Bagaimana Cina Merepons Tudingan Asal-Usul Covid-19

Oleh: Sekar Kinasih - 24 Juni 2021
Dibaca Normal 5 menit
Salng lempar tuduhan asal-usul Covid-19 terus terjadi antara AS dan Cina.
tirto.id - Sudah satu setengah tahun pandemi berlalu, namun asal-usul Covid-19 masih misterius.

Merangkum salah satu studi terbaru di jurnal Environmental Chemical Letters (2021), terdapat 3 skenario yang bisa menjelaskan dari mana Covid-19 berasal: langsung menular dari kelelawar, dijembatani oleh pangolin atau mamalia lainnya, atau melalui kebocoran dari laboratorium yang menjalankan eksperimen ekstraksi dan sekuens RNA atau rekayasa genetika pada kelelawar liar. Namun sampai hari ini, masing-masing hipotesis belum disokong bukti-bukti yang kuat.

Temuan tim pakar dari WHO yang rilis akhir Maret kemarin juga belum bisa menjawab hewan apa yang menjadi perantara antara kelelawar ke manusia, serta bagaimana infeksi dari binatang ke manusia bisa terjadi. Menurut mereka, transmisi Covid-19 dari binatang ke manusia tetap menjadi penjelasan paling potensial, sementara kebocoran lab dipandang “sangat tidak mungkin”.

Pada waktu bersamaan, otoritas Cina terus-menerus mendapat tekanan agar membuka akses data tentang asal-usul Covid-19 selebar-lebarnya kepada komunitas internasional. Dalam suatu pernyataan bersama, keprihatinan disampaikan oleh sejumlah negara besar dunia—di antaranya AS, Australia, Kanada, Inggris Raya, Norwegia, Israel sampai Jepang dan Korea Selatan—karena kesulitan yang dialami oleh tim dari WHO dalam menjalankan investigasi yang independen. Pasalnya, mereka dilaporkan sudah dihambat dan dibatasi aksesnya terhadap data tertentu.

Dirjen WHO Dr Tedros Adhanom juga menyerukan investigasi lebih lanjut untuk mengungkap asal Covid-19 dan menimbang semua hipotesis yang ada. Tak berapa lama kemudian, tuntutan serupa disampaikan oleh 18 ilmuwan dunia dalam surat terbuka di Science. Mereka berpendapat, hipotesis kebocoran virus dari lab dan penularan zoonosis (transmisi virus dari binatang ke manusia) penting untuk dipertimbangkan sampai betul-betul bisa dibuktikan.

Reaksi Otoritas Cina

Situasi semakin menegangkan seiring akhir Mei silam Presiden Joe Biden memerintahkan intelijen AS agar bekerja lebih keras dalam mengungkap asal-usul Covid-19, tak terkecuali menelusuri potensi kebocoran virus dari lab penelitian di Cina. Biden meminta laporannya siap dalam 90 hari.

Beijing tampak gusar dengan langkah pemerintah AS. Alih-alih negaranya diinvestigasi, mereka ingin agar tanggung jawab tentang asal penyebaran Covid-19 dipanggul bersama-sama oleh komunitas internasional. Sebagaimana dikutip dari situs resmi Kedubes Cina di Washington, mereka mendukung “kajian komprehensif tentang kasus-kasus awal Covid-19 yang ditemukan di berbagai belahan dunia dan investigasi menyeluruh pada pangkalan rahasia dan laboratorium biologis di seluruh dunia”.

Sikap di atas kembali ditegaskan melalui pemberitaan oleh media pro-Beijing Global Times. Mereka menyerukan bahwa Covid-19 sudah menyebar di negara-negara lain—tak terkecuali Amerika Serikat—sebelum kasus pertama diumumkan secara resmi oleh masing-masing pemerintah setempat. Kepala epidemiolog di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit milik pemerintah Cina, Zeng Guang, berpendapat bahwa pemerintah AS perlu disorot dalam investigasi selanjutnya, karena sedari awal pandemi dinilai lamban dalam melakukan tes, di samping memiliki sejumlah laboratorium yang melakukan riset-riset terkait senjata biologis.

Pandangan tersebut disuarakan tak lama setelah sejumlah studi mengungkap kemungkinan adanya kasus infeksi Covid-19 di Amerika Serikat sebelum resmi diumumkan (di AS, kasus Covid-19 pertama diumumkan tanggal 21 Januari 2020 pada pasien yang baru kembali dari Wuhan).

Pertengahan Juni kemarin, Associated Press melaporkan hasil studi yang dilakukan secara terpisah oleh tim peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan National Institutes of Health (NIH). Dalam studi yang rilis akhir 2020 silam, tim dari CDC mempelajari 7.000 sampel donasi darah dari Palang Merah Amerika. Berdasarkan temuannya, sejumlah kasus infeksi diduga sudah ada seawal-awalnya pada pertengahan Desember 2019.

Sementara itu, studi dari NIH yang diterbitkan pada 15 Juni di jurnal Clinical Infectious Diseases menggunakan sampel darah 24.000 orang selama 3 bulan pertama tahun 2020. Hasilnya, sebanyak 7 partisipan di 5 negara bagian diduga sudah terinfeksi Covid-19 beberapa minggu sebelum kasus pertama diumumkan oleh pemerintah. Infeksi paling dini diduga terjadi pada malam Natal tanggal 24 Desember 2019. Menariknya, para partisipan tinggal di kawasan yang jauh dari New York, lokasi yang menjadi pusat penyebaran kasus Covid-19 sepanjang bulan Maret-Mei 2020.

Baik riset dari CDC dan NIH sama-sama menguji antibodi dalam darah untuk mengungkap ada-tidaknya riwayat infeksi oleh virus. Namun, masih melansir Associated Press, terdapat keterbatasan dalam riset mereka. Salah satunya terkait kesulitan untuk membedakan antibodi penangkal Covid-19 dan antibodi yang melawan coronavirus lain, termasuk penyebab penyakit flu biasa. Singkatnya, temuan ini dipandang belum pasti, namun tidak menutup kemungkinan bahwa segelintir kasus Covid-19 sudah ditemui di AS sebelum publik menyadarinya.

Untuk menyokong pandangan tentang asal-usul Covid-19 dari berbagai titik lokasi, otoritas Cina juga berpegang pada temuan di Perancis. Melansir artikel dari Radio France Internationale yang rilis pada Mei 2020, radiolog di rumah sakit swasta Albert Schweitzer di Colmar, perbatasan Jerman-Perancis, mempelajari lebih dari 2.400 foto x-ray paru-paru pasien yang diambil sepanjang Oktober 2019-April 2020. Hasilnya, pada pertengahan November 2019, ditemukan dua kasus “anomali khas yang disebabkan Covid-19”. Sebanyak 12 hasil serupa ditemui pada rontgen bulan Desember dan Januari.

Selain itu, masih ada studi di International Journal of Antimicrobial Agents (2020) yang mengulas riwayat kesehatan seorang pria di Perancis—tanpa pernah bepergian ke Cina—yang sempat menjalani rawat inap di rumah sakit pada 27 Desember 2019 karena Covid-19.

Terlepas dari itu, menurut Samuel Alizon dari French National Centre for Scientific Research di Montpellier University, penting untuk membedakan kasus-kasus terisolasi (kejadian tunggal) dengan “gelombang epidemik”. Kluster Covid-19 di Perancis (sekaligus pertama di Eropa) baru terlacak pada 24 Januari 2020 pada 3 orang, salah satunya baru saja berkunjung ke Wuhan. Setelah itu, infeksi Covid-19 mulai merebak di Perancis, diikuti di kawasan Eropa lainnya.

Di Cina, transmisi Covid-19 antarmanusia sudah terjadi di Wuhan sejak pertengahan Desember 2019. Hal ini diungkapkan dalam studi yang dilakukan sekelompok ilmuwan Cina di The New England Journal of Medicine. Dalam penelitian ini, mereka menganalisis 425 pasien pertama Covid-19 di Wuhan yang jatuh sakit sepanjang 10 Desember 2019 sampai 4 Januari 2020.

Shi Zhengli dan Prestasi Lembaga Cina

Shi Zhengli adalah ahli virologi kenamaan Cina yang dikenal sebagai “Wanita Kelelawar” karena aktivitasnya memimpin ekspedisi berburu kalong di belantara hutan dan gua. Kerap difoto dalam balutan pakaian pelindung di lab, Shi dan timnya di Institut Virologi Wuhan merupakan figur di balik berbagai penemuan ilmiah penting untuk mengidentifikasi kelelawar sebagai reservoir coronavirus, tepatnya setelah SARS mewabah pada 2002 dan menimbulkan ratusan korban jiwa.

New York Times dalam ulasan tentang profil Shi, menyebutnya sebagai “simbol kemajuan ilmu pengetahuan Cina, garda terdepan riset virus-virus yang baru bermunculan”. Pada 2019, American Academy of Microbiology memberi Shi penghargaan atas kontribusinya di bidang virologi, sementara kolega Shi dari Amerika Serikat, seperti Dr. Robert C. Gallo dari Institut Virologi Manusia di University of Maryland, memujinya sebagai “ilmuwan termahsyur” yang sangat berhati-hati dan beretos kerja tinggi.

Baru saja, Institut Virologi Wuhan ditunjuk oleh Akademi Sains Cina sebagai kandidat penerima Outstanding Science and Technology Achievement Prize berkat usahanya mengidentifikasi Covid-19. Salah satu pencapaian lembaga ini merupakan studi yang dilakukan Shi dkk pada awal pandemi yang berhasil mengungkap kemiripan Covid-19 dengan coronavirus pada kelelawar (BatCoV RaTG13).


Di balik gemerlap prestasi Shi dan lembaganya, selama pandemi Covid-19 berlangsung mereka justru disorot karena punya riwayat melakukan eksperimen berisiko. Dalam penelitian yang hasilnya diterbitkan pada 2017, Shi dkk mencoba menyusun hibrida baru dari coronavirus pada kelelawar. Tujuannya untuk mempelajari sejauh mana virus mampu menginfeksi sel tubuh manusia. Meskipun dipandang penting untuk menghadapi potensi wabah di masa depan, penelitian yang disebut gain-of-function ini juga dikritik karena berisiko.

Situasi semakin runyam dengan dugaan bahwa laboratorium Shi pernah menerima pendanaan dari pemerintah Amerika Serikat melalui EcoHealth Alliance, lembaga swadaya berbasis di New York dengan visi mencegah kemunculan wabah penyakit menular. Katherine Eban Katherine Eban dalam artikel investigasi di Vanity Fair edisi Juni, menjelaskan bagaimana EcoHealth menerima anggaran dari pemerintah AS (termasuk dari National Institutes of Health/ NIH) dan menyalurkannya pada laboratorium dalam bidang riset virologi, tak terkecuali Institut Virologi Wuhan.

Namun, Mei kemarin, NIH mengelak tudingan sudah membiayai riset gain-of-function pada coronavirus. Dalam surel yang ditujukan kepada New York Times, Shi Zhengli juga menegaskan bahwa laboratoriumnya tidak pernah meneliti atau bekerjasama terkait eksperimen-eksperimen untuk meningkatkan daya penularan virus.

Infografik Kebocoran Lab Wuhan
Infografik Kebocoran Lab Wuhan. tirto.id /Fuad


Masih melansir penelusuran Eban dari Vanity Fair, presiden EcoHealth Alliance, Peter Daszak, diketahui sebagai sutradara di balik surat pernyataan bersama para ilmuwan di jurnal bergengsi The Lancet pada awal pandemi untuk menyerukan asal-usul non-alamiah Covid-19 sebagai teori konspirasi. Kelak, pernyataan ini membuat sejumlah ilmuwan merasa galau untuk membahas segala kemungkinan terkait asal-usul Covid-19. Di samping itu, otoritas Cina juga terlihat nyaman bekerjasama dengan Daszak. Ketika pemerintah AS menyodorkan dokter hewan dari FDA, epidemiolog CDC dan virolog NIAID sebagai kandidat delegasi dalam misi kerjasama WHO-Cina di Wuhan, tak satupun dipilih melainkan Peter Daszak.



Daszak, dalam misinya bersama WHO-Cina, merasa tidak perlu mempertanyakan database berisi 22.000 sampel virus dan sekuens di Insitut Virologi Wuhan karena sudah tahu gambaran besar isinya, terlebih sebagian besar diperoleh melalui kerjasama riset dengan EcoHealth. “Tidak ada bukti bahwa di database tersebut terdapat virus-virus yang lebih dekat pada SARS-CoV-2 [Covid-19] daripada RaTG13, sesederhana itu,” ujarnya pada Maret silam.

Di balik segala kecurigaan yang ditujukan pada Shi dan institusinya, setahun yang lalu Shi sudah menjelaskan pada Scientific American bahwa sekuens genetik pada Covid-19 tidak memiliki kesamaan dengan virus-virus yang dikoleksi di laboratoriumnya. Pernyataan Shi didukung salah satunya oleh perwakilan dari Australia yang terlibat dalam investigasi bersama WHO-Cina awal tahun ini, Dominic Dwyer. Dalam ulasannya di Conversation pada Februari silam, Dwyer menegaskan bahwa lab Wuhan hanya menyimpan sekuens genetik virus RaTG13 (saudara terdekat Covid-19), alih-alih melakukan pembiakan virus melalui kultur. Oleh karena itu, penyebaran Covid-19 karena kebocoran virus dari lab kemungkinannya sangat kecil, di samping tergolong jarang terjadi.

Di sisi lain, perlu dipahami bahwa usaha untuk mengungkap asal-usul virus bisa memakan waktu lama. Melansir artikel dari Nature, dibutuhkan sekitar 14 tahun untuk memastikan asal-usul SARS, yang berasal dari kelelawar dan kemungkinan diperantarai oleh musang. Sama halnya dengan Ebola yang mewabah pada 2013-16, sampai sekarang bahkan belum diketahui sumbernya binatang apa dan berasal dari mana. Investigasi untuk mengungkap asal-usul virus memang rumit, tegas Nature, karena binatang perantara yang terinfeksi virus (seperti musang pada kasus SARS) keberadaannya cenderung sporadis.

Baca juga artikel terkait TEORI KONSPIRASI atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Windu Jusuf
DarkLight