Bajak Laut, Tiga Ratu Kartel, dan Bandit Penumpas Pemerkosa

Oleh: Eddward S Kennedy - 17 Februari 2019
Dibaca Normal 5 menit
Mereka sudah pasti bikin laki-laki brengsek kabur pontang-panting.
tirto.id - Namanya adalah Ching Shih. Sejarah mencatat: Dia adalah ratu bajak laut terkejam yang pernah ada.

Ching Shih (atau dalam bahasa Kanton ditulis Jihng Sih) hidup pada abad ke-18. Ia terlahir dengan nama Shi Xiang Gu pada 1775 di Guangdong, China. Pada usia 20-an, Ching Shih bekerja sebagai seorang pekerja seks komersial (PSK) di sebuah rumah bordil di kota pelabuhan Kanton. Di sana ia memiliki nama lain: Shih Heang Koo.

Di rumah bordil tersebut, Ching Shih kemudian bertemu dengan Zheng Yi, pemimpin kelompok bajak laut yang paling disegani kala itu. Kisah pertemuan ini berlangsung dengan amat picisan. Ketika anak buah Zheng Yi menyerang rumah bordil tersebut sekaligus menawan semua PSK yang ada, Ching Shih menjadi satu-satunya orang yang berani melawan. Persis ketika itulah Zheng Yi segera jatuh hatinya kepadanya dan berujung dengan pernikahan.

Akan tetapi, ada sekian desas-desus mengenai pernikahan tersebut. Konon, Zheng Yi memang betul-betul terpesona dengan Ching Shih. Pendapat lain mengatakan bahwa Ching Shih sebetulnya tidak bersedia dinikahi. Namun, ia luluh setelah Zheng Yi menjanjikan akan berbagai kekuasaan dan kontrol atas kelompok bajak laut yang ia kendalikan. Singkat cerita, pernikahan itu pun berhasil membuat mereka menjadi pasangan perompak yang amat disegani.

Kekuatan kelompok bajak laut mereka menjadi kian trengginas setelah keduanya memutuskan bekerja sama dengan pasukan Wu Shi’er. Dia adalah sosok yang semula merupakan pesaing utama kelompok bajak laut pimpinan Zheng Yi di lautan. Melalu kerja sama tersebut, mereka lalu sepakat menamai kelompoknya sebutan baru: Red Flag Fleet (Armada Bendera Merah).

Dengan kekuatan 1.700 kapal dan ribuan perompak, Armada Bendera Merah menjadi iblis laut yang tak tersentuh. Kekuasaan mereka meliputi laut China hingga seluruh Asia Tenggara. Setelah Zheng Yi tewas pada 16 November 1807 akibat kapalnya diterjang topan dahsyat di laut Vietnam, Ching Shih praktis menjadi pemimpin tunggal armada tersebut. Dan sejak inilah pamornya sebagai ratu bajak laut paling ditakuti makin membumbung.

Di bawah kepemimpinan Ching, Armada Laut Merah terus membesar dan ditakuti. Jumlah kapal mereka bertambah menjadi 1.800, terbagi ke dalam unit besar dan kecil, dengan pasukan sekitar 80.000 orang. Sebanyak 17.000 bajak laut di antaranya di bawah kendali langsung Ching. Sementara tugas lain ia serahkan kepada Chang Po Tsai, anak angkat yang semula diadopsi Zheng Yi. Secara teknis, Ching fokus pada bisnis dan strategi militer, sedangkan Chang Po menjadi nakhoda.



Tak hanya di lautan, Armada Laut Merah juga amat ditakuti di daratan. Ching Shih menebar ratusan mata-mata di setiap kawasan Guandong dan daerah lain untuk mengumpulkan informasi. Dengan cara ini, nyaris mustahil ketika itu mengalahkan kelompok Cheng Shih. Setiap kapal yang melintas di Laut China Selatan, dari kawasan Makau (Taiwan sekarang) hingga Kanton, harus membayar pajak kepada kelompoknya. Di sejumlah pelabuhan, kota, juga desa, Armada Bendera Merah juga menerapkan pungutan keamanan. Jika ada dari mereka yang tak memberi upeti, pasukan Ching Shih akan menghabisinya.

Kendati demikian, Ching Shih punya satu aturan yang mutlak harus dipenuhi. Ia melarang anak buahnya memperkosa perempuan. Jika ada anak buahnya yang melanggar aturan ini, Ching Shih sendiri yang akan memenggal kepala mereka dengan pedang andalannya. Sikap keras dan tanpa ampun inilah yang membuatnya begitu ditakuti sekaligus disegani.

Kaisar Jianqing, penguasa Dinasti Qing kala itu, yang kian murka karena teror dari Armada Bendera Merah memutuskan untuk mengerahkan seluruh bala tentaranya demi menumpas mereka. Usaha tersebut sia-sia belaka karena kelompok Ching Shih selalu berhasil memenangi pertempuran. Bahkan setelah Kaisar Jianqing meminta bantuan angkatan laut Inggris, Portugis, dan Belanda, tetap saja tidak membuahkan hasil.

Ching Shih baru dapat “dikalahkan” setelah Kaisar Jianqing memilih cara lain: memberi pengampunan kepadanya. Hal ini disepakati oleh Ching Shih. Selain mendapat pengampunan, ia juga berhak atas harta kekayaan hasil jarahannya dan mendapat perlindungan istimewa setara kaum bangsawan. Kendati demikian, banyak anak buahnya yang kena hukuman mati, meski tak sedikit pula yang lantas direkrut menjadi prajurit istana.

Ching Shih akhirnya memutuskan pensiun sebagai bajak laut dan memilih menggeluti lagi kehidupan lamanya: membuka rumah judi dan bordil di Guangzhou. Selain itu, ia pun juga menikah dengan Chang Po Tsai. Pada tahun 1844, ratu bajak laut itu meninggal dalam usia 69 tahun.

Sejarah mencatat, ada sekian penjahat perempuan yang betul-betul ditakuti seperti Ching Shih.

Tiga Ratu Kartel

Dalam bukunya yang berjudul Miss Narco, Javier Valdez, seorang jurnalis Meksiko, menulis: “(Dunia kartel adalah) dunia di mana laki-laki berperilaku seperti binatang. Banyak perempuan digunakan sebagai alat, sebelum kemudian disiksa, lalu dibunuh oleh kartel yang mempekerjakan mereka. Perempuan yang bisa bertahan di bisnis ini sangatlah langka. Sudah pasti mereka sangat cerdas, berbakat, dan pemberani.”

Anggapan Valdez sangat tepat. Dalam dunia kartel Amerika Latin, hanya ada tiga nama perempuan legendaris yang mengerikan: Sandra Ávila Beltrán, Griselda Blanco, dan Enedina Arellano Felix. Ketiganya pun juga dijuluki dengan embel-embel “Ratu”.

Sandra dijuluki “Ratu Pasifik”--merujuk kepada kecakapannya mengorganisir armada kapal tuna untuk berlayar dari pantai Pasifik Meksiko menuju AS dengan membawa masing-masing 10 ton kokain. Griselda disematkan julukan “Ratu Perdagangan Obat Bius”. Sedangkan Enedina adalah “ibu baptis” dari semuanya. Dialah “The Godmother”--julukan yang diberikan oleh pihak Drug Enforcement Administration (DEA).

Sandra lahir Baja California, Meksiko, pada 16 Oktober 1960. Dia adalah putri pasangan María Luisa Beltrán Félix dan Alfonso Avila Quintero, yang masih satu keluarga dengan Rafael Caro Quintero, mantan pemimpin kartel Guadalajara. Oleh banyak pejabat di Meksiko, Sandra dikenal sebagai keponakan Miguel Ángel Félix Gallardo, “Godfather” bisnis obat bius di Meksiko yang menjadi dalang pembunuhan Enrique Camarena, agen DEA pada 1984.

Dengan silsilah keluarga dan kerabat seperti itu, maka mudah saja bagi Sandra untuk dikenal kartel lain, terutama setelah ia memutuskan untuk terjun langsung ke bisnis ini. Sandra pertama kali ditahan di Mexico City, Meksiko, pada 28 September 2007, dengan tuduhan pencucian uang. Namun, itu terjadi sebentar saja sebelum ia dibebaskan. Pun demikian, sosoknya sudah kadung diselidiki lebih jauh. Benar saja, dugaan tersebut akhirnya terbukti ketika pada 2008 Lembaga Riset Kongres Amerika Serikat melansir bahwa Sandra merupakan anggota senior kartel Sinaloa.



Pada 2012, aparat DEA mengekstradisi Sandra ke AS, negara tempat dia diduga bekerja sama dengan Juan Diego Espinosa Ramirez untuk menyelundupkan kokain. Ia tentu kembali menampik tuduhan tersebut. Namun, pada 2013, Sandra tak bisa berkelit lagi setelah ditemukan bukti keras bagaimana ia memberikan sokongan finansial bagi Espinosa untuk kabur dari penangkapan sepanjang 2002-2004. Ia pun dijatuhi hukuman lima tahun, tapi hakim menyatakan hukuman itu tidak berlaku karena Sandra pernah diadili atas tuduhan yang sama di Meksiko dan Amerika Serikat.

Sedangkan Griselda Blanco adalah salah satu orang kepercayaan Pablo Escobar untuk memimpin bisnis kartel Medellin di AS pada masanya. Usai kartel Medellin bubar, ia berbisnis sendiri di AS, terutama di wilayah Miami, New York, hingga Southern California. Setelah mendekam selama dua dekade di penjara New York dan Florida atas berbagai tuduhan kriminal, Griselda akhirnya dideportasi kembali ke Kolombia pada 2004.

Griselda ditakuti bukan sekadar lantaran posisinya sebagai orang penting di kartel Medellin. Ia juga dikenal amat bengis. Dan jika Anda penasaran siapa otak di balik cara khas kartel dalam menghabisi lawannya (membunuh sambil sambil mengendarai sepeda motor), Griselda-lah pencetusnya. Ironisnya, dengan cara itu pula ia dibunuh pada 2012 di kampung halamannya sendiri: Medellin.

Mustahil untuk tidak menyebut nama Enedina Arellano Felix ketika membicarakan peran perempuan dalam dunia kartel Meksiko. Sosok kelahiran Sinaloa pada 12 April 1961 yang sempat mengorganisir kartel Tijuana ini memiliki reputasi yang sungguh tidak main-main di mata DEA: pemimpin perempuan pertama dalam sejarah kartel. Tak heran jika kemudian ia dijuluki "The Godmother" atau "The Narco-mother".

Bandit Penumpas Pemerkosa

Phoolan Devi bisa jadi adalah contoh konkrit bagi mereka yang ingin menghajar patriarki.

Ayah Phoolan adalah seorang bajingan yang selalu beranggapan jika anak perempuan hanya membawa petaka bagi keluarga. Maka dari itu, ketika Phoolan berusia 11 tahun, ia sudah dinikahkan oleh laki-laki yang berusia tiga kali lebih tua darinya. Setelah menikah, nasib Phoolan tak berbeda jauh dengan budak kulit hitam di AS pada abad ke-18.

Ketika berusia 16 tahun, suaminya mengirim kembali Phoolan ke keluarganya karena dianggap tidak berguna. Naasnya, bagi masyarakat Jalaun, dusun tempat Phoolan tinggal, tindakan suaminya tersebut dianggap sebagai kenormalan belaka. Dan belum selesai sampai di situ. Suatu ketika Phoolan berhasil kabur dari percobaan pemerkosaan yang dilakukan lak-laki lain. Namun, pihak pengadilan desa yang menangani kasus tersebut justru menyalahkan dirinya.

Nasib tragis Phoolan terus berlanjut ketika ia diculik rombongan bandit dan dipaksa menjadi budak seks pemimpin kelompok tersebut yang bernama Babu Gujjar. Setelah berhari-hari disekap, salah satu anggota senior di kelompok itu akhirnya ada yang menyelamatkan Phoolan, persis di satu malam saat Gujjar memaksanya bersetubuh. Nama anggota itu Vikram Mallah. Sejak itu, Phoolan dan Vikram menjadi raja dan ratu bandit di kelompok tersebut.

Infografik Perempuan Pemipin Original kriminal
Infografik Perempuan Pemipin Original kriminal


Phoolan betul-betul memanfaatkan statusnya sebagai ratu bandit untuk balas dendam. Mantan suaminya yang dulu menindasnya didatangi langsung oleh Phoolan ke rumahnya, lalu ditusuk berkali-kali di depan orang banyak. Laki-laki itu tidak mati, tapi ia cacat seumur hidup, termasuk kehilangan penisnya. Namun, Serangan Phoolan (dan kelompoknya) yang paling brutal terjadi tepat pada hari Valentine, 14 Februari 1981.

Kala itu, ia bersama kelompok banditnya mendatangi sebuah desa bernama Behmai dan mengeksekusi mati 22 bandit yang dulu pernah melecehkannya. Berita itu bikin gempar seantero India. Setelah menjadi target buruan aparat selama nyaris dua tahun, Phoolan bersedia menyerahkan diri setelah bernegosiasi. Salah satu poin yang ia minta adalah seluruh anggota gengnya tidak dihukum mati. Permintaan itu disetujui dan Phoolan akhirnya dipenjara selama 11 tahun dengan dakwaan 48 kasus kejahatan.

Pada tahun 1995, satu tahun setelah pembebasannya, Phoolan diajak oleh Dr. Ramadoss (pendiri partai Pattali Makkal Katchi) untuk berpartisipasi dalam konferensi mengenai larangan alkohol dan pornografi. Ini adalah langkah pertama Phoolan sebelum akhirnya ia memutuskan terjun ke kancah politik. Dan setelah mencalonkan diri menjadi anggota parlemen lewat partai Samajwadi, Phoolan pun bertugas sepanjang 1996-1998.

Kisah Phoolan berakhir pada 25 Juli 2001, setelah seseorang bernama Sher Singh Rana menembak mati dirinya. Rana mengaku memiliki dendam pribadi terhadap Phoolan terkait peristiwa pembantaian di Behmai. Rana sempat meloloskan diri dari penjara berpengamanan ketat di New Delhi pada Februari 2004, namun ditangkap kembali tahun 2006. Selain penjara seumur hidup, Rana juga dihukum denda 100 ribu rupee--sekitar Rp18 juta.

Phoolan, sosok perempuan yang bagi banyak orang India dipercaya sebagai reinkarnasi dari Dewi Durga itu, meninggal pada usia 37 tahun. Salah satu pesan Phoolan yang kerap disampaikannya kepada orang lain adalah:

“Jika kamu ingin membunuh, bunuh yang banyak sekaligus, 20 orang lebih kalau perlu, jangan cuma satu. Sebab jika kamu membunuh 20 orang, pamormu akan segera tersebar dan mereka akan takut kepadamu. Sementara jika kamu cuma membunuh satu orang, mereka akan menggantungmu.”

Baca juga artikel terkait ORGANISASI KRIMINAL atau tulisan menarik lainnya Eddward S Kennedy
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Nuran Wibisono