Reshuffle Kabinet 2020

Bagaimana Nasib FPI & Minoritas di Bawah Menag Yaqut Cholil Qoumas?

Oleh: Riyan Setiawan - 25 Desember 2020
Dibaca Normal 2 menit
Peneliti LIPI Wasisto menilai penunjukan Yaqut Cholil Qoumas jadi angin segar bagi kelompok minoritas. Bagaimana dengan FPI?
tirto.id - Presiden Joko Widodo menunjuk Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor sekaligus Panglima Tertinggi Banser Nahdlatul Ulama, Yaqut Cholil Quomas sebagai Menteri Agama menggantikan Fachrul Razi. Pria yang akrab disapa Gus Yaqut itu resmi dilantik pada Rabu (23/12) di Istana Negara, Jakarta Pusat.

"Bahwa saya dalam menjalankan tugas jabatan akan menjunjung tinggi etika jabatan bekerja dengan sebaik-baiknya dengan penuh rasa tanggung jawab," kata Presiden Jokowi seraya membacakan isi sumpah dan diikuti Yaqut dan para menteri lain yang dilantik.

Penunjukan Gus Yaqut pun direspons beragam. Peneliti politik Islam dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai dengan dipilihnya Yaqut sebagai menag akan menjadi ancaman bagi ormas Front Pembela Islam (FPI).

Sebab, kata dia, FPI selama ini dinilai akan membuat instabilitas politik dan ekonomi bila dibiarkan terus-menerus. Ditambah lagi, pada 2018, Yaqut pernah berkonflik dengan FPI lantaran kasus anggota Banser yang membakar bendera bertuliskan tauhid yang identik dengan bendera organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

"Saya pikir posisi FPI dan pendukungnya akan tersudut. Apalagi Banser tentunya kini memiliki kewenangan besar untuk melawan kelompok-kelompok intoleran," kata Wasisto kepada reporter Tirto, Rabu (23/12/2020).

Ketua Biro Hukum Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (Pushami) yang juga anggota FPI, Aziz Yanuar bahkan melaporkan Yaqut soal pembakaran bendera itu. Ia menduga Yaqut melakukan tindak pidana SARA serta penistaan agama sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 156a juncto Pasal 59 ayat (3) KUHP.

Ia juga melaporkan Yaqut atas dugaan tindak pelanggaran Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 45a ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Pada Juni 2020, Yaqut juga pernah meminta kepada DPR tak terburu-buru membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP) agar tak jadi landasan berdirinya ormas radikal.



Menurut Wasisto, setelah Yaqut menjadi menteri agama, dia akan membuat kebijakan-kebijakan yang membatasi ruang gerak FPI, tetapi secara bertahap. Nantinya, kata dia, TNI-Polri pun dibantu oleh Banser untuk berhadapan langsung membatasi ruang gerak FPI dan kelompok intoleran lain.

Namun dampaknya, berpotensi muncul konflik terbuka antara FPI dengan Banser. "Konflik terbuka berpotensi terjadi semisal FPI makin militan dengan berupaya melawan dominasi aparat," ucapnya.

Sekretaris Umum FPI Munarman pun merespons dilantiknya Yaqut sebagai menag dengan mengutip ayat Alquran. Kepada wartawan, Munarman menyebut QS At-Taubah 129. Artinya: “Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy (singgasana) yang agung.”

"Saya berdoa seperti itu saja di tengah kezaliman merajalela ini," kata Munarman, Rabu (23/12/2020).

Ia pun mengaku pasrah perihal dampak bagi FPI usai Jokowi menunjuk Gus Yaqut sebagai menag. "Terserah mereka saja," ucap dia.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin berharap dengan dilantiknya Yaqut menjadi menag, bisa membawa pribadinya mempunyai jiwa pemersatu dan sudah tidak lagi bergaya preman dengan membuat pernyataan gaduh dan adu domba.

"Perlu diingat bahwa menteri agama hal yang sensitif dalam hal-hal yang menyangkut perbedaan politik. Karena menteri agama saat ini dari kalangan politik, bukan dari unsur profesionalisme. Sehingga akan kentara nanti apabila jabatan atas nama agama ini diselewengkan untuk kepentingan pribadi dan golongannya," kata Novel kepada Tirto, Rabu (23/12/2020).


Angin Segar untuk Kelompok Minoritas

Yaqut usai dilantik jadi menag mengklaim ingin membuat agama menjadi inspirasi, bukan aspirasi. Ketum GP Ansor ini mengatakan, agama sebagai inspirasi bisa beragam bentuk. Ia mencontohkan cara berhubungan antarumat beragama, hubungan antar inter-umat beragama.

"Sebenarnya banyak yang mau dikerjakan, tetapi kalau mau dirangkum itu hanya menjadi satu kalimat pendek, yaitu bagaimana membuat agama itu sebagai inspirasi, bukan aspirasi," kata Yaqut usai dilantik di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (23/12/2020).

Peneliti politik Islam dari LIPI Wasisto menilai janji Gus Yaqut tersebut akan menjadi angin segar untuk kelompok minoritas yang selama ini dikriminalisasi dan kurang diperhatikan pemerintah. "Paling tidak aksi kekerasan mengatasnamakan agama bisa ditekan," ucapnya.

Hal itu pun dibenarkan oleh kelompok Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Juru Bicara JAI Yendra Budiana memandang dengan dipilihnya Gus Yaqut sebagai menag akan membawa angin segar untuk kelompok minoritas, termasuk Ahmadiyah.

Menurut dia, pilihan Jokowi untuk menunjuk Yaqut sebagai menag sangat rasional untuk kehidupan beragama di Indonesia yang lebih toleran, damai, tidak diskriminatif, setara, menganggap yang berbeda keyakinan sebagai saudara dalam kemanusiaan, kebebasan beragama, dan kepedulian sosial bagi siapa pun masyarakat yang membutuhkan.

"Serta yang paling penting berani menunjukkan sikap tersebut pada kelompok-kelompok yang selama ini melakukan politisasi agama dan intoleransi," kata Yendra kepada reporter Tirto, Rabu (23/12/2020).

Komunitas Ahmadiyah berharap Yaqut mampu mewujudkan kehidupan agama yang toleran dan membuka ruang-ruang perjumpaan untuk moderasi kehidupan beragama, kata Yendra.

Sementara itu, Sekretaris Majelis HKBP Filadelfia, Ramli belum ingin memberikan komentarnya perihal Yaqut yang baru saja dilantik sebagai menag. "Saya tahu beliau dari kelompok yang tolerir [NU/Banser]. Tapi belum bisa kasih komentar dulu," kata Ramli kepada Tirto, Rabu (23/12/2020).

Tirto juga menghubungi beberapa kelompok minoritas seperti penganut agama Sunda Wiwitan, Dewi Kanti dan Ketua Dewan Syura Ikatan Jemaah Ahlulbait Indonesia (IJABI), Jalaluddin Rakhmat dari kelompok Syiah. Namun hingga artikel ini terbit, mereka belum merespons.


Baca juga artikel terkait RESHUFFLE KABINET atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Abdul Aziz
DarkLight