Bagaimana Salad Menjadi Makanan yang Identik dengan Perempuan?

Ilustrasi perempuan membuat salad. FOTO/iStockphoto
Oleh: Nuraini Dewi - 21 Agustus 2020
Dibaca Normal 3 menit
Sejak kapan salad identik dengan perempuan dan daging merah dengan laki-laki?
Siapa tak kenal salad? Makanan sehat yang dikenal hampir di seluruh dunia ini didefinisikan Oxford Learner's Pocket Dictionary (Edisi Keempat, 2008) sebagai makanan yang terdiri atas campuran berbagai sayuran mentah seperti selada, tomat, timun, dan lain sebagainya. Salad dihidangkan dengan saus yang biasa disebut sebagai salad dressing. Saus salad sendiri bermacam-macam jenisnya, seperti thousand island, lemon balsamic, truffle dressing, Italian dressing, dan sebagainya.

Karena bahan dasarnya yang berupa buah atau sayuran, salad dikenal sebagai makanan yang sehat dan penuh nutrisi. Meski demikian, dalam perkembangannya hari ini, sudah banyak salad yang menggunakan sayuran matang plus berbagai macam olahan daging.

Dalam The Oxford Companion to Food (2006), Alan Davidson memaparkan, salad awalnya merupakan sayuran dengan campuran saus yang dikonsumsi oleh bangsa Yunani dan Romawi Kuno. Nama salad sendiri diambil dari bahasa latin “sal” yang berarti garam. Sebutan itu berkaitan dengan saus yang digunakan oleh bangsa Romawi untuk mengonsumsi salad, yakni menggunakan saus minyak zaitun yang dicampur dengan cuka atau garam. Kata “sal” itu kemudian diserap ke dalam bahasa Perancis Kuno menjadi “salade” dan pada abad ke-14 diserap kembali ke dalam bahasa Inggris menjadi “salad” atau “sallet”.

Kepopuleran salad ikut menurun sejalan dengan keruntuhan Kekaisaran Romawi Kuno. Kendati demikian, salad masih tetap dikonsumsi dan namanya kembali populer pada masa Renaisans. Bahkan, salad yang kita kenal sekarang, tidak terlepas dari perkembangannya pada masa Renaisans itu.

Pada abad ke-19, salad mulai memasuki restoran-restoran elite di Amerika Serikat. Kini tak jarang, setiap negara atau bahkan daerah memiliki variasi saladnya masing-masing.

Sejarah Salad Menjadi Makanan dengan Stereotip Gender

Dalam “How Steak Became Manly and Salads Became Feminine” (2019), Paul Freedman, sejarawan asal Yale, menyatakan bahwa mulai berkembangnya pengetahuan mengenai makanan sehat pada awal abad ke-19 diikuti oleh iklan-iklan koran yang menggambarkan pemisahan selera makanan antara laki-laki dan perempuan.

Perubahan norma sosial yang terjadi pada 1970-an—era ketika banyak perempuan mulai bekerja di ruang publik—juga turut berperan dalam membentuk kultur pemisahan selera makanan yang diasosiasikan dengan jenis kelamin. Pada 2015, tim peneliti gabungan Universitas York dan Yale merilis studi berjudul “The Implicit Effects of Gendered Food Packaging on Preferences for Healthy and Unhealthy Foods”. Studi itu menyebutkan bahwa makanan seperti kale, quinoa, salad dengan saus yang ringan, ikan, daging putih, serta berbagai makanan sehat lainnya diidentikkan dengan perempuan, sementara makanan ‘berat’ seperti daging merah diidentikkan dengan laki-laki.

Tim riset juga juga menyebutkan bahwa makanan sehat cenderung memiliki kemasan yang lebih feminin. Sebaliknya, makanan yang tidak sehat akan dikemas dengan gaya yang maskulin. Kultur semacam itu tidak terlepas dari anggapan bahwa perempuan harus memiliki berat dan bentuk tubuh yang ideal agar terlihat menarik. Karenanya, salad yang kerap dinilai sebagai makanan sehat, dianggap tepat pula apabila dikonsumsi perempuan. Laki-laki tak dipandang memiliki tuntutan seperti itu. Sebaliknya, salad dianggap sebagai makanan yang terlalu ringan untuk laki-laki. Laki-laki akan dianggap lebih maskulin ketika mengkonsumsi makanan dengan jumlah kalori yang lebih tinggi.

“Perempuan akan mengonsumsi makanan yang rendah kalori ketika sedang makan bersama laki-laki dibandingkan ketika ia makan dengan sesama perempuan,” tulis Meredith Young, dkk dalam penelitiannya. Pendapat serupa dikemukakan oleh kolumnis The New York Times Allen Salkin. Ia bilang, perempuan umumnya akan makan terlebih dahulu sebelum kencan sehingga dapat memesan makanan yang ringan atau berkalori rendah ketika bertemu dengan pasangan.

Dalam “Eating Heavily: Men Eat More in the Company of Women” (2015), Kevin M. Kniffin, Ozge Sigirci, dan Brian Wansink memaparkan bahwa riset mereka menemukan laki-laki akan makan lebih banyak ketika sedang bersama dengan perempuan daripada ketika makan bersama teman laki-lakinya. “Laki-laki tampaknya mengonsumsi makanan yang tidak sehat (pizza) dan sehat (salad) dengan jumlah yang lebih besar ketika sedang bersama dengan perempuan”.

Lebih spesifik lagi, Kniffin, dkk. menyebutkan laki-laki yang makan bersama perempuan dapat mengonsumsi pizza 93% lebih banyak (1,44 lebih banyak irisan) dan salad 86% lebih banyak. Menurut Kniffin, dkk. jika dilihat dari perspektif psikologi evolusioner, hal itu dilakukan oleh laki-laki dengan tujuan untuk lawan jenisnya terkesan.

Namun, seperti diungkap tim riset Yale dan York, ketika banyak penelitian yang mengatakan bahwa makanan sehat sering diasosiasikan dengan perempuan, maka perempuan cenderung untuk berhenti mengonsumsi makanan sehat tersebut. Dalam ranah psikologi hal semacam itu biasa disebut sebagai reaktansi psikologi (psychological reactance). Pada dasarnya, reaktansi psikologi berkaitan dengan sebuah kondisi yang terjadi apabila seorang individu merasa kebebasannya terhambat, maka individu yang bersangkutan akan bereaksi dan berusaha untuk menemukan kembali kebebasan yang hilang. Reaktansi akan muncul ketika seorang individu merasa ada orang lain yang akan mengancam aksi kebebasannya. Dalam hal ini, reaksi dari perempuan adalah dengan mengurangi konsumsi makanan sehat dengan tujuan untuk melawan stereotip gender yang ada.

Perempuan juga seringkali terjebak dalam sebuah kondisi yang menuntutnya mengonsumsi makanan yang sehat agar terlihat lebih anggun dan feminim. Namun di sisi lain, perempuan juga dituntut mengonsumsi apa yang dikonsumsi oleh laki-laki agar terlihat lebih keren di mata si lawan jenis.

“Salad Laki-Laki”

Pengasosiasian salad dengan “makanan perempuan” ini sebetulnya ironis mengingat pembikin salad sendiri seringkali adalah juru masak (chef) laki-laki. Misalnya saja Caesar Salad. Bara Pattiradjawane dalam bukunya Catatan Dari Balik Dapur Si Tukang Masak (2009) menyebutkan bahwa “Caesar Salad diciptakan oleh Caesar Cardini, seorang pemilik restoran Italia di Meksiko pada 1920-an”. Selain Cesar Salad ada pula Cobb Salad, yang ditemukan oleh Robert Howard, seorang pemilik sebuah restoran di Hollywood.

Menulis untuk Jstor Daily, Manisha Claire mengisahkan hubungan unik antara salad dan laki-laki selama Perang Dunia II. Pada era tersebut, membuat dan mengkonsumsi salad bukanlah kebiasaan yang feminin. Sebaliknya, kebiasaan mengkonsumsi salad merupakan salah satu hal yang paling bisa dilakukan oleh laki-laki untuk meningkatkan citra maskulinnya.

Pada 1940-an, banyak majalah (misalnya Esquire dan diikuti dengan majalah Playboy pada 1953) yang berusaha menunjukkan bagaimana laki-laki bisa mendapatkan kembali sisi maskulinitasnya yang sejati dengan cara memasak. Namun, tetap saja makanan laki-laki dan perempuan dibedakan. Salad untuk laki-laki pun ditampilkan berbeda dengan salad untuk perempuan. Hal itu dilakukan guna menghindari masuknya sisi femininitas perempuan ke dalam salad yang diciptakan oleh laki-laki, sebab salad itu sendiri dibuat dengan tujuan untuk membangun citra maskulin laki-laki.

Instruksi pembuatan salad untuk laki-laki akan lebih berfokus pada tampilan salad yang lebih sederhana dan rasa yang tajam. “Salad laki-laki” disajikan menggunakan mangkuk kayu berukuran besar dengan isian berupa minyak zaitun, selada cincang kasar, dan dressing dengan rasa yang pedas atau kuat. Salad dengan cita rasa seperti itu dinilai berbeda dengan salad yang ditujukan untuk perempuan. Seperti Jell-O Salad misalnya, yang dianggap mempunyai tampilan lebih feminin serta rasa yang cenderung manis.

Menariknya, meskipun salad acapkali dianggap sebagai makanan sehat nan feminin, tidak sedikit riset yang menunjukkan bahwa beberapa salad tidak lebih sehat daripada Big Mac. Beberapa jenis salad dihitung memiliki jumlah kalori yang lebih tinggi daripada Big Mac. Namun, hingga saat ini, masyarakat masih sering memandang semua salad sebagai makanan sehat tanpa memperhatikan apa saja bahan yang digunakan di dalamnya.

Baca juga artikel terkait SALAD atau tulisan menarik lainnya Nuraini Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Nuraini Dewi
Editor: Windu Jusuf
DarkLight