Menuju konten utama
22 Februari 2005

Bagaimana Kuntowijoyo Meramu Sejarah dan Sastra Sekaligus?

Kuntowojoyo adalah sejarawan dan penulis serba bisa. Karyanya merentang dari sastra, naskah akademik, hingga esai.

Bagaimana Kuntowijoyo Meramu Sejarah dan Sastra Sekaligus?
Kuntowijoyo. tirto.id/Deadnauval

tirto.id - Tidak banyak penulis Indonesia yang mampu mengampu kekaryaan bidang sastra dan akademis sekaligus. Kuntowijoyo adalah satu dari manusia langka itu.

Sebagai sastrawan ia menulis semua lini; dari cerpen, novel, puisi, hingga drama. Di ranah nonfiksi, tema yang digarapnya pun merentang panjang; sebutlah analisis sosial-politik, budaya, sejarah, hingga soal-soal keislaman. Keduanya ia jalani dengan intensitas dan kekhusyukan yang sama.

Karenanya, tak heran jika Wan Anwar dalam Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya (2007) memuji demikian: “Kualitas dan produktivitas Kuntowijoyo menulis karya sastra sebanding dengan kekuatannya menulis karya ilmiah dalam bidang sejarah atau pemikiran sosial berbasis Islam” (hlm. 4).

Kuntowijoyo lahir di Bantul, Yogyakarta pada 18 September 1943. Ia tumbuh dalam keluarga seniman. Ayahnya seorang dalang dan pembaca macapat, sementara kakek buyutnya adalah kaligrafer. Agaknya lingkungan keluarga ini ikut berpengaruh terhadap minatnya pada sastra.

Kuntowijoyo kecil mulai belajar mendongeng dan mendeklamasikan puisi di sebuah surau di desa Ngawonggo, Klaten. Di sana ia mendapat bimbingan dari M. Saribi Arifin dan Yusmanan, dua sastrawan kondang kala itu. Waktu luang yang ada dimanfaatkannya untuk membaca karya-karya penulis masyhur Indonesia dan dunia.

Wan Anwar menulis, “Begitu pula ketika memasuki SMP, ia membaca karya Hamka, H.B. Jassin, Pramoedya Ananta Toer, Nugroho Notosusanto, hingga pada masa SMA berkenalan dengan karya dunia, misalnya karya Charles Dickens dan Anton Chekov” (hlm. 3).

Pada 1964, semasa berkuliah di Jurusan Sejarah UGM, ia mulai menulis novel pertamanya. Novel yang ia juduli Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari itu kemudian diterbitkan sebagai cerbung di harian Djihad pada 1966.

Menurut Mochamad Irfan Hidayatullah dalam tesisnya di UI yang berjudul Estetika Sastra Profetik: Analisis Struktural-Semiotik Atas Gagasan dan Karya Sastra Kuntowijoyo (2006), bakat menulis Kuntowijoyo memang semakin kilap saat berkuliah. Tak hanya menulis, putra dalang ini juga sempat mendirikan Lembaga Kebudayaan dan Seniman Islam (Leksi). Ia terlibat pula dalam Studi Grup Mantika bersama Dawam Rahardjo, Sju’bah Asa, Ikranagara, Abdul Hadi W.M., dan Arifin C. Noer (hlm. 36).

Karya cerpen Kuntowijoyo turut mengisi halaman majalah sastra seperti Budaya Jaya dan Horison juga rubrik sastra di Kompas dan Republika. Sementara karya ilmiahnya—meliputi soal-soal sejarah, budaya, dan keislaman—banyak terbit di jurnal Prisma, Ulumul Quran, dan Keadilan. Serangkaian tulisannya tentang politik Islam juga pernah menjadi pengisi tetap majalah Ummat pada 1996.

Novel Potret Sosial

Bagi pembaca pemula, novel Pasar adalah karya yang tepat untuk memasuki khazanah Kuntowijoyo. Pasar adalah tengara kedalaman intelektual Kuntowijoyo sebagai penulis fiksi cum sejarawan sosial.

Kisah bergulir di sebuah pasar desa yang dikelola Pak Mantri Pasar. Sehari-hari ia dibantu Paijo, seorang pemuda desa yang sembrono tetapi patuh sekali kepada majikannya. Di pasar juga ada Bank Pasar yang dikelola seorang pegawai muda bernama Zaitun.

Konflik-konflik dalam novel ini bermula dari dara-dara liar yang dirawat Pak Mantri Pasar. Dara-dara itu bikin jengkel para pedagang karena memakan dagangan dan tahinya bikin kotor di mana-mana. Para pedagang jadi ogah bayar retribusi dan malah berjualan di jalan desa.

Hubungan Pak Mantri Pasar dan Zaitun pun jadi renggang karenanya. Pasar yang kotor dan pedagang yang kabur membuat Bank Pasar kehilangan nasabah. Tambah runyam lagi kala Kasan Ngali, saudagar kaya yang berumah di seberang pasar, membuka halamannya untuk dijadikan pasar baru.

Plot lalu mengarah pada cara-cara Pak Mantri Pasar mengatasi keadaan itu. Mulanya dengan cara-cara kolot hingga ia mau membuka diri. Kisah lainnya adalah bagaimana Paijo bertumbuh dari seorang kawula hingga ia siap jadi penerus Pak Mantri Pasar.

Pasar ini istimewa karena ia dapat dibaca sebagai novel sosiologis yang memotret perubahan sosial masyarakat Jawa agraris di akhir 1960-an. Ia adalah kisah tentang masyarakat dalam transisi. Novel ini menampilkan benturan tokoh-tokohnya yang mewakili kelas priyayi agraris (Pak Mantri Pasar), kawula (Paijo), para birokrat (Zaitun, polisi, camat), dan saudagar kapitalis (Kasan Ngali).

Cerita macam itu, sebagaimana diakui Kuntowijoyo, lahir dari endapan pengalaman semasa muda. Ia terbiasa berpindah-pindah tempat tinggal dan akrab dengan tempat-tempat komunal perdesaan macam surau dan pasar. Lain itu spektrum bacaannya yang luas juga turut andil. Itulah semua resepnya meramu karya.

Kuntowijoyo dapat menulis perubahan sosial dalam bentuk novel yang demikian memikat juga tak lepas dari dasar keilmuannya, sejarah. Sebagai sejarawan, kajian-kajiannya menitik pada soal sosial dan perdesaan.

“Pencerapan dan penghayatannya tentang manusia dan masyarakat sebagai bahan dasar untuk menulis sastra dibantu oleh pemahamannya atas sejarah suatu masyarakat. [...] Novel Pasar (1972), Mantra Penjinak Ular (2000), dan Wasripin dan Satinah (2003) memperlihatkan bagaimana perubahan sosial berlangsung dalam perkembangan sejarah masyarakat tempat tokoh-tokoh karya itu hidup,” demikian tulis Wan Anwar dalam bukunya (hlm. 9).

Sastra Profetik

Kuntowijoyo hampir selalu menjadikan Islam sebagai fundamen gagasannya. Ia cukup konsisten merujuk ajaran-ajaran Islam, terutama Alquran, sebagai dasar analisis terhadap peristiwa sejarah maupun masalah sosial yang diamatinya. Menurut Dawam Rahardjo, apa yang dilakukan Kuntowijoyo itu penting untuk mengimbangi paradigma orientalisme sarjana-sarjana Barat.

Namun begitu, Kuntowijoyo tak lantas memaksakan diri menghindari segala teori dan metodologi konvensional Barat. Perkakas keilmuan Barat ia perlakukan sebagai pengayaan pemikiran. Dari situ ia berupaya melakukan sintesis pemikiran Barat dan Islam. Sebagai misal bisa kita tengok upayanya menafsir Alquran dengan memakai kerangka keilmuan Barat tersebut.

“Misalnya saja dia menangkap makna yang terkandung dalam Surah Ali Imran ayat 110, dengan konsep-konsep yang dikenal umum yaitu humanisasi dan emansipasi untuk istilah ‘amr ma’ruf’, liberasi untuk ‘nahiy munkar’, dan transendensi untuk ‘iman kepada Allah’. Di sini dia berupaya memahami Al-Quran dalam kerangka ilmu, terutama teori-teori sosial,” tulis Dawam dalam pengantarnya untuk kompilasi karya Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (2008: 28).

Dari kerangka pikir inilah kemudian lahir gagasannya tentang sastra profetik. Sudah sejak 1982 Kuntowijoyo menengarai perlunya sastra yang melawan arus dehumanisasi sebagai dampak negatif modernisasi. Sastra yang tak hanya melihat manusia sebagai instrumen industri. Sastra yang tak hanya sebatas ekspresi atau laku ibadah penulisnya belaka, tetapi juga punya kekuatan transformatik.

“Dengan kata lain, sastra dihadapkan pada realitas untuk melakukan kritik dan penilaian sosial-budaya yang beradab. Itu sebabnya sastra profetik adalah sastra yang terlibat dengan dan dalam sejarah kemanusiaan/kemasyarakatan,” terang Wan Anwar (hlm. 155).

Sastra profetik yang mengedepankan nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi ini memang tampak dalam karya-karya Kuntowijoyo. Hanya saja ketiga nilai itu tak hadir secara bersamaan dalam satu karya. Menurut Wan Anwar masing-masing karya memiliki penekanan pada salah satu nilai.

Antologi sajak Suluk Awang-uwung dan novel Khotbah di Atas Bukit, misalnya, lebih menonjolkan nilai transendensi. Novel lainnya, Mantra Penjinak Ular dan Wasripin dan Satinah, cenderung menonjolkan aspek liberasi (hlm. 160-161).

Infografik Mozaik Kuntowijoyo

Infografik Mozaik Kuntowijoyo

Tak Bisa Disetop Penyakit

Pada awal 1992 sastrawan cum sejarawan Kuntowijoyo dikabarkan sakit akibat meningoencephalitis. Kondisi itu tak memungkinkan dirinya untuk bekerja ataupun menulis. Padahal, ia termasuk penulis fiksi yang produktif.

Hingga saat itu setidaknya ia telah menerbitkan delapan karya sastra berupa novel, naskah drama, dan antologi puisi. Di antara karya sastranya yang terkenal adalah Suluk Awang-uwung (kumpulan puisi, 1975), Pasar (novel, 1972), Khotbah di Atas Bukit (novel, 1976), dan Topeng Kayu (drama, 1973).

Ketika kabar tentang sakitnya Kuntowijoyo yang cukup parah itu tersebar, beberapa koleganya pesimistis. Penyakit itu memang membuatnya tak cekatan bergerak dan kesulitan berbicara. Seorang kawannya di Jurusan Sejarah UGM bahkan menganggap “misi” Kuntowijoyo telah berakhir.

“Dalam kenyataannya, pernyataan itu sama sekali tidak benar, Kuntowijoyo terus menulis fiksi dan buku-buku ilmiah tentang sejarah dan kebudayaan yang sangat banyak diminati oleh para cerdik pandai dari kalangan manapun,” bantah Bakdi Soemanto dalam pengantarnya untuk kumpulan cerpen Kuntowijoyo, Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi (2013: ix).

Kuntowijoyo nyatanya belum habis. Ia tetap menulis walaupun kecepatannya kini terbatas. Seturut pengakuan sang istri Susilaningsih, sebagaimana dicatat Waryani Fajar Riyanto dalam “Seni, Ilmu, dan Agama: Memotret Tiga Dunia Kuntowijoyo (1943-2005) dengan Kacamata Integral(isme)” yang terbit di jurnal Politik Profetik (2013), Kuntowijoyo membiasakan diri menulis hanya dengan satu jari.

“Satu hal yang menurut saya kelebihan dari Pak Kunto adalah, walaupun dengan satu jari saja, yaitu jari telunjuk kanan itu, Pak Kunto mempunyai kesabaran yang luar biasa, ketika idenya itu sudah sangat besar, ia dengan sabar menulis satu persatu huruf,” tutur Susilaningsih.

Setelah dua tahun rehat dari dunia intelektual dan sastra, ia kembali dengan karya-karya pilih tanding. Cerpen-cerpennya—“Lelaki yang Kawin dengan Peri”, “Pistol Perdamaian”, dan “Anjing-anjing Menyerbu Kuburan”—terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas berturut-turut pada 1995 hingga 1997. Kompilasi-kompilasi esainya juga terbit setelah itu. Sebut misalnya Demokrasi dan Budaya Birokrasi (1994), Identitas Politik Umat Islam (1997), hingga yang cukup terkenal Muslim Tanpa Masjid (2001).

Ia tak berhenti menulis hingga mangkat pada 22 Februari 2005, tepat hari ini 14 tahun lalu. Kini, atas tinggalan karya-karya itu, kita mengenal Kuntowijoyo setidaknya dalam tiga predikat: sastrawan, sejarawan, dan intelektual muslim.

Baca juga artikel terkait SASTRAWAN INDONESIA atau tulisan lainnya dari Fadrik Aziz Firdausi

tirto.id - Humaniora
Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan