Bandara Kertajati Sepi, Berapa Uang yang "Dibakar"?

Oleh: Ringkang Gumiwang - 12 April 2019
Dibaca Normal 3 menit
Citilink menjadi satu-satunya maskapai yang beroperasi di Bandara Kertajati.
tirto.id - Wakil Presiden Jusuf Kalla angkat suara ihwal nasib Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat. Bandara yang baru beroperasi kurang dari setahun ini masih sepi penumpang, maskapai penerbangan ogah terbang dari bandara ini.

Ini terlihat dari jumlah penumpang di Bandara Kertajati sejak beroperasi Mei 2018 sampai dengan akhir 2018 hanya 35.000 orang. Padahal, tahap awal kapasitas terminal Bandara Kertajati bisa menampung 5 juta penumpang per tahun.

“Boleh dibilang perencanaannya tidak terlalu bagus, mungkin kurang penelitian, sehingga lokasinya tidak pas. Lain kali, jangan kita (pemerintah) membuat [bandara] lagi hanya karena ingin ada airport,” jelas JK dikutip dari Antara.

Rencana membangun Bandara Kertajati awalnya memang tidak ada dalam Tatanan Kebandarudaraan Nasional (PDF) atau peta jalan pengembangan bandara dalam jangka panjang, wilayah Majalengka tidak masuk dalam rencana pemerintah.

Di Jawa Barat, pemerintah pusat sudah menetapkan beberapa lokasi untuk dikembangkan sebagai bandara baru, di antaranya Bandung, Cirebon, Pengandaran, dan Karawang. Dari keempat lokasi itu, Karawang sempat jadi kandidat terkuat.


Karawang dianggap strategis karena lokasinya dekat dengan Bandara Soekarno-Hatta, dan berpotensi mengurai kepadatan penumpang di Bandara Soekarno-Hatta. Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) punya rencana lain. Pemprov Jabar justru menginginkan lokasi bandara digeser ke Kabupaten Majalengka demi alasan pengembangan wilayah.

“Prosesnya (Karawang) lama juga. Pembebasan lahan dulu, segala macam. Penentuan lokasi, RTRW saja belum. [Bandara] Karawang dibicarakan setelah Kertajati selesai,” kata Ahmad Heryawan saat menjabat Gubernur Jabar dikutip dari Bisnis pada 26 Februari 2016.

Pemprov Jabar meyakini lokasi bandara di Majalengka bisa membantu mengurai kepadatan di Soekarno-Hatta. Selain itu, kehadiran bandara di Majalengka juga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Cirebon Raya, Bandung Raya dan sekitarnya.

Pemerintah pusat akhirnya menuruti gagasan Pemprov Jabar, untuk memenuhi kebutuhan tambahan bandara guna mengurai kepadatan di Bandara Soekarno-Hatta. Pemerintah pusat melalui kementerian perhubungan membantu pengembangan landas pacu Bandara Kertajati.

Semenjak Bandara Kertajati diresmikan, maskapai bertarif rendah Citilink menjadi maskapai pertama yang terbang ke Kertajati. Saat itu, anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk. ini membuka rute penerbangan Kertajati-Surabaya (PP).

Maskapai lainnya menyusul di antaranya seperti Garuda Indonesia dengan rute penerbangan Kertajati-Balikpapan dan Kertajati-Palembang. Kemudian, Lion Air dengan rute Kertajati-Madinah dan Kertajati-Balikpapan.


Selebihnya ada Wings Air—anak usaha dari Lion Air Grup sempat melayani rute penerbangan Kertajati-Jakarta dan Kertajati-Yogyakarta. Citilink juga menambah rute baru yakni Kertajati-Medan.

Namun akhirnya, maskapai yang melayani penerbangan di Kertajati menyisakan Citilink dengan rute Kertajati-Surabaya. Itupun frekuensi terbangnya hanya satu kali per pekan. Kondisi ini jelas membuat bandara semakin sepi dari penumpang. Target bisnis bagi pengembang tentu jadi persoalan bila tak segera ditangani.

Infografik Bandara Kertajati
undefined

Bakar Uang Tiap Bulan


Jumlah penumpang yang tipis, ditambah maskapai yang enggan terbang ke Kertajati jelas menjadi berita buruk bagi pengembang bandara. Pasalnya, biaya mengoperasikan sebuah bandara tidaklah kecil.

Direktur Keuangan dan Umum PT BIJB Muhammad Singgih, selaku pengembang Bandara Kertajati, mengatakan biaya operasi Kertajati saat ini sekitar Rp6-7 miliar per bulan. Jika dihitung sejak bandara dibuka pada Mei 2012 sampai sekarang, total biaya yang sudah dikeluarkan selama 11 bulan semenjak pengoperasian sekitar Rp66-77 miliar.

Di sisi lain pemasukan dari puluhan ribu penumpang dan satu maskapai penerbangan sulit untuk menutupi pengeluaran sebesar itu, ini sama saja "membakar" uang. Sebagai gambaran, pemasukan dari airport tax atau Passenger Service Charge (PSC) untuk 35.000 penumpang dikali sekitar Rp65.000, baru mencapai maksimal sekitar Rp2,2 miliar pada tahun lalu.

“Di bandara lain mungkin lebih besar lagi. Sejak dibuka, kami memang melakukan banyak penghematan. Tentu, kami juga mencari cara untuk menaikkan pendapatan, karena ini tidak bisa terus-terusan,” tutur Singgih kepada Tirto.


Menurut Singgih, kondisi Kertajati yang masih sepi dinilai wajar. Pasalnya, tren bandara baru awalnya memang seperti itu. Bahkan, ada juga bandara yang tiga tahun keuangannya masih berdarah-darah.

Meski kondisi Bandara Kertajati masih sepi, BIJB meyakini target impas (break even point /BEP) bisa terealisasi pada 2032 atau 14 tahun mendatang seiring dengan meningkatnya kebutuhan jasa angkutan udara di Jawa Barat.

Ada beberapa penyebab yang membuat Bandung Kertajati sepi di antaranya lokasi bandara yang jauh dari pusat ekonomi seperti Jakarta dan Bandung. Maskapai penerbangan AirAsia Indonesia termasuk yang tak bermibat terbang dari dan ke Bandara Kertajati

“Selain jarak yang jauh, moda transportasi dengan waktu yang lebih terkontrol untuk menuju ke bandara tersebut, seperti kereta juga terbatas,” tutur Dendy Kurniawan, Direktur Utama AirAsia Indonesia kepada Tirto.

Akses menuju Bandara Kertajati juga hingga saat ini masih terbatas. Rencana untuk menyambungkan Tol Cisumdawu yang membentang dari Bandung-Sumedang-Duwuan, dengan Bandara Kertajati belum terealisasi penuh. Saat ini, progres pembangunan tol masih berjalan.


Tol Cisumdawu terbagi atas 6 seksi. Untuk seksi I Cileunyi-Rancakalong, proses konstruksi baru 14,26 persen dengan proses pembebasan lahan baru 66 persen. Untuk seksi II Ciherang-Sumedang, progresnya baru 63 persen.

Selain persoalan akses dan lokasi, upaya meramaikan Bandara Kertajati kian berat karena maskapai juga mulai hati-hati untuk membuka rute baru. Apalagi, industri penerbangan saat ini sedang tidak baik. Di sisi lain, penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung masih beroperasi. Maskapai penerbangan tentu berpikir beberapa kali untuk membuka layanan di Bandara Kertajati karena butuh investasi.

Kinerja AirAsia Indonesia tahun lalu, maskapai bertarif rendah ini membukukan rugi bersih Rp907 miliar. Garuda Indonesia pada 2018 hanya untung tipis US$5,01 juta setelah merugi di tahun-tahun sebelumnya.

“Kami membuka rute jika sesuai dengan feasibility-nya. Kalau untung kami terbang, kalau enggak kami cabut,” Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia M Ikhsan Rosan kepada Tirto.

Baca juga artikel terkait BANDARA KERTAJATI atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra