapy.

Unggahan semacam ini diketahui beredar pula pada 2016 lalu dan telah dinyatakan hoaks oleh Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui laman resminya.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Fina Nailur Rohmah
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty

DarkLight