Bank Mandiri Catat Laba Bersih Rp12,2 Triliun, Tumbuh 28,7 Persen

Oleh: Damianus Andreas - 20 Juli 2018
Dibaca Normal 1 menit
Faktor pertumbuhan laba Bank Mandiri terutama didorong oleh capaian pendapatan non-bunga (fee based income) sebesar Rp12,9 triliun.
tirto.id - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp12,2 triliun di sepanjang semester I 2018. Ada pun angka tersebut meningkat 28,7 persen dari laba yang dibukukan perseroan pada semester I 2017, yakni sebesar Rp9,46 triliun.

Faktor pertumbuhan laba Bank Mandiri itu terutama didorong oleh capaian pendapatan non-bunga (fee based income) sebesar Rp12,9 triliun, atau tumbuh 18,1 persen (year-on-year). Sementara untuk biaya Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), terjadi penurunan sebesar 15,4 persen (year-on-year).

“Penurunan biaya CKPN tersebut merupakan cerminan progres Bank Mandiri dalam menurunkan NPL (Non-Performing Loan), melakukan collection, serta kedisiplinan restrukturisasi kredit,” kata Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas dalam keterangan resminya pada Kamis (19/7/2018).

Lebih lanjut, Bank Mandiri juga mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar Rp762,5 triliun pada akhir Juni 2018. Persentase pertumbuhan kredit sebesar 11,8 persen itu pun disebut sudah hampir sama dengan rata-rata pertumbuhan kredit Bank Mandiri selama lima tahun terakhir, yakni sebesar 11,9 persen.

Laju pertumbuhan kredit yang relatif positif itu dipengaruhi sejumlah faktor. Penopang utamanya tak lain adalah pertumbuhan kredit pada segmen korporasi besar yang sebesar 22,2 persen (menjadi Rp296,8 triliun) serta pertumbuhan kredit pada segmen mikro yang sebesar 24,8 persen (menjadi Rp90,6 triliun).

Untuk penyaluran kredit di bidang infrastruktur misalnya, total kredit yang disalurkan hingga akhir Juni 2018 tercatat sebesar Rp165,8 triliun. Angka tersebut rupanya telah mencapai 65 persen dari total komitmen yang diberikan, yakni Rp255,3 triliun.

Bank Mandiri lantas menyebutkan bahwa kredit tersebut disalurkan kepada lebih dari tujuh sektor, yaitu transportasi (Rp39,3 triliun), tenaga listrik (Rp36,8 triliun), migas dan energi terbarukan (Rp24,1 triliun), konstruksi (Rp18,3 triliun), jalan (Rp10,6 triliun), perumahan rakyat dan fasilitas kota (Rp9,5 triliun), telematika (Rp17,5 triliun), dan infrastruktur lainnya (Rp9,6 triliun).

Sementara itu, untuk penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) disebutkan telah tercatat sebesar Rp8,27 triliun hingga Juni 2018. Besaran angka tersebut setara dengan 56,8 persen dari target penyaluran KUR tahun ini yang sebesar Rp14,56 triliun.

Ada pun 40,3 persen dari nilai tersebut (Rp3,33 triliun) telah disalurkan kepada sektor produktif, yakni pertanian, perkebunan, industri pengolahan, dan jasa produksi. Sejak pertama kali disalurkan hingga Juni 2018, Bank Mandiri mengklaim telah menyalurkan KUR senilai Rp56,6 triliun kepada lebih dari 1 juta debitur.

Di sisi lain, Bank Mandiri juga mengklaim terus memperbaiki kualitas kredit produktif mereka. Upaya perbaikan itu pun lantas tercermin dari rasio NPL yang tercatat sebesar 3,13 persen pada triwulan II 2018, dari yang sebelumnya tercatat 3,82 persen pada triwulan II 2017. Penurunan NPL itu kemudian berdampak pada pemangkasan alokasi biaya pencadangan Bank Mandiri menjadi Rp7,9 triliun.

Menurut Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi, perseroan akan terus mendorong pertumbuhan melalui sejumlah upaya. Di antaranya dengan memperkuat struktur pendanaan melalui peningkatan dana murah, menjaga pertumbuhan biaya operasional, serta penyaluran kredit yang lebih prudent, baik di segmen wholesale dan ritel.

“Pada triwulan II 2018, dana murah Bank Mandiri mencapai Rp519 triliun dengan rasio dana murah terhadap total DPK sebesar 64,60 persen. Pertumbuhan pun ditopang oleh peningkatan tabungan sebesar Rp25,9 triliun dan kenaikan giro sebesar Rp2,7 triliun,” ujar Hery.


Baca juga artikel terkait LABA BERSIH atau tulisan menarik lainnya Damianus Andreas
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Damianus Andreas
Penulis: Damianus Andreas
Editor: Yuliana Ratnasari