Bahayakah Memakai Pantyliner Setiap Hari?

Ilustrasi panty liners. FOTO/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 31 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Pemakaian pantyliner terkait dengan peningkatan risiko infeksi jamur.
tirto.id - Pantyliner adalah salah satu produk saniter yang dipakai harian oleh sebagian perempuan. Bagi sebagian perempuan produk ini bermanfaat untuk menjaga warna celana dalam tetap bersih dari beragam cairan vagina, seperti keputihan dan sisa-sisa menstruasi, selain juga efisien karena tak perlu repot bolak balik ganti celana dalam. Namun, apakah produk ini aman untuk kesehatan?

Sehari setelah gajian, pada 28 Januari kemarin, Nastiti Dewi (28) bergegas menuju pusat grosir yang berada sekitar 2 km dari rumahnya. Ia mengambil sebuah troli ukuran sedang dan mendorong ke arah lorong produk perawatan pribadi. Setelah losion, sampo, sabun, dan tisu masuk ke dalam troli, Nastiti berbelok dua blok menuju lorong produk saniter mengambil tiga buah pantyliner.

Produk tersebut selalu masuk daftar belanja bulanannya. Meski telah beralih menggunakan cangkir menstruasi (menstrual cup) sebagai pengganti pembalut, ia belum bisa menanggalkan pantyliner sebagai produk saniter harian.

“Saya pakai menstrual cup supaya nyaman dan praktis saat haid, pantyliner juga begitu,” katanya sambil membayar total belanjaan di kasir.


Untuk memilih produk saniter harian itu, Nastiti tak punya kriteria khusus. Ia hanya biasa membeli pantyliner dari sebuah merk yang terkenal akan ketipisan produknya. Pembalut dari merk tersebut bahkan ada yang punya ketebalan serupa gabungan lima helai tisu. Mereka mengandalkan gel penyerap cairan seperti yang ada di dalam popok bayi sebagai bahan dasar pembalut.

“Nanti kalau ada produk saniter pengganti pantyliner yang bikin enggak perlu bolak-balik ganti atau cuci, mungkin aku akan beli,” ungkapnya.

Nastiti tidak sendiri. Ada banyak perempuan yang ogah repot mengganti celana dalam setiap mulai terasa lembab akibat keputihan, flek, atau sisa-sisa air basuhan. Jika seorang perempuan memiliki aktivitas di luar rumah selama 8 jam dan celana dalam harus diganti minimal 4 jam sekali, artinya mereka harus membawa setidaknya dua buah celana cadangan.

Selain memenuhi ruang di dalam tas, mengganti celana setiap empat jam sekali adalah kegiatan yang sangat tidak praktis. Apalagi masih banyak perempuan malu ketika terlihat melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kebersihan genital mereka. Membawa celana dalam ke toilet lebih ribet dibanding menyelipkan pantyliner di saku dan merekatkannya di celana dalam.

“Malas harus numpuk banyak cucian. Kalau pakai pantyliner tinggal copot-pasang, enggak perlu susah melepas celana,” tukas Nastiti.


Risiko Kesehatan

“Aku pertama kali pakai karena coba-coba beli, sehabis itu malah iritasi. Kapok!”

Di sisi yang berbeda dengan Nastiti, ada Sari (27), seorang pekerja kantoran di wilayah Mampang, Jaksel. Jika Nastiti merasa banyak manfaat yang ia peroleh dari pantyliner, Sari merasa sebaliknya. Selain iritasi, Sari juga mengeluhkan keputihan setelah penggunaan pantyliner. Namun, setelah dihentikan, kondisi genitalnya kembali normal seperti sedia kala.

Sari dan sebagian perempuan yang senasib dengannya, jelas memilih membawa banyak cadangan celana dalam ketimbang aktivitasnya harus terganggu akibat pemakaian pantyliner. Bagi beberapa orang, produk ini memang tak cocok digunakan karena bisa memicu risiko kesehatan genital termasuk sensasi terbakar, keputihan, iritasi, infeksi, bahkan memicu jamur dan bakteri.



Divya A. Patel, dkk pada tahun 2003 meneliti beberapa faktor risiko kandidiasis vulvovaginal terhadap 65 perempuan yang terdaftar di klinik genital di Detroit dan Philadelphia. Ia menyimpulkan penggunaan pantyliner berhubungan dengan dua kali peningkatan risiko penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur itu. Kolonisasi candida dipicu oleh hipersensitivitas lokal atau reaksi alergi dari penggunaan pantyliner.

“Pada beberapa perempuan, tingkat kelembaban dan suhu perineum yang meningkat bisa menyebabkan kerentanan terhadap infeksi,” tulis peneliti.

Sama seperti pembalut, pantyliner bisa menciptakan kelembaban dan iritasi, terlebih jika produk disertai pewangi/parfum. Namun, jangan terlalu khawatir. Produk-produk saniter biasanya hanya berpotensi berbahaya ketika dipakai secara berlebihan dan tidak diganti dalam jangka waktu panjang, kecuali pada kasus sensitivitas tertentu seperti yang dialami Sari.

Laman Step to Health merangkum beberapa cara yang bisa dilakukan agar terhindar dari risiko kesehatan genital saat memakai pantyliner.

Pertama, pilihlah pantyliner berpori untuk menjaga pertukaran udara di daerah genital dan meminimalisir kelembaban. Hindari pantyliner yang memiliki alas dan penutup plastik. Saat ini banyak tersedia pantyliner organik yang 100 persen terbuat dari bahan yang aman, bahkan bisa didaur ulang menjadi kompos.

Plastik pada pantyliner selain berisiko pada kesehatan juga menjadi masalah lingkungan. Penelitian Marine Conservation Society memperkirakan terdapat 1,5-2 miliar produk saniter termasuk pantyliner yang dibuang ke toilet dan berakhir di pantai-pantai Eropa, tanpa bisa didaur ulang.

Langkah kedua adalah mengganti pantyliner minimal setiap 4-6 jam sekali, serta jangan lupa mencuci tangan sebelum dan sesudah memakai produk tersebut. Terakhir, hentikan pemakaian ketika mendapat gejala peningkatan cairan vagina, perubahan warna pada cairan sekresi, vagina mengeluarkan bau tidak sedap, nyeri dan terbakar saat buang air kecil, dan rasa sakit selama hubungan seksual.

Baca juga artikel terkait PANTYLINER atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight