20 Januari 2009

Barack Obama Melampaui Rasisme Amerika

Oleh: Tony Firman - 20 Januari 2018
Dibaca Normal 5 menit
Buka lembaran.
Kemenangan sebuah
asa. Yes, we can!
tirto.id - "Pemilu ini memiliki banyak pengalaman dan banyak kisah yang akan diceritakan kepada beberapa generasi berikutnya. Tapi yang ada di pikiran saya malam ini adalah tentang seorang wanita yang memberikan suaranya di Atlanta [...] yaitu Ann Nixon Cooper, berusia 106 tahun. Dia lahir hanya satu generasi setelah perbudakan masa lalu berakhir [...] Ketika seseorang seperti dia tidak dapat memilih dua alasan: karena dia adalah seorang wanita dan karena warna kulitnya."

Suara lelaki di podium yang mengucapkan kata-kata itu pelan namun penuh daya hentak. Intonasinya tertata rapi, persis seperti setelan jas yang dipakainya. Di hadapannya, ribuan massa khidmat menyimak, kadang diselingi sorak. Sejurus kemudian, ia melanjutkan,

“Dan malam ini, saya berpikir bahwa dia [Cooper] sudah melewati banyak hal selama seabad di Amerika—sakit hati dan harapan; perjuangan dan kemajuan; masa-masa di mana kita diklaim tidak bisa, dan orang-orang dipaksa meyakini iman Amerika: Ya, kita bisa!”

Pidato itu disampaikan Barack Obama di Grant Park, Chicago, pada 4 November 2008, sesaat setelah kemenangannya dalam Pemilu AS. Narasi tersebut seperti mewakili perasaannya sebagai warga kulit hitam pertama yang terpilih sebagai Presiden AS. Ya, Obama telah menorehkan sejarah.

Sebelum terpilih jadi presiden, Obama adalah senator untuk Illinois dari Partai Demokrat. Sementara rivalnya, John McCain, adalah senator untuk Arizona dari Partai Republik. Sosok McCain tak asing bagi publik Amerika. Ia punya rekam jejak panjang sebagai mantan tahanan perang dan sudah kedua kalinya mengikuti Pemilu Presiden.

Darah Kenya dan Amerika

Pria bernama lengkap Barack Hussein Obama II ini lahir pada 4 Agustus 1961 di Honolulu, Hawaii. Menurut Encyclopaedia Britannica, ayah Obama, Barack Obama Sr, adalah seorang penggembala kambing di Kenya yang kemudian mendapat beasiswa belajar di Amerika. Setelah lulus, ia menjadi ekonom senior untuk negara kelahirannya. Sedangkan ibu Obama, Ann Dunham, adalah seorang kulit putih yang besar di Texas dan Washington.

Pada 1960, Ann Dunham dan Barack Obama Sr bertemu di kelas bahasa Rusia di University of Hawaii dan menikah kurang dari setahun kemudian. Namun, biduk rumah tangga dua pasangan beda ras ini harus berakhir tahun 1964.

Ann Dunham kemudian menjalin asmara dengan mahasiswa asing lainnya asal Indonesia, Lolo Soetoro. Dari pernikahan dengan Lolo, lahir anak perempuan kedua bernama Maya Soetoro. Barack Obama sempat tinggal beberapa tahun di Indonesia bersama ibu, ayah, dan saudara tirinya.

Gelar sarjana ilmu politik didapat Obama dari Columbia University pada 1983. Kemudian, ia menempuh pendidikan hukum dan lulus dari Harvard University di tahun 1991. Sejak itu, ia banyak berkecimpung di dunia advokat untuk masalah hak-hak sipil dan bertemu dengan jodohnya sesama pengacara muda, Michelle Robinson. Mereka menikah pada 1992.

Obama pindah ke Chicago dan mulai aktif di Partai Demokrat. Ia terlibat dalam proyek mengorganisir orang-orang keturunan Afrika-Amerika untuk membantu kemenangan Bill Clinton. Kerja kepartaiannya juga mengantarkan Carol Moseley Braun, perempuan Afrika-Amerika dan legislator lokal di Illinois, memenangkan kursi anggota Senat AS. Obama juga sempat menjadi dosen hukum konsitusional di University of Chicago.

Sebelum mengikuti Pemilu Presiden 2008, ia menjabat sebagai senator di negara bagian Illinois periode 1997 sampai 2004. Dilanjutkan dengan menjadi senator Amerika pada 2005 sampai 2008. Hingga kemudian mencalonkan diri sebagai Presiden AS dari Partai Demokrat berpasangan dengan Joe Biden.

Sentimen Rasial

Karena warna kulit dan asal keturunannya, selama masa kampanye Barack Obama banyak diwarnai sentimen rasisme. Ini tak lepas dari sejarah kelam perbudakan di Amerika Serikat. Di masa puncak perbudakan pada 1860-an, harga total seluruh budak di Amerika mencapai 2,7 milliar dollar.

Jajak pendapat AP-Yahoo News Poll pada September 2008, sebelum kemenangan Obama, misalnya, menunjukkan bahwa sentimen rasial masih kental dalam pikiran publik Amerika Serikat. Bahkan dalam tubuh Partai Demokrat sendiri yang notabene mengusung Obama.

Ada beberapa kata sifat positif dan negatif yang disodorkan untuk menggambarkan orang kulit hitam dalam jajak pendapat tersebut. Hasilnya, 22 persen setuju dengan kata “sombong”, 29 persen “mengeluh”, 13 persen memilih “malas”, dan 11 persen mengidentikkan dengan “tidak bertanggung jawab”.

Sepertiga lebih responden dari semua pendukung Demokrat kulit putih dan responden independen lainnya melihat Obama tak akan bisa memenangkan kursi Gedung Putih karena faktor rasnya. Sementara pendukung Partai Republik yang memilih John McCain mencapai 85 persen, pendukung Partai Demokrat yang kali ini mengusung Barack Obama hanya mencapai 70 persen saja.

Berbagai serangan berupa kampanye hitam juga dilancarkan. Tuduhan yang dialamatkan kepada Obama adalah klaim bahwa ia bukan warga negara kelahiran Amerika asli, menyerang keyakinannya bahwa ia adalah seorang Muslim dan bukan Kristen, juga menuduh kedekatan Obama dengan Bill Ayers, seorang yang radikal menentang keterlibatan AS dalam Perang Vietnam dengan melakukan pemboman di sejumlah gedung publik.

Bahkan hingga 2015, di masa kepresidenannya yang kedua, politik identitas masih dimainkan sebagian orang Amerika Serikat untuk memojokkan Obama. Survei yang dilakukan Public Policy Polling (PPP) menyebut, 54 persen pemilih Partai Republik berpikir bahwa Obama adalah seorang Muslim.

Kecurigaan para pemilih sayap kanan ini semakin tebal lantaran Obama jarang menunjukkan ungkapan atau pembahasan tentang agamanya sendiri dalam tiap pidato dan penampilan publiknya. Meski kenyataannya ia sendiri pernah mengakui bahwa dirinya adalah seorang Kristiani ketika ditanya perihal ini.

Jempol dan Kritik untuk Obama

Obama menghadapi situasi perekonomian yang lesu sejak naik menjadi presiden. Amerika Serikat terseok-seok, pengangguran melonjak, jutaan orang kehilangan rumah karena disita. Juga soal kebijakan luar negeri peninggalan rezim George W. Bush terkait serangan ke Afghanistan dan Irak yang memperburuk citra AS di mata dunia.

Selama kampanye 2008, Obama sudah menyinggung masalah perekonomian. Dilansir dari The Washington Post, ia punya standard kemajuan rakyat AS yang dilihat dari seberapa banyak mereka mendapat pekerjaan, tabungan untuk investasi pendidikan, dan kenaikan pendapatan per keluarga.

Setelah dua periode masa kepemimpinan Obama, profesor hubungan internasional Harvard University Stephen M. Walt melihat bahwa perekonomian AS cepat pulih jika dibanding negara-negara industri besar lainnya. Lebih dari 20 juta orang Amerika yang kekurangan layanan kesehatan kini bisa memilikinya.

Kemajuan penting lainnya adalah dalam sektor hak-hak sipil, terutama pengakuan terhadap LGBT dan beberapa isu minoritas lainnya. Obama mencatatkan diri sebagai presiden AS pertama yang mengakui hak-hak kaum LGBT dan melegalkan pernikahan mereka.




infografik mozaik dua kali obama


Sementara dalam bidang politik luar negeri, langkah kebijakan luar negeri Obama, terutama soal perang, tak sepenuhnya bisa meninggalkan tradisi para pendahulunya. Obama diyakini meningkatkan intensitas perang di Afghanistan pada 2009. Kebijakan ini memperparah keterlibatan AS yang dianggap tanpa niat baik dan menghabiskan banyak tenaga.

Terlebih, disebut Walt dalam esainya di Foreign Policy itu, bahwa Partai Republik sebagai kubu oposisi lebih tertarik untuk menggagalkan program-program Obama dibanding melakukan sesuatu untuk membantu rakyat Amerika.



Obama juga memakai pendekatan ala Bush lewat slogan “perang melawan teror” dengan memakai pesawat tak berawak dan menerjunkan pasukan operasi khusus untuk mengejar tersangka teroris di seluruh dunia. Ia memang melarang penyiksaan tahanan, terutama yang tak efektif dan ilegal, tapi di sisi lain ia membiarkan agen intelijen AS leluasa mengintervensi banyak hal. Seperti yang dilakukan CIA dengan mencoba mengganggu investigasi yang dilakukan senat terhadap penyiksaan tahanan.

Dalam pendekatannya kepada Timur Tengah, Obama dipandang gagal menafsirkan peristiwa Arab Spring. Ia secara serampangan memandang peristiwa itu sebagai tanda pemberontakan rakyat berskala besar yang menuntut demokrasi liberal dan menginginkan keterbukaan. Rezim Obama juga meremehkan kantung-kantung ekstrimisme di Timur Tengah yang akan memanfaatkan kekosongan kekuasaan dan gelombang anti-pemerintahan.


Akibat kesalahpahaman ini, AS melakukan intervensi di banyak negara kawasan Timur Tengah seperti Libya. Mereka juga ikut campur tangan urusan dalam negeri Yaman dan turut mendukung tuntutan dini bahwa Assad harus mundur sebagai penguasa Suriah.


Soal Palestina-Israel, Obama mengupayakan solusi dua negara. Tapi dalam perkembangannya jauh dari harapan. Karena Obama seperti tak pernah memahami bahwa mengandalkan penasihat yang pro-Israel tentu tidak akan pernah menghasilkan kesepakatan yang baik.

Obama dan Menteri Luar Negeri John Kerry juga tak pernah menyadari bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tak tertarik pada solusi itu. Kecuali jika AS mau tegas untuk mengurangi bantuan militer dan perlindungan diplomatik untuk Israel jika tak menurut pada solusi dua negara yang disodorkan AS. Dan pemerintahan Obama selalu gagal mencapai solusi dua negara untuk konflik panjang Israel-Palestina

Sementara itu, kunjungan Obama ke beberapa negara strategis dianggap sebagai prestasi tersendiri. Dalam kapasitasnya sebagai presiden, ia pernah mengunjungi Kuba yang telah berkonflik sengit sejak 1960-an dan berujung pada embargo Amerika atas negeri cerutu tersebut.


Vietnam yang pernah diperangi AS pernah dikunjungi Obama sebagai strategi untuk fokus ke Timur. Juga saat ia mengunjungi Kota Hiroshima pada 27 Mei 2016, yang pernah luluh lantak karena dijatuhi bom atom oleh AS. Ini menjadi catatan sejarah. Untuk pertama kalinya, Presiden AS mengunjungi kota tersebut. Meski begitu, Obama tak menyampaikan permintaan maaf kepada orang Jepang. Dalam pidatonya, ia hanya berharap agar memiliki dunia yang bebas dari senjata nuklir.

Pada 15 Desember 2011, Obama secara resmi menyatakan bahwa Perang Irak sudah berakhir dan AS akan menarik seluruh pasukan dan mengosongkan pangkalan militer yang selama sembilan tahun terakhir dipakai. Namun, ia juga menghindari membuat klaim kemenangan atas perang tersebut.


Barack Obama dilantik sebagai Presiden AS pada 20 Januari 2009, tepat hari ini 9 tahun silam. Kini, genap satu tahun setelah tak lagi bertugas di Gedung Putih, ia sibuk plesiran ke banyak negara untuk menghadiri berbagai acara dan memberikan kuliah umum. Seperti yang pernah dilakukannya saat pulang ke Indonesia pada awal Juni 2017 lalu.

Baca juga artikel terkait BARACK OBAMA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Ivan Aulia Ahsan