Bagaimana Rambo Berubah dari Simbol Anti-Perang ke Propagandis AS?

Oleh: Pia Diamandis - 23 September 2021
Dibaca Normal 5 menit
Siapa ingat Rambo pernah jadi simbol anti-kemapanan alih-alih lambang kedigdayaan Pax Americana?
tirto.id - Agustus silam, ketika Taliban berhasil mengambil alih Kabul, ibukota Afghanistan, internet ramai dengan tangkapan layar adegan penutup film Rambo III (1988). Bunyinya: “Dipersembahkan untuk para mujahidin pemberani Afganistan.” Tentu saja ini tangkapan layar ini adalah komentar atas puncak komedi petualangan Amerika Serikat di Afganistan sejak 2001. Namun, pada 1988, Amerika Serikat percaya bahwa para mujahidin Afganistan adalah “freedom fighters”—pejuang kebebasan—dan menyambut mereka dengan milyaran dolar, senjata, dan … sinema.

Pada awal dekade 1980an, Paman Sam butuh suplemen penambah rasa percaya diri agar bangkit dari bencana politik luar negerinya selama dekade sebelumnya, dimulai dengan penarikan pasukan dari Vietnam, habisnya diktator sokongan Washington di Nikaragua, hingga penyanderaan staf kedubes AS Iran selama setahun lebih.

Pada titik itulah Rambo menjelma personfikasi kebijakan luar negeri AS 1980-an. Diperankan Sylvester Stallone, Rambo memicu tren pria berotot, maskulin, dan tak banyak fafifu di layar laga Hollywood seperti Bruce Willis dalam Die Hard (1988-2013), Arnold Schwarzenegger dalam Commando (1985) dan Predator (1987) sejak awal 1980-an. Kini mereka menemukan penjelmaan modernnya pada Vin Diesel atau Dwayne “The Rock” Johnson dalam Fast & Furious dan banyak lagi.

Di Indonesia, sosok-sosok pria super perkasa ini sempat menjadi idola generasi orangtua kita. Walhasil, bagi banyak generasi milenial dan setelahnya masa “Rambo” bersinonim dengan “film bapak-bapak” yang sezaman dengan musik glam rock.

Saya beruntung “terselamatkan” dari keharusan menonton Rambo—setidaknya sampai seminggu lalu ketika saya harus menulis artikel ini. Bagi orangtua saya, film-film Rambo tak lebih dari propaganda perang AS yang tidak mendidik bagi anak. Film-film ini sekadar ingin menunjukkan supremasi militer AS alih-alih kompleksitas politik dunia yang seringkali diperparah oleh Gedung Putih sendiri.

Well, siapa yang ingat bahwa Rambo, First Blood (1982) adalah film yang menawarkan sensasi “melawan negara”? Ia diadaptasi dari novel anti-perang David Morell berjudul Rambo, First Blood yang terbit pada 1972. Dalam Rambo jilid satu ini, Sylvester Stallone adalah veteran Perang Vietnam dengan serangkaian medali perang bergengsi, namun setengah menggelandang dan mengidap PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Berbeda dengan sosok orang kuat di Hollywood saat itu, Rambo tampil acak-acakan. Rambutnya gondrong dan diikat bandana merah.

Di film itu Rambo mengunjungi keluarga kawannya yang ternyata meninggal karena kanker akibat terekspos gas beracun agent orange yang digunakan AS untuk membantai warga Vietnam dalam perang. Di tengah plot, ia bertemu polisi yang menangkap lalu menyiksanya. Selebihnya adalah petualangan bertahan hidup—di hutan belantara dan gua bawah tanah—agar selamat dari rombongan polisi medioker.

Sosok Rambo di sini lebih mirip hippie berotot yang anti-otoritas. Pertanyaannya: bagaimana ceritanya seorang karakter veteran gelandangan dari novel anti-perang berevolusi jadi propagandis perang AS dalam Rambo II, III, IV, dan V? Jawabannya mungkin bisa ditemukan antara keharusan Hollywood untuk tunduk kepada permintaan pasar atau intervensi dari pemerintah AS sendiri yang tidak suka bagaimana Rambo menelanjangi militer AS dan juga aparatur sipil melalui film pertamanya. Seperti yang dilaporkan Spy Culture, Kementerian Pertahanan AS memang punya sejarah panjang mengatur cara Hollywood merepresentasikan pemerintah AS, terutama kekuatan militernya.

Contohnya seperti intervensi Kementerian Pertahanan AS soal penggambaran militer AS dari series Hawaii Five-O. Dengan lebih dari 20 juta penonton berusia 18-49 tahun, Kementerian Pertahanan AS menilai Hawaii Five-O adalah media yang tepat untuk mendongkrak citra militer AS.

Beberapa imej yang menurut Kementerian Pertahanan AS harus dipenuhi saat film-film Hollywood menggambarkan militer AS antara lain: keahlian tempur, modernisasi militer, keamanan dan keberlanjutan energi, perluasan pemahaman dan advokasi, kekuatan korps Angkatan Darat, Membangun kepercayaan dan keyakinan, kepedulian pasukan dan korps, dan lain sebagainya.

‘Pulang’ ke Vietnam

Jangan harap Rambo: First Blood Part II (1985) menawarkan kompleksitas karakter seperti film sebelumnya. Nampaknya, satu-satunya alasan yang masuk akal mengapa sekuel ini memakai embel-embel judul “Part II” adalah untuk merevisi penggambaran Rambo si pemberontak anti-polisi yang terlanjur dilambungkan di First Blood.

Di film ini kita bertemu Pak Kolonel—yang sudah seperti sosok bapak bagi sang veteran di jilid pertama—datang meminta bantuan Rambo untuk menyelamatkan para tentara AS yang ditawan di Vietnam. Imbalannya: Rambo akan dibebaskan dari penjara dan catatan kriminalnya dihapus.

Berikutnya kita disuguhkan gambaran serba orientalis ala Perang Dingin: orang dan negara Blok Barat ditampilkan superior, sementara kombatan Vietnam dan sekutunya, Rusia, digambarkan kejam tiada duanya. Satu-satunya sosok “Timur” yang digambarkan bisa diterima adalah Co (diperankan Julia Nickson), guide lokal Rambo dalam menjalankan misinya.


Co seorang perempuan Vietnam, adalah putri seorang intelijen Vietnam Utara yang membelot ke AS. Co, yang berbicara dalam bahasa Inggris dengan aksen Vietnam dibuat-buat, tetap diperlihatkan cantik sesuai standar kecantikan Barat. Mimpinya juga sederhana: pindah ke AS dan hidup nyaman di sana agar terlepas dari rezim komunis. Di pertengahan film, Co jatuh cinta kepada Rambo dan memintanya untuk membawanya ke AS, tepat satu menit sebelum ia mati di tangan gerilyawan Vietnam.

Disutradarai George P. Cosmatos (Of Unknown Origins, Escape to Athena) dan ditulis oleh bintang utama Sylvester Stallone. James Cameron—saat itu baru memulai karir penyutradaraan di Xenogenesis (1978)—juga membantu penulisan skenarionya. Sekuel First Blood ini memiliki dialog-dialog yang terasa kosong dan menonjolkan adegan-adegan laga yang bombastis—yang sekaligus menjadi poin terkuatnya.

First Blood II masih berusaha mengkritik pemerintah AS melalui kehadiran Marshall Murdoch, kepala operasional di Vietnam yang ternyata juga seorang agen intelijen. Murdoch dikisahkan ternyata tidak benar-benar ingin menyelamatkan para tentara AS yang menjadi tahanan perang, tapi hanya ingin menyingkirkan mereka agar bisa mencuci bersih tangannya. Namun, kritik ini tidak menyasar blunder AS di Vietnam; ia hanya diada-adakan sebagai latar heroisme Rambo, yang diperlihatkan berinisiatif mengambil alih misi yang telah dibatalkan oleh Murdoch.

Anehnya, gejala-gejala PTSD Rambo tiba-tiba hilang. Ia menjadi seorang dewa perang yang tidak bisa disentuh musuh—dan tetap seperti itu di film-film berikutnya.

“Dipersembahkan untuk [...] Afghanistan”

Film Rambo III mengobral lebih banyak laga dan senjata. Wajar, bujetnya sebesar USD 63 juta—tergolong paling mahal pada zamannya.

John Rambo dikisahkan dikirim ke Afghanistan untuk menjemput Pak Kolonel yang ditawan oleh tentara Soviet. Ia dibantu pasukan Mujahidin, yang salah satu faksinya kelak melahirkan Taliban.

Naskah film ditulis oleh Stallone dan kemudian dipoles oleh Sheldon Lettich (penulis skenario film-film laga Jean-Claude Van Damme seperti Bloodsport, Lionheart dan film-film “so bad it’s good” lainnya). Di versi naskahnya, Rambo tidak hanya jadi dewa, tapi juga berbicara layaknya seorang motivator dengan dialog-dialog cringe yang bisa jadi sumber berharga untuk membuat stiker WhatsApp.

Di film ini, segala pretensi untuk mengkritik pemerintah AS dan kebijakan militernya hilang sama sekali. AS diposisikan sebagai pembebas dan penolong para penduduk lokal yang tertindas oleh pasukan pendudukan Soviet. Perempuan dan anak-anak digambarkan tewas di tangan pasukan Soviet hanya untuk menarik simpati penonton dan memberikan alasan bagi Rambo untuk bertindak. Khas white saviour, ia merasa harus membantu orang-orang Afghanistan meski baru datang beberapa hari, sampai-sampai hampir lupa ada Pak Kolonel yang harus ia selamatkan. “It is my fight now,” ucap Rambo dengan rambut berkibar tertiup angin dan debu Afghanistan.

Rambo III ini ditutup dengan pernyataan persembahan untuk “the gallant people of Afghanistan” (Orang-Orang Afghanistan yang Pemberani). Sempat ada dugaan dedikasi ini awalnya bertuliskan “for the brave mujahideen fighters of Afghanistan” (untuk para Mujahidin Afghanistan yang pemberani) namun kemudian diganti setelah peristiwa 9/11.

