Bagaimana Politik "Zaman Now" Membentuk Kata Tahunan Kamus Oxford

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 21 Desember 2017
Dibaca Normal 4 menit
Tahun ini Kamus Oxford memilih kata 'youthquake' sebab 2017 dijejali aktivisme politik anak muda yang menjadi 'gempa' di banyak negara.
tirto.id - Memberi penghargaan kepada kata yang paling mewakili suasana hati hingga aktivisme politik para penutur Bahasa Inggris sedunia adalah ritual tahunan Kamus Oxford. Dalam sejarah, mereka adalah salah satu lembaga pengkaji bahasa yang pertama kali menyelenggarakan pemilihan unik tersebut. Dan kata yang dinilai paling mewakili tahun 2017 ini adalah: youthquake.

Youthquake dalam Kamus Oxford didefinisikan sebagai “perubahan budaya, politik, atau sosial yang signifikan yang timbul dari tindakan atau pengaruh kaum muda”.

Mengapa youthquake? Data yang dikoleksi editor pemilih kata tahunan Kamus Oxford menunjukkan peningkatan lima kali lipat dalam pemakaian kata 'youthquake' pada tahun 2017 dibandingkan pada tahun 2016. Kata ini pertama kali meledak pada bulan Juni atau bersamaan dengan pemilihan umum di Inggris di mana keterlibatan anak-anak mudanya lebih tinggi dibandingkan pada pemilu di tahun (bahkan dekade) sebelumnya.

Pemakaian kata youthquake mencapai pundaknya pada bulan September 2017. Namun merujuk pada penjelasan di laman resmi Oxford Dictionaries, pemilihan kata tahunan bukan berarti kata tersebut baru dimasukkan ke kamus resmi. Kata 'youthquake' sendiri pertama kali dilahirkan pada tahun 1965. Pencetusnya Diana Vreeland, pemimpin redaksi majalah Vogue.

Baca juga: Polisi Bahasa Penting, tetapi Tak Mahabenar

1960-an adalah masa di mana Barat dan belahan dunia lain sedang menyaksikan perubahan di berbagai ranah kehidupan. Masyarakat giat membangun kembali apa-apa yang porak poranda akibat Perang Dunia II. Anak muda turut ambil bagian, misalnya dalam pergerakan menolak perang di Amerika Serikat. Tercantum di Vogue edisi AS tahun 1965, Vreeland menulis:

“Anak muda, hangat dan lembut seperti kucing namun mandiri seperti James Bond, mengejutkan negara-negara di Timur dan Barat dengan rasa kepastian yang tenang selama bertahun-tahun. Gelombang ini pertama kali melanda Inggris dan Perancis. Sebuah lompatan baru sebagai salah satu realitas kehidupan yang menggembirakan saat ini. Getaran yang sama sekarang mengguncang Amerika—tempat para pemuda abad ini.”

“Tahun ini adalah tahunnya anak muda. Usia di bawah 24 dan berkekuatan lebih dari 90.000.000 orang di AS. Lebih banyak pemimpi. Lebih banyak pelaku. Di sini. Sekarang. 'Youthquake' 1965.”

Baca juga: Jahja Datoek Kajo Melawan Belanda Lewat Bahasa

Vreeland menggabungkan 'youth' dan 'quake' untuk mendeskripsikan gerakan gaya busana dan musik anak muda 1960-an, melawan nilai-nilai tradisional yang dianut orang tua mereka. Pada 2017 London juga menjadi pusat youthquake dengan menyebarkan 'London Look': gaya street-wear yang dibawa hingga butik-butik di Paris, Milan, dan New York.

Namun, yang lebih penting serta mendapat guncangan serupa di negara lain, adalah keterlibatan anak mudanya dalam politik “zaman now”.

Pemilu Inggris 2017 menyajikan pertarungan dari beberapa kandidat, namun yang menarik adalah perwakilan Konservatif Theresa May dengan perwakilan Buruh Jeremy Corbyn. May memang memenangkan pertarungan dengan Corbyn yang mengisi posisi kedua. Namun Corbyn sukses memenangkan hati pemilih muda se-Britania Raya karena tingkat partisipasinya dalam pemilu menjadi yang terbesar dalam 25 tahun terakhir.

Baca juga: Seberapa Besar Manfaat Dwibahasa untuk Anak-anak?

Menurut studi Ipsos Mori, partisipasi anak muda pemilih wakil Buruh meningkat dari angka 30 persen pada tahun 2015 menjadi 40 persen di bulan Juni 2017. Usia menjadi faktor yang lebih penting dalam pemilu Inggris tahun ini dibanding kelas. Kesenjangan antara pemilih kelas sosial yang berbeda telah menyempit dibandingkan sebelumnya. Artinya para pemilih muda berasal dari berbagai kelas—kaya, menengah, maupun kalangan bawah.

Pada pemilu tahun 2005, pemilih usia 18-24 tahun terhitung pada kisaran tujuh persen dari seluruh suara, sementara pemilih usia di atar 65 tahun sebanyak 25 persen. Pemilu tahun 2017 berubah drastis dengan partisipasi pemilih usia 18-24 tahun meningkat ke angka 23 persen, demikian dilansir dari The Week.

Situasi yang serupa terjadi di pemilu Selandia Baru. Menurut laporan Bryce Edward untuk New Zealand Herald bulan September lalu, youthquake ditandai dengan meningkatnya partisipasi pemilih muda yang memajukan suara Partai Buruh.

Pemilih usia 18-34 tahun yang saat kampanye memutuskan untuk memilih Partai Buruh tercatat sebanyak 67 persen. Itu satu versi lembaga survei. Lainnya memberi angka 65 persen untuk pemilih usia 18-24 tahun, sementara 14 persen lain memilih kubu Nasional (yang akhirnya memenangkan pemilu).

Baca juga: Bahasa-bahasa Daerah yang Hampir Musnah

Kamus Oxford menyebutnya sebagai “kebangkitan gerakan politik generasi milenial” yang kerap dituduh pemalas oleh generasi sebelumnya. Di Amerika Serikat, banyak milenial mendukung Bernie Sanders, yang juga sangat kagum dengan bagaimana muda-mudi Inggris mengusung Corbyn.

Sementara di Perancis, pemilih usia 18-24 tahun lah yang menjadi basis massa terpenting untuk naiknya pamor Marine Le Pen dari kubu nasionalis walau akhirnya kalah dari Emmanuel Macron dari kubu liberal-sentris.

Di Rusia ada Alex Navalny, yang kemarin baru memasuki usia kepala empat namun berhasil menjadi oposisi Presiden Vladimir Putin yang paling berbahaya. Ia mampu menggerakkan generasi muda Rusia untuk menggelar demo-demo anti-Putin sepanjang tahun 2017. Salah satu yang terbesar adalah pada bulan Oktober kemarin yang terjadi di lebih dari 80 titik di seluruh Rusia dan menyebabkan 260 orang ditahan aparat, demikian lapor Guardian.

Di Australia, generasi muda menjadi sumbu utama gerakan melegalkan pernikahan sesama jenis lewat kampanye di jalanan hingga berpartisipasi dalam pemungutan suara.

Pada Rabu (15/11/2017) pagi dinyatakan bahwa dari 12,7 juta warga Australia (79,5 persen dari total penduduk usia pemilih) yang mengambil bagian dalam survei tersebut, sebanyak 61,6 persen memilih 'Ya' untuk melegalkan pernikahan sesama jenis, sementara 38,4 persen memilih 'Tidak', demikian lapor New York Times.

Baca juga: Menyelamatkan Bahasa Agar Tak Punah

Tahun ini para editor Kamus Oxford menyaring kata tahunan dari ratusan kata dan diperas hingga sembilan saja, lalu setelah debat sengit untuk kesekian kalinya, baru terpilih kata youthquake. Kedelapan kata lain, bukan kebetulan, juga banyak yang bersinggungan dengan kondisi politik “zaman now”.

Contohnya kata 'antifa'. Antifa adalah kependekan dari anti-fasis, sebuah gerakan yang diisi orang-orang bermazhab kiri dan anarkis untuk memukul balik kebangkitan nasionalis sayap kanan (yang cenderung rasis) di AS hingga Eropa. Mereka sering bersama-sama turun ke jalanan bersama kelompok liberal untuk menghadang aksi kelompok lawan ideologis dan kadang berujung bentrok, termasuk dengan pihak kepolisian.

Masih merujuk pada ulasan Kamus Oxford, antifa bermula dari kata “antifaschistisch” yang pada awal PD II yang merujuk pada lawan Partai Nazi. Kata antifasis dimasukkan ke Kamus Oxford usai perang berakhir. Saat Jerman masih terpecah di era Perang Dingin, kata antifasis masih populer di Jerman Timur yang masuk blok komunis. Setelah tembok Berlin runtuh, aktivis kiri dan anarkis sedunia masih memakainya dalam aktivisme melawan nasionalis sayap kanan.

Kamus Oxford memilih “post-truth” sebagai kata untuk mewakili tahun 2016. Post-truth adalah keadaan di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik karena kalah oleh emosi dan kepercayaan pribadi.

Fakta objektif bisa disingkirkan jika dinilai akan menurunkan kredibilitas tokoh yang didukung secara politis. Di masa post-truth inilah politisi kontroversial seperti Donald Trump bisa terpilih, meski ia terang-terangan menyatakan jika pemanasan global adalah 'hoax' sementara hampir seluruh ilmuwan berkata sebaliknya. Orang-orang pun banyak yang membela rezimnya bukan dengan fakta objektif, melainkan emosi dan kepercayaan pribadi.

Infografik oxford dictionaries


'Praktik' Paling Populer di KBBI

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di tahun ini punya ritual serupa, namun bukan dipilih berdasarkan apakah kata tersebut paling mewakili fenomena sosial-budaya-politik kekinian, melainkan kata yang paling populer dicari di KBBI Daring. Dan kata yang telah dicari hingga sebanyak 14.998 kali pencarian tahun ini jatuh kepada: 'praktik'.

"Kata terpopuler 'praktik' dengan 14 ribu pencarian, jadi 'praktik' bukan 'praktek'," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy di Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu (20/12/2017), sebagaimana dikutip Antara.

Muhadjir mengatakan, pencarian kosakata tersebut dilakukan oleh pekerja profesional, termasuk salah satunya yang terbanyak ialah wartawan. Pencarian populer di KBBI selanjutnya diikuti oleh kata risiko, analisis, daring, zaman, aktivitas, besar, teknologi, efektif, dan izin.

Baca juga: MEA: Sebesar Apa Modal Bahasa Kita?

Pada tahun 2017 Kemendikbud telah menghimpun 108.000 kosakata dengan 127.000 makna. Total pencarian kosakata di KBBI daring selama 2017 sebanyak 10,7 juta dengan pencarian per hari sebanyak 25.881.

Dalam paparan capaian kinerja Kemendikbud bidang bahasa selama 2017 disebutkan bahwa sebanyak 11 bahasa dari 71 bahasa yang sudah dipetakan vitalitasnya dinyatakan punah yang kebanyakan berasal dari Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Sementara empat bahasa berstatus kritis, dua bahasa mengalami kemunduran, 19 bahasa terancam punah, 16 bahasa berstatus stabil namun terancam punah, dan 19 bahasa dinyatakan aman.

Menurut versi Kemendikbud, Indonesia memiliki 652 bahasa daerah. Namun, Muhadjir berpendapat jumlah itu belum benar-benar bisa dipastikan.

"Kami belum bisa memastikan jumlah sebetulnya bahasa daerah, mungkin sama dengan tidak validnya berapa jumlah pulau yang 17 ribu itu kan kurang lebih, karena ada pulau yang pasang surut," kata Muhajir, yang memungkasi dengan menyatakan akan terus mengeksplorasi guna mengidentifikasikan bahasa daerah baru yang ditetapkan sesuai dengan standar baku.

Baca juga artikel terkait KAMUS OXFORD atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf