Bagaimana Nasib Akun Media Sosial Setelah Kematian Pemiliknya?

Oleh: Tony Firman - 15 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Beberapa sosial media populer seperti Facebook dan Instagram memiliki fitur kenangan pada akun yang sudah ditinggal mati pemiliknya.
tirto.id -
Di era sekarang, memiliki akun media sosial adalah hal lumrah dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Data dari We Are Social menyebut, pada kuartal keempat 2018, lebih dari tiga miliar warga dunia aktif memakai media sosial. Dihimpun dari data Statista tahun 2018, medsos populer seperti Facebook memiliki pengguna 2,2 miliar lebih, Instagram satu miliar, dan Twitter 326 juta pengguna.

Medsos menjadi wadah saling berinteraksi antara satu manusia dengan yang lainnya. Ada begitu banyak aktivitas pengguna yang terikat pun tersimpan di medsos. Mulai dari unggah foto dan video, berbagi informasi dan berita, bertukar kabar, maupun menyampaikan gagasan. Medsos juga tempat banyak orang merayakan fase hidup maupun pencapaian. Dari ulang tahun, kelahiran anak, pernikahan, bahkan kematian.

Lantas, bagaimana nasib akun medsos ketika penggunanya meninggal dunia?

Ketika Nukman Luthfie, pakar dan pegiat media sosial, meninggal dunia pada Sabtu (12/1) di Yogyakarta, akun Facebooknya berubah menjadi akun kenangan (Memorialized Account). Di atas nama akun, ada tulisan "Remembering Nukman Luthfie". Lalu ada pula pesan, "Kami harap orang yang mencintai Nukman akan merasa nyaman ketika mengunjungi profilnya guna mengenang dan merayakan momen hidupnya.

Selain Facebook, Nukman juga memiliki akun Twitter yang telah terverfikasi centang biru. Bedanya, akun Twitter Nukman tidak menunjukkan pemberitahuan apapun yang menandai pemilik telah meninggal dunia.


Di era medsos, kehidupan seseorang di dunia digital akan tetap tersedia bahkan ketika orang tersebut meninggal dunia. Lantas, bagaimana sebenarnya pengelola medsos mengatur akun yang pemiliknya sudah almarhum? Apakah kebijakan menyematkan status kenangan seperti yang dilakukan Facebook hanya terbatas pada orang-orang tertentu?

Menjadikan Kenangan atau Menghapusnya Permanen

Masing-masing medsos populer punya cara berbeda-beda dalam mengelola akun milik pengguna yang sudah meninggal dunia. Pengelola platform ini akan melibatkan orang kepercayaan dan keluarga dekat untuk mengambil keputusan apakah akun akan tetap hadir di dunia maya, dihapus permanen, atau ada permintaan khusus lainnya.

Pada 2012, ada 30 juta pengguna Facebook di seluruh dunia yang meninggal dunia. Tiap harinya diperkirakan ada lebih dari 8.000 pengguna meninggal dunia. Profil akun pengguna yang sudah meninggal itu kemudian berubah menjadi akun kenangan. Notifikasi ulang tahun dan saran pertemanan akan dinonaktifkan oleh Facebook.

Media sosial bikinan Mark Zuckerberg ini memang cukup detail mengatur berbagai ketentuan dan kemungkinan yang bisa dipilih saat pemilik akun meninggal dunia. Dalam salah satu laman bantuannya, ada artikel “Apa yang akan terjadi pada akun Facebook saya jika saya meninggal?”

Facebook menawarkan dua pilihan untuk hal ini. Pertama, menunjuk kontak pewaris untuk mengurus akun yang berstatus kenangan. Atau menghapusnya secara permanen. Pilihan pertama hanya bisa dilakukan ketika pengguna mengisi kontak pewaris. Maka ketika pengguna ini meninggal, Facebook akan memberikan akses login kepada pewaris untuk menentukan apakah akun akan dihapus atau dipertahankan. Bila tidak dihapus, Facebook akan menuliskan kata “Mengenang” di atas nama akun bersangkutan.


Yang menjadi catatan, untuk bisa memproses akun seseorang yang sudah meninggal dunia, Facebook harus mendapat laporan dari orang lain terlebih dahulu dengan menyertakan bukti-bukti otentik melalui halaman permintaan ubah akun kenangan.

Ada satu kasus di Jerman, ketika orang tua akhirnya mendapat akses ke Facebook anak mereka yang sudah meninggal karena ditabrak kereta bawah tanah di Berlin pada 2012. Dilansir dari ABC, gugatan orang tua gadis yang meninggal di usia 15 tahun agar mendapat akses memasuki akun Facebook puterinya dikabulkan oleh Pengadilan Federal Jerman pada Juli 2018.

Tujuannya untuk mencari bukti apakah kematian sang anak karena bunuh diri atau ada faktor lain. Sebelumnya Facebook, yang sudah mengubah status akun gadis itu menjadi akun kenangan, bersikukuh tidak mau memberi orang tua akses ke akun putrinya itu dengan alasan privasi. Kemungkinan besar, akun gadis itu tidak menyertakan kontak pewaris.

Sedangkan Twitter memiliki ketentuan lain dalam mengatur akun penggunanya yang meninggal dunia. Akun yang telah ditinggal mati pemiliknya bakal dinonaktifkan oleh pihak Twitter. Untuk bisa melakukan hal tersebut, Twitter butuh pengaduan dari kerabat dekat almarhum soal kabar dan bukti surat kematian seperti salinan akta kematian.

Twitter tidak memberikan fitur kontak waris maupun status kenangan seperti Facebook. Bahkan akses untuk memasuki akun pengguna yang meninggal juga tidak diberikan kepada siapapun, termasuk keluarga terdekat.

Sementara kebijakan Instagram lebih mirip seperti Facebook. Instagram memungkinkan akun pengguna yang telah mati diubah statusnya menjadi kenangan. Dengan status kenangan, Instagram juga mencegah munculnya rujukan ke akun kenangan yang dapat membuat teman dan keluarga orang itu merasa tidak senang. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk melaporkan akun yang pemiliknya sudah meninggal. Semisal mengirimkan akta kematian, juga bukti bahwa pemohon adalah wakil resmi dari almarhum.

Infografik Mengenang kematian Ala medsos
Infografik Mengenang kematian Ala medsos



Bagaimana dengan medsos lain? LinkedIn dapat menutup akun jika mereka memiliki informasi pribadi dasar plus tautan ke obituari almarhum, dan nama perusahaan tempat mereka bekerja. Sedangkan Google memilih untuk menjaga semua data yang dimiliki pengguna dan tidak memberikan informasi sandi apapun kepada orang lain. Namun dalam situasi tertentu, mereka mengaku bisa memberikan konten akun pengguna. Sama seperti yang lain, Google baru memproses akun kematian saat ada yang mengadukan dan menyodorkan bukti-bukti yang valid.

Jika pengguna menganggap penting akun medsosnya karena mungkin menyimpan banyak catatan berharga maupun unggahan lainnya, sebenarnya tidak ada salahnya untuk mulai memikirkan berwasiat agar akun tersebut dapat terkelola dengan baik di tangan orang yang tepat.

Baca juga artikel terkait KEMATIAN atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Tony Firman
Editor: Nuran Wibisono