Bagaimana Mandela Melawan Warisan Apartheid dengan Olahraga?

Kapten rugby Afrika Selatan Francois Pienaar (kanan) menerima Piala Dunia Rugby dari Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, mengenakan kemeja dan topi rugby Afrika Selatan, 24 Juni 1995. Afrika Selatan pada Selasa 31 Oktober 2017 direkomendasikan sebagai tuan rumah terbaik untuk Piala Dunia 2022 Rugby di depan Prancis dan Irlandia. AP Photo / Ross Setford
Oleh: Faisal Irfani - 22 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Dengan rugbi, Mandela merangkul kulit putih dan hitam di bawah satu bendera: Afrika Selatan.
tirto.id - Usai menghabiskan 27 tahun di penjara, pada 11 Februari 1990, Nelson Mandela resmi menghirup udara bebas. Tak lama kemudian, pada 1991, ia diangkat jadi orang nomor satu di Partai Kongres Nasional Afrika (ANC). Dua tahun selepas terpilih, Mandela, bersama Presiden Afrika Selatan (Afsel) saat itu, F.W. de Klerk, mengumumkan bahwa ANC dan Partai Nasional sepakat untuk membentuk pemerintahan transisi.

Kesepakatan tersebut punya arti penting bagi dinamika politik di Afrika Selatan. Pasalnya, keberadaan pemerintahan yang baru secara efektif mengakhiri praktik apartheid dan membuka proses keterlibatan politik untuk seluruh masyarakat Afrika Selatan tanpa terkecuali. Harapan kian cerah tatkala pada 1994 Mandela menang Pemilu dan duduk di kursi presiden.


Kendati demikian, jalan untuk menciptakan kehidupan yang adil bagi masyarakat Afrika Selatan masih jauh terlaksana. Politik apartheid boleh dihapuskan, namun Afrika Selatan tetap saja tersegregasi secara kultural berdasarkan warna kulit.

Percaya Olahraga


Setelah menjabat, Mandela memperoleh banyak tekanan. Misalnya, ia masih dianggap “teroris” oleh orang-orang kulit putih Afsel karena rekam jejaknya sebagai panglima tertinggi organisasi sayap militer CNA, Umkhonto we Sizwe. Selain itu, sentimen kebencian antar dua kelompok, kulit hitam dan putih, tetap tinggi dan tak menunjukkan tanda-tanda bakal segera berakhir.

Mandela paham, selama masalah mendasar seperti itu tidak diselesaikan, pemerintahan baru akan sulit berjalan. Menyatukan masyarakat yang terbelah, pikir Mandela, harus diprioritaskan.

Olahraga, dalam hal ini rugbi, lantas dipilih Mandela sebagai solusi. Ia memilih rugbi karena olahraga itu populer di masyarakat. Selain itu, Afrika Selatan akan menjadi tuan rumah Piala Dunia Rugbi 1995. Sepasang faktor tersebut membuat Mandela yakin bahwa rugbi bakal mendapatkan momentumnya untuk menyatukan masyarakat.


Bagi Mandela, olahraga sudah jadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari perjalanan hidup dan politiknya. Lewat olahraga, mengutip The National, Mandela melihat bagaimana apartheid membikin masyarakat Afsel terbelah. Seperti yang terjadi pada 1960-an tatkala ia menyaksikan petinju kulit hitam tidak boleh bertanding satu ring dengan petinju kulit putih.

Di lain sisi, Mandela juga percaya bahwa olahraga, apa pun bentuknya—entah itu sepakbola, kriket, sampai rugbi—bisa dipakai sebagai alat melawan apartheid. Olahraga, terang Mandela, punya kekuatan dan resonansi tersendiri yang dapat meniadakan pelbagai batasan. Ihwal ini ia saksikan sendiri kala menjalani masa tahanan di Pulau Robben.

Di pulau tersebut, Mandela kerap mengadakan pertandingan sepakbola bersama tahanan-tahanan lain. Satu minggu sekali, Mandela dan kawan-kawannya bersuka cita bersama sepakbola. Tapi, pertandingan mereka seringkali dibubarkan sipir penjara. Meski begitu, Mandela tak patah semangat. Ia terus cari cerah demi melangsungkan pertandingan. Menurutnya, sepakbola yang ia jalani di Pulau Robben “lebih dari sekadar permainan”. Sepakbola telah “menciptakan harapan, serta membuat para tahanan merasa hidup”.

Dianggap Mustahil


Afrika Selatan menyelenggarakan pertandingan rugbi perdananya pada 1891 dan tim nasional mereka mulai dikenal dengan nama “Springbok” selepas melangsungkan tur ke Inggris pada 1906. Selama era apartheid, Springbok terbelah; orang-orang kulit putih menggunakannya sebagai simbol dominasi ras. Sedangkan bagi orang kulit hitam, Springbok adalah gambaran atas diskriminasi yang mereka alami.

Keputusan Mandela untuk menggunakan Springbok sebagai alat pemersatu mulanya ditentang banyak pihak, terutama oleh sejumlah penasihatnya. Pasalnya, Springbok selama ini lekat dengan citra “tempat berkumpulnya para rasis.” Sebagian besar—atau bahkan semua pihak yang berkecimpung di dalamnya—adalah orang-orang kulit putih.

Tapi, Mandela keukeuh. Ia tak peduli dengan kritikan dan keraguan pendukungnya. Maka, ia pun segera mengundang François Pienaar, kapten Springbok, untuk minum teh di kantornya di Pretoria. Dalam jamuan tersebut, Mandela meminta bantuan Pienaar untuk berusaha tampil maksimal di ajang Piala Dunia Rugbi. Mandela ingin Pienaar dan rekan satu timnya berjuang atas nama bangsa Afrika Selatan.


Pertemuan dengan Mandela, sekalipun dipandang formalitas belaka, ternyata meninggalkan impresi yang positif untuk Pienaar. Selama ini, ia, dan anak-anak muda kulit putih lainnya, tumbuh dengan narasi bahwa Mandela adalah “teroris.” Pandangan semacam itu akhirnya sirna sesaat selepas Pienaar berjumpa dengan Mandela.

“Aku ingat ketika nama Mandela disebut sebagai “teroris” atau “orang jahat” ketika ada pesta barbekyu dan pesta makan malam. Sebagai anak muda, aku berharap bisa mencari tahu soal itu. Sayangnya, aku tidak pernah melakukannya,” terang Pienaar kepada The Guardian.





Langkah selanjutnya adalah meluluhkan hati masyarakat kulit hitam. Di Afrika Selatan, masyarakat kulit hitam seperti dibesarkan untuk membenci rugbi. Olahraga ini dipandang sebagai simbol apartheid, sebab hanya orang-orang kulit putih saja yang bisa dan diperbolehkan bergabung dengan tim. Bahkan, sebelum Piala Dunia Rugbi berlangsung, cuma ada satu pemain kulit hitam di tim nasional Afsel: Chester Williams.

Dengan bantuan Pienaar, Mandela, sebagaimana dicatat John Carlin dalam bukunya berjudul Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Made a Nation (2008) menyusun cara untuk merebut simpati masyarakat kulit hitam, seperti dengan melakukan tur dari satu kota ke kota lainnya, mengenalkan rugbi ke jaringan akar rumpun, mengajak para pemain menyanyikan lagu kebangsaan “Nkosi Sikelele Afrika,” sampai mengeluarkan kampanye bertajuk “One Team, One Country.”

Perlahan, apa yang dilakukan Mandela dan Springbok membuahkan hasil. Dukungan pun mengalir. Sekat-sekat rasial mulai runtuh. Situasi itu membuat motivasi bertanding tim Springsbok bertambah besar.

Menurut laporan The Telegraph, Springbok sukses membikin kejutan dengan menjuarai Piala Dunia Rugbi selepas mengalahkan timnas Australia, Perancis, hingga Selandia Baru. Padahal, awalnya timnas Afsel digadang-gadang sebagai pecundang.

Rugbi di Afrika Selatan pernah dipandang sebagai simbol perpecahan dan pemisah antara kulit hitam dan putih. Namun, di tangan Mandela, pada 1995, rugbi menjadi pemersatu, penjaga harapan, dan simbol perdamaian. Mandela, sekali lagi, membuktikan bahwa olahraga mampu meleburkan sekat-sekat yang kelihatannya mustahil ditembus. Enam puluh tiga ribu pasang mata menyaksikannya.

“François, terima kasih banyak atas apa yang telah kamu lakukan untuk negaramu,” kata Mandela saat upacara pemberian gelar juara.

Pienaar membalas:

“Tidak, Papak Presiden. Aku yang harusnya berterima kasih atas apa yang Anda lakukan.”

Baca juga artikel terkait AFRIKA SELATAN atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight