Bagaimana Nasib Blue Bird & Express Setelah Gandeng Gojek & Uber?

Oleh: Ringkang Gumiwang - 20 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Keputusan perusahaan taksi konvensional berkolaborasi dengan aplikasi penyedia jasa transportasi ada yang berdampak tapi juga sebaliknya.
tirto.id - Putut bergelut dengan jalanan hampir 15 tahun sebagai sopir taksi di ibu kota. Beberapa tahun lalu semua berjalan biasa-biasa saja, sampai semuanya berubah ketika taksi online atau taksi aplikasi muncul sekitar 2015.

“Yang paling terasa itu pada 2016, sepi penumpang. Kalah dengan taksi aplikasi. Jadi, harus lebih kerja keras lagi untuk dapat penumpang,” katanya kepada Tirto.

Semenjak 2017, jumlah penumpang yang dilayani Putut perlahan-lahan meningkat. Menurutnya, orderan yang meningkat itu lantaran didorong oleh kolaborasi antara Blue Bird dengan Gojek Indonesia. Pengakuan Patut bukan mengada-ada, Rivki, warga Bogor yang bekerja di Jakarta Pusat mengaku sering memakai taksi Blue Bird pada fitur GO-CAR.

“Saya bahkan pernah memakai taksi Blue Bird secara berturut-turut selama sepekan. Padahal, saya memilih fitur GO-CAR, bukan Go-Blue Bird, ” kata pria berumur 28 tahun ini kepada Tirto.


Kehadiran taksi aplikasi pada 2015 memang berdampak negatif terhadap bisnis taksi konvensional. Berbagai cara perusahaan taksi agar dapat bertahan hidup, antara lain menggandeng para perusahaan aplikasi. Blue Bird dan Gojek mulai menjalin kerja sama sejak 1 Februari 2017. Pelanggan GO-CAR yang mendapatkan taksi Blue Bird akan menikmati tarif dan promo yang sama dengan armada GO-CAR lainnya.

Kerja sama Blue Bird dan Gojek kian erat pada Maret 2017. Gojek mengumumkan layanan baru dari aplikasinya, yakni GO-BlueBird. Dengan layanan baru itu, pelanggan yang dilayani taksi Blue Bird akan dikenakan tarif argo.

“Dengan bertambahnya channel order kami, selain menyetop di jalan, pangkalan, aplikasi My Blue Bird, dan GO-BLUE BIRD, saya harap pengemudi Blue Bird semakin semangat dan sejahtera,” ujar Adrianto Djokosoetono Direktur PT Blue Bird Tbk.

Kolaborasi perusahaan taksi dan perusahaan aplikasi penyedia jasa transportasi ternyata dilakukan taksi Express. Taksi milik konglomerat Peter Sondakh ini menggandeng Uber pada 19 Desember 2016.

Dari kerja sama itu, para pengemudi taksi Express dapat menggunakan aplikasi Uber untuk menerima pemesanan perjalanan uberX. Sedangkan, pengemudi Uber mendapatkan fasilitas untuk mencicil kendaraan dari Express Group.

Apa dampak kolaborasi terhadap kinerja keuangan masing-masing taksi konvensional di 2017?

Pertumbuhan pendapatan Blue Bird terakhir kali terjadi pada 2015, saat itu pendapatan Blue Bird naik 15 persen menjadi Rp5,47 triliun dari tahun sebelumnya Rp4,75 triliun. Namun, pada tahun berikutnya, pendapatan Blue Bird turun 12 persen menjadi Rp4,79 triliun sebagai imbas menjamurnya taksi online, terutama di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jadetabek).

Sepanjang 2017, Blue Bird kembali mencatatkan penurunan pendapatan. Taksi dengan logo bergambar Burung Biru ini meraup pendapatan senilai Rp4,2 triliun, turun 12 persen dari 2016 sebesar Rp4,79 triliun. Pendapatan Blue Bird dari Jadetabek mencapai Rp3,26 triliun, turun 10 persen dari Rp3,63 triliun. Sedangkan pendapatan dari luar Jadetabek mencapai Rp940,31 miliar, atau turun 19 persen dari Rp1,15 triliun.

Menurunnya pendapatan usaha, membuat laba bersih Blue Bird juga ikut terkoreksi. Emiten dengan kode BIRD ini meraup laba bersih sebesar Rp427,49 miliar sepanjang 2017. Angka itu turun 16 persen dari laba bersih 2016 senilai Rp510,2 miliar.


Secara tahunan pendapatan dan laba bersih Blue Bird pada 2017 menurun, kinerja Blue Bird pada tahun Ayam Api itu relatif stabil, dan cenderung merangkak naik apabila dilihat antar kuartal.

Pada kuartal I-2017, pendapatan Blue Bird tercatat menurun 10 persen menjadi Rp1,03 triliun dari kuartal IV-2016. Namun pada kuartal-kuartal berikutnya, pendapatan mulai naik. Kuartal II-2017, pendapatan naik 0,2 persen, kuartal III-2017 naik 1 persen, dan kuartal IV-2017 naik 2 persen.

Pola yang hampir sama juga terjadi pada laba bersih Blue Bird. Pada kuartal I-2017, laba bersih Blue Bird turun 20 persen, pada kuartal II-2017 turun 36 persen, kuartal III-2017 naik 44 persen dan kuartal IV-2017 naik 15 persen.

“Jika melihat historis secara kuartal 2017, besar kemungkinan pendapatan Blue Bird stabil karena menggandeng Gojek. Selain itu, aplikasi Blue Bird juga sudah banyak penggunanya,” kata Kiswoyo Adi Joe, analis PT Narada Kapital Indonesia kepada Tirto.

Membaiknya jumlah pemesanan di seluruh channel perseroan, seperti aplikasi Gojek, aplikasi Blue Bird dan lain sebagainya juga tidak terlepas dari persoalan tarif taksi online dengan tarif taksi konvensional yang sudah tak berjarak. Contohnya ketika menggunakan aplikasi Gojek pukul 19.00 WIB di Jakarta Pusat. Misalnya untuk jarak 2 kilometer, tarif GO-CAR mencapai Rp17.000. Sementara fitur Go Blue Bird, tarifnya berkisar dari Rp7.000-8.000.

“Tidak seperti tarif pada 2016, tarif taksi aplikasi dengan taksi online gap-nya sudah semakin kecil sekarang ini. Bahkan, dalam kondisi tertentu, tarif taksi aplikasi (online) bisa lebih mahal,” kata Michael Tene, Head of Investor Relations Blue Bird kepada Tirto.

Infografik kinerja emite taksi kuartalan


Express Makin Tersungkur


Bisnis taksi konvensional yang terpukul taksi online sepanjang 2017 juga dirasakan oleh PT Express Trasindo Utama Tbk. Kinerja pendapatan Express tercatat Rp304,71 miliar sepanjang 2017, anjlok 51 persen dari 2016 sebesar Rp618,2 miliar.

Anjloknya pendapatan, membuat perusahaan dengan kode emiten TAXI ini menanggung rugi bersih hingga Rp492,1 miliar, atau naik 166 persen dari rugi bersih tahun sebelumnya sebesar Rp184,74 miliar.


Selain Blue Bird, kinerja Express dari kuartal pertama sampai dengan kuartal IV-2017 justru terus terperosok. Kolaborasi antara Express dan Uber tampaknya belum bisa menahan tergerusnya kinerja pendapatan. Apalagi Uber kin sudah masuk dalam skema aksi korporasi dari Grab di Asia Tenggara.



Pendapatan Express pada kuartal I-2017 tercatat anjlok 26 persen dari kuartal IV-2016. Pada kuartal berikutnya, pendapatan tumbuh 3 persen, turun lagi 9 persen di kuartal III-2017 dan naik tipis 0,3 persen pada kuartal IV-2017.

“Meski telah berkolaborasi dengan aplikasi (Uber), sangat berat bagi Express untuk bisa menumbuhkan pendapatannya. Apalagi, jumlah pengemudi Express juga sudah berkurang,” tambah Kiswoyo.

Sekretaris Perusahaan Express Megawati Affan sayangnya tidak merespons saat Tirto mengonfirmasi soal kondisi kinerja perusahaan dan jumlah pengemudi yang berkurang. Sepanjang semester I-2017, Express telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 250 karyawan.

Dalam dua tahun terakhir, bisa dibilang fokus strategi emiten taksi adalah bagaimana untuk bertahan hidup dari taksi online. Jurus merangkul lawan dengan berkolaborasi punya dampak bagi Blue Bird.

Baca juga artikel terkait TRANSPORTASI UMUM atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Ringkang Gumiwang
Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Suhendra
a