Hari HAM 10 Desember:

Belajar Tegar dan Memaafkan dari Para Korban Bom Terorisme

Oleh: Abdul Aziz - 10 Desember 2019
Dibaca Normal 3 menit
Di peringatan Hari HAM 10 Desember ini, sejumlah korban bom aksi terorisme mengaku telah memaafkan mantan pelaku karena kekerasan tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan.
tirto.id - Suara Reni Agustina Sitania pelan dan matanya berkaca-kaca. Sesekali ia menghapus air matanya dengan tisu. Ia berusaha mengingat dan berbagi cerita kejadian nahas yang terjadi pada 9 September 2004.

Reni adalah adik Martinus Sitania (29), salah satu korban meninggal akibat ledakan bom di depan Kedubes Australia.

Ledakan yang meluluhlantakkan Kedubes Australia, di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada 15 tahun silam itu menelan korban sekitar 150-an orang luka-luka dan sembilan orang meninggal dunia, termasuk Martinus, abang Reni.

Martinus bekerja di sebuah bengkel yang terletak di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pada 9 September 2004, ia berangkat kerja seperti biasa. Setelah sampai di tempat kerja, Martinus mendapat order untuk mengambil uang ke bank di kawasan Jalan HR Rasuna Said.

Pada Kamis pagi itu, Martinus kebetulan sedang melintas di lokasi ledakan. Ia melaju dengan mengendarai sepeda motor saat bom meledak sekitar pukul 10.30 WIB.

“Tubuh kakak saya hancur berkeping-keping,” kata Reni saat ditemui reporter Tirto, di Hotel The Royal Heritage, Solo, Jawa Tengah, Minggu (8/12/2019).

Martinus termasuk satu dari dua korban meninggal yang menjadi fokus penyelidikan polisi. Sebab, jasadnya hancur dan sulit dikenali. Ia tewas tepat di depan Kedubes Australia.

Polisi bahkan sempat menduga korban yang sulit dikenali itu adalah pelaku bom bunuh diri. Meski beberapa hari kemudian, mereka mengklarifikasi jika Martinus merupakan korban, bukan pelaku sebagaimana diberitakan sejumlah media berdasarkan keterangan polisi.

Saat itu, Reni mengaku kecewa. “Kami keluarga, dibilang marah, ya marah karena kami keluarga korban, bukan pelaku,” kata Reni sambil membetulkan kerudung putih yang dikenakannya.

Akibat musibah tersebut, Reni yang saat kejadian masih kuliah terpaksa berhenti. Ia tak punya pilihan. Ia harus menggantikan Martinus mencari nafkah untuk keluarga, sebab kedua orang tuanya sudah tak lagi bekerja.

“Orang tua saya kehilangan tulang punggung keluarga karena kakak saya menggantikan ayah yang sudah tidak bekerja lagi,” kisah Reni.

Reni tak hanya kehilangan kakak tercinta. Kejadian itu juga membuat kedua orang tuanya sakit-sakitan. Sebulan setelah kejadian, kata Reni, gendang telinga ayahnya bahkan pecah.



Nasib serupa dialami Wenny Angelina Hudojo. Ia merupakan korban bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, Jawa Timur, pada 13 Mei 2018. Saat kejadian, Wenny bersama dua anak dan keponakannya.

Bom bunuh diri tersebut membuat Wenny kehilangan kedua anaknya, Vincencius Evan (11) dan Nathanael Ethan (8).

Saat itu, kata Wenny, ia bersama dua anak dan ponakannya hendak mengikuti misa pagi di gereja. Namun, baru saja turun dari mobil, tiba-tiba sebuah motor melaju kencang dan pengendaranya meledakkan diri tepat di belakang dia.

Akibatnya, Evan meninggal. “Saya sadar kalau anak yang pertama sudah tidak ada [meninggal] di gereja,” kata Wenny mengisahkan kembali peristiwa nahas tersebut, pada Sabtu malam, 7 Desember 2019.

Sementara Nathan sempat bertahan kendati kehilangan banyak darah. Namun, bocah berusia delapan tahun itu akhirnya meninggal pada Selasa, 15 Mei 2018 setelah operasi amputasi kaki kanannya.

Sedangkan Wenny yang juga terluka akibat ledakan bom tersebut harus menjalani beberapa kali operasi. “Operasi kecil dua kali, operasi besar dua kali,” kata Wenny.

Kisah serupa dituturkan Nyoman Pasarini (38) dan Nikadek (35). Kedua wanita ini merupakan korban Bom Bali II tahun 2005.

Pasarini dan Kadek tak hanya mengalami luka, tapi juga trauma yang cukup lama akibat ledakan yang menewaskan 23 orang dan korban luka-luka hingga 196 orang.

“Trauma sekali. Sekarang sudah lumayan move on. Dulu kalau ada orang pakai ransel, saya lari karena takut,” kata Pasarini.

Pasarini mengatakan sekitar setahunan mengalami trauma. Namun, kata dia, saat ini sudah tidak paranoid ---keadaan seseorang yang berlebihan dalam rasa takut, curiga, khawatir, dan cemas – yang berlebihan.

Begitu juga dengan Kadek. Meski sudah tidak trauma, tapi dia mesti menjalani pengobatan akibat ledakan yang terjadi pada Oktober 2005 itu.

“Baru 3 bulan lalu [31 Agustus 2019], saya menjalani operasi kedua,” kata Kadek. Artinya, ia menjalani operasi lagi akibat ledakan bom tersebut setelah 14 tahun kemudian.


Bangkit dan Memaafkan Pelaku

Meski demikian, para korban bom ini tetap tegar, bahkan mengaku telah memaafkan pelaku terorisme. Dari penuturan Wenny, ia telah mengikhlaskan kepergian kedua anaknya.

Walau masih terbata-bata menceritakan ulang kejadian bom bunuh diri yang terjadi setahun lalu, Wenny mengaku sudah memaafkan pelaku.

Kadek dan Reni bahkan sudah pernah bertemu mantan pelaku aksi terorisme. Pertemuan ini difasilitasi Aliansi Indonesia Damai (AIDA), lembaga swadaya masyarakat yang fokus mendampingi para korban dan mantan narapidana teroris.

Pada 26 Januari 2019, Reni difasilitasi AIDA bertemu dengan mantan pelaku terorisme, yaitu Kurnia Widodo.

Kurnia pernah mengikuti pelatihan militer di Aceh yang diadakan Dulmatin pada awal 2010. Usai menjalani pelatihan, Kurnia merencanakan aksi teror di Mako Brimob untuk membalas dendam atas kematian salah seorang rekan seperjuangannya.

Pada 2014, Kurnia mendapat status bebas bersyarat. Setelah bebas dari penjara, ia bergabung dengan organisasi AIDA dan aktif mengampanyekan perdamaian.

Reni bercerita, sebelum bertemu dengan mantan pelaku terorisme, orang tuanya menitipkan salam dan sudah memaafkan.

“Papa sudah ikhlas, papa sudah memaafkan, mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” kata Reni.

Reni menambahkan, "jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita mendoakan agar mereka bertobat."


Sementara itu, Direktur AIDA Hasibullah Satrawi menyebut ada dua narasi penting sebagai edukasi kampanye perdamaian untuk masyarakat dengan mempertemukan mantan pelaku dan korban bom.

Hasibullah mencontohkan apa yang disampaikan Ali Fauzi Manzi, mantan narapidana terorisme yang menyebut, “jangan pernah membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan, dan tidak ada orang yang tidak punya masa lalu, serta tidak ada orang yang tidak pernah punya dosa.”

Menurut dia, seluruh manusia adalah pendosa. Akan tetapi, sebaik-baiknya pendosa adalah mereka yang mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

"Jangan suka menghakimi para pendosa, apalagi keluarganya, karena mereka masih mempunyai harapan jika mau berbagi, berempati, mendorong untuk melakukan perubahan. AIDA memilih titik harapan dibanding penghakiman," jelas Hasibullah.

"Kami mendorong siapa pun yang mau berubah dan kami fasilitasi untuk bersama-sama menjadi gerakan Indonesia lebih damai," tambahnya.

Selain itu, kata Hasibullah, narasi dari para korban dalam aksi perdamaian adalah agar tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Ia menyebut bangsa ini mengalami kekerasan akut secara historis.

Menurut Hasibullah, dari korban perlu dikembangkan paradigma jangan pernah berpikir kekerasan bisa selesai dengan kekerasan.

“Tidak ada orang yang tidak pernah terpuruk, tidak ada orang yang tidak pernah menangis, tidak ada orang tidak pernah gagal. Semua bisa diubah menjadi sebuah harapan dan senyuman bagi sebanyak-banyaknya manusia,” kata Hasibullah.


Baca juga artikel terkait HARI HAM 10 DESEMBER atau tulisan menarik lainnya Abdul Aziz
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Abdul Aziz
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Maya Saputri
DarkLight