Tapi, menurut riset Greg Evans dalam “Does Rambo III actually pay tribute to the ‘Mujahideen Fighters of Afghanistan’?” screenshot dedikasi untuk mujahidin ini hoaks belaka. Meski demikian, esensinya tetap sama: Rambo III menampilkan pasukan mujahidin dengan sangat positif.

Infografik Rambo
Infografik Rambo Veteran PTSD Menjadi Strong Man USA. tirto.id/Quita


Dari Myanmar ke Halaman Belakang Amerika

Pada 2008, Uni Soviet sudah bubar. Rambo dikisahkan tinggal di Thailand sebagai pemburu ular untuk atraksi ular bagi turis. Pada suatu hari, ia diminta segerombolan misionaris asal AS untuk mengantar mereka dalam misi kemanusiaan ke Myanmar, tepatnya di Kachin State, jantung konflik pemerintah pusat dan milisi etnis Karen.

Rambo terlanjur jatuh hati dengan misionaris perempuan yang sudah bertunangan dengan seorang dokter dari kelompok misionaris yang sama. Walhasil, permintaan mereka ia kabulkan. Dalam perjalanan, Rambo diserbu perompak. Namun, para kriminal ini langsung ia habisi. Saking kejamnya Rambo menghabisi begal, para misionaris pun syok dan memilih untuk pergi tanpanya. Singkat cerita, mereka ditahan militer Myanmar dan Rambo lagi-lagi harus berangkat menyelamatkan mereka dengan bantuan segerombolan tentara bayaran.

Sama seperti film-film sebelumnya, Rambo edisi 2008 masih orientalis dan misoginis. Bedanya, penggambaran kekejamannya berkali-kali lipat dari biasanya seolah meminjam kengerian dari film-film gore seperti Hostel (2005) dan Saw (2004). Organ tubuh digambarkan dipotong dan darah muncrat di mana-mana. Cukup memuaskan bagi penggemar film slasher dan gore—tapi, saya sarankan, lebih baik Anda menonton Saw 1-9 daripada Rambo 1-5.

Sepuluh tahun sejak Rambo pulang dari Myanmar, ia tidak muda lagi dalam Rambo: Last Blood (2019). Ia tinggal di sebuah peternakan warisan ayahnya di Arizona, dekat perbatasan Meksiko. Di rumahnya juga tinggal seorang pembantu rumah tangga beserta cucu asal Meksiko yang sudah dianggap Rambo sebagai anak sendiri.

Sang cucu, Gabrielle, dikisahkan baru saja lulus SMA dan sedang bersiap-siap memasuki perguruan tinggi ketika seorang teman di Meksiko menelepon. Ia mengaku berhasil menemukan ayah kandung Gabrielle yang sengaja meninggalkannya 10 tahun lalu.

Setelah berargumen dengan Rambo dan neneknya, Gabrielle memutuskan nekat pergi ke Meksiko sendirian. Setibanya di sana, ia malah dijual ke kelompok mafia perdagangan manusia dan dipaksa menjadi pekerja seks.


Rambo pun berangkat dengan memboyong segala macam senjata untuk memburu para anggota kelompok mafia dan menyelamatkan Gabrielle. Tak hanya itu, ia diperlihatkan kebal terhadap ketatnya peraturan di perbatasan AS-Meksiko sampai-sampai bisa membawa senjata seenaknya—dan tak melaporkan perkara ke kepolisian Meksiko. Di tengah film, karakter Gabrielle tewas karena overdosis. Misi penyelamatan Rambo berubah jadi misi balas dendam ke kelompok mafia.

Tak lupa, Rambo: Last Blood (2019) juga memiliki cameo istimewa dari Tembok Meksiko ala Donald Trump. Sam Adams, kritikus film Slate, bahkan menyatakan film ini sebagai fantasi para pendukung Trump dan para pendukung anti-imigran. Menurut Adams, Rambo: Last Blood film ini melengkapi transformasi John Rambo menjadi figur strong-man Amerika kesayangan orang-orang kanan.

Dari Vietnam ke Meksiko, Rambo selalu digambarkan sebagai penyelamat orang-orang yang tertindas oleh pemerintahan otoriter, korup, atau tidak becus—masalah-masalah yang kerap ditimbulkan oleh kebijakan luar negeri Paman Sam sendiri. Ia adalah personifikasi Washington yang “bebas visa” di mana-mana dan mengacau dunia dari Timur ke Barat. Rambo adalah manifestasi pernyataan-pernyataan para pejabat AS yang menghancurkan kehidupan jutaan manusia di Afganistan dan Irak pasca-9/11, yang digencarkan salah satunya dengan alasan menyelamatkan “perempuan dan anak-anak”—dan belakangan meratapi “nasib perempuan dan anak-anak” di bawah Taliban hari-hari ini. Ia adalah sinisme murni terhadap orang-orang tertindas.

Baca juga artikel terkait IMPERIALISME atau tulisan menarik lainnya Pia Diamandis
(tirto.id - Film)

Penulis: Pia Diamandis
Editor: Windu Jusuf
DarkLight