Menuju konten utama

Bantah Pro-Cina, Luhut Sebut RI Bakal Dapat Investasi UEA Rp280 T

Menurut Menko Luhut, Indonesia bisa dapat investasi besar dari UEA karena hubungan pribadi Presiden Jokowi dengan Prince Mohammad bin Zayed.

Bantah Pro-Cina, Luhut Sebut RI Bakal Dapat Investasi UEA Rp280 T
Konpers Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan di Istana Negara usai Bertemu Presiden Joko Widodo, di Jakarta, Selasa (22/10/2019). tirto.id/Bayu Septianto

tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membantah Indonesia terlalu pro-Cina dalam urusan investasi. Katanya, sebentar lagi Indonesia juga akan mendapatkan investasi dari Uni Emirat Arab (UEA).

Jumlah investasi dari UEA yang akan diterima Indonesia itu juga, kata Luhut, jumlahnya cukup besar hingga 20 miliar dolar Amerika Setikat (AS) atau sekitar Rp280 triliun [kurs Rp14.000 dolar AS].

"Tadi persiapan kunjungan Presiden ke UEA, itu angkanya tadi saya lihat bisa USD 20 miliar. Ditandatangani selama Presiden [kunjungan] di sana, tapi kita masih finalisasi," kata Luhut usai menerima kunjungan perwakilan Uni Emirat Arab di Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Thamrin Jakarta Pusat Senin (6/1/2020).

"Jadi jangan bilang Cina, Cina melulu. Jangan tuduh kita pro Cina saja, kita siapa saja yang mau saja, asal memenuhi 5 syarat kriteria kita," ujar

Untuk menindak lanjuti investasi tersebut, pada 10 Januari 2020 ia akan pergi ke UEA pada Jumat malam, 10 Januari 2020. Sementara itu Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menyusul sehari berselang yaitu pada Sabtu pagi, 11 Januari 2020.

Ia menjelaskan, perjanjian investasi tersebut dapat terwujud karena faktor kedekatan antara Presiden Jokowi dengan Putra Mahkota Kerajaan UEA, Pangeran Mohammed bin Zayed bin Sultan Al Nahyan di Abu Dhabi.

"Sebenarnya itu [investasi] terjadi karena hubungan pribadi Presiden dengan Prince Mohammad bin Zayed. Ya kami hanya eksekutor saja," terang dia.

Adapun perjanjian yang akan diteken mencakup beberapa sektor. Antara lain investasi untuk bidang energi, agrikultur, pendidikan, keuangan, infrastruktur, manufaktur, dan Sovereign Wealth Fund (SWF).

"Itu udah mencakup semua itu. Terutama ada 4 di sektor petrokimia," kata dia.

Sebagai informasi, kerja sama di bidang petrokimia dan petroleum yang telah disepakati adalah kesepakatan antara Pertamina dan Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) untuk pengembangan kilang di Balongan.

Kemudian, ada pula kerja sama antara Masdar dan PLN untuk kesepakatan pembangunan panel tenaga surya terapung 145 GW (PLTS Cirata). Sementara kerja sama Pertamina dan Mubadala untuk pengembangan kilang di Balikpapan.

Ada pula kerja sama antara EGA dan Inalum untuk pengembangan smelter dan hydropower berbasis 500.000 ton per tahun aluminium smelter di Kalimantan Utara. Terakhir yaitu kerja sama Chandra Asri dan ADNOC dengan kontrak jangka panjang.

Baca juga artikel terkait INVESTASI CINA atau tulisan lainnya dari Selfie Miftahul Jannah

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti