27 Februari 1900

Bayern Munchen: Kejayaan & Kejatuhan Raksasa Sepakbola dari Bavaria

Ilustrasi Mozaik FC Bayern Munchen Didirikan. tirto.id/Nauval
Oleh: Renalto Setiawan - 27 Februari 2020
Dibaca Normal 5 menit
Selama 120 tahun, Bayern Munchen melewati pelbagai ujian: nyaris bangkrut, menjadi korban perang, dituduh Yahudi, hingga harus bertarung dengan ego besar para pemain bintangnya.
Ada masa ketika sebagian besar pegiat olahraga di Jerman sangat membenci sepakbola. Kebencian itu tumbuh dan mengakar dari abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Karl Planck, salah seorang guru olahraga dari Stuttgart, misalnya, menilai sepakbola adalah “penyakit orang Inggris” karena hanya “orang-orang bodoh yang menendang bola dengan kaki”. Sementara Otto Jaeger, yang juga guru olahraga, tak kalah pedas dalam mengomentari permainan itu. “Sepakbola adalah olahraga menyedihkan,” ujarnya.

Saat itu orang-orang Jerman memang masih lebih familier dengan Turnen dibanding dengan sepakbola. Secara sederhana Turnen bisa dibilang sebagai gimnastik, tapi orang-orang Jerman juga memaknainya sebagai alat pemersatu bangsa. Penyebabnya sangat-Jerman: Turnen lebih bersifat koloni daripada kompetitif, sementara sepakbola bersifat sebaliknya.

Namun, justru pada periode itulah lahir klub sepakbola yang kelak menjadi ujung tombak Jerman untuk cari muka di hadapan dunia. Ia digagas oleh Franz John dan 10 orang pemuda di Bavaria pada 27 Februari 1900, tepat hari ini 120 tahun lalu. Klub sepakbola itu bernama Bayern Munchen.

Menurut Uli Hesse, dalam bukunya yang berjudul Bayern: Creating a Global Superclub, John dan kawan-kawan semula merupakan anggota klub Turnen asal Bavaria yang bernama Munchner Turn Verein (MTV) 1879. Mereka tergabung dalam divisi sepakbola dan terbiasa bertanding sebanyak enam kali dalam setahun. Ketika sepakbola terus berkembang di Jerman, mereka ingin lebih sering bertanding.

Kesempatan John dan rekan-rekannya untuk bertanding lebih banyak akhirnya datang. Hal itu terjadi saat Asosiasi Sepakbola Jerman Selatan dibentuk dan memutuskan untuk mengadakan kompetisi regional yang melibatkan klub-klub dari Bavaria hingga Frankfurt. Sayangnya, saat John dan kawan-kawan ingin terlibat di dalamnya, MTV 1879—yang masih sangat konservatif sebagaimana klub Turnen pada umumnya—menolak dengan keras.

John pun tak terima. Bavaria, menurut John, adalah salah satu kota terbesar di Jerman dan akan sangat memalukan apabila mereka tidak punya wakil dalam kompetisi regional. Alhasil, dia pun membujuk rekan-rekannya untuk membentuk klub sepakbola yang bisa bebas dari pengaruh Turnen.

Ide John sempat memicu perdebatan. Sebagian rekannya menilai bahwa mendirikan klub sepakbola sama saja siap dicap sebagai “pemberontak”. Sementara sebagian besar mendukungnya dengan mantap. Pada akhirnya, dari 17 orang anggota, enam orang memilih setia dengan Turnen dan 10 anggota lainnya setuju dengan ide John.

Untuk merealisasikan ide tersebut, kesebelas orang itu kemudian melakukan pertemuan di restoran Gisela, Bavaria. Setelah saling bertukar gagasan, mereka lalu bersepakat bahwa klub yang mereka dirikan bernama Bayern Munchen. Mereka akan bermain dengan setelan biru-putih, warna kebesaran Bavaria. Dan pada 18 Maret 1900, dalam pertandingan debutnya, Bayern seakan langsung menjelaskan bahwa mereka ada untuk menjadi klub kebanggaan Bavaria.

Hari itu Bayern menghajar Munchen FC, klub sepakbola yang berusia lebih tua dari mereka, dengan skor mencolok: 5-2.


Progresif Sedari Awal

Pada masa-masa awal, terutama saat Kurt Launder mulai menjabat sebagai Presiden Klub pada tahun 1913, Bayern langsung tampak berbeda dengan klub Jerman kebanyakan. Mereka berani mengontrak pelatih asing, memberi asuransi kepada para pemain utamanya, hingga merekrut pemain-pemain muda.

Walhasil Bayern mampu menjadi salah satu kekuatan utama di Bavaria, baik dari segi jumlah anggota, maupun finansial. Mereka saat itu punya 900 anggota yang 500 di antaranya masih berusia muda.

Namun, Perang Dunia I kemudian melanda Eropa dan mengusik segala hal yang dibangun oleh Bayern. Meski demikian, Bayern tak menyerah. Setelah mundur satu-dua langkah karena perang, Bayern ternyata mampu melompat jauh ke depan.

Meroketnya Die Roten dimulai ketika perang mengubah paradigma orang-orang Jerman tentang sepakbola. Mereka yang semula menganggap sebelah mata, mulai dapat menerima sepakbola dengan tangan terbuka. Masih dalam Bayern: Creating a Global Superclub, Uli Hesse setidaknya memberikan dua fakta.

Pertama, laga final kejuaraan nasional terakhir sebelum Perang Dunia I hanya disaksikan oleh 6 ribu pasang mata. Sementara saat Nuremberg dan Furth bertemu di laga final 1920, pertandingan itu ditonton oleh 35 ribu pasang mata.

Kedua, Hesse menulis, “DFB (Asosiasi Sepakbola Jerman) mengalami pertumbuhan pesat. Pada Januari 1919, asosiasi itu hanya merepresentasikan 3100 klub dengan 460 ribu anggota. Satu tahun kemudian DFB sudah merepresentasikan 4400 klub dengan 760 ribu anggota.”

Demi masa depan yang lebih baik, Bayern memanfaatkan momentum itu dengan sebaik-baiknya. Mereka berusaha mendapatkan banyak penggemar untuk menambah pemasukan keuangan bagi klub.


Pada 1920, Bayern Munchen merancang pesta ulang tahunnya yang ke-20 secara besar-besaran. Tak dinyana, hasilnya ternyata memuaskan. Tidak hanya menjadi bahan pembicaraan utama penduduk Bavaria, Kicker, salah satu majalah olahraga ternama asal Jerman, juga memuji kemeriahan pesta itu di halaman muka.

Setelah itu, diadakan rangkaian pertandingan melawan tim-tim profesional dari luar Jerman. Dan setelah Bayern berhasil menjadi satu-satunya tim yang berhasil mengalahkan Boca Juniors dalam lawatannya ke Jerman, Bayern punya senjata pamungkas untuk menambah jumlah pendukungnya: menjadi juara nasional.

Momen bersejarah itu terjadi pada tahun 1932. Di Nuremberg, tidak hanya mengalahkan Frankfurt dengan skor 2-0, Bayern juga menang di luar lapangan.

Bagaimana tidak? 60 ribu pasang mata yang datang dari berbagai pelosok negeri untuk menonton laga final itu, sebagian besar mendukung Bayern. 421 penonton bahkan rela mengayuh sepeda sejauh 126 kilometer dari Bavaria ke Nuremberg untuk menyaksikan laga final tersebut. Setelah pertandingan, Kicker menulis keluhan salah seorang pendukung Frankfurt:

“Pertandingan ini seperti tidak berlangsung di tempat netral. Stadion dipenuhi oleh penggemar Bayern yang datang dari segala penjuru Bavaria dan para penggemar Nuremberg pun ikut menjadi pendukung mereka… Aku pikir, jika kami menang, siapa pun yang mendukung Bayern akan memukuli kami sampai babak belur.”

Beberapa saat setelah hari bersejarah itu, kebangkitan Nazi di Jerman sempat membuat reputasi Bayern nyaris hancur berantakan. Para petinggi dan sebagian pemain Bayern, termasuk Launder, dibungkam karena berdarah Yahudi. Bayern juga mulai kehilangan penggemarnya yang dikumpulkan dengan susah payah.

Namun, untuk semua cobaan tersebut, Bayern ternyata sama sekali tak pernah menengok ke belakang. Penyebabnya: Mia san Mia, sebuah filosofi yang selalu mereka pegang teguh dan selalu ampuh membuat mereka jadi lebih hebat.

Kelak, lewat filosofi inilah Bayern mampu menjadi tim paling sukses dalam sejarah sepakbola Jerman. Mereka meraih 29 gelar liga, 19 gelar DFB-Pokal, 5 gelar Liga Champions Eropa, dan sejumlah gelar lainnya.


Pengaruh Trapattoni

Hingga sekarang, Bayern punya banyak pelatih asing yang memberikan kejayaan. Richard Kohn menjadi alasan utama keberhasilan Bayern meraih gelar liga pada 1932. Gyula Lorant dan Pal Csernai, dua pelatih asal Hungaria, berhasil memodernisasi permainan Bayern antara tahun 1977-1983. Setelah itu, nama-nama seperti Louis van Gaal, Pep Guardiola, hingga Niko Kovac juga tak bisa dilewatkan begitu saja.

Namun, dari sekian banyak nama tersebut, sosok Giovanni Trapattoni bisa dibilang mempunyai pengaruh besar terhadap sikap tahan banting Bayern Munchen.

Trapattoni melatih Bayern Munchen selama dua periode, yakni pada tahun 1994-1995 dan tahun 1996-1998. Dalam dua periode itu, Bayern sebetulnya sedang dalam kondisi paling buruk di sepanjang sejarah mereka. Penyebabnya, selain minim prestasi, pemain-pemain Bayern juga lebih suka saling sikut satu sama lain.

Pertikaian terjadi antara Lothar Matthaeus melawan Jurgen Klinsmann, Thomas Strunz melawan Stefan Effenberg, hingga Effenberg melawan siapa saja. Selain itu, para pemain Bayern juga sering tampil ogah-ogahan di atas lapangan.

Masalah-masalah itu kemudian membuat Bayern dijuluki “FC Hollywood” oleh media-media Jerman. Saat Trapattoni mengalami kegagalan pada musim 1994-1995, ia sama sekali tidak menggubris masalah tersebut. Sebagaimana dikisahkan Uli Hesse dalam salah satu tulisannya di ESPN, Mr. Trap justru menilai kegagalan itu disebabkan oleh kegagapannya dalam berbahasa dan berbudaya Jerman.

Maka, ketika ia kembali melatih Bayern pada musim panas 1996, ia menyiapkan segalanya. “Dalam dua bulan ke depan, aku akan kursus bahasa Jerman secara intensif. Empat jam selama sehari. Setelah itu, aku tak perlu lagi bekerja dengan penerjemah,” kata Trapattoni.

Usaha Trapattoni ternyata membuahkan hasil. Ia lebih mudah berkomunikasi dengan para pemainnya dan Bayern Munchen mampu meraih gelar liga pada musim 1996-1997. Namun, alih-alih menyelesaikan masalah, gelar itu ternyata menjadi bahan bakar pemicu perpecahan para pemain Bayern ke tingkat yang lebih gawat.



Ego yang memuncak itu kemudian berimbas terhadap performa Bayern di atas lapangan. Pada musim 1997-1998, Bayern seringkali gagal memenangkan pertandingan besar. Pada 10 Maret 1998, Trapattoni pun tak betah menghadapinya. Dalam sebuah konferensi pers yang kelak akan selalu dikenang itu, Trapattoni menyembur pemain Bayern habis-habisan.

Trap saat itu membicarakan delapan poin yang semuanya tidak enak didengar oleh pemain Bayern. Ringkasnya, ia menyebut “pemain-pemain Bayern lemah seperti botol kosong”, “pelatih bukan orang bodoh, pelatih bisa melihat kejadian di lapangan”, serta, yang paling fenomenal, “pemain Bayern lebih banyak bicara daripada beraksi di atas lapangan”.

Kejadian itu langsung menggegerkan publik sepakbola Jerman. Sosok Trapattoni, lengkap dengan gesturnya saat memaki para pemain, terus diputar ulang di sejumlah televisi Jerman. Para pemain Bayern mulai memusuhinya. Saat para jurnalis bertepuk tangan setelah konferensi pers tersebut, para penggemar Bayern sadar: Trapattoni melakukan sesuatu yang benar. Ia dinilai melakukan perbuatan itu berdasarkan Mia san Mia.

Bagaimana bisa?

Mia san Mia secara harfiah mempunyai arti “Kami adalah Kami.” Istilah ini populer di Bavaria pada tahun 70-an dan mempunyai banyak konotasi. Pada 2008, Bayern memaknai filosofi itu dengan merincinya dalam 16 prinsip. Beberapa di antaranya adalah “Mia san Grenzelos (menghargai perbedaan)”, “Mia san Vorbilder (sebagai panutan)”, hingga “Mia san ein Verein (satu klub)”.


Thomas Muller, gelandang Bayern, pernah meringkas 16 prinsip tersebut. “Mia san Mia adalah mental juara dan rasa percaya diri kelas baja yang tidak disertai arogansi. Siapapun yang ingin menang harus bekerja keras,” kata Muller seperti dilansir dari situs Bundesliga.

“Pesepakbola terbaik selalu bermain untuk Bayern. Mereka yang memberikan segalanya saat latihan. Siapapun yang tidak setuju berarti tidak cocok untuk bermain di klub ini,” imbuhnya.

Luapan emosi Trapattoni kemudian menjadi penting bagi Bayern. Sejak itu, "FC Hollywood" bubar dan Bayern mulai kembali ke jalur yang benar.

Setelah Pep Guardiola memutuskan untuk meninggalkan Bayern Munchen pada akhir musim 2016, menyoal ciri khas Bayern Munchen, seorang fans Bayern mempunyai pendapat yang menarik.

Untuk tiga musim yang penuh piala bersama Guardiola, ia mengatakan: “Itu adalah waktu yang sangat menyenangkan di mana tim mampu mengalami peningkatan soal taktik. Tapi kami seperti robot. Bagiku itu bukan gaya khas orang-orang Bavaria.”

“Itu,” imbuhnya, “adalah kegagalan utama Guardiola.”

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA JERMAN atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Irfan Teguh
DarkLight