Bagaimana Ratu Inggris Boudica Menghancurkan Pasukan Roma?

Patung Ratu Boudicca terletak di ujung utara Jembatan Westminster. Ratu Boudicca dari suku Iceni Inggris di Norfolk memimpin pemberontakan melawan pendudukan Romawi pada tahun 61 M. FOTO/iStockphoto
Oleh: Nuraini Dewi - 27 Agustus 2020
Dibaca Normal 5 menit
Boudica menantang Imperium Roma, menggerakkan pemberontakan, dan memerangi para penyerbu.
Dalam konflik dan perang, perempuan kerap diposisikan sebagai korban. Hillary Clinton, di sebuah konferensi tentang kekerasan dalam rumah tangga pada 1998 berkata, “women have always been the primary victim of war”. Dalam banyak kasus kekerasan bersenjata, perempuan sering menjadi korban perkosaan. Selain itu perang selalu diasosiasikan dengan laki-laki, perang dianggap sebagai aktivitas yang maskulin. Wajib militer yang hanya diwajibkan untuk laki-laki menjadi salah satu bukti dari anggapan itu.

Tapi, sejarah berkata lain. Ada banyak perempuan di medan tempur. Indonesia, misalnya, memiliki Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meuthia, Laksamana Malahayati, dan sebagainya. Hari ini, para perempuan kombatan dalam angkatan bersenjata Partai Pekerja Kurdi (PKK) menyediaman contoh lain. Para serdadu perempuan itu memiliki tugas yang sama dengan laki-laki, mereka berada di garis depan, menjadi pemimpin pasukan, pengintai, dan menjalankan berbagai peran lainnya.

Para perempuan Kurdi pertama kali angkat senjata pada 1990-an sebagai anggota PKK. Adalah Abdullah Ocalan (pendiri PKK) yang mencetuskan ide itu. Terbentuknya PKK dengan peran perempuan di dalamnya kemudian mempengaruhi kelompok bersenjata lainnya seperti Unit Perlindungan Perempuan (YPJ) yang merupakan cabang dari Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG), sebuah kelompok bersenjata di bawah naungan Partai Persatuan Demokratik (PYD). Ada pula Peshmerga, kelompok Batalion Perempuan Kurdi. Para serdadu perempuan ini memiliki kontribusi besar selama revolusi Rojava pada tahun 2012. Selain melawan Turki, para serdadu perempuan itu juga bertempur di garis depan melawan ISIS, yang percaya bahwa mereka akan langsung masuk neraka jika tewas di tangan perempuan.


Kisah perempuan dalam medan perang sesungguhnya telah muncul sejak era imperium Roma. Boudica adalah salah satunya. Ratu dari suku Iceni itu dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang berperang melawan kekaisaran Roma. Boudica adalah salah satu ratu paling ikonik di Inggris. Ada dua sumber yang bisa dirujuk, yakni catatan dari dua sejarawan Roma, Cornelius Tacitus (55-120 M) dalam “Agricola” (98 M) dan “The Annals” (109 M), serta Cassius Dio (150-235 M) dalam “The Rebellion of Boudicca” (163 M).

Caitlin C. Gillespie, seorang profesor studi klasik di Brandeis University, menulis dalam sebuah artikel yang terbit di Aeon bahwa bangsa Roma menganggap masyarakat yang mengizinkan seorang perempuan ikut berperang sebagai sekumpulan orang yang amoral dan tidak beradab. Sikap itu kemudian turut merasionalisasi penaklukan mereka terhadap bangsa lain. Di kekaisaran Roma, tatanan hukum, keluarga, dan masyarakat membatasi partisipasi perempuan dalam kehidupan publik, berdasarkan moralitas tradisional yang meninggikan laki-laki. Tak heran, ketika perempuan—yang dianggap lemah—muncul dalam medan perang, mereka akan dianggap anomali.

Cassius Dio menggambarkan Boudica sebagai perempuan berpenampilan mencolok dan menakutkan, berperawakan tinggi, memiliki tatapan mata yang tajam, suara yang berat dan rambut panjang merah sepinggang. Boudica memiliki dua orang putri bersama suaminya yang bernama Prasutagus (10-61 M), seorang “client-king”, yaitu raja yang memimpin atas bantuan Roma dan berada di bawah kuasa Kaisar Nero (54 – 68 M). Roma menginvasi Inggris pada 43 M, namun akhirnya Roma mengizinkan bangsa Iceni untuk tetap mempertahankan tanahnya meskipun bangsa Iceni harus tetap membayar pajak kepada Roma.

Menurut catatan Tacitus, permasalahan dimulai ketika Prasutagus meninggal, ia hanya mewarisi Nero sebagian dari kekayaannya. Sedangkan sebagian yang lain diwariskan kepada kedua putrinya. Wilayah kekuasaan Prasutagus saat itu meliputi Norfolk dan Sussex. Akibatnya, bangsa Roma menjarah istananya. Boudica dicambuk dan kedua putrinya diperkosa oleh budak Roma. Para kepala suku Iceni pun diperlakukan seperti budak. Kejadian-kejadian ini menyulut amarah dan dendam Ratu Boudica serta bangsa Iceni.

Boudica merencanakan balas dendam kepada kekaisaran Roma. Dalam misinya, ia dibantu salah satunya oleh bangsa Trinovantes—penduduk Inggris pertama yang menyetujui perjanjian dengan kekaisaran Roma. Mereka lelah melihat tanah mereka hancur. Bekas ibu kota mereka, Camulodunum, juga diduduki oleh bangsa Romawi dan dijadikan pusat pemerintahan baru. Bangsa Trinovantes bahkan dipaksa membangun kuil yang sangat besar untuk Kaisar Claudius.

Bangsa Iceni, Trinovantes, Cornovil, Durotiges, dan berbagai suku bangsa Inggris lainnya kemudian menyiapkan pasukan untuk menyerang kekaisaran Roma dan memilih Boudica sebagai pemimpin pasukan. Merujuk catatan Tacitus, Boudica dan pasukannya yang berjumlah 100.000 orang menyerang para serdadu Roma yang sedang lengah. Saat itu, sebagian besar pasukan Roma juga sedang bertempur melawan bangsa Druid di Mona (sekarang Anglesey) bersama Gaius Suetonius Paulinus, gubernur jenderal Romawi di Norfolk.

Sasaran pertama Boudica adalah Camulodunum (sekarang Colchester). Pasukan Boudica berhasil meratakan Camulodunum. Orang-orang yang tidak bisa melarikan diri dibakar hidup-hidup bersama dengan seisi Camulodunum. Bangsa Roma yang menjadi tahanan perang disiksa oleh pasukan Boudica.


Setelah Camulodunum, Boudica dan pasukannya menyerang Londinium (sekarang London), sebuah pusat perdagangan yang terletak di tepi sungai Thames dengan pertahanan yang lemah. Sebanyak 30.000 orang yang ada di Londinium melarikan diri dari kotanya. Londinium pun dibakar dan dikuasai oleh pasukan Boudica.

Dua kota terbesar Roma di Inggris telah dibumihanguskan. Namun Boudica dan pasukannya belum juga puas. Kali ini Catuvellauni yang menjadi sasarannya. Meski bukan milik Roma, Catuvellauni sangat mengagungkan Roma, dan itu terlihat dari bagaimana mereka memuliakan segala hal yang bergaya Romawi. Bagi Boudica, ini adalah sebuah penghinaan.

Boudica dan pasukan pemberontaknya memobilisasi orang-orang di sekitarnya menuju target ketiga, Verulamium, kota modern St Albans, di Hertfordshire. Verulamium adalah permukiman Roma terbesar di Provinsi Catuvellauni dengan status minicipium—status istimewa bagi para hakim lokal sebagaibangsa Romawi danmendapat hak hidup setara dengan bangsa Romawi. Lagi-lagi, seisi kota Verulamium disulap jadi abu oleh Boudica dan pasukannya. Menurut Cornelius Tacitus dalam “The Annals”, tidak kurang dari 70.000 orang Roma tewas dalam pemberontakan yang dilakukan Boudica.

Gaius Suetonius Paulinus yang baru saja kembali dari Mona, mendapati daerah kekuasaannya sudah menjadi abu. Ia kehilangan ribuan pasukan dan itu jelas akan memperlemah kekuatan Roma di Inggris. Namun, yang paling memalukan bagi kekaisaran Roma ialah bahwa mereka ditaklukkan oleh seorang pemimpin perempuan. Mereka menganggap itu penghinaan.

Paulinus bertemu dengan Boudica di dekat Fenny, di Stanford. Namun pertemuan itu tidak menghasilkan jalan damai dan perang besar pun tidak terelakkan. Profesor Universitas Leicester, David Mattingly, dalam bukunya “An Imperial Possession: Britain in the Roman Empire (2006) menulis bahwa Gubernur Romawi di pulau itu, Paulinus, hanya memiliki sekitar 10.000 pasukan laki-laki secara total untuk bertempur dengan pasukan Boudica, yang menurut Cassinus Dio berjumlah hingga 230.000 orang. Paulinus bertempur dengan Boudicca di suatu tempat dekat Watling Street. Jumlah pasukan pemberontak yang sangat besar berakibat pada kurangnya persediaan senjata.



“Dalam pemberontakan Boudica yang bergerak cepat, tidak ada waktu untuk membuat senjata dalam jumlah besar, juga tidak ada kesempatan bagi pasukan pemberontak untuk menjarah persediaan persenjataan Romawi." Catat Mattingly. “Sementara inti dari pasukan pemberontak dipersenjatai dengan baik, banyak dari pemberontak lain tidak memiliki pelindung tubuh dan mendapat senjata darurat, seperti alat pertanian,” imbuhnya. Pada jaman besi, alat pertanian pada umumnya juga digunakan untuk berburu dan juga sebagai senjata sederhana. Salah satu contoh alat pertanian yang biasa digunakan pada zaman besi ialah sabit besi, tombak, dan pedang.

“Paulinus memanfaatkan kesalahan taktik Boudica dan pasukannya. Paulinus memilih tempat yang dikelilingi hutan, memiliki pintu masuk yang sempit, dan di belakangnya adalah hutan lebat. Dengan begitu, ia tidak akan takut dengan adanya penyergapan,” ungkap Tacitus dalam “The Annals”. Boudicca membuat kesalahan taktik dengan menempatkan gerbong suplai di dekat garis depan sehingga menghalangi pasukannya ketika mereka harus mundur.

Cassius Dio menyebut, orang Inggris memang ahli dalam taktik gerilya, tapi orang Romawi adalah mesin pembunuh yang sangat terorganisir. Romawi menang telak. Menurut Tacitus, Paulinus kehilangan 400 pasukan, sedangkan Boudica kehilangan 80.000 pasukan. Pertempuran itu pun berubah menjadi pembantaian kejam oleh pasukan Romawi.

Menghadapi kekalahan itu, Tacitus mengatakan Boudica bunuh diri dengan racun, sementara Cassius Dio mengatakan dia jatuh sakit dan meninggal. Kedua putrinya menghilang dari catatan, sementara suku mereka menghadapi serangan genosida. Tanah dan rumah bundar dari Trinovantes dan Iceni juga dihancurkan.

Terlepas dari kekalahannya di medan perang, Boudica memberikan pengaruh dan perubahan besar bagi bangsa Inggris. David Shotter menyebut dalam bukunya Roman Britain: Second Edition (2004), kekaisaran Roma menunjuk pasukan berkuda yang berfungsi sebagai pengawas di setiap provinsi. Mereka bertanggungjawab kepada kaisar dalam hal pengumpulan pajak dan pengelolaan kekayaan negara (seperti persediaan biji-bijian dan tambang). Terbentuknya para pengawas itu diinisiasi karena beratnya jumlah pajak yang diterapkan prokurator Roma kepada bangsa Iceni, yang akhirnya memicu pemberontakan Boudica. “Encyclopedia of World Biography” (Volume 18, 1999) juga menyebut, kekaisaran Romawi mengurangi beberapa tuntutan berat kepada Inggris, termasuk memberlakukan sistem pajak yang lebih adil untuk rakyat Inggris.

Citra Boudica sebagai ratu Inggris yang berjuang melawan musuh terus bertahan. Ia menjadi simbol kebebasan Inggris dan kekuatan perempuan. Citra ini pernah digunakan oleh Ratu Elizabeth I pada abad ke-16 sebagai justifikasi untuk memeringah dan berperang melawan kekaisaran Spanyol. Citra yang sama juga digunakan oleh Ratu Victoria, pada abad ke-19 dalam upaya untuk memperluas imperiumnya.

Dalam London Lore: The Legends and Traditions of The World’s Most Vibrant City (2010) Steve Roud menuliskan, pada1902, tidak lama setelah kematian Ratu Victoria, yang merupakan ratu terlama dalam sejarah Inggris, sebuah patung Boudicca karya dari Thomas Thorneycroft berdiri di Westminster Bridge, London yang didirikan untuk mengenang Boudica.

Baca juga artikel terkait PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Nuraini Dewi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nuraini Dewi
Editor: Windu Jusuf
DarkLight