Periksa Data

Benarkah Bencana di Indonesia Banyak Terjadi pada Akhir Pekan?

Oleh: Frendy Kurniawan - 28 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Data yang kami kumpulkan menunjukkan anggapan itu tidak benar.
tirto.id - Tsunami Selat Sunda terjadi pada 22 Desember 2018, tepat di hari Sabtu. Tarik ke belakang, bencana gempa bumi dan tsunami yang menghantam kota Palu dan sekitarnya terjadi pada Jumat 28 September 2018. Beberapa bulan sebelum bencana Palu, gempa bumi berkekuatan 6,4 - 7 SR terjadi di kawasan Lombok dan sekitarnya pada Minggu 29 Juli 2018.

Ini kembali menimbulkan pertanyaan—yang sudah sering dilontarkan: apakah bencana alam memang kerap terjadi di akhir pekan?

Meskipun bencana alam belum dapat sepenuhnya diprediksi kapan terjadi, beberapa klaim acap muncul dan berkembang, termasuk klaim bencana di Indonesia sering terjadi di akhir pekan dan di tanggal tertentu. Bahkan, hal seperti itu pernah terlontar pula dari Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo.

Kepada IDN Times dan CNN Indonesia, Sutopo juga membenarkan bencana alam kerap terjadi di akhir pekan dan di akhir bulan. Contoh lain adalah tsunami Aceh yang terjadi pada hari Minggu, 26 Desember 2004. Namun, Sutopo juga masih mempertanyakan hal ini.

"Mengapa terjadi itu? Ya gak ada penelitiannya," ujarnya.

Namun berdasar pembacaan data berdurasi panjang (longue-duree) dari 177 tsunami dan 358 gempa bumi di Indonesia selama periode 1800-2018, ternyata bencana alam tidak banyak terjadi di akhir pekan.

Data Periode 1800-2018

Kami mencoba membacanya melalui data historis berdurasi panjang (longue-duree). Dengan menggunakan arsip data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat, setidaknya terdapat informasi 177 kejadian bencana tsunami dan 358 gempa bumi penting yang terjadi di kawasan Indonesia selama periode 1800-2018.

Catatan, laman NOAA dapat saja mengalami masa penutupan ataupun perbaikan. Jika itu terjadi, pembaca dapat melihat salinan arsip yang telah kami olah melalui tautan ini.

Batasan Data

Data yang kami olah dari arsip NOAA terbatas pada kejadian bencana tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan di atas 4 SR. Akses dan pembaruan data dilakukan pada 26 Desember 2018 pukul 23.00 WIB. Hasil temuannya: baik tsunami (55 persen) maupun gempa (56 persen) lebih banyak terjadi tidak di akhir pekan.

Soal tanggal kejadian bencana, proporsinya juga masih lebih besar terjadi di sebelum tanggal 20. Data menunjukkan ada 65 persen tsunami dan 62 persen gempa bumi yang terjadi sebelum tanggal 20,

Dengan demikian, dengan menggunakan data berdurasi panjang, klaim bahwa bencana di Indonesia kerap terjadi di akhir pekan dan tanggal tertentu (> 20 setiap bulannya) tidaklah berdasar sama sekali. Secara khusus, dengan melihat arsip data historis kasus bencana (tsunami dan gempa bumi) dari NOAA.


Infografik Periksa Data Bencana Di Indonesia
Infografik Periksa Data Benarkah Bencana Di Indonesia Banyak Terjadi Di Akhir Pekan?


Selanjutnya, berdasarkan data historis yang sama, dengan memperhatikan periode yang lebih pendek, 2000-2018, sebaran bencana tsunami terjadi relatif terdistribusi merata di semua hari dengan paling banyak kejadian di hari Rabu dan Minggu. Hal yang sama terjadi juga untuk bencana gempa bumi.

Infografik Periksa Data Bencana Di Indonesia
Infografik Periksa Data Benarkah Bencana Di Indonesia Banyak Terjadi Di Akhir Pekan?



Infografik Periksa Data Bencana Di Indonesia
Infografik Periksa Data Benarkah Bencana Di Indonesia Banyak Terjadi Di Akhir Pekan?

Studi-Studi

Hingga saat ini, belum ada teknologi yang bisa memastikan kapan bencana akan terjadi. Kerja sains yang berkaitan dengan bencana lebih untuk membangun sistem pencegahan dan tanggap darurat yang cepat.

Untuk bencana tsunami, studi yang muncul banyak tentang prediksi waktu kedatangan tsunami. Narumi Takahashi dkk (2017) dalam Journal of Disaster Research misalnya menulis soal upaya membuat sistem waktu kedatangan tsunami, ketinggian tsunami maksimum, dan daerah genangan di sekitar titik target pantai.

Mereka menggunakan data dan informasi dari Dense Oceanfloor Network System for Earthquakes and Tsunamis (DONET) serta mengekstraksi model kesalahan dari 1.506 model berdasarkan prinsip amplifikasi tsunami. Perlu dicatat bahwa studinya pun hanya dilakukan secara khusus untuk area Shikoku.

Sementara itu, berkaitan dengan gempa bumi, studi lebih pada penguatan informasi atas sistem aktivitas seismik regional, bukan kapan waktu terjadinya. Contohnya, studi yang dilakukan Strachimir Cht Mavrodiev dkk (2018) dan ditulis dalam Geophysical Research Abstracts Vol. 20. Keakuratan prediksi ini akan bergantung pada nilai-nilai penentuan dan ukuran, jumlah titik pemantauan, kontur geologi wilayah, dan sebagainya.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Nuran Wibisono