Banjir Jayapura: PUPR Fokus Benahi Area yang Tertutup Lumpur

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 25 Maret 2019
PUPR masih menunggu proses evakuasi sebelum memulai pemulihan aksesbilitas di lokasi bencana.
tirto.id - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) masih berupaya menjaga akses di sekitar area banjir Jayapura, Papua agar dapat dilewati. Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono mengatakan kondisi area banjir saat ini masih kerap tertutup lumpur. Sebab, sungai yang ada di area itu tergolong rentan meluap bila hujan turun di lokasi itu.

"Saat ini darurat, kami menjaga agar konektivitas jalan bisa dipakai karena itu ketutup lumpur terus. Kalau hujan sungai meluap dan lumpur masuk lagi (ke jalan)," ucap Basuki kepada wartawan usai rapat bersama Komisi V di Gedung DPR pada Senin (25/3/2019).

Pada Sabtu (16/3), banjir dan longsor menerjang Jayapura di kawasan Sentani, Waibu, dan Sentani Barat. Hingga saat ini tercatat 113 jiwa meninggal, 107 luka berat, dan 108 luka serta 94 orang dilaporkan hilang. Menurut laporan, banjir itu bahkan menyebabkan 4 blok rumah hanyut terbawa air.

Berkaitan dengan kejadian itu, Basuki mengatakan, kementeriannya telah meninjau lokasi banjir. Hal itu dilakukan oleh direktorat yang berurusan dengan sungai dan jalan.

Saat ini, kata Basuki, PUPR masih menunggu proses evakuasi sebelum memulai pemulihan aksesbilitas di lokasi bencana.

Dalam kondisi darurat ini, ia juga menjelaskan gerak PUPR akan cukup bergantung pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Karena itu, sembari menunggu evakuasi rampung, kementeriannya tengah mengupayakan agar arus air sungai yang ada tidak meluap dan menerjang permukaan.

Sebab dikhawatirkan bila tidak ditangani dengan baik, maka akan memberi gangguan yang cukup signifikan pada area sekitar lokasi.

"Tugas kami menjaga agar arus air jangan menerjang ke permukaan. Itu dulu yang saya amankan. Kemudian jalan harus selalu terbuka," ucap Basuki.


Baca juga artikel terkait BANJIR SENTANI atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Alexander Haryanto