Menuju konten utama

Bagaimana Cara Memulihkan Kehilangan Penciuman Akibat Covid-19?

Kehilangan penciuman menjadi salah satu gejala awal Covid-19 yang bisa pulih dalam jangka waktu tertentu.

Bagaimana Cara Memulihkan Kehilangan Penciuman Akibat Covid-19?
Ilustrasi Anosmia. foto/IStockphoto

tirto.id - Anosmia atau kehilangan daya penciuman, menjadi salah satu gejala awal dari Covid-19. Orang yang mengalaminya menjadi tidak bisa mencium aroma apa pun di sekitarnya. Biasanya, juga disertai dengan hilangnya kemampuan lidah dalam mengenali rasa. Laman Healthline menulis, sekitar 86 persen penderita Covid-19 kehilangan sebagian atau seluruh kemampuannya untuk mencium.

Anosmia dapat terjadi ketika virus menempel pada reseptor ACE2. Reseptor tersebut mempunyai sel yang mengelilingi rongga hidung atas. Selanjutnya, terjadi peradangan yang merusak saraf penciuman.

Mengutip laman Uconn, beberapa orang yang terkena Covid-19 diketahui memiliki gejala pada sistem saraf pusat. Virus dapat mencapai otak melalui saraf penciuman secara langsung. Banyak pasien mengatakan, gejala anosmia terjadi pada mereka dan umumnya segera pulih.

Sementara itu, studi di 18 rumah sakit Eropa menemukan, hampir 55 persen pasien Covid-19 dengan gejala ringan, mengalami masalah penurunan indera penciuman. Dan, reaksi anosmia dapat berlangsung sekitar 22 hari.

Sebaliknya, pada 37 persen penderita Covid-19 dengan status keparahan sedang atau kritis, dilaporkan mengalami kehilangan penciuman cukup rendah yaitu 6,9 persen. Belum ditemukan alasan pasti kenapa anosmia lebih banyak dialami penderita dengan gejala ringan, dibanding mereka yang bergejala sedang atau berat.

Jonathan Overdevest, asisten profesor bedah rinologi dan tengkorak dasar di Universitas Columbia menyatakan, jumlah kasus Covid-19 yang lebih ringan berpotensi mengalami hal itu dibandingkan dengan kasus yang parah.

Gangguan penciuman ini biasanya akan membaik dengan cepat. Sekitar 75 persen pasien Covid-19 mengalami penormalan penciuman dalam 2-6 minggu. Sementara 25 persennya memerlukan waktu lebih lama.

Kendati demikian, belum diketahui apakah virus corona mampu menyebabkan anosmia secara permanen. Hanya saja, pada virus jenis lain, beberapa di antaranya dapat mengakibatkan kehilangan penciuman selamanya. Pada pasien Covid-19, untuk memulihkan penciuman kemungkinan dilakukan pelatihan penciuman dan sesekali dilakukan irigasi steroid.

Pada pasien yang sudah sembuh penciumannya, bisa jadi mereka mengalami parosmia setelah 1,5 sampai 2 bulan berikutnya. Pasrosmia adalah sensasi kemunculan bau busuk yang cukup menganggu. Namun, ini mungkin tidak terjadi pada setiap pasien.

Anosmia tidak hanya menjadi gejala Covid-19. Kehilangan penciuman dapat dialami orang-orang yang sedang menghadapi penyakit lain, misalnya flu atau pilek. Kemampuan penciuman mereka akan menurun tajam.

Namun, anosmia yang perlu diwaspadai jika tidak disertai oleh gejala lain seperti hidung tersumbat. Ada baiknya kehilangan bau yang seperti itu segera diperiksakan ke tempat layanan kesehatan untuk didiagnosis lebih lanjut.

Apabila anosmia turut disertai demam, batuk, sakit tenggorokan, atau gejala khas Covid lainnya, sebaiknya segera menghubungi tim kesehatan khusus Covid-19 dan lakukan isolasi mandiri sampai semua dinyatakan aman secara medis.

Baca juga artikel terkait CORONA COVID-19 atau tulisan lainnya dari Ilham Choirul Anwar

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Alexander Haryanto