Bahaya 'Dad Shaming': Krisis Kepercayaan Diri & Kapok Mengasuh Anak

Ilustrasi. FOTO/Istock
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 10 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Psikolog: gaya pengasuhan yang berbeda tidak selalu salah atau berbahaya. Kuncinya berkomentar tanpa mengejek atau merendahkan.
tirto.id - Mengurus anak bisa dipenuhi rasa serba bersalah jika orang-orang di sekitar orangtua gemar berkomentar pedas tapi asal-asalan. Dalam konteks kekinian, faktor ini tidak hanya mendorong kultur mom shaming, tapi juga dad shaming.

Dad shaming adalah komentar negatif serta cenderung merendahkan kepada ayah terkait metode pengasuhan anak yang si ayah terapkan ke anak.

Niatnya boleh jadi mengingatkan. Tapi perilaku tersebut kerap tidak diimbangi dengan gaya komunikasi yang baik serta berangkat dari rendahnya pemahaman terhadap latar belakang ayah dan anak.

The Asian Parent mencontohkan dad shaming dalam kalimat “Pantes anaknya bandel. Si ayah jarang pulang sih, nggak pernah ada waktu buat ketemu langsung. Mending nggak usah ngehubungin anak sekalian daripada cuma video call.

Contoh lain berkenaan dengan penampakan anak. Misalnya “Ayahnya nggak pernah ngajak jalan-jalan nih, kayaknya. Anaknya keliatan nggak bahagia.” Atau “Anaknya kurus banget. Sering dimarahin ayahnya, nih.”

Sarah J. Clark adalah akademisi University of Chicago. Pertengahan Juni kemarin ia dan sejumlah kolega mempublikasikan riset mengenai fenomena dad shaming untuk National Poll On Children’s Health. Respondennya 713 ayah yang sedikitnya memiliki satu anak berusia 1-13 tahun.

Hasilnya, dalam laporan bertajuk Pengasuhan Anak: Bagaimana Kritik Berdampak pada Ayah, mengungkapkan lebih dari separuh responden (52 persen) menyatakan diri sebagai korban dad shaming terkait pilihan atau gaya pengasuhan anak.


Lebih dari dua pertiga responden (67 persen) dikritik mengenai bagaimana mereka mendisiplinkan anak-anak, sementara 43 persen lain diserang terkait diet makanan anak.

Sebanyak 30 persen dibilang terlalu keras dan tidak memberikan perhatian yang cukup pada anak. Lainnya berkenaan dengan keputusan ayah yang berpengaruh pada tidur anak (24 persen), penampilan (23 persen) dan keamanan anak (19 persen).

Pelaku dad shaming rupanya tidak jauh-jauh. Mayoritas (44 persen) dilakukan oleh pasangan si ayah, kemudian kakek atau nenek (24 persen), sisanya teman-teman si ayah (9 persen).

Para responden juga mendapatkan komentar pedas dari orang asing di tempat publik atau dunia maya (19 persen), juga oleh guru atau orang-orang yang bekerja di institusi penyedia layanan kesehatan (5 persen).

Sejumlah responden memang menanggapi kritik secara positif. Mereka melakukan perubahan berdasarkan aspek-aspek masukan yang baik (49 persen) atau mencari informasi tentang gaya pengasuhan yang ideal (40 persen).

Meski demikian, tidak sedikit yang menganggap perilaku dad shaming membuat mereka kehilangan kepercayaan diri sebagai orangtua (28 persen). Responden lain merasa dad shaming menimbulkan keengganan untuk berpartisipasi lagi dalam pengasuhan anak (19 persen).

Sebanyak 90 persen responden sebenarnya menganggap mayoritas ayah telah melakukan tugas yang baik. Oleh sebab itu, sebagian dari mereka menilai pelaku dad shaming bertindak tidak adil (43 persen).

Mengapa? Sebab para ayah memandang komentar macam-macam dari para guru tidak didasarkan pada pemahaman yang tepat mengenai karakter atau kebutuhan si anak (11 persen). Penilaian yang sama juga mereka rasakan kepada pelaku dad shaming dari kalangan dokter atau perawat (12 persen).


Clark mencatat dad shaming bisa merefleksikan peran gender klasik di mana ibu dipandang sebagai pengasuh yang lebih alamiah. Di sisi lain, ayah dianggap memiliki kemampuan pengasuhan yang terbatas sehingga memerlukan pengawasan dan saran perbaikan (dari ibu atau anggota keluarga perempuan lain).

Psikolog University of Georgia, Geoffrey Brown, menyatakan pendapat yang tidak jauh berbeda. Berbicara kepada Perri Klass dalam laporan untuk New York Times, Brown mendeskripsikan dad shaming punya kaitan dengan fenomena maternal gate keeping.

Maternal gate keeping adalah kondisi di mana ibu memainkan peran besar dalam menentukan peran ayah saat mengasuh anak.

Konsep tersebut membuat ibu bisa menyemangati ayah, tapi bisa juga mengecilkan hatinya. Kadang bisa bersamaan. Contohnya saat ibu meminta ayah untuk melakukan sesuatu tapi kemudian tidak menyukai cara kerja si ayah.

Bagi Dr. Caroline Buzanko, psikolog University Calgary di Kanada, akar penyebabnya bisa ditelusuri lebih jauh ke sifat biologis manusia.

“Otak kita tersusun sedemikian rupa sehingga kita terbiasa hanya melihat yang negatif, lebih mudah mendeteksi hasil yang negatif. Saat melihat satu hal saja yang negatif, otak kita akan mencari yang lebih banyak lagi,” katanya dalam laporan Christine Meadows untuk Global News.

Meadows juga meyakini generasi ibu-ibu kekinian sering diserang kecemasan dan keraguan mengenai masa depan anak-anak mereka saat dewasa kelak. Mereka ingin menjadi orangtua yang punya kerangka pikiran sama dengan si anak selama dalam pengasuhan.


Klass turut meminta pendapat Dr. David Hill, profesor pediatri di University of North Carolina School of Medicine dan penulis buku Dad to Dad: Parenting Like a Pro (2012).

Hill mengamati orang setiap saat dan secara sukarela memberikan nasihat kepada orangtua. Tetapi, kecuali memang diminta, saran itu jarang diterima. Efek lainnya tidak hanya membuat tergerusnya rasa percaya diri, tapi juga kemarahan.

“Seseorang seakan telah mengambil sesuatu yang sangat penting dari kita, yaitu bagaimana kita membesarkan anak-anak kita. Ia mengatakan kita melakukan kesalahan, dan itu bisa jadi hasutan yang besar,” katanya.



Berbagai penelitian menunjukkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak mengandung banyak manfaat. Ayah, misalnya, sering menggunakan kalimat yang berbeda dari ibu saat berkomunikasi sehingga menambah kekayaan kosakata anak.

Ayah juga lebih mungkin mengenalkan anaknya pada aktivitas “kasar” dalam aturan yang terus berubah dan dipandang menarik bagi anak. Pembelajaran yang bisa diambil adalah soal pengambilan risiko hingga mendorong anak untuk berani melakukan eksplorasi.


The Asian Parent mengutip psikolog anak dan remaja Saskhya Prima agar istri semestinya tidak menjadi pelaku dad shaming. Pasangan idealnya mendukung ayah agar makin percaya diri serta tidak kapok dalam proses pengasuhan.

Caranya bisa dengan tidak membanding-bandingkan ayah satu dan ayah lain, menetapkan pembagian tugas, dan memberi masukan tanpa bernada mencemooh. Pesan ini tidak hanya ditujukan untuk istri, tapi juga keluarga besar dan semua orang saat berhadapan dengan ayah yang sedang mengasuh.

“Anggota keluarga, terutama pasangan, harus bersedia mengakui bahwa gaya pengasuhan yang berbeda tidak selalu salah atau berbahaya,” kata Sarah Clark berkata pada Web MD.

Sarah menekankan kuncinya ada pada kehati-hatian dalam berkomunikasi. Niat baik tidaklah cukup. Sebagaimana teknik menghindari shaming-shaming jenis lain, orang perlu memahami betul latar belakang hingga kondisi orang yang ingin dikomentari.

“Ada garis tipis antara nasihat pengasuhan yang bermaksud baik dan komentar mempermalukan yang merusak,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait PENGASUHAN ANAK atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight