Menuju konten utama

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen

BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin di 5,75 persen.

Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo berjalan saat akan menyampaikan keterangan pers di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (19/1/2023). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/YU

tirto.id - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di 5,75 persen. Selain itu, bank sentral juga menahan suku bunga deposit facility tetap sebesar 5,0 persen persen dan suku bunga lending di 6,5 persen.

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 15 dan 16 Februari 2023 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen," kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Pengumuman Hasil RDG Januari 2022 di Jakarta, Kamis (16/2/2023).

Perry menjelaskan keputusan ini tetap konsisten untuk memastikan terus berlanjutnya penurunan ekspektasi inflasi. Bank Sentral meyakini suku bunga yang ada saat ini 5,75 persen memadai untuk pastikan inflasi inti tetap berada pada kisaran 3 plus minus 1 persen pada semester I-2023.

"Dan inflasi indeks harga konsumen IHK kembali ke dalam sasaran 3 plus minus satu 1 persen di semester II-2023," jelasnya.

Sebelumnya Praktisi Perbankan BUMN, Chandra Bagus Sulistyo mengatakan, salah satu pertimbangan suku bunga akan tetap di level 5,75 persen karena inflasi di Amerika Serikat sudah mengalami penurunan. Hal ini membuat The Fed ikut mendorong bisa menahan tingkat suku bunga yang ada.

The Fed sendiri sempat menaikan suku bunga federal fund sebesar 0,25 basis poin untuk kedelapan kalinya berturut-turut pada awal Februari. Dengan demikian suku bunga acuan The Fed saat ini berada di kisaran 4,5 persen - 4,75 persen dan, tertinggi sejak Oktober 2007.

Kemudian pertimbangan kedua adalah inflasi dalam negeri yang juga sudah terkendali. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi Januari 2022 sebesar 5,28 persen secara tahunan atau year on year (Yoy). Inflasi ini lebih rendah dibanding Desember 2022 yang sebesar 5,51 persen.

"Oleh karena itu harapannya dengan inflasi yang sudah terkendali kami sampaikan adalah bahwa kemungkinan Bank Indonesia akan menahan suku bunga acuan. Di mana BI pada bulan ini akan tetap pada level 5,75 persen," kata Chandra saat dihubungi Tirto, Rabu (15/2/2023).

Di samping itu, dia melihat bahwa keputusan bank sentral menahan suku bunga acuan pada Februari ini juga mempertimbangkan untuk mendorong pertumbuhan kredit. Sebab dengan tingkat bunga terkendali perbankan bisa menjalankan fungsi intermediasinya, sehingga mendorong perekonomian yang ada.

"Kami juga melihat bahwa tingkat suku bunga yang tetap ini ke depan harus tetap dipertahankan dengan tetap memperhatikan kondisi global karena ketidakpastian ekonomi pergerakan fluktuatif," katanya.

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menambahkan, sebaiknya memang BI mulai menahan suku bunganya agar jangan terlalu agresif. Terlebih bank sentral Amerika Serikat sendiri sudah mulai slow down saat ini.

"Karena kenaikan suku bunga BI akumulasi tahun lalu dirasa cukup berisiko bagi pemulihan sektor riil terutama UMKM, otomotif dan properti," katanya dihubungi terpisah.

Di samping itu, Rupiah pun masih bisa dijaga dengan kebijakan lain seperti pemberlakuan wajib Devisa Hasil Ekspor (DHE) ditahan di dalam negeri. Bhima menyebut jika DHE bisa ditahan minimum enam bulan tentu imbasnya jauh lebih positif dibanding terus terusan menaikan suku bunga acuan.

"Cadangan devisa pun masih gemuk bisa untuk intervensi Rupiah," pungkas dia.

Baca juga artikel terkait SUKU BUNGA ACUAN BI atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Intan Umbari Prihatin