Bagaimana Islam Berkembang dan Bertahan di Manokwari

Oleh: Mawa Kresna - 11 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Jumlah populasi muslim di Manokwari tak cuma karena transmigrasi, tapi juga karena sebagian penduduk asli Papua memilih memeluk Islam.
tirto.id - Muhammad Rezki Hidayat adalah seorang pemuda berbadan tegap, berkulit gelap, dan berambut keriting. Di tangan kirinya ada bekas tato yang sudah dihapus. Saya bertemu dengannya saat ia hendak salat Jumat di masjid pondok pesantren Hidayatullah, 14 Desember 2018.

Rezki, sapaan sehari-harinya, adalah orang Kaimana, tapi ia lahir dan tumbuh besar di Manokwari. Ia lahir dari keluarga muslim Papua. Ayahnya menjadi pemeluk Islam lantaran kakek dan nenek Rezki memutuskan pindah Islam.

“Keluarga besar masih banyak yang Kristen, tapi keluarga kami sudah Islam. Saya sudah sejak lahir,” kata Rezki.

Rezki tidak tahu detail penyebab kakek neneknya memutuskan memeluk Islam. Cerita yang sempat ia dengar di Kaimana memang banyak orang asli Papua yang memeluk Islam. Sehingga bukan hal istimewa bila ada keluarga di sana yang pindah agama.

“Mungkin mendapat hidayah, saya juga begitu, dulu saya tidak salat, sekarang mencoba mendekatkan diri kepada Allah,” ujarnya.

Rezki adalah satu dari sekian banyak potret keluarga asli Papua yang memeluk Islam. Per 2015, pemeluk Islam di Manokwari mencapai 59.590 orang, sedangkan Katolik hanya 19.378 orang. Pemeluk Kristen masih mendominasi dengan jumlah 205.089 orang.

Ketua MUI Papua Barat, Ahmad Nausrau, mengatakan perkembangan Islam di Manokwari tidak terlalu signifikan. Namun, bila melihat dalam wilayah yang lebih besar, yakni Papua Barat, perkembangan Islam sangat signifikan. Sebagian besar penduduk Islam bermukim di Bintuni, Fakfak, Kaimana, Raja Ampat, dan Sorong.

“Itu sebab secara politis kalau anda lihat, pemimpin di Papua Barat selalu kombinasi Kristen dan Islam untuk Gubernur dan Wakil Gubernur, karena boleh dibilang kita ini hampir fifty-fifty,” kata Nausrau.

Di empat daerah yang disebut Naurau itu, Islam berkembang bukan hanya karena faktor transmigrasi, tapi penduduk asli memang sudah memeluk Islam sejak dulu. Mereka mengenal Islam lewat masuknya para pedagang dari Makassar dan Ternate pada zaman dulu.

“Kalau dilihat sejarahnya, Islam itu masuk lewat perdagangan, kita lebih dulu masuk di Papua lewat jalur perdagangan,” katanya.

Peran Ormas Islam

Perkembangan Islam di Papua Barat, khususnya di Manokwari, sangat bergantung pada organisasi masyarakat Islam. Beberapa ormas Islam di Manokwari adalah Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Hidayatullah, dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). NU, Muhammadiyah, dan Hidayatullah termasuk komunitas yang besar, sedang LDII hanya komunitas kecil.

Ketiga ormas besar itu sudah membangun sarana pendidikan Islam masing-masing. Mereka membuat sejumlah pesantren di pinggiran Kota Manokwari di daerah transmigrasi.

Muhammad Sanusi, Ustaz di pesantren Hidayatullah, sudah mulai berdakwah di Papua sejak awal 1990-an. Ia pernah tinggal lama di Sorong, mengajar di pesantren Hidayatullah di sana. Dua tahun lalu, ia dipindahkan ke Hidayatullah di Manokwari.

“Hidayatullah ini ormas besar juga. Kami pusatnya ada di Jakarta, tapi sejarahnya dari Kalimantan,” katanya.

Ormas Hidayatullah tidak hanya fokus pada pesantren, tapi juga memiliki lini organisasi seperti Baitul Maal Hidayatullah, Islamic Medical Centre, dan yang paling terkenal adalah majalah Hidayatullah. Majalah ini adalah salah satu surat kabar Islam yang terkenal di Indonesia.

NU secara kultural juga melakukan dakwah dengan mendirikan pesantren-pesantren di Manokwari. Tanpa komando struktural dari organisasi, sejumlah kiai NU sudah bertransmigrasi ke Papua untuk tujuan dakwah. Mereka membuat pesantren sebagai pusat pembelajaran.

Muhammadiyah melakukan hal serupa melalui pendidikan. Mereka membuat sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Manokwari: STKIP Manokwari dan STIKES Manokwari. Sedangkan di Sorong mereka membuat Universitas Muhammadiyah.


Infografik HL Indepth Islamisasi Manokwari
Infografik HL Indepth Islamisasi Manokwari Penduduk

Gerakan Politik Islam

Salah satu dinamika politik yang menarik di Manokwari adalah cara partai Islam mendapatkan dukungan. Partai Islam seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS), misalnya, merekrut kader bukan hanya dari orang Islam tapi juga orang Kristen.

Salah satunya adalah Frans Mansim, kepala suku besar Mansin. Frans menjadi calon legislatif DPRD Kabupaten Manokwari Dapil 3 (Distrik Tanah Rubuh, Distrik Manokwari Selatan, Distrik Manokwari Timur, dan Distrik Manokwari Utara).

Menjelang Natal 2018, Frans memasang baliho besar di jalan menjelang perbatasan Kota Manokwari. Frans berfoto mengenakan jas PKS dan membubuhkan ucapan selamat Natal 2018 dan tahun baru 2019, plus ditambahi kalimat: “Tuhan Memberkati”.

Politik kelompok Islam ini bermanfaat bagi perkembangan umat Islam di Manokwari. Dalam kasus rancangan Perda Manokwari Kota Injil, sejumlah politikus lintas partai yang beragama Islam didorong untuk mencegah agar perda itu tidak mendiskriminasikan umat Islam di Manokwari.

Perjuangan lewat jalur politik itu pernah dilakukan oleh Abdul Kholik Bukhori, pendiri pesantren Salafiyah di SP3, Prafi, sebuah distrik transmigran. Ia salah satu yang berperan menahan laju raperda Manokwari Kota Injil pada 2005. Peran itu kini dimainkan oleh kader-kader partai identik Islam, salah satunya Imam Muslih, kader PKS.

Pertarungan kebijakan itu berpengaruh pada perkembangan Islam. Misalnya, soal rencana pembatasan pembangunan rumah ibadah dalam Perda Manokwari Kota Injil. Sebelum ada perubahan, perda itu mempersulit pembangunan rumah ibadah baru dengan pelbagai syarat yang berbelit. Namun, melalui perjuangan politik dan lobi, aturan semacam itu bisa diminimalisir.

“Tidak banyak politisi Islam. Bisa dihitung jari. Jadi memang harus benar-benar bertarung dengan gagasan kalau ada di DPRD,” kata Abdul Kholik.

Baca juga artikel terkait PERDA INJIL atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight