Bagaimana Warga Azerbaijan dan Venezuela Menghadapi Listrik Mati

Seorang Venezuela memegang poster dengan pesan yang bertuliskan dalam bahasa Spanyol: "Memprotes karena; Tidak ada listrik, Tidak ada air, Tidak ada makanan," selama demonstrasi melawan Presiden Nicolás Maduro, di Caracas, Venezuela, Rabu, 10 April 2019. AP / Ariana Cubillos
Oleh: Faisal Irfani - 7 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Masyarakat menjadi pihak yang kerap dirugikan dalam insiden pemadaman listrik.
Minggu (4/8) kemarin, wilayah Jabodetabek gelap gulita selama berjam-jam. Manajer Komunikasi PLN Induk Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang, Dita Artsana, mengatakan penyebab listrik padam adalah karena gangguan pada gas turbin 1-6 di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Turbin di Cilegon, Banten.

Namun, tak lama berselang, pernyataan tersebut diralat. Penyebab blackout, kata PLN, ialah gangguan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV Ungaran dan Pemalang. Gangguan transmisi, sebut Raharjo Abumanan, Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN, terjadi karena kelebihan beban listrik khususnya di Jakarta, Bekasi, dan Banten.

Gangguan pada SUTET di dua tempat itu lantas membuat transfer listrik dari timur ke barat Pulau Jawa mengalami kegagalan sehingga mendorong munculnya gangguan di seluruh pembangkit di sisi tengah dan barat Pulau Jawa.

Padamnya listrik yang menerpa Jakarta bikin aktivitas masyarakat terganggu. Publik, misalnya, tak dapat mengakses jaringan telekomunikasi maupun transportasi secara maksimal.


Aktivitas Lumpuh

Apa yang terjadi di Jakarta dan wilayah sekitarnya beberapa hari lalu juga pernah muncul Azerbaijan pada 2018. Seperti diberitakan AP News, pemadaman terjadi karena ledakan transformator di pembangkit listrik Mingechavir. Ledakan muncul tatkala gelombang panas, dengan suhu lebih dari 40 derajat Celcius, menyapu Laut Kaspia sehingga mengakibatkan konsumsi daya meningkat. Dugaan lainnya: pemadaman muncul sebab penggunaan AC yang terlalu masif.

Pemadaman telah membuat ibukota Baku dan hampir 40 daerah lainnya menjadi gelap selama berjam-jam, menjadikannya sebagai insiden terburuk semenjak Uni Soviet runtuh pada 1991. Selain itu, jaringan transportasi massal juga terputus. Masyarakat Azerbaijan sempat dilanda kepanikan.

"Tiba-tiba listrik padam dan semua orang panik," aku Leyla Mammadli, warga Azerbaijan berusia 28 tahun, kepada Eurasianet. "Semua orang berusaha keluar dari mal karena kami tidak tahu apa yang terjadi. Pintu darurat, tangga, semuanya penuh sesak. Pemandangan yang menyedihkan."

Demi mengatasi pemadaman, Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, memerintahkan Kementerian Darurat untuk mengimpor listrik dari Georgia dan Rusia, masing-masing sebesar 86 dan 200 megawatt.

Kejadian tersebut menampar muka pemerintah. Pasalnya, menurut Ilham Shaban, Kepala Kasia Barrell, lembaga think tank yang berfokus pada isu energi, Azerbaijan telah berinvestasi banyak dalam pengembangan listrik: sekitar USD5 miliar dalam 14 tahun terakhir. Ini sudah termasuk pembangunan tujuh pembangkit listrik, dengan total kapasitas sebesar 860 megawatt, sejak 2005.

"Hal seperti ini [pemadaman] belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Azerbaijan," terang Shaban.

Kritik seketika berdatangan, terlebih dari kelompok oposisi. Ali Karimli, Ketua Partai Front Populer, menyatakan bahwa pemadaman listrik merupakan gambaran betapa tidak siapnya pemerintah, dalam hal ini diwakili Azernergi (Pertamina-nya Azerbaijan), tidak siap dengan situasi darurat.

Pendapat oposisi kemudian dibalas oleh mereka yang mendukung pemerintah. Serikat Pemuda, kelompok yang berafiliasi dengan Partai Azerbaijan Baru, menyebut kritik terhadap pemerintah, sehubungan dengan krisis listrik, adalah bentuk pengkhianatan.




Tuduhan Sabotase

Pengalaman serupa juga muncul di Venezuela pada awal Maret silam. Intensitasnya bahkan jauh lebih besar ketimbang di Jakarta maupun Azerbaijan: listrik padam selama berhari-hari. Pemadaman pertama, seperti diwartakan The Guardian, terjadi antara 7 dan 14 Maret, yang kemudian disusul pada 29 Maret. Lebih separuh wilayah di Venezuela terkena dampak listrik padam tersebut (14 dari 23), termasuk di ibu kota Caracas.

Listrik padam, lapor BBC, telah melumpuhkan Venezuela sehingga aktivitas masyarakat terhambat. Sekolah tutup, bank tak mampu melayani nasabah, sistem transportasi massal mandek, sebagian jaringan telekomunikasi offline.

Di jalanan Caracas, masyarakat sering berkumpul untuk menyalakan api sebagai ganti dari lampu listrik. Suasana Caracas dan sekitarnya tak ubahnya seperti kota mati.

“Kami seperti anak yatim piatu, tak ada ayah atau ibu,” ucap José Jaramillo, pekerja konstruksi berusia 32 tahun, menanggapi pemadaman listrik massal di Venezuela.

Pemadaman nyatanya turut menciptakan kurangnya pasokan air di Venezuela. Mesin pemompa tidak mampu bekerja secara maksimal karena tak ada aliran listrik yang memadai.

“Kami memang punya masalah dengan air, tapi sekarang [kondisinya] jauh lebih buruk, terutama setelah pemadaman listrik di mana kami bisa tak menerima suplai air selama 15 hari,” keluh Yoana De Oliveira, warga lokal, kepada BBC. “Ini situasi yang bikin stres.”

Fasilitas publik seperti rumah sakit pun tak dapat beroperasi dengan baik. Pemadaman listrik bahkan berandil dalam tewasnya bayi di salah satu rumah sakit anak di Caracas setelah inkubator yang jadi alat untuk merawatnya tidak berfungsi optimal.

Pemadaman listrik di Venezuela disebabkan kurangnya investasi serta pengelolaan yang keliru selama bertahun-tahun. Salah satu wujud kekeliruan itu ialah menempatkan tentara dalam manajemen pengelolaan alih-alih teknisi yang berkualifikasi, seperti yang terjadi di Corpoelec, perusahaan energi milik negara.

Pada saat bersamaan, pemerintah abai terhadap pembangunan fasilitas penunjang yang ada. Selama bertahun-tahun, pembangunan pembangkit listrik tenaga air maupun thermoelectric di Venezuela mampet. Tak hanya itu, pemerintah juga tak bergerak cepat ketika kekeringan melanda Bendungan Guri yang menyediakan 70 persen kebutuhan listrik Venezuela.

Pemerintah sebetulnya sudah diingatkan. Mei lalu, pemimpin serikat pekerja Corpoelec mewanti-wanti pemerintah akan dampak buruk yang ditimbulkan bila upaya perbaikan tak segera diambil. Alih-alih kooperatif, badan intelijen Venezuela justru menangkapi perwakilan dari serikat pekerja tersebut.

“Jaringan listrik runtuh karena kurangnya investasi dan perilaku korupsi, situasi yang sebetulnya dikecam pemerintah sendiri di masa lalu,” ujar Luis Vincente Leon dari Datanalisis, lembaga think tank yang berfokus pada ekonomi Venezuela.

Meski demikian, pemerintah menganggap penyebab listrik padam bukanlah soal kurangnya investasi terhadap pengelolaan jaringan listrik melainkan sabotase dari AS dan kelompok oposisi. Presiden Nicolas Maduro menyebut AS dan kelompok oposisi telah melancarkan “serangan elektromagnetik” yang melumpuhkan listrik di sebagian besar wilayah Venezuela.

“Venezuela sedang menjalani perang yang tidak umum. AS berupaya menyerang layanan publik demi menggulingkan pemerintahan yang demokratis,” ucap Maduro. “Kita harus siap dan terus bergerak dalam perlawanan terhadap perang melawan Donald Trump [Presiden AS] ini.”

Listrik padam di Venezuela adalah salah satu perkembangan terbaru dari konflik menahun antara pemerintah dan kelompok oposisi. Krisis itu bermula dari jatuhnya harga minyak dunia pada 2016. Ketika itu, minyak dunia anjlok hingga titik terendah selama 12 tahun terakhir. Pada saat bersamaan, inflasi ikut naik secara dramatis hingga 800 persen. Ekonomi Venezuela pun mengalami kontraksi parah, melebihi yang dialami AS selama Depresi Besar, atau dari Rusia, Kuba, dan Albania usai kejatuhan komunisme.

Keadaan diperburuk dengan budaya korupsi yang begitu masif di tubuh pemerintahan, kesalahan pemerintah yang membuat konsesi dengan elite-elite industri (banyak di antaranya berafiliasi dengan oposisi), serta faksionalisasi dalam PSUV (partai penguasa).

Yang terjadi berikutnya adalah malapetaka. Pengangguran meningkat yang mengakibatkan munculnya aksi-aksi di jalanan yang menghendaki Maduro lengser. Kekerasan dan korban pun datang dari kedua belah pihak.

Gelapnya Venezuela di malam hari karena tak ada listrik seperti menggambarkan gelapnya masa depan politik di negara itu.

Baca juga artikel terkait MATI LISTRIK atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Politik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight