Obituari

Bagaimana BJ Habibie dan Teori Crack Selamatkan Industri Dirgantara

Oleh: Ahmad Zaenudin - 12 September 2019
Dibaca Normal 3 menit
Habibie melahirkan crack propagation theory. Berguna untuk mengurangi risiko kecelakaan pesawat ukuran besar.
tirto.id - Kamis pagi, 10 Agustus 1995, langit Indonesia bertabur harapan dan kecemasan. Kala itu Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN)—kini bernama PT Dirgantara Indonesia—bersama otak di belakangnya, Bacharuddin Jusuf Habibie, hendak melakukan hajatan bersejarah. N250 alias “Gatotkaca”, pesawat bertipe turboprop dengan 70 kursi bikinan IPTN, hendak melakukan uji terbang perdana atau maiden flight.

Dalam artikel berjudul “Fasten Your Seat Belts: A Top Minister Gambles on a Smooth Flight,” Asiaweek menyebut bahwa uji terbang itu adalah perjudian Habibie. Indonesia, republik yang baru berumur 50 tahun dan masih berstatus negara berkembang, yang bahkan belum memiliki kemampuan menciptakan motor atau mobil, berani-beraninya langsung hendak membuat pesawat.

Bahkan, sebelum Kamis pagi itu, N250 hanya duduk manis di hangar. Bagaimana ia terbang, bagaimana ia bermanuver, dan bagaimana ia menukik cuma muncul di mesin simulasi serta bayang-bayang teknisinya.

Asiaweek berkomentar tegas: “Habibie sedang berjudi dengan reputasinya [...] Jika kesalahan terjadi, banyak yang percaya bahwa bahkan Suharto-pun tidak akan bisa menyelamatkan kawannya itu.”

Memprediksi Keretakan

Habibie kecil lahir dari keluarga terpandang di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Selepas menamatkan jenjang sekolah menengah, Habibie berlabuh pada Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung, yang kini disebut ITB, untuk belajar teknik mesin. Sayangnya, Habibie tak lama di kampus itu. Pada 1955, atas keinginan ayahnya, Habibie merantau ke Jerman Barat untuk belajar ilmu kedirgantaraan di Technische Hochschule Aachen.

Habibie tentu tak hanya berangan-angan jadi teknisi andal atau sekadar jalan-jalan menyusuri Eropa dan menulis buku medioker-narsistik soal pengalaman kuliah di luar negeri. Sebelum berangkat ke Jerman Barat, Habibie bertemu Muhammad Yamin. Sebagaimana ditulis Sulfikar Amir dalam “The Technological State in Indonesia”, “[Yamin] mendesak Habibie untuk mempelajari aeronautika karena dia yakin Indonesia harus mengembangkan kapasitas dalam pembuatan pesawat terbang.”

Di masa awal kuliah di Jerman, petuah Yamin itu diterjemahkan Habibie, yang ia katakan kepada salah seorang kawannya, bahwa mereka “ditakdirkan untuk membangun negara.”

Habibie saat itu membayar sendiri biaya kuliahnya dan tidak terlalu bergantung kepada beasiswa. Menurut Sulfikar Amir, karena itulah Habibie disegani rekan-rekannya. Selain menimba ilmu, ia pun aktif berorganisasi di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dan terbilang sukses.

Sikap segan teman-temannya ini di kemudian hari diterjemahkan Habibie untuk menarik mereka pulang guna membantunya di Indonesia.

Pada 1960 studi kesarjanaan usai dilalui. Enam tahun berselang, di kampus yang sama, Habibie memperoleh gelar doktor di bidang aviasi selepas sukses mempertahankan disertasi berjudul “Beitrage zur Temperaturbeanspruching der Orthotropen Kragscheibe.”

Kuliah usai, karier aviasinya dimulai. Habibie lantas bekerja pada Hamburger Flugzeugbau (HFB), di mana ia turut merancang Fokker F-28 dan Dornier DO-31.

Pada 1969 HFB berubah menjadi Messerschmitt–Boelkow–Blohm (MBB). Karena puas dengan kinerja Habibie, perusahaan itu memberikan tanggung jawab besar padanya. MBB menyertakan Habibie dalam proses penciptaan Airbus A-300B, pesawat ambisius yang hendak dibangun konsorsium Uni Eropa untuk mengalahkan dominasi Boeing.

Dan kala ikut membangun A-300B inilah crack propagation theory lahir dari otak Habibie.

Crack propagation theory atau teori perambatan keretakan merupakan model matematika untuk memprediksi perilaku perambatan retak pada struktur pesawat hingga tingkat atom. Teori ini penting sebab, sebelum Habibie merintis karier di dunia dirgantara, banyak kecelakaan pesawat yang terjadi akibat kegagalan struktural.

Pesawat de Havilland DH.110 yang terbang pada 1952 di Farnborough Airshow, pesawat Douglas DC-6 bercat National Airlines Nomor Penerbangan 470 yang mengangkasa pada 1953, serta pesawat de Havilland Comet yang digunakan maskapai BOAC untuk penerbangan bernomor 781 dan maskapai South African Airways bernomor 201, semuanya mengalami kecelakaan karena kegagalan struktural (simak Seconds from Disaster episode “Comet Air Crash” dari National Geographic).

Mengapa kegagalan struktural pada pesawat terjadi di tahun-tahun Habibie berkembang menjadi ahli aviasi? Jawabannya, kala itu, di dekade 1950-an dan 1960-an, industri aviasi tengah gencar-gencarnya membuat pesawat yang semakin besar sekaligus semakin cepat. Tengok de Havilland Comet. Ia adalah pesawat pertama bermesin jet.

Dengan semakin besar dan semakin cepat pesawat, kemudian muncullah kegagalan struktur. Ini terjadi karena setiap bahan memiliki kapasitas tertentu dalam hal kelelahan material (material fatigue). Temuan Habibie dapat digunakan untuk menghitung dan memprediksi titik retak, hingga sebuah materi dapat diperkuat dengan lebih presisi.

Teori Habibie itu, selain ikut membangun A-300B, juga menyelamatkan penciptaan Boeing 747, si Ratu Angkasa.

Menurut Sulfikar, kesuksesan Habibie di dunia aviasi bukan hanya terjadi karena kejeniusannya. Di saat Habibie menimba ilmu dan berkarier di Jerman Barat, negara itu tengah melakukan “sebuah rekonstruksi besar dan program pembangunan ekonomi” pasca-Perang Dunia II. Dengan dukungan Marshall Plan, ekonomi Jerman Barat meningkat. Dunia industrinya tumbuh 2,5 kali dari 1950 hingga 1960. Dan ini membuat Habibie ketiban untung karena mereka tengah butuh-butuhnya talenta.

Selepas mengangkasa di Eropa, Habibie mudik ke Indonesia. Dukungan kekuasaan dari Soeharto dan sokongan dana dari Ibnu Sutowo membawa Habibie menjadi orang paling top di IPTN dan Kementerian Riset dan Teknologi. Habibie dilibatkan dalam pembangunan bidang teknologi yang dicanangkan penguasa Orde Baru.

infografik pt dirgantara indonesia
infografik pt dirgantara indonesia


Kamis pagi, 10 Agustus 1995 pun berlalu. N250, pertaruhan Habibie itu, sukses mengangkasa di langit Indonesia.

“Kami yang di dalam kokpit (pesawat) biasa saja waktu itu, seperti terbang biasa. Meski itu penerbangan perdana N250, kami sangat percaya diri pesawat akan terbang dengan baik,’’ kata Captain Sumarwoto, pilot yang menerbangkan N250, sebagaimana dinukil JPNN.

“Waktu itu, saya jadi tahu bahwa engineer kita itu luar biasa, pinter-pinter. Pesawat N250 itu bagus loh,” bangga Sumarwoto kemudian.

Dua puluh empat tahun berlalu sejak Kamis itu, pada 11 September 2019, si perancang terbang seorang diri. Menyusul kematian program N250 selepas dihantam krisis moneter 1998 dan menyusul Hasri Ainun Besari, istrinya yang wafat pada Mei 2010.

Baca juga artikel terkait BJ HABIBIE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Artikel Lanjutan
DarkLight