Misbar

Before, Now & Then: Masa Depan Sebelum Sekarang

Kontributor: Jonathan Manullang, tirto.id - 15 Agu 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Before, Now & Then menegaskan bahwa semakin melihat masa lalu, kita seharusnya kian menyadari bahwa perempuan adalah kunci penyintasan.
tirto.id - Kenapa perempuan (nyaris) selalu kalah, lalu dihantui rasa bersalah?

Pertanyaan ini tidak hanya tercetus dari bibir Nana (Happy Salma) kepada Ino (Laura Basuki), tetapi juga membekas kuat sepanjang durasi film Before, Now & Then. Adegan apa pun yang tersaji di hadapan penonton, nuansa pertanyaan tersebut begitu kental terasa. Film berbahasa Sunda ini adalah karya Kamila Andini yang diadaptasi dari novel milik Ahda Imran berjudul Jais Darga Namaku.

Before, Now & Then masuk dalam kompetisi utama 72nd Berlin International Film Festival, salah satu festival film paling bergengsi di dunia.

Perempuan acapkali tak kuasa melawan arus deras sejarah di sekelilingnya. Perempuan tak mampu pula melepaskan diri dari keterpautan dengan konteks atau latar sosial politik yang membentuk suatu episode sejarah. Alhasil, opsi yang tersedia tak jauh-jauh dari takluk-tunduk-pasrah atau bergegas kabur dan tak pernah menoleh ke belakang.

Namun, menghidupi kenyataan sebagai konsekuensi keputusan yang telah diambil memang tak pernah sederhana. Ada rasa bersalah yang besar mengintip di baliknya.

Nana, sang protagonis, mendapati dirinya berada dalam pusaran salah dua episode paling krusial yang pernah tercatat dalam untaian sejarah republik. Itu adalah periode menjelang proklamasi kemerdekaan serta era transisi penuh tragedi dari Orde Lama ke Orde Baru.

Ia tak benar-benar mengerti mengapa bisa terdampar di situ. Yang Nana ketahui, ia menolak menghapus memori pilu dari episode yang pertama sehingga kerap menoleh ke belakang dalam mimpi-mimpinya, walaupun kian lupa bagaimana sesungguhnya ‘aroma’ memori tersebut. Agaknya inilah alasan utama mengapa memori pilu tersebut seakan nekat menerobos batas-batas paralel garis waktu demi menghampiri realitas masa kini Nana, dan di saat bersamaan mengirim invitasi bagi kedatangan cuplikan masa depan.


Masa Depan di Masa Lalu

Before, Now & Then berbicara tentang penundukan perempuan. Sekuens pembuka film langsung menegaskan hal itu ketika Nana bersama teman perempuannya, Ningsih (Rieke Diah Pitaloka), memilih kabur daripada dinikahkan dengan pentolan sebuah gerombolan revolusioner yang beraksi di sekitar pertengahan dekade 1940-an.

Sewaktu seorang konglomerat lokal bernama Darga (Arswendi Nasution) menyelamatkan hidup Nana, lagi-lagi ia harus menghabiskan hari-harinya terbelenggu oleh kewajiban untuk tampil sempurna di hadapan khalayak.

Sebuah adegan lain merekam bagaimana Nana memilih menyendiri di dalam rumah tatkala pementasan seni dan hiburan tengah memeriahkan malam juragan Darga. Ada pula kisah sendu tentang peristiwa keguguran beserta solusi yang lebih miris lagi: bila Nana hamil kembali dan berhasil melahirkan dengan baik, ia bersama suaminya, atas petunjuk ‘orang pintar’, harus merelakan bayi tersebut diasuh oleh keluarga asing semata-mata demi menghindari ‘kesialan’ yang sama menghampirinya lagi.

Puncak penundukan terjadi saat Nana menyadari bahwa suaminya menjalin hubungan gelap dengan seorang perempuan penjual daging di pasar setempat. Alih-alih mendamprat sang selingkuhan, Nana memilih menumbuhkan semacam kepercayaan yang tak lazim hingga terbangun ruang aman untuk berbagi di antara mereka berdua.

Hatinya mungkin berontak luar biasa, namun sikap dan tingkah lakunya menyiratkan keinginan mencari teman. Tak pelak, lahir sebentuk sukacita yang janggal: Nana menemukan kebahagiaan dalam kehangatan persona seseorang yang berpeluang besar menghancurkan rumah tangganya.

Keseharian Nana yang diamati penonton merupakan sekumpulan benih yang memberi petunjuk seputar eksistensi perempuan di republik yang sama, lima dasawarsa kemudian. Secara khusus, ihwal penundukan menjadi tema sentral yang muncul di segala era tersebut.

Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang belum lama ini disahkan, misalnya, adalah wujud konkret betapa masifnya budaya penundukan perempuan baik secara privat maupun di ruang publik. Contoh lain seperti isu tes keperawanan di lingkungan aparat militer/kepolisian yang bersifat diskriminatif, ketiadaan fasilitas laktasi bagi ibu menyusui di banyak area publik, serta beragam kasus mengenai perlakuan berat sebelah yang diterima perempuan di lingkungan kerja/sekolah/rumah.

Kata orang bijak, masa lalu akan terulang terus mengikuti putaran roda zaman. Tidak ada sesuatu yang benar-benar baru di bawah matahari. Jika demikian, apakah selama ini masa depan perempuan kita sesungguhnya tengah bersembunyi di antara belantara masa lalunya?


Sekarang yang Terkekang

Masa depan nyaris selalu tiba dengan cara yang tak terduga. Si kecil Dais (Chempa Puteri), anak gadis Nana yang paling intim dengannya, tiba-tiba nongol dalam rupa dewasa. Begitu pula suami pertama Nana, Raden Icang (Ibnu Jamil), yang disangka telah tiada mendadak muncul dari ruang hampa dan menyapanya.

Kehadiran sekelumit masa depan dalam tempo yang teramat singkat mengguncang ritme keseharian Nana secara fundamental. Kekiniannya terhimpit, penuh sesak akibat penetrasi entitas asing yang menerabas limitasi waktu.

Pada titik ini, masa lalu-masa kini-masa depan resmi bersanding dan berkelindan dalam satu ruang lini masa.

Kamila Andini punya rekam jejak cukup panjang seputar upaya melebur garis waktu yang mendefinisikan masa lalu, masa kini, dan masa depan ke dalam bingkai tunggal.

Memoria (2016) mendedahkan peristiwa kekerasan masa lampau yang melahirkan generasi sekarang, dengan tanggung jawab menghentikan siklus kekerasan tersebut pada masa mendatang. Sementara Sekala Niskala mengeksplorasi presensi sekumpulan anak kecil metafisika yang memasuki semesta kehidupan sepasang anak kembar buncing (kembar laki-laki dan perempuan) di Bali, menjelang sang anak laki-laki berpulang untuk selama-lamanya.

Pola yang menautkan ketiga karya Kamila tersebut adalah ihwal pengekangan yang dialami oleh masa kini. Ruang interaksi milik ‘sekarang’ tampak tertekan sedemikian rupa menghadapi tubrukan masa depan dan masa lalu sehingga kehilangan orientasi akibat paradoks demi paradoks yang muncul bertubi-tubi.

Seakan-akan kita terjebak dalam suatu semesta tertentu yang menggunakan model Penrose Stairs-ilusi visual tangga dua dimensi yang membentuk lingkaran oksimoron tanpa awal dan akhir-sehingga orang yang mencoba menaikinya secara terus menerus takkan pernah sampai ke posisi yang lebih tinggi.


Infografik Misbar Before, Now & Then
Infografik Misbar Before, Now & Then. tirto.id/Ecun


Kritik dalam Nostalgia

Bagaimana kehidupan Nana selanjutnya pasca-bebas dari segala belenggu konstruksi sosial yang menguasainya tidak pernah diperlihatkan hingga klimaks menerpa. Bagaimana komunikasi Nana dengan anak-anaknya pun sangat kabur. Dan memang tak perlu juga penonton mengetahui semua hal tersebut secara rinci, sebab pengungkapan detail terhadapnya mungkin sekali akan memicu jenis pendiktean anyar dan rasa bersalah nan segar, sementara Nana sudah merasa cukup hidupnya didikte oleh pergulatan sosial kultural yang berasal dari luar pribadinya.

Demikianlah kita takkan pernah tahu apa sebetulnya pesan yang dibisikkan Ino ke telinga Nana sesaat sebelum mereka berpisah, atau isi gumaman Dais dewasa (Arawinda Kirana) kepada ibunya pada sekuens penutup. Dan tak perlu jua kita repot-repot membedakan mana masa kini, mana masa depan, dan mana masa lalu bila esensi yang terkandung dalam ketiganya sesungguhnya serupa adanya.

Ketidaktahuan bukanlah aib/kekurangan, melainkan sebuah sifat manusiawi yang memanusiakan seluruh karakter dalam film beserta para penonton yang mengobservasinya.

Before, Now & Then kembali menegaskan bahwa semakin bercermin dari dan bernostalgia tentang perjalanan para leluhur, kita seharusnya semakin menyadari bahwa perempuan adalah kunci penyintasan, bahkan hingga lompatan peradaban sebuah kaum.

Tanpa perempuan-perempuan yang mampu bertindak otonom seraya merdeka dari teror rasa bersalah, takkan lahir generasi penerus yang berpikiran terbuka serta menjunjung prinsip egaliter. Tanpa orang-orang muda yang mengakui bahwa mereka selayaknya berada dalam posisi setara satu sama lain, tak akan lahir bangsa yang berkepribadian kuat.

Masa depan sebelum sekarang sudah membuktikan itu.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Jonathan Manullang
(tirto.id - Film)

Kontributor: Jonathan Manullang
Penulis: Jonathan Manullang
Editor: Lilin Rosa Santi

DarkLight