Beda Data dari Kementan, BPS: Impor Daging RI Jan-Juni 84.499 Ton

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 17 Juli 2020
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia telah mengimpor daging jenis lembu sebanyak 84.499 ton.
tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia telah mengimpor daging jenis lembu sebanyak 84.499 ton. Nilai impor 6 bulan terakhir atau selama Januari-Juni 2020 mencapai 257 juta dolar AS.

Impor terbanyak selama 6 bulan terakhir datang dari Australia sebanyak 58.565 ton. Nilainya mencapai 172 juta dolar AS. Di posisi kedua, ada Amerika Serikat dengan sumbangan 10.355 ton senilai 39,33 juta dolar AS.

Selebihnya, impor datang dari Selandia Baru 8.518 ton, India 5.124 ton, Spanyol 1.929 ton, dan gabungan beberapa negara 5 ton.

Sekitar 18.999 ton impor daging di semester I baru masuk pada Juni 2020. Impor itu setara Rp59,07 juta dolar AS. Impor terbanyak pada Juni 2020 masuk dari Australia dengan total 11.196 ton atau setara Rp34,36 juta dolar AS.

Selanjutnya, suplai daging Indonesia datang dari Amerika Serikat sebanyak 1.413 ton, Selandia Baru, 1.554 ton, India 4.452 ton, Spanyol 381 ton, dan gabungan sejumlah negara 0,79 ton.

Menariknya jumlah impor daging yang dicatat BPS selama 6 bulan ini lebih besar dari data Kementerian Pertanian yang dilaporkan pada Juli 2020. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan mencatat realisasi impor daging dan jeroan sapi/kerbau baru mencapai 68.125 ton hanya sampai Juli 2020.

Realisasi dalam data Kementan juga masih jauh dari total rekomendasi impor yang diberikan pemerintah untuk tahun 2020 sebanyak 379.050 ton. Impor daging sampai Juli ini datang dari lima negara terbesar penyumabng yaitu Australia, Jepang, Selandia Baru, Spanyol, dan Amerika Serikat.

Mengenai rendahnya realisasi impor daging ini Kepala Sub Direktorat Sanitary dan Standarisasi Kementan Endang Ekowati menyatakan ada kendala yang dihadapi importir.

Seperti dikutip dari Antara pada Rabu (15/7/2020), ia menyatakan “Mereka menyampaikan alasannya bahwa tidak ada barang, harga mahal, pengiriman juga terganggu karena sejumlah negara lockdown.”


Baca juga artikel terkait IMPOR DAGING atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Maya Saputri
DarkLight