Obituari

Bagaimana Seorang Penyair Mengenal Sapardi dan Keranjingan Berpuisi

Sapardi Djoko Damono. antara foto/dodo karundeng/nz/16.
Oleh: Irfan Satryo Wicaksono - 20 Juli 2020
Dibaca Normal 3 menit
Nasihat paling penting dari Sapardi untuk para aspiran penyair: menulis puisi mesti berada dalam kondisi santai dan rileks.
Suatu kali, ketika saya masih sekolah di Yogya, kawan baik saya Suluh Pamuji menyebutkan nama Sapardi Djoko Damono dalam sebuah obrolan kami soal puisi. Saya belum pernah dengar nama itu dan karena ia bilang si penyair dari angkatan tua, saya kira orangnya sudah meninggal.

"Husss, ngawur kamu. Masih hidup," katanya.

Melompat belasan tahun ke masa depan setelah obrolan itu, pada 2017, saya akhirnya bisa melihat sosok Sapardi. Ia berjalan pelan dengan tongkat, memakai topi pet berwarna krem, dan berkemeja polos ditutup dengan jaket bomber warna hijau kodim. Sudah tua tapi kelihatan segar dan bersemangat. Kami berpapasan di Gramedia Central Park, Jakarta Barat di lorong utama menuju tempat menjual mainan anak-anak. Ia akan menghadiri acara peluncuran buku puisi Buku Latihan Tidur kepunyaan Joko Pinurbo dan menjadi pembicara di sana.

Itu adalah momen pertama saya berdepan-depan dengan Sapardi. Dia melihat saya dan saya melihat dia. Saya membungkuk memberi salam hormat dan ia membalasnya dengan senyum ramah sekali. Kami belum pernah berjumpa sebelumnya dan memang tak saling kenal. Saya pun canggung dan terlalu pemalu untuk memperkenalkan diri atau sekadar mengobrol singkat. Momen itu lewat begitu saja: Sapardi melintasi saya, sementara saya cuma mematung seperti polisi wibawa.

Mundur kembali ke obrolan saya dengan Suluh Pamuji belasan tahun silam, saya akhirnya memantapkan diri untuk mencari puisi-puisi Sapardi. Saya menemukan sebuah puisi yang bikin saya tiba-tiba besar kepala dengan mengatakan ini di dalam hati: puisi macam begini, saya pun bisa.

Waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku
di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang
di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara
kami yang harus berjalan di depan

("Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari", 1982)

Lalu, mulailah saya berani menulis puisi-puisi dan bercita-cita menjadi seorang penyair.

"Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari" penting, setidaknya bagi saya, karena dua hal. Pertama, ia memberi saya tenaga yang bikin saya percaya bahwa menulis puisi bisa menggunakan bahasa sederhana. Tak ada kata-kata canggih di puisi itu. Kata-katanya sudah akrab dan sering saya gunakan dalam percakapan sehari-hari. Momen yang diceritakan dalam puisi itu pun momen yang sering dialami siapa saja: berjalan kaki di bawah terik matahari sehingga ia melahirkan bayang-bayang. Kedua, puisi itu menjadi pengingat bagi saya ketika menulis, bahwa puisi yang oke adalah puisi yang berhasil menciptakan gambar di kepala para pembaca.

Lewat puisi ini pula saya mulai belajar meniru. Sapardi seperti menuntun saya yang baru belajar berjalan untuk perlahan-lahan membiarkan saya melangkah sendirian bahkan kelak bisa lincah berlari.

Selain puisi "Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari", ada pula beberapa puisinya yang penting dalam usaha-usaha saya untuk menulis puisi. Saya menemukannya dalam kumpulan puisi Ayat-Ayat Api. Di sana saya menjumpai cara protes dengan suara yang berbeda. Ada puisi tentang kasus Marsinah, kerusuhan, rombongan sulap yang membakar kota, kematian mahasiswa, dan cerita soal tukang becak. Saya merasa cocok juga akur dengan suara model begitu.

Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.

Kita tatap wajahnya
setiap pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.

Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.

("Dongeng Marsinah", 1993-1996)



Di luar puisi-puisinya, ada nasihat Sapardi yang betul-betul menjadi pijakan saya ketika ingin menulis puisi. Dalam beragam kesempatan, ia sering membagikan nasihat ini: jarak estetik.

Setiap orang yang ingin menulis puisi mesti berada dalam kondisi yang santai dan rileks. Peristiwa-peristiwa yang membikin perasaan jadi rusuh mesti diendapkan terlebih dahulu. Ambil jarak dengan gejolak emosi yang meluap itu. Saya memahaminya begini: jika Anda sedang dikuasai emosi melimpah-limpah, jangan menulis puisi. Lebih baik berdemonstrasi, berkelahi, menangis, atau ditinggal tidur saja.

Menulis puisi dalam kondisi santai dan rileks bikin kita bisa melihat dengan jernih peristiwa yang membuat hati kita rusuh. Terlalu gembira atau terlalu berduka, nikmati saja, tak perlu menulis apa-apa. Tapi jika memang ingin menulis untuk menyalurkan emosi yang melimpah-limpah, ya silakan saja, bebas. Toh negara ini negara demokratis.

Nasihat ini yang saya pikir membentuk cara saya menulis puisi. Kalau boleh dibikin istilah, saya ingin menyebutnya sebagai metode "remuk di dalam, tenang di luar"—sebuah metode untuk memendam gejolak emosi yang sedang mengamuk, sedang gawat-gawatnya membikin gaduh, untuk kemudian dirasakan dan dihafal tiap detailnya sehingga bisa diceritakan kembali ketika perasaan sudah lebih tenang.

Rekaman-rekaman emosi ini akan memainkan perannya ketika sebuah puisi sedang menuturkan sesuatu kepada pembaca. Saya pikir metode ini ampuh buat melahirkan puisi dengan suara yang lembut meskipun memuat cerita yang perih luar biasa. Ini saya dapatkan lewat pembacaan puisi-puisi Sapardi dan karena itu saya sungguh punya utang besar kepadanya—yang saya cicil sedikit demi sedikit dengan terus menulis puisi.

Tadi siang Suluh Pamuji mengabari saya via WhatsApp soal kepergian Sapardi. "Sapardi kali ini meninggal beneran. Innalilahi wainaillahi rojiun," tulisnya.

Saya cuma membalasnya dengan emotikon cucuran air mata. Sedih sekali.

Saya mengingat kembali momen pertemuan saya dengan Sapardi yang cuma terjadi satu kali itu. Selesai menjadi patung, saya berjalan mengikuti Sapardi menuju tempat acara peluncuran buku. Saya jadi ingat puisi "Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari". Saya membayangkan kami bercakap-cakap soal siapa yang mesti berjalan di depan. Dan momen dalam puisi tersebut tiba-tiba hadir begitu saja waktu itu.

==========

Irfan Satryo Wicaksono menerbitkan dua buku kumpulan puisi: Pendidikan Jasmani dan Kesunyian (2016) dan Antarkota Antarpuisi (2019). Ia pernah menulis 365 haiku nonstop selama 365 hari yang ditayangkan untuk pembuka rubrik Mozaik Tirto. Orang-orang mengenalnya sebagai Beni Satryo.

Baca juga artikel terkait SAPARDI DJOKO DAMONO atau tulisan menarik lainnya Irfan Satryo Wicaksono
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Irfan Satryo Wicaksono
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight