Bayer dan Monsanto: Taipan Obat atau Saudagar Racun?

Oleh: M Faisal - 15 Agustus 2018
Dibaca Normal 4 menit
Besar karena obat-obatan, besar juga sebagai ancaman kesehatan. Akankah jadi akhir perjalanan mereka?
tirto.id - Pukulan telak jatuh tepat di muka Monsanto. Dilansir CNBC, Senin (13/8), anak perusahaan farmasi Bayer yang berfokus pada teknologi pertanian ini dituntut membayar ganti rugi sebesar $289 juta. Pasalnya, produk pembasmi serangga bernama Roundup yang diproduksi perusahaan itu diduga keras sebagai biang keladi kanker.

Dilaporkan oleh Bloomberg, masalah bermula kala penjaga taman di salah satu sekolah di California bernama Lee Johnson, yang sehari-harinya berhubungan dengan ratusan galon Roundup, didiagnosis dokter terkena kanker pada 2014. Pengacara Johnson menyebut bahwa kliennya menderita kanker akibat kontak langsung dengan Roundup.

Tiga tahun kemudian, selepas menjalani berbagai macam perawatan termasuk kemoterapi, nasib Johnson tak kunjung membaik. Dokter bahkan memvonis usia Johnson tinggal enam bulan. Johnson pun lantas mengambil tindakan hukum yang baru menemui titik terang pada Senin kemarin. Kuasa hukum Johnson menyatakan Monsanto telah gagal memberikan jaminan keselamatan bagi konsumennya.


Sehubungan dengan tuntutan tersebut, petinggi Monsanto menyatakan bakal mengajukan banding seraya bersikeras bahwa produk Roundup sudah lolos proses uji kesehatan. Kendati demikian, pemberitaan negatif mengenai Roundup telah mendorong saham milik Bayer jatuh 10% ke level terendah (€83,48).

Roundup adalah salah satu produk lawas Monsanto. Namun, sejak dirilis pertama pada 1974, Roundup tak pernah lepas dari kontroversi. Ahli lingkungan dan peneliti ramai-ramai menyematkan tanda bahaya pada glifosat, bahan baku utama Roundup yang berpotensi mengakibatkan kanker.

Pabrikan Besar yang Penuh Cela

Bayer, yang didirikan di Jerman pada 1863 oleh duo Friedrich Bayer dan Johann Friedrich Weskott, adalah taipan farmasi dunia. Per Juni 2018, Forbes memasukannya ke dalam 2000 perusahaan publik terbesar di dunia (peringkat 100) dengan kapitalisasi pasar senilai $104,6 miliar.

Namun, reputasi Bayer sebagai pabrikan besar dalam industri farmasi rupanya berjalan seiring rekam jejak buruk. Kasus Roundup bukanlah pemberitaan negatif pertama yang menghantam keras Bayer.

Pada 1999, misalnya, Bayer dituntut oleh korban Holocaust, Eva Mozes Kor, karena telah berpartisipasi dalam eksperimen medis yang mengerikan terhadap para tahanan kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz. Berdasarkan pengakuan Kor, ia dan saudara kembarnya, Miriam, digunakan sebagai kelinci percobaan. Dampak dari eksperimen itu, terang Eva, ialah ginjalnya tidak lagi berfungsi secara maksimal. Sementara saudari kembarnya tewas setelah bertahun-tahun sakit.

Menurut pengakuan Eva, Bayer mengawasi eksperimen tersebut serta memanfaatkannya untuk “pengembangan laba perusahaan.” Eksperimen dilakukan dengan memasukkan serangkaian bakteri penyakit ke dalam tubuh ‘pasien’ melalui pil dan suntikan. Tujuannya: menguji efektivitas obat Bayer untuk menyembuhkan bakteri dalam tubuh. Percobaan ini dipimpin oleh Helmuth Vetter, dokter Nazi berpangkat mayor, yang pada 1947 dieksekusi mati oleh Pengadilan Militer AS.

Sebagaimana dilaporkan The Guardian, pihak Bayer memilih tidak berkomentar atas tuduhan Eva.


Dua tahun kemudian, Bayer kembali tersandung kasus. Mereka dituntut publik karena produk terlarisnya saat itu, Baycol/Lipobay, diduga kuat menewaskan 52 orang (31 di AS dan 21 di negara lain). Mengutip Curt Furberg dan Bertram Pitt lewat “Withdrawal of Cerivastatin from the World Market” (2001), kandungan cerivastatin dalam Baycol/Lipobay yang seharusnya jadi obat anti-kolesterol justru mengakibatkan gagal ginjal.

Masalah Lipobay, dilansir dari BBC, membuat Bayer limbung. Nilai saham turun 4%, laba operasional di kuartal ketiga anjlok 90,7% (merosot ke angka $58,20 juta), ratusan tuntutan secara hukum mampir di meja petinggi, dan sebanyak 4.000 pekerja di-PHK.

Jajaran petinggi Bayer pun meradang. Deutsche Welle mencatat, Bayer mengklaim dokumen terkait Lipobay yang diajukan penggugat sebagai dokumen "menyesatkan". Pihak perusahaan juga menyangkal telah terkena krisis dan menyebut kabar-kabar yang beredar di publik sebagai “propaganda murahan” untuk menjatuhkan reputasi Bayer.

Pada 1980an, Bayer juga sempat kena kasus serupa. Kali ini, yang dipermasalahkan adalah obat bernama Factor VIII yang dibuat oleh anak perusahaan Bayer, Cutter Biological. Obat yang ditujukan untuk pengidap hemofilia (darah membeku) ini diklaim mampu menyediakan zat yang hilang dalam pembekuan darah serta bisa menghentikan maupun mencegah pendarahan, asalkan digunakan tiga kali dalam seminggu.

The New York Times melaporkan, alih-alih menyembuhkan, obat ini malah turut menularkan HIV ke ribuan penderita hemofilia. Sebagian pasien meninggal. Hal tersebut terjadi lantaran Factor VIII dibuat dengan menggunakan plasma dari 10 ribu donor yang beberapa di antaranya ternyata mengidap HIV. Waktu itu, belum ada alat dan mekanisme untuk mengecek HIV dalam darah.

Akhir Februari 1984, Cutter mengenalkan produk pengganti Factor VIII yang diklaim "lebih aman". Namun, kebijakan itu tidak menghentikan niat Bayer menjual produk Factor III di wilayah Asia dan Amerika Latin.

Pada 2003, Bayer memutuskan untuk membayar denda ganti rugi senilai $600 juta guna menyelesaikan tuntutan hukum yang diajukan para penderita hemofilia. Meski begitu, pihak perusahaan ngotot menolak disalahkan. Para petinggi perusahaan bersikeras bahwa Bayer selalu “bertindak penuh tanggungjawab, etis, dan manusiawi.”

Untung dari Perang

Namun, rupanya Bayer tak punya urat kapok.

Pada 2016, mereka memunculkan wacana untuk membeli Monsanto. Proposal yang ditawarkan punya nilai sebesar $62 miliar. Tujuan Bayer mengakuisisi Monsanto, mengutip The New York Times, adalah “untuk menghadirkan raksasa baru di dunia pertanian.”

Monsanto adalah pemain lawas di industri farmasi AS. Perusahaan yang berlokasi di St. Louis ini didirikan oleh John Francis Queeny pada 1901. Produk pertama mereka adalah pemanis buatan yang kemudian dijual ke Coca-Cola. Satu dekade berselang, Monsanto melebarkan sayap bisnisnya ke bahan kimia obat-obatan, aspirin, pertanian, dan—memasuki tahun 2000an—biji tanaman hasil rekayasa genetika.

Butuh waktu sekitar dua tahun bagi kedua pihak untuk meneken kontrak sehubungan proses akuisisi. Juni lalu, akhirnya Bayer resmi membeli Monsanto dengan nilai yang tak jauh dari penawaran semula.

“Bayer akan tetap menjadi nama perusahaan. Monsanto tidak akan lagi menjadi nama perusahaan. Produk yang diakuisisi akan mempertahankan nama merek mereka dan menjadi bagian dari portofolio Bayer,” jelas Bayer dalam keterangan resminya, dilansir dari Reuters.

Bagaimanapun, proses akuisisi Bayer terhadap Monsanto tak lepas dari kritik. Pada 2016, Brad Pulmer dalam tulisannya berjudul “Why Bayer's Massive Deal to Buy Monsanto Is So Worrisome” yang dipublikasikan Vox mengatakan pembelian Monsanto bisa menimbulkan monopoli di bidang pertanian. Monsanto bisa seenaknya menaikkan harga produk mereka terhadap petani, yang ujung-ujungnya membuat harga pangan lebih mahal.

Selain itu, tulis Palmer, apabila mereka berhasil memonopoli industri pertanian, maka inovasi akan temuan-temuan terbaru yang bermanfaat mendorong hasil makanan bisa jadi tidak tersedia. Perusahaan cenderung main aman dan berfokus pada keuntungan semata.


Tapi, yang tak kalah mengkhawatirkan dari kesepakatan tersebut ialah rekam jejak Monsanto di masa lalu. Sama seperti Bayer, Monsanto pun juga dikenal sebagai perusahaan yang bermasalah.

Pada 1943, Monsanto bergabung dengan Proyek Manhattan yang bertugas mengembangkan bom atom. Kala itu, Monsanto diwakili oleh Kepala Departemen Penelitian dan Laboratorium, Charles Thomas. Dalam Proyek Manhattan, seperti dicatat The New York Times, Charles diminta untuk menyelesaikan proses pemurnian akhir atom dan metalurgi plutonium. Charles sendiri bergabung dengan Monsanto selepas laboratoriumnya yang dibikin bersama Carroll A. Hochwalt dibeli bos Monsanto, Edgar.

Proyek Manhattan dirayakan sebagai keberhasilan. Pengembangan uranium yang mereka geluti menghasilkan bom atom dahsyat yang meluluhlantakan Hiroshima dan Nagasaki serta mengakhiri PD II, dengan korban ratusan ribu jiwa. Atas kontribusinya, pemerintah AS mengganjar Thomas dengan Medal of Merit, medali tertinggi buat warga sipil di AS yang dipandang berjasa dalam perang.

Memasuki dekade 1960an, Monsanto, terang The Guardian, terlibat dalam pembuatan senjata kimia bernama Agen Oranye (Agent Orange) yang dipakai saat invasi AS ke Vietnam. Senjata yang digunakan secara luas selama Perang Vietnam itu telah membunuh dan melukai 400 ribu orang dan menyebabkan 500 ribu orang lainnya mengalami cacat fisik. Bahan yang terkandung dalam Agen Oranye adalah herbisida dan asam triklorofenoksi.

Infografik Bayer Monsanto


Tak hanya menyengsarakan warga Vietnam, Agen Oranye juga mencelakakan kehidupan masyarakat di sekitar pabriknya. Pada
2012, Monsanto dituntut karena pabrik Agen Oranye yang berlokasi di Nitro, Virginia Barat, telah membuat warga sekitar keracunan sejak 1949 hingga 1971.

Gugatan diajukan atas nama puluhan ribu warga yang tinggal di daerah tersebut. Warga menyaksikan aktivitas pabrik yang sangat membahayakan. Limbah tidak diolah dengan baik, senyawa racun dibiarkan menguap tanpa proses penyaringan yang tepat.

Monsanto tak bisa mengelak. Perusahaan akhirnya menyiapkan dana sekitar $21 juta untuk tes medis bagi warga sekitar Nitro. Nilai itu diperkirakan bakal naik hingga $63 juta selama 30 tahun ke depan. Di sisi lain, Monsanto juga setuju untuk menyediakan $9 juta untuk biaya pembersihan zat-zat kimia yang masih berserakan di area Nitro, yang juga dikenal sebagai basis pabrik amunisi persenjataan AS.

Beberapa tahun setelahnya, Monsanto lagi-lagi bikin ulah karena terus memproduksi dan menjual bahan kimia beracun yang dikenal sebagai PCB selama delapan tahun, meski sudah mengetahui bahwa bahan tersebut bisa menimbulkan bahaya kesehatan maupun lingkungan.

Tuduhan yang diarahkan ke Monsanto ditepis perusahaan. Menurut perusahaan, PCB adalah produk legal yang sudah melewati persetujuan dari pemangku kebijakan. Bahkan, dalam pikiran petinggi Monsanto, PCB tidak berbahaya, tidak menyebabkan polusi, dan bermanfaat dalam penerapannya.

PCB, yang biasa dikenal sebagai polychlorinated biphenyls, adalah polutan yang diproduksi massal oleh Monsanto sejak 1935 sampai 1977. Produk ini digunakan sebagai pendingin dan pelumas dalam peralatan listrik seperti transformator dan kapasitor. Pada 1979, PCB sempat dilarang diproduksi dan diperjualbelikan secara umum karena dinilai mengakibatkan kanker dan kerusakan lingkungan.

Tak bisa dipungkiri, baik Monsanto maupun Bayer adalah perusahaan farmasi besar di dunia. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk menjadi raksasa. Keduanya kini menghadapi pengadilan yang bersiap menjatuhkan vonis atas kebusukan yang telah disimpan rapat-rapat.

Baca juga artikel terkait PABRIK FARMASI atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: M Faisal
Editor: Windu Jusuf