Bagaimana Netflix Pernah Tak Sengaja Edarkan DVD Bokep ...and Chill

Oleh: Ahmad Zaenudin - 25 Februari 2021
Dibaca Normal 4 menit
Bagaimana bisnis Netflix berkembang pada penghujung 1990-an? Satu, berkat DVD Clinton. Kedua, video bokep.
tirto.id - Sebagaimana startup pada umumnya, Netflix memiliki masalah soal jumlah pengguna setelah beberapa bulan beroperasi. Menawarkan layanan rental dan penjualan DVD via website, perusahaan yang kelak menjadi raja dunia streaming film ini tak dilirik masyarakat, meskipun telah bekerjasama dengan Sony. Alasannya sederhana: ketika Netflix lahir pada 1998, DVD adalah teknologi baru. Masyarakat terlanjur akrab dengan VHS.

Dalam memoar That Will Never Work: The Birth of Netflix and the Amazing Life of an Idea (2019), Marc Randolph, pendiri sekaligus CEO pertama Netflix, mengaku frustasi karena jumlah pengguna yang stagnan. Kerjasama Netflix dengan Sony bahkan hanya mengikis kas perusahaan. Netflix berjanji memberikan lima judul DVD secara cuma-cuma dan gratis lima kali rental kaset DVD bagi tiap pembeli mesin pemutar DVD merek Sony. Pembeli tinggal meluncur ke situsweb Netflix dan memasukkan nomor seri yang diberikan Sony. Sialnya, Sony mencetak nomor seri produknya di kotak pembungkus mesin pemutar DVD sehingga siapapun dapat dengan mudah mengakses lima DVD gratisan dari Netflix--tanpa perlu membeli apapun dari Sony. Di sisi lain, sangat sedikit orang yang menyewa kaset DVD dari Netflix.

Tak menyerah, Randolph berujar bahwa perusahaannya "hanya butuh perhatian, sesuatu yang sangat viral" agar sukses. Nahas, pada penghujung dekade 1990-an, dotcom bubble tengah bersiap-siap meletus. Modal ventura (venture capital) berhati-hati mengucurkan modal kepada startup, Netflix tidak cukup punya dana untuk menarik perhatian masyarakat.

"Pada 1998, kami tidak memiliki uang sebesar Blockbuster (toko rental DVD, offline bukan online) dan tentu saja tidak memiliki dana yang cukup untuk menyewa Jessica Simpson (artis yang disewa Blockbuster untuk mempromosikan layanannya)," tutur Randolph.


Beruntung, di tanah Randolph dan Netflix berdiri, american dream menyajikan plot-plot yang tak terduga untuk menapaki jalan kesuksesan. Di saat Netflix butuh sorotan, tepat pada 18 September 1998, Komite Kehakiman DPR AS menghendaki transparansi penyelidikan atas skandal asmara Presiden Bill Clinton dan anak magang Gedung Putih bernama Monica Lewinsky. Bagi Komite Kehakiman, transparansi tersebut diterjemahkan sebagai siaran langsung sidang dugaan pelanggaran kesusilaan Clinton pada 20 September 1998, tepat pada pukul 9 pagi.

"Ini yang kita tunggu-tunggu," cetus Mitch Lowe, salah satu pegawai Netflix.

Kembali merujuk apa yang ditulis Randolph, Lowe berpikiran bahwa siaran persidangan Clinton dapat dijadikan keping DVD, yang akan dibagikan cuma-cuma kepada masyarakat--sebagai bahan promosi melalui situs Netflix. "Lihat, ini benar-benar sempurna. Ayo kita bikin DVD sendiri, DVD tentang Clinton," ujar Lowe.

Randolph setuju. Mayoritas pegawai generasi pertama Netflix pun setuju. Bahkan, Te Smith, tangan kanan Randolp di Netflix, berujar bahwa dengan membuat kaset DVD Clinton dan membagikannya secara cuma-cuma ke masyarakat, "Netflix akan memperoleh perhatian media nasional. The (New York) Times, The (Washington) Post, dan The (Wall Street) Journal kayaknya bakal meliput kita."

Usai didukung hampir semua pegawai, Netflix bergegas memproduksi "Netflix Original" pertama mereka. Langkah awal, menyiapkan sistem pemesanan DVD Clinton. Sial, sistem Netflix tidak dirancang menjual/menyewakan DVD secara cuma-cuma. Karena waktu terlalu sempit, Randolph lalu mengambil keputusan: menjual DVD Clinton seharga dua sen atau USD 0,2. Langkah kedua, mempersiapkan rilis pers. Dalam rilis pers itu, Netflix mengklaim memproduksi/menjual DVD persidangan Clinton agar para pemilik alat pemutar DVD "bisa meninjau material persidangan dan menyatakan opininya dengan lebih baik". Singkat kata, Netflix ingin turut pula menyebarkan transparansi yang dikehendaki Komite Kehakiman DPR.

Langkah terakhir, tatkala sidang Clinton digelar, melalui temannya yang bekerja di stasiun televisi KTVU, Lowe mengambil rekaman persidangan. Lantas, ia langsung mengirim rekaman tersebut ke perusahaan pencetak kaset DVD--yang dimiliki temannya pula--untuk dilipat-gandakan.

Di pengujung hari usai Clinton disidang, Netflix Original pun sukses diproduksi. Dan karena ide ini memang memperoleh perhatian media, 5.000 orang memesannya dan dikirim oleh Netflix keesokan harinya.

Sehari berlalu, petaka menghampiri Netflix.

"Hey, aku menemukan komentar-komentar aneh di forum-forum internet tentang kaset persidangan Clinton kemarin," kata Corey Bridges, pegawai pertama Netflix lainnya, pada Randolph yang baru saja tiba di kantor. "Mereka bilang kaset yang dikirim Netflix mengandung konten porno."

Dalam That Will Never Work: The Birth of Netflix and the Amazing Life of an Idea (2019), Randolph mengaku "merasa perutnya dihujam sesuatu" usai membaca komentar-komentar yang bertebaran di jagat maya. Setelah diselidiki, Netflix memang mengirim keping DVD bokep.

"Saya langsung tahu yang saya tonton itu tidak dibintangi Bill Clinton, Monica Lewinsky, atau Ken Starr. Betul, bokep," aku Randolph usai memutar kaset Netflix Original ciptaannya.

Dalam investigasi lebih lanjut, Netflix ternyata memproduksi dua jenis kaset berbeda tentang persidangan Clinton. Satu, yang benar-benar memuat jalannya persidangan. Dua, kaset bokep. Sayang, memoar Randolph tak merinci mengapa konten pornografi dapat masuk ke dalam DVD. Guna membendung kecaman khalayak, Netflix buru-buru mengirimkan permintaan maaf kepada semua pembeli DVD Clinton, dan berjanji akan mengembalikan uang senilai USD 0,2 plus biaya lainnya seandainya para pelanggan Netflix mengirimkan kembali kaset Netflix Original versi porno.

"Yang unik," kata Randolph, "tak seorang pun mengembalikan kaset porno itu."

Hampir 22 tahun berlalu, usai bertransformasi menjadi platform streaming, petaka pornografi kembali menghampiri Netflix.

"Netflix & Chill"

September 2020 lalu, film berjudul Mignonnes diliris di Perancis, usai beberapa bulan sebelumnya diputar di Sundance Film Festival. Film yang disutradarai oleh Maïmouna Doucouré ini bercerita tentang gadis berusia 11 tahun bernama Amy (yang diperankan oleh Fathia Youssouf) pendiri tim dance yang berlenggang-lenggok secara sensual bersama teman-temannya. Keluarga Amy berlatar belakang Muslim dan tinggal di pinggiran Paris.

Ide cerita, klaim Doucouré, lahir usai Mignonnes menghadiri acara di Paris yang menampilkan kelompok tari remaja yang menari dengan "sangat seksual, sangat sensual." Usai menghabiskan riset selama 1,5 tahun, Doucouré ingin bercerita tentang femininitas di masyarakat melalui film ini. Di satu sisi, ia ingin menampilkan bagaimana ekspresi seksual perempuan dibenci masyarakat. Di sisi lain, ia juga menyaksikan bagaimana perempuan yang muncul di media sosial dengan tampilan seksi, sangat mungkin sukses dengan keseksiannya tersebut. Mignonnes hendak menyajikan fenomena ini sebagai tajuk utama.

“Anak-anak hanya meniru apa yang mereka saksikan untuk mencapai hasil yang sama tanpa memahami maknanya,” katanya. “Dan ya, itu berbahaya.”

Ketika Mignonnes disajikan di tengah masyarakat Perancis, tak ada keanehan yang terjadi. Malahan, Doucouré diganjar sebagai sutradara terbaik Sundance 2020 berkat filmnya ini. Naas, ketika Mignonnes dibawa ke Amerika Serikat oleh Netflix dengan label "Netflix Original," kontroversi pun muncul. Cuties, judul internasional untuk Mignonnes, dituduh melakukan seksualisasi terhadap anak-anak.

Alex Marshall, dalam laporannya untuk The New York Times, menyebut tuduhan seksualisasi/pornografi terhadap anak-anak bermula dari poster promosi film Cuties alih-alih filmnya sendiri (karena belum ditayangkan di Netflix). Poster film Cuties dianggap terlalu vulgar, khususnya oleh kalangan konservatif di AS yang disokong kelompok QAnon. Kalangan konservatif AS menganggap Cuties mengeksploitasi anak-anak.

Atas tuduhan ini, dalam laporan the Times lainnya, Dewan Juri Pengadilan Texas akhirnya mendakwa Netflix dengan tuduhan mempromosikan perbuatan cabul dalam film Cuties. Dasar yang dipakai adalah salah hukum Texas yang menyatakan "promosi" materi yang menggambarkan alat kelamin atau area kemaluan seorang anak, berpakaian atau sebagian berpakaian" sebagai tindakan ilegal. "Legislator negara bagian ini percaya bahwa mempromosikan materi cabul anak-anak memiliki konsekuensi yang merusak," kata Lucas Babin, Jaksa Penuntut di Texas.


Ted Cruz, senator asal Texas yang baru saja (terpaksa) pulang berlibur dari Meksiko ketika rakyatnya tertimpa bencana, mendukung langkah yang dilakukan Pengadilan Texas. Ia bahkan menggaungkan tagar #CancelNetflix di media sosial.

Netflix membantah bahwa Cuties mempromosikan pornografi anak-anak, sembari meminta maaf soal cover Cuties yang terlalu sensual.

Di luar kontroversi film Cuties (dan kasus kaset DVD porno), Netflix memang acap kali diidentikan dengan sesuatu yang berbau seks, yang termuat dalam ungkapan slang berbunyi "Netflix and Chill". Dalam laporan Oscar Rickett untuk The Guardian, ungkapan "Netflix and chill" pertama kali muncul pada 2009 melalui akun Twitter bernama @nofacenina, yang mengungkapkan bahwa ia "hendak log in ke akun 'Netflix & chill (bersantai)' sepanjang malam". Tak ada yang berbau seksual dalam ungkapan itu. Hingga 2014, "chill" hanya diartikan sebagai "santai", "sandar-gurau", atau "istirahat". Namun, entah apa yang terjadi, semenjak 2014, "Netflix and chill" berubah makna menjadi ajakan berhubungan seks secara halus--dengan kamuflase menonton Netflix.

Ada satu teori konspirasi yang mengemuka tentang pergeseran makna "Netflix and chill" yang kelewat jauh ini. Menurut teori itu, "Netflix and chill" bermula dari para remaja yang ingin mengelabui orang tua mereka. Di depan orang tua, mereka hanya mengungkapkan hendak menonton Netflix "and chill" (bersantai) dengan temannya yang umumnya lawan jenis. Orang tua tentu tidak keberatan.

"Oh, mau nonton Stranger Things doang," pikir mereka dalam semesta teori konspirasi itu.

Baca juga artikel terkait NETFLIX atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Film)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight