Periksa Fakta

Benarkah Ada Protes di Depan Kedutaan Perancis di Sudan?

Oleh: Irma Garnesia - 10 November 2020
Dibaca Normal 1 menit
Banyak video beredar di internet terkait demonstrasi untuk menuntut Perancis. Bagaimana faktanya?
tirto.id - Pernyataan dan sikap Presiden Perancis Emmanuel Macron yang dinilai menghina Islam memicu boikot ekonomi negara-negara Islam dunia. Pidatonya yang diunggah BFM TV pada 2 Oktober 2020 salah satunya berisi pernyataan, "Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis, di manapun di dunia. Tak hanya yang kita lihat sekarang."

Dalam pidatonya tersebut, Macron mengumumkan rencananya untuk mempertahankan nilai-nilai sekuler Perancis dari apa yang disebut "radikalisme Islamis." Seperti diberitakan Al Jazeera, Macron menegaskan tidak akan ada kelonggaran yang akan dibuat dalam upayanya mendorong agama keluar dari pendidikan dan sektor publik di Perancis.

Macron juga mengumumkan, pemerintah Perancis pada Desember mendatang akan mengajukan undang-undang untuk memperkuat Undang-Undang tahun 1905 yang memisahkan gereja dan negara dan secara resmi. Catatan singkat, UU 1905 inilah yang menegaskan posisi Perancis sebagai negara sekuler. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi tumbuhnya radikalisasi di Perancis dan meningkatkan "kemampuan untuk hidup berdampingan."

Pernyataannya Macron terkait Islam menjadi salah satu faktor yang memicu reaksi dari para aktivis muslim, tak hanya dari komunitas muslim Perancis melainkan di seluruh dunia.

Tidak mengherankan, pada hari yang sama, banyak video di internet terkait demonstrasi untuk menuntut Perancis. Akun Facebook Спокойная Душа mengunggah sebuah video yang ia klaim sebagai pembakaran Kedutaan Perancis di Sudan atas protes terhadap penghinaan gambar Nabi Muhammad (arsip). Sejak diunggah, video berdurasi 2:20 menit tersebut telah disaksikan sebanyak 374 ribu kali dan mendapat reaksi dari 31 ribu orang.

Akun Facebook Спокойная Душа juga menuliskan pada videonya: “Pembakaran kedutaan Perancis di Sudan untuk menolak gambar Nabi yang menghina, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian.”

Video tersebut tidak hanya berisi pembakaran dan massa yang berlarian, namun juga teriakan dan penyebutan lafadz Allah

Lantas, benarkah terjadi protes dan pembakaran kantor Kedubes Perancis di Sudan?

Periksa Fakta Capture Video Protes di Sudan
Periksa Fakta Capture Video Protes di Sudan. Foto/Facebook/Cnokonhar Aywa/Cnn



Penelusuran Fakta

Tirto menelusuri video tersebut dengan mencari gambar yang mirip dengan tangkapan layar potongan video. Beberapa gambar yang kami cari adalah pria yang berdiri di belakang nyala api sambil berteriak (menit 1:51) dan gambar massa bentrok dengan aparat keamanan (menit 0:14). Kami melakukan penelusuran melalui Yandex, mesin pencarian gambar dari Rusia.

Foto pertama mengarahkan pencarian kami pada sebuah berita foto di ABC berjudul "Protesters target the German embassy in Khartoum" pada 2012.

Kami kemudian menelusuri protes yang terjadi di Khartoum, Sudan pada September 2012 tersebut. Menurut DW, ketegangan di Sudan meningkat terkait aksi mempertontonkan karikatur Nabi Muhammad di depan masjid di Berlin. Imam yang memimpin aksi tersebut, seperti ditulis DW, merencanakan demonstrasi di depan kedutaan Jerman dan Inggris pada hari yang sama.

Selanjutnya, potongan gambar lainnya dari video memang menunjukkan protes sama yang berlangsung di depan Kedubes Jerman di Khartoum. Kami mengonfirmasinya lewat video dari CNN berdurasi 2:01 menit yang diunggah pada 14 September 2012. Pada dasarnya, potongan-potongan video dengan gambar tak jelas yang beredar di Facebook merupakan editan dari video CNN ini.

Video yang tersebar di Facebook juga menghilangkan seluruh konteks terkait protes pada 2012 dan menyesuaikan narasi terkait protes terhadap Perancis yang memang terjadi di banyak negara saat ini.


Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, dapat dikonfirmasi bahwa video yang disebarkan akun Спокойная Душа di Facebook bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading). Video tersebut merupakan protes di depan Kedutaan Jerman di Sudan pada 2012.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight