Bagaimana Cegah Covid-19 saat Ikut Demo di Masa Pandemi Corona?

Oleh: Addi M Idhom - 6 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Bagaimana cara meminimalisir risiko penularan Covid-19 saat ikut demonstrasi pada masa pandemi corona?
tirto.id - Pengesahan Omnibus Law RUU Cipta Kerja dalam Rapat paripurna DPR RI pada Senin (5/10/2020) segera memicu demonstrasi di berbagai tempat.

Tak hanya di dunia nyata, media sosial pun diramaikan dengan luapan kekecewaan warganet atas pengesahan beleid yang didukung oleh pemerintahan Jokowi tersebut.

Di jalanan, demonstrasi meletup sejak hari pengesahan UU Cipta Kerja. Misalnya, ribuan massa aksi dari elemen buruh di Tangerang dan Bekasi berunjuk rasa. Mereka hendak menuju Jakarta, meskipun lantas dicegat oleh polisi dan TNI.

Gelombang demonstrasi berlanjut pada Selasa (6/10/2020). Di Kabupaten Bandung, massa buruh yang menolak pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja sempat memadati Jalan Raya Bandung-Garut di kawasan Kecamatan Rancaekek. Mereka long march mulai dari Rancaekek, hingga ke arah Gerbang Tol Cileunyi dengan jalan kaki dan menaiki sepeda motor.

Sementara di Serang, massa mahasiswa menggelar unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja hingga Selasa malam. Mereka menutup jalan Jendral Sudirman, Kota Serang, sejak Selasa sore. Aksi itu sempat melumpuhkan jalan persimpangan Ciceri menuju pusat Kota Serang.

Massa mahasiswa dari berbagai elemen juga menggelar demonstrasi di depan Gedung DPRD Jabar, Kota Bandung, pada 6 Oktober 2020. Aksi berujung ricuh dan dibubarkan oleh polisi dengan gas air mata. Massa mahasiswa itu sempat melakukan long march mengelilingi sejumlah jalanan padat di Kota Bandung.


Cara Minimalisir Risiko Penularan Covid-19 saat Ikut Demo

Demonstrasi serupa terjadi di banyak tempat lain. Aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja kemungkinan juga akan berlanjut pada beberapa hari mendatang. Sementara pandemi virus corona belum juga mereda di banyak wilayah Indonesia.

Lantas, bagaimana cara aman untuk menghindari penularan Covid-19 saat berdemonstrasi pada masa pandemi corona?

Juru Bicara Satgas Penanggulangan COVID-19 Wiku Adisasmito meminta kepada masyarakat yang ingin menggunakan haknya dalam berdemokrasi agar tetap menerapkan protokol kesehatan, yakni seperti menjaga jarak fisik dengan orang lain dan menggunakan masker.

"Klaster industri sudah banyak bermunculan. Ini tentunya juga berpotensi mengganggu kinerja pabrik dan industri lainnya dan potensi serupa juga akan muncul di kegiatan berkerumun yang dilakukan hari ini," kata Wiku, seperti diberitakan Tirto pada Selasa (6/10/2020).

"Maka dari itu untuk menghindari, kami imbau masyarakat yang berpartisipasi untuk disiplin melaksanakan semua protokol kesehatan demi keamanan kita semuanya," tambah Wiku.

Di negara-negara lain, demo besar-besaran pada masa pandemi virus corona dengan massa ribuan orang sudah pernah terjadi saat gerakan protes Black Lives Matter meledak di Amerika Serikat dan Eropa. Demo memprotes kematian warga kulit hitam AS, George Floyd itu juga sempat memicu kekhawatiran adanya penularan virus corona di antara peserta aksi.

Mengutip laporan The Guardian, sejumlah ilmuwan membenarkan demo Black Lives Matter berisiko memicu penularan Covid-19. Namun, di antara mereka tetap mendukung aksi itu dan ikut demo.

Mereka juga menyarankan para peserta demonstrasi untuk menerapkan sejumlah protokol yang dapat meminimalisir risiko penularan Covid-19.

"Saya memakai masker ganda, dan saya memakai sarung tangan, itulah yang saya rasa paling nyaman," kata Lauren Powell, ahli epidemiologi kepada The Guardian.

"Jika Anda memakai masker, pakailah sepanjang waktu. Saya melihat beberapa pengunjuk rasa melepas masker mereka untuk bernyanyi bersama, padahal saat itulah Anda paling membutuhkan masker karena ada potensi penularan Covid melalui droplet," ujar Powell.

Seorang dokter Afrika-Amerika, Georges Benjamin mengakui ada risiko penularan Covid-19 saat mengikuti aksi Black Lives Matter. Namun, Benjamin menilai kekerasan polisi AS terhadap warga kulit hitam juga merupakan wabah yang mengancam nyawa dan harus dihentikan.

"Keluarlah bersama kerumunan lebih kecil, kenakan masker, bawa hand sanitizer. Hindari berjabat tangan dan tos, selalu menjaga jarak fisik. Batasi waktu Anda di luar. Dan jelas, jika Anda memiliki gejala Covid-19, jangan keluar [ikut aksir]," demikian saran Benjamin kepada para peserta aksi.

Sementara VOX melaporkan, berdasarkan pendapat sejumlah ahli epidemiologi dan dokter, ada banyak cara (selain memakai masker) untuk mengurangi risiko penyebaran virus corona saat mengikuti demonstrasi. Risiko penularan Covid-19 memang tidak bisa dihilangkan sama sekali, tetapi dapat diminimalisir.

Merangkum laporan VOX dan Live Science, serta saran dari New York City Department of Health and Mental Hygiene (NYC Healthy), berikut tips meminimalisir risiko penularan Covid-19 saat ikut demonstrasi, seperti yang pernah disarankan untuk peserta aksi Black Lives Matter.

  • Jangan ikut aksi jika sakit, ukur suhu tubuh sebelum keluar rumah
  • Selalu pakai masker
  • Pakai pelindung wajah (face shield)
  • Pakai sarung tangan tahan panas
  • Pakai pelindung mata untuk mencegah cedera
  • Tetap terhidrasi (bawa air minum cukup)
  • Bawa pembersih tangan (hand sanitizer)
  • Bawa perban
  • Jangan berteriak
  • Pakai tanda dan pembuat kebisingan sebagai ganti teriakan, seperti drum dan lainnya
  • Bergabung dalam grup kecil peserta aksi
  • Jaga jarak 6 kaki (1,8 meter) dari grup lain
  • Menjaga jarak fisik dengan siapa pun yang tak dikenal
  • Jangan berjabat tangan, tos atau berpelukan
  • Sering-seringlah mencuci tangan saat ikut demo (bisa pakai hand sanitizer)
  • Jika terkena semprot air campuran minyak dan merica, mata jangan digosok tapi dikedipkan sebanyak mungkin dan kemudian basuh dengan sampo bayi serta air
  • Sebisa mungkin hindari gas air mata (usahakan pakai kaca mata pelindung)
  • Ingat, menyentuh mata, mulut dan hidung dengan tangan berisiko menularkan Covid-19
  • Mandi dan cuci pakaian setelah tiba di rumah usai ikut demo
  • Jika mampu, jalani tes Covid-19 pada 4-5 hari setelah ikut demo (untuk mitigasi risiko).



Baca juga artikel terkait COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - )

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight