Bahaya Asap Karhutla yang Masuk dan Bertahan dalam Tubuh

Warga yang terpapar kabut asap karhutla menghirup oksigen ketika berada di Rumah Singgah Korban Asap di Pekanbaru, Riau, Jumat (20/9/2019). ANTARA FOTO/Rony Muharrman/ama.
Oleh: Ahmad Zaenudin - 23 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Anak-anak yang terpapar asap karhutla 1997 memiliki kemampuan kognitif yang rendah.
tirto.id - Awal bulan September 2019, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Indonesia. Menurut data yang dilansir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Rabu (18/9) tercatat ada 2.948 titik api di seluruh Indonesia yang mengakibatkan lahan seluas 328.724 hektare terdampak. Dan kebakaran tidak hanya berdampak buruk terhadap hutan atau lahan, melainkan juga terhadap manusia yang ada di sekitarnya.

Dua hari sebelum data BNPB dirilis, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah --wilayah yang memiliki 609 titik panas-- berada di angka 500. Angka tersebut berarti kualitas udara di Palangkaraya ada pada level berbahaya bagi semua populasi yang terpapar pada waktu tersebut.

Buruknya kualitas udara juga terjadi di Pekanbaru, Pontianak, serta wilayah-wilayah terdampak karhutla lainnya. Sebagaimana dilansir Antara, hingga pertengahan September, buruknya kualitas udara menyebabkan 144.219 warga di Kalimantan dan Sumatera terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Salah satu korban bernama Zikra, balita berumur dua tahun anak dari pasangan Roni Kurniawan dan Marvel yang harus menghirup oksigen melalui tabung.

Kondisi kesehatan yang diderita Zikra jelas menyesakkan. Ia yang masih amat belia, sangat mungkin membawa dampak buruk musibah ini di tahun-tahun mendatang, merentang jauh dari karhutla 2019.


Asap Kini, Menderita Belakangan

Indonesia cukup sering mengalami karhutla. Salah satu yang terbesar dan memiliki dampak buruk ialah yang terjadi pada 1997-1998 silam. Kala itu, Younoh Kim, dalam papernya berjudul “Long-Run Health Consequences of Air Pollution: Evidence from Indonesia’s Forest Fires of 1997,” menyebut bahwa kebakaran melanda 4,5 juta hingga 6 juta hektare lahan. 600 titik api tersebar di Sumatra, Kalimantan, serta Jawa.

Kebakaran besar itu terjadi saat Indonesia didera fenomena El Nino. Lantas praktik membuka lahan lewat metode tebang dan bakar akhirnya menciptakan karhutla yang hebat. Kebakaran besar dan laus itu menciptakan kabut asap yang membuat jarak pandang semakin pendek, yakni hanya 100 hingga 300 meter.

Kabut asap itu tentu berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Kala itu, merujuk paper Younoh Kim, warga di sekitar lokasi kebakaran "bagaikan menghisap 80 batang rokok setiap hari". Seketika penyakit yang berhubungan dengan saluran pernapasan menjangkiti warga. Selain itu, diperkirakan terjadi 15.600 kasus “anak hilang”. Maksudnya banyak kasus keguguran dan kematian dini.

Menurut Kim, secara umum karhutla 1997 menyebabkan paru-paru dan hemoglobin terganggu. Ia menyatakan kapasitas paru-paru menunjukkan gangguan pada sistem pernapasan yang langsung dipengaruhi oleh polusi udara. Sementara hemoglobin menjadi standar ukuran kesehatan untuk anemia yang mencerminkan kecukupan darah (atau zat besi) dalam darah.





Rashesh Shrestha, peneliti dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia menyatakan bahwa efek kabut asap itu tidak hanya terjadi di saat bencana. Dalam papernya yang berjudul “Early Life Exposure To Air Pollution, Cognitive Development, and Labor Market Outcomes” ia menegaskan, paparan kabut asap 1997 berefek hingga 10 tahun kemudian khususnya bagi anak-anak yang terlahir antara Januari 1996 hingga Agustus 1997. Akibatnya, anak-anak itu memiliki kemampuan kognitif yang rendah dibandingkan dengan anak-anak yang tidak terpapar.

Kognitif merupakan kemampuan aktivitas mental manusia yang bermanfaat untuk berpikir, mengingat, belajar, dan menggunakan bahasa. Ini juga termasuk kemampuan atensi, memori, pertimbangan, pemecahan masalah, serta kemampuan eksekutif, misalnya merencanakan, menilai, mengawasi, dan melakukan evaluasi.

Rendahnya kemampuan kognitif anak-anak yang terpapar asap karhutla diduga karena mereka masih berada dalam fase perkembangan atau pertumbuhan. Di Inggris, sebagaimana diwartakan The Guardian, peneliti menemukan partikel polusi udara dalam plasenta ibu yang mengandung. Tim Nawrot, profesor pada University of Hasselt, menyatakan bahwa “ini adalah periode paling rentan. Alasannya, semua sistem organ masih berada dalam pengembangan. Untuk melindungi generasi masa depan, kita harus mengurangi paparan.”

Kemampuan asap atau polusi udara menembus janin atau tubuh manusia secara umum terjadi karena partikel ini teramat kecil. Dalam “Wildfire Smoke A Guide for Public Health Officials” yang dirilis United States Environmental Protection Agency disebutkan bahwa partikel asap umumnya berukuran kurang dari satu mikrometer. Sebagai perbandingan, rambut manusia rata-rata berukuran 60 mikrometer.

Masih merujuk laporan tersebut, asap mengandung banyak zat berbahaya seperti karbon dioksida, karbon monoksida, hidrokarbon, dan bahan kimia organik lainnya seperti nitrogen oksida serta ribuan senyawa lainnya.

Namun, zat yang terdapat dalam asap sesungguhnya tergantung dari apa yang dibakar. Pelbagai jenis kayu memiliki selulosa, lignin, tanin, dan polifenol yang bervariasi. Akibatnya, bervariasi pula zat yang dihasilkan.

Sayangnya, riset tentang asap kebakaran masih minim dilakukan, sehingga tidak ada penjelasan lebih konkret ketika asap menyebabkan masalah kesehatan.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh
DarkLight