Bayar Indekos Pakai Seks: Jebakan bagi Gay & Perempuan Tunawisma

Infografik Sex For Rent
Ilustrasi korban kekerasan seksual. Getty Images/iStockphoto.
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 17 September 2018
Dibaca Normal 4 menit
Harga sewa tinggal makin mencekik. Fenomena "sex for rent" kian marak di Inggris, Australia dan negara Barat lain. Risikonya berat: jadi budak seks hingga kena HIV/AIDS.
tirto.id - Saat harga rumah dan tempat tinggal berbasis kontrak sewa naik di banyak negara, beberapa orang memanfaatkannya untuk pemenuhan kebutuhan biologis.

Mereka menawarkan sex for rent: boleh indekos tanpa membayar uang bulanan, tapi gantinya adalah aktivitas seks bersama pemilik rumah.

Sejumlah media melaporkan fenomena ini makin marak dalam beberapa tahun terakhir. Baru-baru ini BBC Inside Out West mempublikasikan investigasi perihal fenomena sex for rent di Inggris.

Para pemilik kamar/kontrakan memasang iklannya di situs iklan baris Craiglist dalam bahasa yang normal seperti: “Kamar bebas biaya khusus untuk perempuan. Syarat tertentu berlaku” hingga yang lebih vulgar seperti “Kamar dobel untuk perempuan nakal, bayar pakai seks”.

Reporter BBC Inside Out West mula-mula menghubungi beberapa pemasang iklan dengan mengaku sebagai jurnalis, namun semuanya memutus kontak.

Reporter kemudian melakukan penyamaran. Ia berpura-pura menjadi seorang perempuan yang tertarik dengan tawaran salah seorang seorang pemasang iklan, menjalin komunikasi, dan akhirnya melakukan pertemuan di sebuah rumah makan.


Kamera tersembunyi dipasang di baju reporter. Satu kamera lain secara rahasia dioperasikan oleh seorang juru kamera yang duduk di meja sebelah, merekam seluruh gerak-gerik dan dialog.

Salah seorang pemilik adalah pria berusia kepala empat. Ia mencium pipi reporter ketika menyambutnya di pintu restoran. Saat sudah duduk berdua, dengan gamblang ia menjelaskan bahwa “permainan” yang ia cantumkan di iklan berarti “hubungan seks”.

“Bagaimana jika penghuni indekos tidak siap melakukannya di hari pertama tinggal?” tanya reporter. Si pemilik bilang akan kasih waktu satu atau dua minggu. “Bagaimana jika setelahnya tetap tak mau?” Pemilik kontrakan menegaskan akan ada perbincangan soal itu—yang bisa reporter artikan sebagai akhir dari kontrak sewa.

Pemilik lain, seorang pria beruban di kisaran usia yang sama, bersikap lebih sopan. Ia menjelaskan semua uang bulanan akan ia bayar. Ia bahkan menganggarkan uang saku untuk penghuni indekos tiap minggunya, sementara soal kegiatan seksual akan dilakukan sesuai kesepakatan.

Reporter bertanya maksud “FWB” yang si pria cantumkan di iklan Craigslist. Si pria bilang bahwa maksudnya adalah “Friends With Benefits”: si penghuni kos harus mau tidur dengannya seminggu sekali.

Reporter “lolos” dari pemilik pertama dengan membatalkan kontrak sewa. Pemilik kedua secara mengejutkan bilang bahwa sebenarnya ia adalah feminis yang berpura-pura sebagai pelaku sex for rent demi mengumpulkan materi untuk buku barunya. Reporter, tentu saja, tidak mempercayainya begitu saja.


Laporan Harvey Jones untuk Guardian menyatakan hukum di Inggris melarang praktik sex for rent. Pelanggarnya bisa dikenai hukuman penjara hingga tujuh tahun.

Katie Russell, dari Rape Crisis Englad & Wales, mengatakan UU Pelanggaran Seksual mendefinisikan hubungan seksual tanpa paksaan (sexual consent) sebagai aktivitas yang terjadi ketika seorang individu “setuju dengan pilihan untuk melakukan hubungan seks atau tidak dan memiliki kebebasan serta kapasitas untuk membuat pilihan itu”.

"Menyetujui untuk berhubungan seks di bawah tekanan dan ketakutan tidak punya tempat tinggal, atau melakukannya untuk dapat tempat tinggal, bukan sexual consent, dan setiap aktivitas seksual tanpa persetujuan adalah pelanggaran seksual yang sangat serius," katanya.

Katie dan banyak elite politik di Inggris menyayangkan lemahnya penegakan hukum kepada pelaku sex for rent. Inggris, kata mereka, tidak butuh hukum baru, tapi cukup dengan menegakkan hukum lama.

Menurut Jones, fenomena sex for rent makin menjamur sebab harga sewa apartemen makin tidak masuk akal. Golongan pekerja muda dari latar belakang ekonomi miskin sulit mengakses tempat tinggal karena kebutuhan pokok lain juga butuh biaya besar. Walhasil, buat sebagian pekerja ini, Sex for rent jadi alternatif.

Namun, tak ada golongan yang paling rentan ikut praktik sex for rent selain kaum tunawisma, khususnya perempuan tunawisma. Mereka yang sehari-hari melawan dingin karena terpaksa tidur di taman atau ruang publik lain akan menganggap tawaran indekos sebagai sesuatu yang menggiurkan—meski harus dibayar dengan seks.


Jones mewawancarai Kate Webb, kepala lembaga amal tunawisma Shelter. Kate menceritakan pengalaman beberapa perempuan tunawisma yang pernah mempraktikkan sex for rent.

Beberapa tidak melakukannya sejak awal, namun akhirnya terpaksa. Sebab, suatu ketika si penghuni indekos tak punya uang bulanan, sehingga si penyewa kamar harus membayarnya dengan seks. Ada juga pemilik kontrakan yang sejak awal meminta si penghuni untuk mempertontonkan adegan seks yang aneh serta berbau “fetish”.

Para perempuan tunawisma ini akan ditendang dari kamar indekosnya jika menolak permintaan sang pemilik. “Beberapa orang putus asa karena tempat tinggal, lainnya punya kekuatan untuk mengeksploitasi itu,” kata Kate.

“Tunawisma dan kekerasan terhadap perempuan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan," kata Maeve McGoldrick dari Crisis, badan tunawisma Inggris Crisis, dalam laporan Sirin Kale untuk Vice dua tahun silam.

Riset Crisis pada tahun 2011 memperkirakan 28 persen dari perempuan tunawiswa di Inggris pernah melakukan hubungan seksual karena terpaksa. Sebanyak 20 persen di antaranya berhubungan seks untuk mendapat tempat bernaung, meski untuk sementara saja.

Maeve turut menegaskan bahwa banyak dari perempuan ini yang jadi tunawisma karena mengalami korban kekerasan domestik dan seksual. Mereka jatuh ke dalam situasi berbahaya sebab fisik serta mentalnya terancam baik di dalam maupun di luar rumah.


Sex for rent kadang diistilahkan sebagai “survival sex”. Artinya seks dijalankan dengan terpaksa demi bertahan hidup di rimba kehidupan yang keras. Fenomenanya tak hanya ada menjamur di Britania Raya, namun juga di Australia, Amerika Serikat, dan negara-negara Barat lain.

Pertengahan Agustus lalu, Juliet Watson menulis fenomena ini di kanal The Conversation. Juliet adalah peneliti yang menerbitkan buku khusus soal kekerasan yang dialami oleh perempuan tunawisma.

Bekalnya adalah wawancara dengan 15 perempuan tunawisma usia 18-25 tahun yang berseliweran di Melbourne, Australia. Para narasumbernya menggambarkan bagaimana kemiskinan, pengucilan sosial, dan bahaya kekerasan fisik membuat mereka amat rentan terjerumus ke dalam praktik survival sex.

“Bagian terburuk dari menjadi tunawisma adalah anggapan bahwa orang bisa mengambil keuntungan darimu karena kamu dianggap mau melakukan apapun saking miskinnya. Terutama pria, yang mengira para perempuan tunawisma gampang diajak berhubungan seksual,” kata Hayley, salah seorang responden.

Cara bertahan hidup lain yang Hayley lakukan adalah menjalin hubungan temporer dengan pria yang sama-sama tunawisma. Meski tidak mampu menyediakan atap untuk bernaung, katanya, setidaknya ia lebih aman dari aksi kekerasan yang kerap menyasar tunawisma di jalanan.

Lebih Mengerikan bagi Kaum Gay

Meski kurang disorot, kaum gay yang miskin juga mudah terjerat pelaku sex for rent.

Pada April silam, BuzzFeed News menurunkan laporan investigasi terkait para gay muda pernah diperlakukan dengan jahat oleh pemilik kontrakan.

Para pemilik kontrakan menawarkan iklan melalui grup di platform media sosial terbesar: Facebook. Salah satunya “Pelayan rumah gay dan mereka yang menyewanya.” Deskpripsinya: “Grup untuk lelaki gay yang mencari remaja gay untuk jadi pelayan rumah, dan untuk pelayan rumah gay mencari pekerja.”



Pelayan rumah atau “houseboy” adalah istilah yang dipakai untuk remaja atau anak muda gay yang bakal dijadikan pasangan dalam berhubungan seksual dengan imbalan indekos gratis. Kadang, mereka juga dibebani tugas membersihkan rumah, memasak, dan pekerjaan-pekerjaan lain selayaknya pembantu rumah tangga.

Realitanya ternyata jauh lebih gelap. Para gay muda itu mengalami kekerasan fisik, dipukuli, diperkosa, dijadikan budak domestik sekaligus budah seks, dibius paksa agar menjadi pecandu obat-obatan terlarang, hingga akhirnya terpapar HIV/AIDS atau penyakit seksual menular lain.

Pengalaman-pengalaman tersebut membuat hidup korban berubah selamanya. Ada yang kena gangguan psikologis akibat trauma, ada juga yang tak mampu lagi menikmati seks. Beruntung, tidak seluruhnya demikian. Ada yang taraf hidupnya membaik usai dapat pekerjaan yang layak.

Mereka meneruskan hidup sambil membawa beban masa lalu yang berat. Beberapa mampu menjalaninya dengan lebih enteng sebab dipertemukan dengan orang-orang yang benar-benar baik terhadap mereka—bukan yang gila seks transaksional.

Baca juga artikel terkait KEKERASAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Marketing)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight