Bagaimana Mental "Asal Bapak Senang" Gerus Bisnis Teknologi Jepang

Ilustrasi Chip. FOTO/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 23 September 2020
Dibaca Normal 4 menit
TLDR: Jepang kekurangan jiwa-jiwa pemberontak di perusahaan teknologi.
“OS X merupakan sistem operasi terhebat di planet Bumi,” klaim Steve Jobs dalam Apple Worldwide Developer Conference (WWDC) 2005. Karena OS X merupakan sistem operasi terhebat, tutur Jobs kemudian, Apple sudah sepantasnya membuat segala sisi produknya dengan unsur-unsur hebat lainnya. Tujuannya sederhana: “kami ingin menghadirkan komputer terbaik yang dicari-cari orang.”

Unsur-unsur hebat itu, di sisi prosesor, adalah Intel alih-alih PowerPC, prosesor yang dikembangkan Apple bersama IBM. Pada 2005, Jobs memutuskan segala lini komputer Mac berganti haluan, dari menggunakan PowerPC menjadi Intel--keputusan yang kemudian diamandemen 15 tahun kemudian oleh Tim Cook yang mengganti prosesor Intel dengan Apple Silicon.

Yang menarik, tutur Aaron Souppouris untuk The Verge, meskipun Jobs mengumumkan perpindahan PowerPC ke Intel pada 2005, prosesor Intel telah digunakan untuk proses uji coba lima tahun sebelumnya di lini komputer Mac secara terbatas. Yang jauh lebih menarik, ketika Apple diam-diam menggunakan Intel pada 2001, Jobs menemui petinggi-petinggi Sony yang sedang berlibur di Hawaii untuk menawarkan penggunaan OS X di lini komputer ciptaan raksasa teknologi asal Jepang tersebut. Lebih spesifik, Jobs menginginkan Macintosh dipasang di VAIO, laptop ciptaan Sony.

Keinginan Jobs memang terbilang aneh. Musababnya, OS X merupakan sistem operasi tertutup--tidak seperti Windows--dan hanya digunakan oleh produk ciptaan Apple sendiri. Namun, karena Jobs kesengsem dengan VAIO, ia berani menawarkan pengecualian.


Jobs, merujuk buku berjudul Insanely Simple: The Obsession That Drives Apple's Success (2012) karya Ken Segall, adalah seorang "Sony fanboy". Selain VAIO, Jobs juga mengagumi Walkman, produk yang dikalahkannya tanpa ampun melalui iPod. Yang unik, tutur Segall, sebelum iPod meluncur pada 2001 silam, Jobs sempat berpikir untuk menamainya MacMan, meniru pelafalan “Walkman.” Dan ketika Akio Morita, co-founder Sony berpulang ke rahmatullah pada 1999 silam, di panggung konferensi peluncuran iMac DV dua hari selepas kematian Akio, Jobs memberi penghormatan padanya. Akio, kata Jobs, adalah “salah satu sosok paling menginspirasi untukku.”

Kenapa Jobs mengagumi Sony?

“Sony menciptakan produk-produk hebat,” kata Jobs. Secara umum, Sony dan juga perusahaan-perusahaan teknologi asal Jepang memang menjadi kiblat dunia teknologi. Di mata masyarakat Indonesia, Jepang bahkan diakui berkat produk-produk hebat. Dalam film Boleh Dong Untung Terus (1992) yang dibintangi Kadir dan Doyok misalnya, pengakuan atas kehebatan teknologi Jepang nampak. Di film itu, seorang pria buta marah-marah karena merasa ditipu penjaga toko setelah membeli radio Sony. Alih-alih memperoleh radio Sony, si pria buta malah menerima Radio Republik Indonesia.

Sayangnya, kisah tentang kehebatan produk-produk Jepang kini tinggal kenangan. Jepang kalah bersaing dengan geng Silicon Valley, Korea Selatan, bahkan Cina. Pertanyaannya kemudian, mengapa Jepang bisa tertinggal?

Tertinggal Karena Miskin Inovasi dan Semangat “Asal Bapak Senang”

Sejak awal abad ke-20, Jepang melahirkan berbagai macam hal yang memukau umat manusia. Pada 1921, misalnya, Tokyo Electric menciptakan bola lampu gulungan pertama di dunia, inovasi yang tetap digunakan dalam lampu pijar saat ini. Selepas Tokyo Electric bergabung bersama Shibaura Engineering Works membentuk Toshiba, mereka merilis T1100 pada 1985. T1100 adalah laptop untuk konsumen umum pertama di dunia. Dengan kata lain, induk dari segala laptop yang kini ada di pasaran.

John Rehfeld, salah seorang pekerja di Toshiba, menyebut T1100 sebagai laptop “yang memiliki performa sekelas desktop”.

Dua tahun pasca kelahiran T1100, Toshiba menemukan NAND flash, media penyimpanan yang menyebabkan dunia kini mengenal USB flash drive (atau, meskipun keliru, akrab disebut flash disk). Dan dari NAND flash pula, lahir media penyimpanan SSD (solid-state drives).

Seperti disinggung di atas, Sony pun sukses membuat takjub dunia melalui produk-produk ciptaannya. Selain Walkman dan VAIO, Sony menciptakan Trinitron TV, televisi berwarna sebenar-benarnya yang mereka rilis pada 1968.

Selain Toshiba dan Sony, rasa takjub juga dihadirkan Sanyo, melalui radio, mesin cuci dan mesin pompa air; Panasonic melalui teknologi baterai; dan Fujitsu melalui Lifebook dan air conditioner (AC).

Gerhard Fasol, pemimpin firma konsultasi teknologi asal Tokyo bernama Eurotechnology, menyebut bahwa hingga sekitar awal dekade 2000-an, “Jepang unggul sangat jauh soal teknologi dibandingkan pesaing-pesaingnya”. Sayangnya, ketika dunia kian terhubung melalui internet, Jepang tidak melakukan sesuatu yang berarti. Walhasil, mereka kini tertinggal.

Hiroko Tabuchi, dalam paparannya di The New York Times yang secara spesifik mengulas Sony, menyatakan sudah semestinya perusahaan-perusahaan Jepang punya posisi yang jauh lebih unggul memenangkan pertarungan ketika dunia memasuki era digital. iPod, misalnya, seharusnya dibuat Sony, bukan Apple. Alasannya, sebagai pencipta Walkman, Sony duluan melangkah ke industri musik dan memiliki berton-ton katalog musik. Terlebih, Akio Morita pernah mengungkapkan ide yang mirip iPod pada awal dekade 1980-an.

Sayangnya, ide Akio tidak pernah diterjemahkan dalam tindakan. Soal musik, Sony takut penciptaan platform iPod (dan iTunes) akan membuat label-label musik marah. Bahkan, versi digital Walkman awalnya dibuat untuk tidak bisa menjalankan format MP3, format yang benar-benar membuat industri musik marah.

Josh Horwitz melaporkan untuk Quartz bahwa perusahaan-perusahaan teknologi Jepang mengalami titik balik pada awal dekade 2000-an. Permintaan masyarakat terhadap laptop semakin tinggi seiring pertumbuhan dunia digital. Lalu terciptalah peluang bagi perusahaan-perusahaan asal Cina dan Taiwan untuk memberikan penawaran murah bagi masyarakat. Lahirlah Acer, Asus, dan Lenovo. Bahkan, Lenovo akhirnya membeli unit bisnis laptop IBM dan membawa pulang merek paling masyhur: Thinkpad.

Serangan laptop-laptop murah asal Cina membuat perusahan Jepang kehabisan napas. Pada 2014 Sony menjual unit bisnis VAIO kepada konsorsium investasi bernama Japan Industrial Partners. Pada 2017, Fujitsu menjual unit bisnis komputernya kepada Lenovo. Dan baru-baru ini, Toshiba melakukan langkah yang sama.

Merujuk data Statista tentang arus pengiriman TV berteknologi LCD di seluruh dunia, Jepang hanya memiliki Sony di jajaran produsen yang paling banyak mengirim televisi kepada konsumen pada 2019. Sony saat itu duduk di posisi ke-7, menguasai 4,2 persen pangsa pasar televisi LCD, sementara posisi pertama diduduki Samsung yang memperoleh 17,8 persen pangsa pasar. Selain LG, sisanya ditempati produsen-produsen asal Cina. Dunia lemari pendingin alias kulkas tak berbeda jauh. Data Statista lain menyebut pasar kulkas sekarang dikuasai oleh Haier, produsen asal Cina dengan 17,3 persen pangsa pasar kulkas di seluruh dunia.

Di jagat smartphone alias ponsel pintar, Jepang lebih mengkhawatirkan. Mengutip data IDC, tidak ada nama produsen asal Jepang. Di luar Apple dan Samsung, dunia ponsel pintar dikuasai nama-nama Cina.

Jepang benar-benar tertinggal saat ini.



Publikasi Horwitz, Profesor Ulrike Schaede, peneliti pada University of California, San Diego, AS menyatakan bahwa salah satu alasan ketertinggalan Jepang hari ini adalah adanya sikap negatif pada diri pekerja-pekerjanya. Terangnya, perusahaan seperti Toshiba “dipenuhi orang-orang yang melakukan sesuatu yang menurut mereka diinginkan oleh bos alih-alih mengerjakan sesuatu yang mereka anggap baik.” Singkat kata, para pekerja di perusahaan teknologi Jepang dipenuhi oleh “orang-orang yang bergerak atas arahan bos”. Mereka bekerja hanya “agar bapak senang” alias "ABS".

Ketika Akio mengubur idenya soal iPod, tak seorang pun berani menentangnya. Kenyataan ini berbeda jauh, misalnya, dengan Apple. Brian Merchant, dalam bukunya berjudul The One Device: The Secret History of The iPhone (2017) menyebut bahwa salah satu kunci kesuksesan Apple adalah “para pemberontak” di dalam tubuh perusahaan, “pemberontak yang jenius”.

Pada awal kemunculan iPod, misalnya, Steve Jobs bersikeras tidak akan membuat iTunes untuk Windows dan hanya menyediakannya untuk Mac sebagai medium penghubung sinkronisasi musik yang dimiliki pengguna dengan iPod. Jobs hanya mengizinkan karyawannya menciptakan iTunes untuk Windows setelah, sesuai ucapannya, “mayatku dilangkahi dulu”. Masalahnya, sangat sedikit yang memiliki Mac. Mayoritas pengguna komputer di seluruh dunia mengandalkan Windows. Akibatnya, iPod gagal secara penjualan pada awal kemunculannya.

Bukannya manut, beberapa karyawan Jobs menciptakan iTunes untuk Windows secara diam-diam. Selepas iPod gagal secara penjualan dalam dua tahun sejak peluncurannya, Jobs pun sadar dan merilis iTunes untuk Windows.


Kisah keras kepala Jobs pun muncul jelang kelahiran App Store. Pada awal kemunculan iPhone, ia menolak mentah-mentah keberadaan App Store. Namun, karena memiliki karyawan-karyawan berjiwa pemberontak, App Store lahir jua. Kini App Store menyumbang pemasukan senilai USD260,2 miliar untuk Apple.

Jiwa-jiwa karyawan inovatif pun muncul di Google, misalnya dengan kebijakan kerja 80-20 (80 persen jam kerja untuk Google dan 20 persen untuk keinginan sendiri), di Samsung, bahkan di perusahaan-perusahaan Cina. Lihatlah WeChat yang lahir berkat tantangan yang diberikan Tencent untuk karyawannya.

Sifat asal bapak senang dalam tubuh perusahaan Jepang diperburuk dengan minimnya dana riset. Yohei Matsuo melaporkan untuk Nikkei bahwa total dana riset yang dikeluarkan kombinasi Amazon, Facebook, Apple, Microsoft, dan Google mengalahkan dana riset yang dikeluarkan seluruh perusahaan swasta Jepang. Lima raksasa asal Amerika Serikat itu menganggarkan sekitar USD160 miliar untuk riset. Sementara itu, seluruh perusahaan swasta asal Jepang hanya mengeluarkan USD151 miliar untuk riset.

Tentu Jepang belum benar-benar tertinggal. Ada lini-lini di dunia teknologi yang masih mereka kuasai. Di dunia kamera, misalnya, Jepang masih menjadi penguasa melalui Sony, Canon, Nikon, hingga Fujifilm. Di dunia video game, khususnya konsol, Sony dan Nintendo masih bertaji, meskipun digempur habis-habisan oleh video game smartphone. Tak ketinggalan, perusahaan teknologi Jepang kini mulai beralih ke sektor-sektor khusus, misalnya, roket. Tatkala Uni Emirat Arab pergi ke Mars di bulan Juli lalu, mereka menggunakan roket ciptaan Mitsubishi, Mitsubishi H-IIA, untuk terbang ke planet merah itu.

Baca juga artikel terkait JEPANG atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight