Belajar dari Pertapa Abad Pertengahan yang Hidup dalam Isolasi Diri

Ilustrasi orang bermeditasi. FOTO/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 14 April 2020
Dibaca Normal 4 menit
Hidup menjadi pertapa dipandang sebagai cara menenangkan diri dan berkontemplasi. Awalnya dipraktikkan kaum agamawan yang ingin menyepi dari dunia luar.
Sejarawan seni asal Inggris, Janina Ramirez, sepakat bahwa dalam masa pandemi seseorang patut mencontoh Julian of Norwich, biarawati asal Inggris yang hidup pada abad pertengahan. Julian memilih jadi pertapa (hermit) atau orang yang mengisolasi diri dari kehidupan sosial dan tinggal di tempat sunyi.

Akhir maret lalu, Ramirez yang juga penulis Julian of Norwich: A Very Brief History (2016), berkata pada jurnalis BBC bahwa situasi hidup Julian pada masa itu relevan dengan situasi dunia sekarang. Ini karena sebagian besar masa hidup Julian berlangsung di tengah wabah, salah satu yang terbesar adalah Black Death.

Ramirez meyakini pilihan Julian untuk mengisolasi diri bertujuan agar dirinya bisa hidup dengan tenang di tengah kekacauan dan tetap bisa memiliki hidup yang berkualitas. Namun, yang perlu diingat ialah Ramirez melakukan isolasi diri bukan atas dasar kemauannya sendiri. Akhir bulan lalu, ia mengalami sejumlah gejala penyakit yang memaksanya diam di rumah.

“Ini adalah hal yang harus dialami sebagian besar orang dan aku ingin kita tetap bisa positif menghadapinya,” kata Ramirez. Dan salah satu referensi hal positif menurut Ramirez ialah menulis buku selama masa isolasi seperti yang dilakukan Julian.

Dalam masa pandemi seperti sekarang, kisah hidup pertapa dipandang sebagai salah satu cara yang bisa membantu menginspirasi seseorang untuk bisa tenang. Dan pada awalnya praktik hidup sebagai pertapa memang biasa dilakukan para biarawan dan biarawati.


Kisah Julian of Norwich dan Cuthbert

Beberapa catatan tentang kisah hidup para pertapa muncul pada abad pertengahan. Julian of Norwich adalah salah satu pertapa yang tersohor lantaran ia rutin menulis catatan yang kemudian dibukukan pada 1670 dan diberi judul The Revelation of Divine Love—buku pertama yang ditulis biarawati Inggris.

Isinya adalah pendapat dan refleksi Julian terhadap diri dan ajaran-ajaran agama. Contohnya tentang kasih sebagai nilai utama dalam ajaran Katolik. Dalam bab tersebut, Julian menuliskan bahwa setiap pemberian Tuhan dilakukan atas dasar kasih abadi. Dalam bab lain, ia menjelaskan betapa keyakinannya terhadap Tuhan akan membuat segala sesuatunya baik. Dalam permenungannya, Julian mendengar suara Tuhan yang menyebut bahwa ia dan segala umat manusia akan selalu ada dalam lindungan-Nya.

Buku ini adalah jejak nyata yang ditinggalkan Julian karena tidak ada catatan resmi yang menjabarkan soal kisah hidup si biarawati. Tak hanya soal informasi asal-usul Julian yang sangat terbatas, sejumlah pertapa yang hidup pada abad pertengahan atau sebelumnya, seperti Cuthbert, juga sukar ditemui.

Cuthbert adalah biarawan dan pertapa populer pada abad ke-7. Pada masa itu, daerah tempat tinggalnya, Northumbria, dilanda wabah dan ia rutin mengunjungi penderita wabah untuk membantu proses penyembuhan. Kabarnya para warga Northumbria merasakan mukjizat setelah berjumpa dengan Cuthbert. Di samping itu ia juga memberi makan kaum papa yang kelaparan, mendoakan orang-orang, sembari melakukan aktivitas dakwah.

Di masa tua, Cuthbert memutuskan sepenuhnya hidup sebagai pertapa. Ia memilih tinggal di dalam gua dan mengisi hari dengan berdoa sehingga bisa betul-betul merasa dekat dengan Tuhan. Pada masa itu ia tetap melakukan peran sosial sebagai biarawan seperti menerima kunjungan orang yang meminta berkat atau saran.

Perjalanan Cuthbert menjadi pertapa terbilang tidak mulus. Pada masa muda sebenarnya ia sempat melakukan pertapaan tetapi para pejabat gereja meminta Cuthbert untuk menghentikan aktivitas itu dan melakukan pelayanan. Saat itu Cuthbert tidak bisa menolak perintah para pejabat gereja dan mengakhiri masa hermit-nya. Tak lama kemudian ia ditunjuk sebagai Uskup Northumbria.

Dari sana, nama Cuthbert jadi semakin populer terlebih karena orang-orang mendengar kisah bahwa ia tidak hanya memulihkan penyakit manusia, tetapi juga hewan-hewan.

Izin Hidup Hermit

Keputusan para biarawan atau biarawati Katolik untuk hidup sebagai pertapa memang tidak selalu mudah. Mereka harus mendapat persetujuan dari keuskupan daerah sebelum bisa menjalaninya

Tantangan itu sempat dialami Richard Withers, biarawan dari Philadelphia, Amerika Serikat. Ia bercerita kepada New York Times bahwa di tempat tersebut tidak ada biarawan yang memutuskan jadi hermit. Ia sendiri sempat beberapa kali ditolak Keuskupan Philadelphia ketika meminta izin jadi pertapa. Para pejabat gereja saat itu—akhir tahun 1990-an—keberatan karena menganggap perutusan jadi biarawan bukan hanya untuk dekat dengan Tuhan, tetapi juga melayani sesama dan gereja.

Tapi keuskupan tidak sepenuhnya berwenang menolak keputusan Withers karena pada awal 1980-an Vatikan telah mengeluarkan aturan yang mengakui keberadaan hermit di mana individu mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dalam kesendirian dan doa.

Withers merasa bahwa berada di tengah-tengah massa tidak membuat dirinya merasa mendapat penyegaran batin. Oleh karena itu, ia konsisten pada keinginan jadi pertapa.

Ia menyatakan bahwa aktivitasnya sehari-hari serupa dengan biarawan pada umumnya. Hanya saja, ia punya waktu lebih banyak untuk berdoa, tidak memimpin misa, dan tidak terlibat dalam aktivitas gereja. Ia pun tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mengingat gereja tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.




Biarawati asal Inggris, Rachel Danton, memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjual jasa pembuatan kaligrafi secara online. Ia aktif di jejaring media sosial seperti Facebook dan Twitter untuk berdagang dan berinteraksi dengan konsumen.

Bagi Danton, menjadi pertapa tidak selalu berarti anti dengan kegiatan sosial. Danton berkisah bagaimana ia rutin mengikuti misa mingguan di gereja tiga bulan sekali dan menerima ajakan misa dari konsumen setidaknya setahun dua kali. Kepada Guardian, ia juga menuturkan rutin mengontak keluarga satu kali dalam seminggu. Sementara beberapa teman kerap mengunjunginya setidaknya satu bulan sekali.

Menurut laporan BBC, awalnya Danton tinggal dalam biara ordo Carmelite yang fokus pada hidup dalam kesendirian. Namun, ia tetap tidak nyaman dengan hidup komunal di biara. Ia kemudian meminta izin kepada Uskup Nottingham untuk meninggalkan biara dan jadi hermit. Uskup itu tidak mengizinkannya karena merasa tidak familiar dengan konsep hermit.

Danton baru diberikan izin untuk melakoni hidup sebagai pertapa setelah ia mengikuti misa khusus pada 2006. Di sana ia mengungkap janji untuk hidup sendiri, sederhana, dan hening....

Ada kalanya orang-orang yang hidup sebagai pertapa menjadi daya tarik banyak orang. Hal tersebut terjadi pada Diego Escobar, biarawan yang hidup di Libanon. Menurut laporan National Geographic, sejumlah turis yang mengunjungi negara tersebut tertarik untuk datang ke Qadisha Valley, kawasan di Libanon yang dikenal sunyi dan jadi tempat beberapa biara. Meski harus melalui medan yang sulit, para turis ini rela melaluinya demi bisa berjumpa dengan hermit yang tinggal di sana dan berharap untuk menerima berkat.

Turis-turis itu tidak selalu beruntung karena para hermit seperti Escobar hanya keluar dari tempat tinggalnya bila sedang merasa ingin berjumpa dengan orang lain. Escobar mengisahkan aktivitas sehari-harinya adalah berdoa selama 14 jam, 3 jam bekerja, 2 jam belajar, dan tidur 5 jam. Ia hanya menyantap makanan vegan yang dipetik dari kebun di sekitar tempat tinggalnya.

Pada masa lalu, ada pula tempat tinggal hermit yang dijadikan tempat penziarahan yakni Samaan Citadel atau yang biasa disebut dengan gereja Santo Simeon di Aleppo, Suriah. Pada 412 sebelum masehi, Simeon adalah seorang pertapa yang percaya bahwa dirinya bisa lebih dekat dengan Tuhan bila tinggal di menara. Karena itu ia lantas mendirikan menara dari batu setinggi 2 meter dan tinggal di sekitar menara itu selama 37 tahun.

Menurut laporan Telegraph, Simeon tinggal di sana untuk menghindari kunjungan orang. Satu-satunya orang yang rutin mendatanginya adalah seorang pemuda desa tanpa identitas yang jelas dan kerap memberinya makanan.

Kini, tradisi pertapaan tidak hanya dilakukan orang-orang religius yang bertujuan untuk berkontemplasi dan mendekatkan diri dengan pencipta. Guardian pernah mencatat orang-orang yang hidup sebagai pertapa di beberapa daerah di Amerika. Dijelaskan bahwa ada orang yang jadi hermit dengan tujuan bersembunyi atau sebagai pelarian.

Sementara di Jepang, hidup hermit jadi tren di kalangan anak muda yang merasa begitu tertekan dengan tuntutan hidup yang dirasa semakin berat. Mereka memilih diam di kamar selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.

Baca juga artikel terkait MEDITASI atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight